
Lalu warga memperhatikan Rey yang mendekati bola cahaya. Rey meletakkan kedua tangannya seperti yang dilakukan Asgar tadi. Ia memejamkan mata dan menarik lagi energi cahaya dari bola itu. Perlahan bola itu menghilang.
" Karena desa ini sudah aman, maka kami akan melanjutkan perjalanan lagi. Siapa tahu di desa atau kota berikut nya ada yang membutuhkan pertolongan kami. Jangan lupa menyalakan obor di depan rumah masing-masing setiap malam agar iblis tidak menggangu lagi " Rey berpamitan.
Ia mengeluarkan kuda-kuda dari cincin ruangnya. Sekali lagi warga Zebbel terperangah melihat keajaiban itu. Rey dan Asgar naik kuda lalu melambai.
" Selamat jalan tuan dan nona .... "
Kuda melaju melewati jalan setapak diantara ladang jagung. Kira-kira 15 hitungan mereka mencapai kota Beamor. Rey turun dan menyimpan kuda. Di ruang cincin Rey ada dimensi alam juga, jadi sudah pasti banyak rumput tersedia untuk kuda-kuda mereka. Sedang cincin Asgar hanyalah cincin ruang, untuk menyimpan barang-barang.
Mereka berjalan melewati pasar. Tiba-tiba seorang gadis cantik berlari ke arah Asgar dan memeluknya.
" Eh...... ? " Rey memandang Asgar bingung. Asgar juga bingung.
" Tuan, tolonglah aku.... aku...... "
" Moira....! apa yang kau lakukan, memalukan ! "
Seorang laki-laki tua berteriak marah. Ia datang dan menarik Moira lepas dari Asgar.
" Ayah.... dialah kekasihku, aku akan menikah dengannya, aku tidak mau menikah dengan dengan tuan Bixon " Moira berusaha melepaskan tangannya.
" Tidak bisa... ! Kau harus menikah dengannya, ayo... ! " ayah Moira menarik paksa.
" Tunggu..... ! mengapa kau memaksanya ? apa alasanmu ? " tanya Asgar.
" Hhhhh...... yang jelas dia lebih kaya darimu " katanya.
" Tidak... ! ayah kalah taruhan darinya dan tidak bisa membayarnya " sahut Moira.
" Taruhan... ? berapa.... ? " tanya Asgar tersenyum miring.
" 1000 koin perak.... ! apa kau punya sebanyak itu ? " jawab ayah Moira menilai rendah Asgar. Lalu matanya menatap Rey dari atas ke bawah.
" Lagipula kau sudah punya istri ? "
" Dia saudaraku " jawab Asgar sambil menarik lepas Moira ( Asgar menekan pergelangan tangan ayah Moira sehingga nyeri sesaat ). Moira segera berlari ke belakang Asgar.
" Moira.... ! kemari....! " ayah Moira berusaha meraih Moira tapi Asgar menghalaunya.
" Bawa aku pada Bixon, aku akan menebusnya " kata Asgar.
Ayah Moira tertegun, namun akhirnya ia berbalik dan Asgar mengikutinya. Rey menggandeng Moira dibelakang Asgar.
__ADS_1
Mereka sampai di tanah lapang kecil. Banyak orang berkumpul disana, ternyata mereka berjudi. Ayah Moira menemui kumpulan pria muda di tepi uang taruhan. Seorang pria berwajah garang berdiri mendorong ayah Moira.
" Mana Moira ?! "
Ayah Moira menunjuk ke arah Asgar. Tampak Moira mengintip dibalik jubah Asgar. Bixon maju bermaksud menyingkirkan Asgar.
" Minggir...! "
Namun Asgar tak bergeming. Bixon mengerutkan alisnya, ia melirik Asgar sedikit
" Apa kau menantangku...?! " tanyanya sedikit meremehkan.
" Bagaimana dengan 100 koin emas ? " tawar Asgar.
" Ha..ha..ha..ha.... itu murahan. Aku bisa menjualnya berkali lipat di rumah bordil setelah aku bosan memakainya " Bixon tertawa mengejek.
Moira terperangah mendengar itu, ia merasa terhina. Dengan marah ia maju ke depan dan menampar Bixon sekuat tenaga.
" Plaaakkk.....!! "
Bixon hanya menyeringai. Asgar segera menarik mundur Moira dan menyerahkannya pada Rey di belakangnya. Rey mencoba menenangkan Moira.
" 100 koin emas, atau kita bertarung " kata Asgar.
Bixon menatap Asgar. Badannya sama besar dengannya, namun tidak membawa pedang. Ia mengira Asgar hanya pemuda biasa yang bekerja terlalu keras ( kuli angkut ). Ia pasti menang.
" Tapi aku tidak punya pedang " jawab Asgar.
Bixon semakin yakin Asgar tidak bisa bermain pedang. Ia meminjam pedang anak-buahnya yang berat dan memberikannya pada Asgar. Sementara ia sendiri menggunakan pedang ringan.
Asgar menerima pedang itu dengan sikap seolah-olah sangat berat. Ia bahkan menyeretnya menuju ke tengah tanah lapang. Moira mencengkeram lengan Rey dengan cemas sementara Rey malah tersenyum geli.
( Buat dia kelelahan, lalu lumpuhkan kedua kakinya, ia sudah terlalu lama menjadi orang jahat ) kata Rey lewat telepati.
Asgar mengangguk dan bersiap. Bixon berdiri didepannya dengan gagah. Keduanya sama-sama menyeringai. Orang-orang mulai bertaruh mendukung Bixon, bahkan ayah Moira sekalipun. Moira sangat kecewa karena ayahnya memang tak perduli padanya. Rey menenangkannya.
Bixon bergerak menebaskan pedangnya.
" Traaaaanngg....! "
Bixon terdorong mundur 2 langkah. Asgar kembali menggantung pedangnya yang berat.
Bixon maju lagi, kali ini menebas kearah kaki. Asgar hanya menjatuhkan pedangnya menancap ke tanah dekat kakinya.
__ADS_1
" Traaaaanngg....! "
Tangan Bixon tergetar karena benturan pedang. Ia heran dengan hal ini. Bukankah Asgar tidak bisa berpedang ? Namun kenapa serangan Bixon serasa terpental kembali ? Diperhatikannya Asgar yang kesusahan mencabut pedangnya dari tanah. Ini aneh....
Orang-orang mulai bersorak. Mereka mengejek Asgar yang sedang berusaha mencabut pedang. Bixon memanfaatkan ini dengan menebas ke arah bahu.
Pedang Asgar tercabut tepat saat itu dan langsung bertabrakan dengan pedang Bixon.
" Traaaaanngg....! "
Kali ini Bixon terdorong ke samping sedang Asgar berpura-pura terhuyung ke belakang.
Bixon kembali menyerang dengan menebas ke arah pinggang Asgar. Namun Asgar menangkis dengan gaya seolah-olah tidak terlatih. Begitu terus setiap Bixon menyerang, Asgar hanya menangkis saja. Bixon dan penonton mulai gemas. Sudah berlalu 20 hitungan dan Bixon masih belum bisa melukai Asgar.
Orang-orang menjadi tidak sabar.
" Ayo Bixon.... jangan main-main ! "
" Ya, bunuh saja... ! "
" Tcck.... ! kelamaan "
" Banyak gaya sih....! "
Bixon hatinya panas mendengar caci-maki penonton. Rasanya ia ingin merobek mulut mereka satu-persatu. Baiklah, ia akan melakukannya setelah menang nanti. Dengan semangat ia menyerang Asgar lebih cepat dan terus menerus.
Akhirnya ia mulai lelah. Dari tadi tak satupun pedangnya berhasil menggores luka pada Asgar. Padahal sudah jelas Asgar tidak bisa berpedang, hanya mengelak dan menangkis saja.
Asgar menyeringai melihat tenaga Bixon menurun, gerakannya mulai lambat dan nafasnya terdengar berat. Ketika Bixon menyerang kepalanya, Asgar menghindar dan menendang tulang kaki Bixon.
" Aaaaarrrggghhh........... ! "
Bixon berteriak keras sebelum terjatuh.
Penonton tertegun. Mereka melihat bentuk kaki Bixon yang bengkok, lebih tepatnya patah.
Kemudian Asgar memukulkan gagang pedangnya pada lutut Bixon yang satunya. Kembali teriakan Bixon terdengar menggema.
" Aaaaarrrggghhh........... ! "
Orang-orang meringis ngeri melihat yang dilakukan Asgar. Mereka tahu lutut yang dipukul keras bisa menyebabkan kelumpuhan.
" Ampun.......ampuni aku..... " Bixon memohon ampun dengan suara yang tersengal-sengal. Ia menahan sakit yang luar biasa. Matanya berair.
__ADS_1
" Mana bayaranku ? " tanya Asgar sedikit angkuh.
Bixon menunjuk ke arah salah satu anak-buahnya yang memegang 5 kantong uang.