
Zigaz naik dan bertengger di atas pohon apel. Ia memikirkan bagaimana cara mengatasi Roh Racun. Zigaz tidak berani bertarung secara langsung dengan Roh Racun karena racunnya mematikan. Roh Racun bahkan bisa menyemburkan racun dari mulutnya. Jarak semburannya mungkin bisa mencapai 5 langkah. Dan Roh Racun juga bisa masuk ke dunia jiwa orang yang terkena racunnya.
Nonanya telah mengambil resiko besar saat bertarung dengan Terra. Tidak mengetahui dalam darah Terra tersembunyi Roh Racun. Entah sudah berapa lama Nonanya mati suri. Zigaz harus memperbaiki kerusakan-kerusakan yang dibuat oleh Roh Racun di dunia jiwa.
( " Zigaz..... " )
" Eh...... ? " Zigaz menoleh ke kanan kiri.
( " Zigaz..... " )
( " Itu suara Nona Rey... " pikir Zigaz )
( " Ya, ini aku " )
( " Nona sudah sadar ? Bagaimana keadaan Nona ? " )
( " Aku tidak bisa bergerak. Masih ada racun pelumpuh dalam darahku " )
( " Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk membantu pemulihan Nona ? " )
( " Tidak usah, biarkan aku disini beberapa waktu lagi " )
( " Baik Nona, panggil saya jika perlu " )
( " Hmmm..... " )
Zigaz melayang gembira. Nonanya sudah sadar. Hanya belum bisa bergerak. Dengan gembira ia mengambil air danau dalam paruhnya dan menyiram pohon apel yang dirusak Roh Racun. Zigaz tersenyum melihat pohon itu kembali sehat. Ia terbang lagi ke danau dan menyiram yang lain. Setelah lelah, Zigaz masuk ke danau dan beristirahat.
__ADS_1
Roh Racun berjalan penuh rasa kesal dan marah. Ia menyadari kadar racun dalam darahnya sudah menurun banyak. Tubuhnya semakin transparan. Jika seperti ini terus, ia bisa menghilang sia-sia. Kapan lagi ada kesempatan hidup ? Ia harus segera mencari sumber racun. Sedari tadi berjalan tak dijumpainya tanaman beracun satupun.
" Aaaaarrrggh.......... !!! "
Roh Racun sangat marah. Tangannya terulur hendak meracuni sebuah pohon, namun dihentikannya ketika mengingat racun ditubuhnya semakin berkurang.
" Hhhhhh........ !!! tidak ada gunanya aku disini, semua tak berguna ! tidak cocok untukku. Aku harus keluar dari sini....... Apa yang harus aku lakukan agar bisa keluar dari sini ? ............ Gadis itu ! dia pemilik dunia jiwa ini. Aku akan meminta dia mengeluarkan aku dari sini "
Roh Racun berlari menuju danau. Ia langsung melompat dan berenang menuju tempat dimana pemilik dunia jiwa ini terbaring. Sebentar-sebentar Roh Racun menoleh ke kanan kiri khawatir si belut listrik muncul.
Ia tidak menyadari racun ditubuhnya semakin terlarut dalam air dan gerakannya semakin lamban. Zigaz merasakan kedatangan Roh Racun. Segera ia berubah menjadi belut listrik, bersiap menyerang jika Roh Racun berniat membunuh Nonanya. Namun Zigaz heran melihat penampakan Roh Racun yang semakin transparan.
Roh Racun berhenti tepat berhadapan dengan belut listrik. Ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan pada hewan ini bahwa kali ini ia tidak akan mencelakai gadis yang sedang berbaring itu. Roh Racun hanya diam tanpa daya menatap belut listrik.
Zigaz sendiri juga heran melihat Roh Racun yang berdiri diam dihadapannya. Seperti ada hal yang ingin disampaikannya. Roh Racun berbicara dengan bahasa tangan pada Zigaz. Zigaz mengerti, namun hanya bisa menggoyang ekornya karena wujudnya seekor belut. Lagipula Nona Rey masih belum sadar sepenuhnya, mana bisa mengeluarkan Roh Racun dari sini ?
Roh Racun memandang jengkel pada Zigaz. Bagaimana mungkin binatang keparat ini bisa menolongnya ? mengerti bahasanya saja tidak. Hhhhh.... !
" iiish... dasar belut keparat.... ! " Roh Racun mencibir sinis.
Roh Racun kembali menatap Rey. Berapa lama gadis ini akan tertidur ? Haruskah aku menunggunya disini ? Dengan kesal Roh Racun menendang pasir ke arah Rey. Pasir itu bertaburan, namun terpental balik dan jatuh ke samping tubuh Rey seolah ada perisainya. Roh Racun tercengang melihatnya.
Zigaz yang melihat kelakuan Roh Racun memburunya. Roh Racun cepat-cepat berenang pergi kembali ke atas. Namun Zigaz sempat menyengat kakinya.
" Aaarrgh.... !! belut keparat, sialan.... ! "
Roh Racun merangkak ke tepi danau. Ia terlihat semakin transparan. Sementara bola cahaya terlihat semakin terang.
__ADS_1
Zigaz melayang berputar di atas Roh Racun sebelum bertengger di dahan pohon apel. Ia diam mengamati Roh Racun yang tampak semakin lemah. Tidak ingin berbicara atau menolongnya. Zigaz mengerti sekarang, adanya Roh Racun ternyata memperlambat kesembuhan Nonanya.
Tapi Zigaz tak tahu kalo Roh Racun mengetahui posisinya. Diam-diam Roh Racun menghimpun tenaganya yang terakhir. Ia bermaksud memindahkan rohnya ke burung itu. Setidaknya ia akan bertahan hidup sementara daripada lenyap. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Kedua tangannya mencengkeram rumput dengan erat. Rohnya mengalir keluar merambat dari rumput naik ke pohon apel. Dan sebelum Zigaz sadar, rohnya sudah berhasil masuk lewat kaki burung itu.
" Aaaaaaaarrrgghh................. "
Zigaz berteriak kesakitan ketika sesuatu terasa menyengat kedua kakinya. Ia terbang namun kakinya terasa lumpuh. Akhirnya Zigaz terjerembab di bawah pohon saat mendarat karena tidak bisa menggunakan kakinya untuk menopang.
Digulingkannya badannya berusaha melihat pohon tempatnya bertengger tadi. Tidak ada apa-apa disana. Juga tidak ada ular atau hewan berbahaya lainnya. Akhirnya Zigaz berubah menjadi manusia. Ia bangun dan diam bersimpuh memandang sekelilingnya.
Dilihatnya gaun ungu di rumput bekas Roh Racun tergeletak tadi. Apakah Roh Racun sudah mati ? Saat terakhir melihatnya tadi tubuhnya amat transparan. Mungkinkah racunnya sudah larut semua ketika ia berenang di danau jiwa ? Entahlah.... Zigaz tak perduli.
Saat ini Zigaz sedang bingung pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa kakinya tersengat sesuatu yang tidak diketahuinya ? Lalu bagaimana ia akan melangkah ?
Zigaz terpaksa menyeret Tubuhnya dengan bantuan kedua tangannya. Tujuannya adalah danau meski terlihat jauh dari tempatnya terjatuh.
" Sreet.....sreet.....sreet.....sreet.......... "
Butuh waktu yang cukup lama untuk mencapai pinggir danau. Bahkan sekarang Zigaz merasakan ada kelainan pada kedua tangannya.
" Oh tidak..... apa yang terjadi pada tanganku sekarang.... Bagaimana bisa aku mencapai danau jika tanganku juga susah digerakkan ? "
Zigaz menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap melihat kuda hitam dan putih untuk meminta bantuan. Tapi suasana terasa sepi. Zigaz tahu kedua kuda itu bersembunyi karena menghindari Roh Racun.
Ia membuka mulutnya bermaksud memanggil mereka, tapi....
" Aaaaaaah....... " Zigaz mendesah pelan. Tenggorokannya terasa seperti berduri. Ia membelai-belai lehernya untuk meredakan rasa nyerinya.
__ADS_1
Zigaz memandang ke arah danau, kira-kira masih seratus langkah lagi. Ia harus segera minum air danau supaya sembuh. Zigaz kesusahan menggerakkan tangan sekaligus menyeret badannya.
Akhirnya ia mencoba menggelindingkan badannya berkali-kali. Benar-benar perjuangan yang melelahkan dan menyakitkan. Namun itu hanya mencapai 20 langkah saja. Badannya sudah terasa sangat sakit dan remuk. Asgar tergeletak tak berdaya...