
" Kekuatanmu sudah bagus. Tapi jangan lupa untuk berkonsentrasi. Pedang tidak bisa dipakai menebas jarak jauh, kecuali kamu menguasai kekuatan angin. Lebih baik buat senjata tajam lain yang bisa bergerak bebas. Dan perisai lebih baik terbuat dari kaca atau angin padat supaya pandangan kita tidak terhalang. Jangan lupa buat perisai cadangan saat diserang untuk menghindari pecahannya " Rey memberi strategi perang.
Martin mengangguk-angguk sambil mengunyah apel.
" Apa kau masih mau berlatih lagi ? "
" Mau "
" Biar aku yang melatihnya Nona, apa kau bisa menguasai angin ? "
" Ayah bilang aku punya 3 elemen "
Rey dan Asgar saling menatap.
" Apa kami boleh tahu siapa nama Ayahmu ? " tanya Rey
" Nama ayahku Outter, ia bekerja untuk Penguasa Kendrick. Jika aku besar nanti, aku ingin seperti ayahku "
Rey kembali berpandangan dengan Asgar.
" Lalu...... dimana kalian tinggal ? "
" Desa Blossom "
Rey terbelalak. Itu adalah desa kecil sebelum
tempat terakhir nenek Flo tinggal. Saat kecil nenek Flo selalu membawanya berpindah tempat sampai akhirnya memilih desa itu.
Rey menatap Martin lama.... Ia mengingat sesuatu.
" Kau...... anak kecil yang membawaku lari dari Ksatria Asgar ? " tanya Rey. Asgar ikut mengamati Martin.
" Aku ingat, kau anak kecil yang membentak ku di pasar desa waktu itu.... " kata Asgar pelan.
Martin menatap Rey dan Asgar bergantian.
" Dewi ? .......... Dewi Cahaya ? " Rey tersenyum. Ia ingat waktu itu anak kecil memanggilnya sebagai Dewi.
Martin menatap Asgar. " Aku.... tidak mengenalmu sebelumnya ? "
Rey tertawa. " Tentu saja. Saat itu Ksatria Asgar memakai ketopong ( topi ksatria yang ada topengnya ). Kau tak dapat melihat wajahnya "
" Oooo.......... " mulut Martin membentuk huruf O.
Rey dan Asgar terkekeh.
" Inilah yang dinamakan takdir...... Bagaimanapun caranya, pasti ketemu juga. Aku akan beristirahat dalam danau. Apa kalian mau ikut ? " tanya Rey.
__ADS_1
Martin dan Asgar saling menatap lalu mengangguk pada Rey.
Rey terbang ke arah tengah danau diikuti Asgar yang menggendong Martin. Mereka masuk bersama. Martin dan Asgar heran karena bisa bernafas dalam air ( Ini karena Rey penguasa danau jiwa yang mengijinkan hal itu terjadi. Berbeda dengan saat Destraco yang berniat jahat ).
Mereka terus turun ke dasar. Rey membentuk tempat tidur dari air untuk mereka bertiga. Rey dan Asgar naik ke atas pembaringan masing-masing.
Tapi Martin menarik Asgar turun. Mulutnya bergerak-gerak.
( " Dewi, aku ingin berkeliling " )
Rey tersenyum mengangguk. Martin meluncur perlahan dalam air bersama Asgar. Rey membaca mantra. Ia membuat danau tampak indah dengan ikan-ikan hias dan tanamannya. Lalu tidur memejamkan mata.
Tapi pikirannya masih berputar tentang anak-anak yang ditawan penyihir Odex. Ia khawatir ada yang mati pelan-pelan atau terbunuh. Ia tidak dapat merubah dirinya atau Asgar menjadi anak kecil karena kekuatan mereka sudah tinggi tidak dapat ditampung dalam tubuh anak kecil.
Rasa penat menggelayuti pikiran Rey hingga akhirnya benar-benar terlelap. Asgar dan Martin menyusul beristirahat setelah puas melihat sekeliling. Setelah satu putaran jam pasir (satu jam), Rey membuka matanya.
Ia duduk dan melihat Asgar dan Martin masih tidur. Ia mengeluarkan cermin pelihat, mencoba mencari tahu penyihir Odex. Terlihat Odex sedang bertarung dengan nenek tua di atas hutan Mazox.
Rey tampak asyik melihat itu hingga tak menyadari Martin yang ikut melihat. Rey baru sadar setelah Asgar menepuk bahunya pelan.
" Oh, Asgar.... Kau sudah bangun ? " tanya Rey menyimpan cerminnya. Asgar mengunjukkan dagu ke arah Martin. Rey menoleh...
" Eh.... ? kau sudah lama di sini ? (di sampingnya) " Martin mengangguk.
Rey menarik tangan Martin dan melayang ke atas.
" Sekarang.... belajarlah terbang " kata Rey mempertahankan posisi Martin.
" Biar aku saja yang melatihnya, Nona... "
Rey tersenyum mengangguk lalu mundur ke daratan. Ia berjalan-jalan ke arah rumpun bunga. Menciumi harum bunga sambil menyanyi pelan. Dua Kuda menemaninya.
" Yuuhuuuuuu.......... . . . . " terdengar teriakan gembira milik Martin. Ia meliuk-liuk di udara, kesana-kemari. Asgar mengikutinya untuk berjaga-jaga agar tidak menabrak pohon.
Rey tertawa melihatnya. Ia sedang merangkai bunga sambil bersandar pada kuda putih. Ia membiarkan Martin bermain dahulu.
Setelah setengah putaran jam pasir, Martin dan Asgar datang ke tempat Rey bersantai. Rey terbang menarik Martin ke tempat yang agak lapang. Lalu memegang bahu Martin untuk memberi kekuatan cukup banyak pada Martin. Rasa hangat seperti mengalir ke tubuh Martin. Martin merasa ingin berlari.
" Tetaplah di udara sambil membuat bermacam-macam senjata dan perisai "
Lalu Rey turun dan berbicara pelan pada Asgar.
" Asgar, latih dia sebagai petarung. Aku butuh bantuannya untuk menolong anak-anak yang ditawan "
" Baik, Nona "
Lalu Rey duduk menonton. Martin membentuk pedang dari angin. Asgar membuat cakram angin menebas pedang yang dipegang Martin.
__ADS_1
" Craassh.... ! "
Martin tercengang sesaat, namun segera menciptakan perisai saat cakram Asgar berputar lagi menyerangnya.
" Praangg.... ! "
" Ting... Ting... Ting... Ting... ! "
Rey membantu perisai tambahan agar pecahannya tidak mengenai Martin. Pecahan itu berjatuhan ke bawah dan hilang.
" Oh... ! "
Martin menyadari kesalahannya. Ia mengangguk kecil pada Rey. Tangannya bergerak-gerak di udara membentuk sesuatu.
" Hhhaahhh.... ! " puluhan serpihan angin tajam menyerang Asgar. Asgar menggerakkan tangan memutar angin. Semua serpihan angin itu kembali kepada Martin.
" Jlebb... Jlebb... Jlebb... ! "
Serpihan itu menancap pada perisai tebal buatan Martin. Tapi sekejap kemudian memantul semua ke arah Asgar.
" Wwuuutttt....... ! "
" Aiiihh.... ! "
Asgar melompat tinggi menghindarinya. Ia tak menyangka perisai Martin melenting balik. Asgar dan Martin sama-sama terkekeh.
Rey tersenyum lebar. Ia bertepuk-tangan memuji.
" Hebat... ! Hebat..... ! Lain kali kalian berdua harus bertarung denganku.... "
" Tidaaaak..... " mereka berteriak bersama. Mereka tahu Rey lebih kuat dan cerdik.
" He..he..he..he... "
Asgar dan Martin turun menyudahi latihan. Mereka duduk bersama.
" Apakah kau senang ? " tanya Rey
" Tentu Dewi, terima kasih sudah mengajariku menjadi seorang penyihir hebat. Tuan Asgar juga " Martin menatap Asgar. Asgar mengangguk sambil menepuk bahunya.
" Masih ada satu ilmu lagi yang harus kau pelajari " kata Rey.
" Beritahu aku sekarang. Aku akan belajar sungguh-sungguh " Martin menatap Rey bersemangat.
Rey mengambil satu apel dan memperlihatkan didepan mata Martin. Martin menatap apel itu seksama meski tak mengerti maksudnya. Tak lama apel itu seperti.... terurai setiap unsurnya. Martin terbelalak menatapnya. Setiap butirnya berjatuhan ke rumput.
" Ini namanya penguraian, butuh konsentrasi tinggi saat melakukannya. Cobalah... "
__ADS_1
Rey memberikan satu apel pada Martin. Martin menatap lekat pada apel itu. Menarik nafas berulang kali. Tangannya mencengkram erat buah apel. Asgar menahannya. Ia menarik tangan Martin agar melepaskan apelnya, lalu membuat tatakan angin untuk apel itu. Sekarang Martin akan benar-benar fokus mengurai apel.