
Rey turun dan mendekat pada kuda Asgar. Rey mengusap-usap tengkuk kuda Asgar sambil mengucap mantra pelindung. Kuda Asgar segera tenang. Kuda Rey sendiri sudah dari awal dimantrai oleh Kendrick sebelum keluar dari Astraco.
Rey kembali naik kuda dan melaju lebih dalam. Rey menyeringai ketika iblis-iblis itu mulai menampakkan diri. Satu berani melintas didepannya. Dikebutkannya kipas peraknya agak keras.
" Wuuuss.........! "
Iblis itu terhempas ke pohon terdekat dan meraung. Rey menghentikan kudanya dan menatap malas pada iblis itu. Asgar turun dengan wajah menyeringai. Ia melompat sambil menebas dengan pedang peraknya.
" Aaaaarrrggghhh..............! " teriakannya menggema di seluruh hutan. Rey cepat-cepat membakarnya dengan api dari tangannya.
Rey segera turun dan bersiap. Kedua kuda segera dimasukkan ke ruang dimensi. Terdengar suara mirip dengungan. Rombongan iblis datang mendekat. Mereka menyerang Rey dan Asgar. Rey mengebutkan dan terkadang memotong dengan kipasnya. Sementara Asgar menggunakan pedang untuk menebas dan angin untuk mendorong.
Terdengar teriakan dan raungan bergantian dari para iblis. Satu persatu Rey membakar iblis yang sudah kalah. Ada sekitar belasan iblis sepertinya. Asgar berkeringat tapi mulutnya tertawa tanpa suara. Pada dasarnya ia memang senang bertarung.
Rey duduk bersila untuk mengembalikan kekuatan. Ia sudah mengeluarkan api berkali-kali. Asgar juga duduk bersila melakukan hal yang sama. Kira-kira 30 hitungan waktu. Setelah itu mereka bersiap melanjutkan perjalanan.
" Asgar.... kita terbang saja. Nanti jika sudah sampai desa atau kota, barulah naik kuda supaya tidak dipertanyakan orang " usul Rey.
Asgar setuju. Mereka terbang menyusuri hutan. Terkadang berhenti sebentar untuk membakar mayat-mayat binatang yang menjadi korban iblis.
Karena lapar, Rey meminta Asgar menangkap rusa. Lalu Asgar memotongnya beberapa bagian dan menusuknya dengan ranting kuat. Rey memanggangnya dengan api dari tangannya. Setelah kenyang, Rey menyimpan sisanya dalam cincin ruang dan melanjutkan perjalanan.
Hari sudah siang ketika mereka mencapai pinggir desa. Rey heran karena desa terasa sepi.
Ia mendekati satu rumah dan mengetuk pintunya.
" Tok..tok..tok... "
Hening.... tapi Rey merasa ada orang didalam. Kali ini Asgar yang mengetuk pintu lebih keras.
" Tok..tok..tok.... "
Terdengar suara langkah terseok-seok. Pintu terbuka perlahan. Seorang pria penuh luka menyapa mereka.
__ADS_1
" Kalian siapa ? "
Rey terpana menatap luka-luka di dada, tangan dan pipi pria itu. Asgar cepat menjawab :
" Kami...... maaf pak , kami sedang dalam perjalanan dan lewat sini. Hanya ingin minum, tapi tidak ada warung makan yang buka "
" Oooh...... masuklah " pria itu mempersilahkan mereka masuk. Lalu cepat-cepat menutup pintu dengan palang kayu.
Rey dan Asgar heran, namun diam saja.
Kemudian pria itu membawa 2 cangkir (perkakas zaman dulu terbuat dari kayu atau tanah liat yang dipoles dengan pasir kuarsa) dan menaruhnya di meja. Di meja itu sudah ada teko air.
" Ambillah sendiri. Tapi maaf aku tidak punya makanan " ucapnya agak sedih.
" Tidak apa, terima kasih " jawab Rey dan Asgar.
Setelah minum, Asgar bertanya padanya
" Apa yang terjadi padamu pak, mengapa sampai terluka banyak ? "
Pria itu menghela nafasnya sebelum bercerita.
" Apa maksudmu, ia dirasuki iblis ? " tanya Rey.
" Sepertinya begitu nona, sebab ia menyerang siapa saja dan menggigitnya. Ia juga membunuh seorang bayi dan menghisap darahnya " jawab pria itu.
" Bagaimana dengan keluarganya ? " tanya Asgar.
" Salah satu anaknya meninggal setelah ia menggigitnya. Lalu ia diusir keluarganya. Sejak itu ia berada di hutan. Kadang ia kembali ke desa dan menyerang siapa saja yang ia temui. Jadi kami semua tidak ada yang berani keluar. Kami hanya makan umbi-umbian saja disekitar desa. Anak-anak semua dikurung dalam rumah. Banyak warga desa yang meninggal setelah di gigit olehnya. Anak dan istriku juga " pria itu menangis.
Asgar menepuk-nepuk bahunya. Rey memegang tangannya. Ia melakukan pengobatan. Pria itu matanya terbelalak merasakan suatu aliran dari tangannya. Ia menatap Rey yang tersenyum.
Setelah Rey melepas tangannya, pria itu melihat semua lukanya sudah mengering dan kulitnya terkelupas. Penuh rasa heran ia mengelupas bekas lukanya satu-satu.
" Aku.....aku.....sembuh.....? " tanyanya tak percaya. Rey dan Asgar mengangguk.
__ADS_1
Pria itu meraba dadanya, pipi dan tangannya. Lalu tiba-tiba berteriak
" Aku sembuh....! Aku sembuuuuh......!
Ia berlari membuka pintu dan menggedor pintu rumah tetangganya sambil berteriak memanggil.
" John.....Maria.........ini aku.... Prazo..... ! "
John keluar dengan Maria dibelakangnya.
" Ada apa Prazo, apa yang terjadi, mengapa kau berteriak ?! "
" Aku sembuh....! Aku sembuuuuh......! " Prazo berputar-putar menunjukkan badan dan tangannya yang sudah tak berbekas.
" Mereka menolongku, mereka tabib ajaib.... ! " tunjuk Prazo pada Rey dan Asgar yang berdiri di depan rumahnya.
John terpaku sesaat namun segera berlari ke arah mereka.
" Tuan...... tolong anakku, ia juga terluka parah, tolonglah......... "
John menarik tangan Asgar dengan paksa. Rey mengangguk agar mengikutinya. Mereka masuk ke rumah John. Prazo juga.
Di balai bambu tampak seorang anak laki-laki terbaring lemah. Di tangannya ada luka yang membusuk. Asgar melihatnya sebentar. Lalu Asgar melepas kalungnya dan menaruhnya di telapak tangan anak laki-laki itu.
Perlahan luka itu mengeluarkan darah hitam yang berbau busuk. Maria segera mengelapnya dengan kain. Setelah darah hitam keluar semua, luka itu mulai membaik dan mengering. Lalu Asgar mengelupas bekasnya.
Mata anak laki-laki itu terbuka. Maria langsung memeluknya dan menangis haru. John berterima kasih pada Asgar. Prazo berlari keluar dan berteriak-teriak.
" Hoooeeeiiiii........ teman-temaaaaan......... cepat keluaaaarrr.......... ada tabib...... ada tabiiiiiib........... "
Ia membuat semua orang keluar ingin tahu. Mereka merubungnya dan bertanya-tanya padanya. Prazo segera menceritakan semuanya. Mereka berbondong-bondong ke rumah John. Menunggu di luar.
Rey dan Asgar terkejut melihat banyak orang diluar. Mereka semua berebut meminta tolong pada Rey dan Asgar.
" Tenanglah......! tenanglah.......! kami akan menolong kalian satu-satu. Mulai dari rumah ini berurutan sampai selesai "
__ADS_1
Begitulah Rey dan Asgar bergantian menyembuhkan luka-luka mereka. Ketika hari hampir gelap, istri kepala desa meminta Rey dan Asgar menginap dirumahnya.
Rey meminta Asgar mengingatkan warga agar memasang obor di depan rumah agar desa tetap terang. Ia menjelaskan mereka tentang iblis dan penyihir. Sekarang mereka mengerti apa yang telah terjadi pada kepala desa.