
Penyihir hitam semakin marah. Ia melemparkan gumpalan asap hitam beracun.
Blam....!
Penyihir tua menahan gumpalan asap itu dengan perisai angin. Namun perisai itu segera meleleh rusak karena terkena racun. Ia melepaskan perisainya dan meniup sisanya dengan bantuan angin kearah penyihir hitam.
" Sialan ....! " penyihir hitam cepat menghalaunya. Namun itu adalah sebuah kesalahan. Tangannya seketika melepuh ketika mengenai asap beracun itu.
" Aaaaaaah......... " ia mengibas-ngibaskan tangannya kesakitan.
" Ha..ha..ha..ha..... bagaimana rasanya ?
Kau masih terlalu muda untuk melawanku, penyihir rendahan. Bahkan aku tak yakin umurmu sampai malam bulan purnama " ejek si penyihir tua.
" Dasar tua bangka ! Jangan salahkan aku mencincangmu untuk makanan iblis " penyihir hitam menggeram.
Matanya berubah merah, kukunya mulai memanjang, terlihat tajam seperti pisau sabit. Tiba-tiba ia melesat cepat menyerang penyihir tua. Tangannya mencabik-cabik tanpa jeda. Penyihir tua itu mencoba mengelak sana-sini. Ada beberapa goresan yang sempat merobek kulitnya.
Akhirnya ia lolos melesat ke atas dan kembali melempar puluhan pisau angin. Penyihir hitam merapatkan jari kukunya yang panjang dan menyabetkan seperti kipas. Beberapa pisau angin patah, sedang yang lainnya terpental oleh kibasan anginnya.
Penyihir tua itu melayang turun sambil merapalkan mantra, ia membuat udara kosong di sekitar penyihir hitam. Tentu saja penyihir hitam jadi megap-megap karena tak ada udara yang dihirup. Ia melotot marah dan melemparkan beberapa asap beracun ke arah penyihir tua. Namun penyihir tua hanya terkekeh. Ia menggiring asap itu kembali pada penyihir hitam sehingga terhirup sendiri.
" Uhuk-uhuk...... " penyihir hitam batuk darah.
Asap itu bersifat korosif sehingga menyebabkan tenggorokan dan paru-parunya terluka parah. Tapi penyihir hitam masih kesulitan bernafas. Asap beracun itu terhirup dan terhirup lagi.
" Uhuk-uhuk.... uhuk-uhuk...... " darah keluar dari mulutnya. Terdengar tawa gembira dari penyihir tua.
__ADS_1
Penyihir hitam memegang lehernya yang terasa sakit. Ia diam memejamkan matanya. Diam-diam dkumpulkannya semua kekuatan terakhir. Lalu melesat sangat cepat ke arah penyihir tua.
Penyihir tua terkejut karena tiba-tiba penyihir hitam melesat menabraknya. Lebih tepatnya bukan menabraknya, tapi ...... memeluknya ? Penyihir tua tertegun. Tangannya yang sudah menggenggam cakram angin terhenti di udara. Sayang sekali ......
Tubuh penyihir hitam meledak setelah memeluknya. Pecahan tubuhnya yang tercemar racun mengenai tubuhnya langsung. Penyihir tua terpana di udara. Lalu melorot ke bawah. Ia jatuh terduduk di tanah. Kulit tubuhnya melepuh dan tampak mulai membusuk. Badannya terasa panas dan nyeri dimana-mana. Baunya yang busuk memusingkan kepalanya. Penyihir tua itu akhirnya tersungkur menelungkup. Pelan-pelan menikmati kematian dalam penyesalan, bukan... kebodohan. Inilah contoh peribahasa " Menang jadi arang, kalah jadi abu " .
Rey tercengang mengamati semua itu. Ia sendiri tak menyangka penyihir hitam akan meledakkan dirinya sendiri untuk mati bersama musuh. Sungguh pemikiran yang menakutkan. Ia bersyukur telah menyaksikan pertarungan mereka. Dan menjadikan kesalahan mereka sebagai pelajaran penting, tentang kekuatan dan tipu daya.
Rey memejamkan mata nyamuknya dan kembali pada dirinya sendiri di penginapan. Ia membuka mata dan diam termenung untuk beberapa lama. Lalu Rey teringat pada Asgar dan segera bangkit membuka pintu. Dilihatnya Asgar duduk didepan pintu. Asgar segera bangkit dan memberikan bungkusan makanan padanya.
" Nona, ini sudah larut malam. Makanlah dan beristirahatlah. Besok anda ceritakan padaku tentang dua penyihir itu " kata Asgar.
" Terima kasih Asgar " Rey tersenyum dan menutup pintu.
Selesai makan Rey duduk sebentar. Tiba-tiba suasana terasa berubah mencekam. Rey mendengar suara gemuruh di kejauhan. Cepat-cepat ia melompat ke kasur dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Nafasnya tercekat ketika seseorang memeluknya dari belakang.
" Bagaimana dengan Asgar ? " tanya Rey pelan.
" Aku sudah menghapus jejaknya. Tidurlah, jangan pedulikan suara-suara diluar. Aku akan menjagamu " hibur Kendrick.
Suara gemuruh diluar semakin mendekat. Itu adalah sekumpulan penyihir mencari jejak pembunuh ketuanya. Anjing-anjing melolong bersahutan. Membuat para penyihir itu semakin marah dan merusak apa saja. Untunglah tidak ada orang atau gelandangan yang kebetulan di sekitar jalan utama.
Rey membalikkan badannya menghadap Kendrick. Ia menyembunyikan mukanya di leher Kendrick. Mengambil nafas panjang sebelum mulai terlelap.
Kendrick resah. Nafas Rey terasa hangat dilehernya, memancing gairah kelelakiannya. Ia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya. Tak sengaja memeluk Rey lebih erat. Sepanjang malam ia tak bisa tidur. Tangannya terus membelai rambut Rey untuk meredakan gairahnya.
Ketika pagi datang, Rey perlahan bangun. Matanya berhadapan dengan dada bidang seseorang. Rey terbelalak, kepalanya menengadah dan mendapati mata teduh laki-laki tampan yang tersenyum simpul. Seketika pipinya memerah.
__ADS_1
Kendrick menarik tubuh Rey hingga menempel erat. Bibirnya memagut bibir Rey penuh nafsu. Rey melenguh, tangannya meremas lengan Kendrick. Begitu lama Kendrick ******* bibirnya, Rey terpaksa menjewer telinga Kendrick. Kendrick terkejut dan melepaskan ciumannya.
" Ah ....! " Kendrick tak jadi protes karena jari telunjuk Rey menutup mulutnya. Rey menatapnya dengan senyum lembut.
" Kembalilah ke Astraco. Kau lebih berbahaya daripada penyihir itu " ujar Rey sedikit geli.
Kendrick menyembunyikan wajahnya diantara rambut Rey. Lalu bergerak naik ke atas tubuh Rey. Membuat Rey merasakan getaran-getaran listrik.
" Ken...driiiicckk..........! Rey menggeram.
Kendrick tertawa. Ia segera turun dan merapikan bajunya.
" Aku membawakanmu jubah perak. Ini bisa kau pakai sewaktu-waktu saat menghadapi penyihir " Kendrick mengulurkan jubah putih dengan banyak hiasan yang terbuat dari lempengan-lempengan kecil dari perak berbagai ukuran. Tampak seperti payet. Itu terlihat indah, namun agak berat sedikit saat dicobanya. Tak masalah, Rey hanya memakainya saat bertarung saja. Rey berputar-putar dan melayang dengan gembira.
" Ini sangat indah Kendrick. Bagaimana bisa kau membuatkanku jubah ini ? " Rey penasaran.
" Ketika kau membuat kipas perak itulah aku berpikir tentang gaun perak. Tapi bibi penjahit menolaknya karena tidak mungkin berganti baju saat bertarung tiba-tiba. Lebih mudah jika hanya memakai jubah saja. Jadi dia sendiri yang merancang dan memesan hiasan peraknya " jelas Kendrick.
" Apakah Asgar juga mendapatkannya ? " tanya Rey ingin tahu.
" Tentu saja, tapi miliknya lebih sederhana atau mungkin lebih berat lagi " jawab Kendrick.
" Oh...... " Rey menutup mulutnya membayangkan Asgar memakai jubah yang berat.
Kendrick tersenyum dan mencium dahi Rey sebelum menjadi butiran cahaya yang memudar hilang.
__ADS_1
Rey menghela nafas panjang lalu pergi mandi. Ia harus segera menemui Asgar.