GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
67. Bayiku.... Bayiku....


__ADS_3

" Kendrick... mengapa kau datang kesini ? Bukankah katamu Des.... " telunjuk Kendrick menutup bibir Rey.


" Sssst..... jangan menyebut namanya. Aku menghilangkan auraku sebelum datang kesini. Saat ini aku hanya manusia biasa. Kalian harus segera berangkat ke ibukota. Jangan lupa, hapus semua jejak auramu. Sebisa mungkin jangan menggunakan sihir jika tidak terpaksa. Jangan menginap di tempat nenek Angel, itu bisa membahayakan mereka. Aku harus segera kembali. Sampai jumpa " Kendrick mengecup kepala Rey dan menepuk bahu Asgar, lalu menghilang.


Rey mengangguk pada Asgar dan keluar restoran. Mereka segera berangkat ke ibukota. Kira-kira satu jam mereka sudah sampai di depan rumah nenek Angel. Tampak Angel sedang bermain kelinci di taman.


" Aaaaaa.......... Kakak cantik, paman Asgar " teriak Angel.


Nenek yang mendengar teriakan Angel segera keluar dari pintu dapur. Ia pun tersenyum senang melihat kedatangan mereka. Dipeluknya Rey bergantian dengan Asgar.


Rey mengeluarkan belanjanya dari cincin biru. Angel senang sekali. Ia mematut-matut setiap gaun pada tubuhnya yang kecil. Asgar menggoda Angel dengan menarik-narik gaunnya.


Rey bercengkrama sebentar dengan nenek. Ketika siang, Rey dan Asgar segera pergi mencari penginapan di tengah kota. Mereka akan mengamati keadaan dan mendengarkan pembicaraan sekitar.


Asgar memohon ijin untuk melihat-lihat keadaan kota. Awalnya Rey ingin diam di dalam kamar saja. Namun akhirnya ia keluar melihat sekeliling. Kota tidak terlalu ramai. Dilihatnya wajah-wajah murung orang yang berpapasan dengannya.


Ada satu ibu yang sedang berdiri di depan toko perlengkapan bayi. Pakaiannya agak kumal. Ia menatap kosong pada baju-baju bayi yang dipajang di balik kaca. Matanya berkaca-kaca. Rey tak berani mendekat. Ia tahu ibu itu bersedih karena kehilangan anaknya



Lalu dari dalam toko keluar seorang wanita menggendong bayi. Pelayannya mengikuti dari belakang, membawa banyak belanjaan. Ibu kumal itu menyongsong wanita itu dan berusaha merebut bayinya.

__ADS_1


" Anakku.... ! Anakku..... ! "


Wanita itu terkejut dan berusaha menghalau ibu kumal itu. Pelayan menjatuhkan belanjaan dan ikut menghalaunya sehingga ibu kumal itu terjatuh. Dengan marahnya ibu kumal itu bangkit dan mendorong kuat-kuat wanita yang membawa bayi. Akibatnya wanita itu terjatuh dan bayinya terlepas. Segera ibu kumal menggendong bayi itu dan membawanya berlari.


" Oh tidaaaak...... ! bayiku ..... ? tolooong, bayiku diambil dia... tolooong....... " teriak wanita itu.


Pelayannya segera berlari mengejar ibu kumal itu. Rey tercengang melihat kejadian itu. Ia bingung akan menolong dengan cara apa ? Akhirnya ia pun ikut berlari mengejar ibu kumal walaupun sudah jauh.


Sementara orang-orang menolong menenangkan wanita yang kehilangan bayinya. Hal yang tidak disangka-sangka adalah pelarian ini memancing seekor anjing untuk ikut mengejar. Anjing itu menerjang ibu kumal itu sehingga bayi kecil itu terlempar berguling-guling. Ia mengigit dimana saja, membuat banyak luka.


Pelayan yang datang tidak memperdulikan ibu kumal itu, ia menolong bayi yang menangis keras karena terlempar, mengecek keadaannya yang tergores batu dan tanah.


Tiba-tiba datang asap hitam. Anjing itu segera lari ketakutan. Bayi menangis semakin keras, membuat pelayan meringkuk ketakutan. Rey cepat-cepat memeluk pelayan dan bayi itu. Berharap dapat melindungi mereka.


Seorang pria cepat-cepat mendekati Rey dan pelayan yang meringkuk memeluk bayi kecil yang sedang menangis. Itu adalah Asgar. Ia menutupi mereka dengan perisainya dan mengacungkan pedang perak ke arah iblis yang berupa asap hitam itu. Tampak asap hitam itu sekarang terlihat agak pekat, melayang diam diatas mayat ibu kumal.


Orang-orang yang mengintip dari balik rumah dan toko menatap dengan tegang. Mereka takut asap hitam itu akan menyerang mereka yang sedang melindungi bayi kecil. Asgar menunggu dengan waspada. Asap hitam itu perlahan bergerak mendekati mereka. Asgar melangkah maju satu langkah. Dengan berani ia menyilangkan pedangnya di depan dada. Namun tindakan Asgar malah tidak sengaja memantulkan cahaya matahari ke arah asap hitam itu.


" Rrrrraaaarrgghhh ....... " raungannya begitu menyeramkan.


Orang-orang yang mengintip pun menjerit kaget. Asgar sendiri juga terkejut, ia tak menyangka akan hal itu. Asap hitam itu seperti menggeliat terbakar. Asgar terus berusaha memegang pedangnya tetap stabil memantulkan cahaya matahari.

__ADS_1


Rey mengintip dari tepi perisai Asgar. Rey melihat apa yang dilakukan Asgar, segera beringsut memposisikan perisai agar memantulkan cahaya matahari ke arah asap hitam. Tentu saja raungan iblis itu semakin keras terdengar. Rey menggigit bibirnya karena merasa ngeri.


Ketegangan itu berlangsung selama beberapa menit saja. Namun rasanya seperti berabad-abad. Setelah asap itu musnah sama sekali, suasana terasa hening. Semua masih merasa was-was. Hanya tangisan bayi yang terdengar parau.


Tak lama orang-orang mulai keluar mendekati mereka. Asgar segera menyimpan perisai dan pedangnya. Lalu membantu Rey berdiri.


" Nona, anda tidak apa-apa ? " tanyanya khawatir. Rey tersenyum menggeleng.


Rey membantu pelayan wanita itu berdiri.


" Te... terima kasih .... " ucapnya sambil menangis. Ia memeluk bayi itu erat-erat. Tubuhnya masih gemetar. Rey menepuk bahunya untuk menenangkannya. Mengajaknya kembali pada wanita pemilik bayi. Sementara Asgar menyuruh orang-orang untuk mengurus mayat wanita yang menjadi korban.


Tampak wanita pemilik bayi duduk menangis didepan toko. Ada banyak orang yang berusaha menenangkannya. Ketika melihat pelayannya kembali ia segera bangkit berlari menyongsongnya.


" Bayiku..... Bayiku...... " ia mengambil bayi yang sedang menangis lalu memeluknya erat-erat.


Orang-orang yang mengerumuni mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Pelayan itu tersendat-sendat menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai bertemu dengan iblis. Tentu saja yang mendengarkan terperangah karenanya. Wanita pemilik bayi ketakutan segera mengajak pelayan itu pulang.


Rey berdiri diam di teras toko dengan pikirannya masih terpaku pada nasib ibu kumal. Bagaimana ia merasa sedih karena nasib buruk ibu kumal itu. Sudah kehilangan bayinya, malah mati kering sia-sia.


Asgar diam tidak ingin mengganggunya. Ia tahu apa yang dirasakan junjungannya. Ia hanya berdiri disamping Rey memperhatikan sekeliling. Matanya yang tajam menatap sekilas seseorang berjubah hitam di sela toko seberang jalan. Tudungnya menutupi sebagian wajahnya. Namun Asgar yakin itu perawakan seorang perempuan. Tidak tahu berapa umurnya.

__ADS_1


Seekor anjing datang mendekati orang itu dan mengendus-endus. Sepertinya itu anjing yang tadi mengejar dan menggigit si ibu kumal ? Orang itu berusaha mengusirnya, namun anjing itu malah menggonggong berturut-turut. Membuat beberapa warga memperhatikannya. Dengan kesal ia berlalu pergi.


Asgar hampir saja mengejarnya, namun tangan Rey menahannya. Rey menggeleng pelan.


__ADS_2