
Rey dan Zigaz melangkah menuju taman kota. Ada beberapa penjual jajanan dan pemuda-pemudi yang memadu kasih. Rey dan Zigaz mampir makan cemilan.
( " Nona, tugasku sudah selesai " ) Asgar menghubungi Rey.
( " Kemarilah.... Kami di taman kota " ) jawab Rey.
Asgar teleportasi menggunakan bantuan kalungnya. Ia muncul di tengah taman kota, mengagetkan orang-orang disekitarnya. Asgar terpaksa menangkupkan tangannya mengucap maaf. Lalu segera mencari Rey dan Zigaz. Ia bergabung makan cemilan.
Orang-orang di sekitar mulai menyalakan obor untuk penerangan. Bulan juga mulai mengintip untuk tugas malam.
" Nona...... apa rencana kita selanjutnya ? " tanya Asgar.
" Menunggu masalah......... "
" Haaahh........ ?! maksud Nona "
( " Kita menunggu Pangeran Axel mencari masalah dengan Nona lebih dulu, sehingga bisa menghukumnya " ) bisik Zigaz di telinga Asgar.
" Oooooh...........
eh kakek....... Apa kau tak mau berubah jadi pria tampan ? " bisik Zigaz.
" Aku bukan kakekmu.... ! " Zigaz melototi Asgar.
" Tapi kau memang sudah tua. Apa kau tak malu berjalan dengan Putri cantik yang masih muda ? " Asgar meledeknya. Rey tersenyum. Zigaz meradang.
" Baiklah aku berubah " kata Zigaz berubah jadi pria tampan.
" Uiiih......... ! itu baru Zigaz....... " Asgar mengacungkan dua jempolnya, matanya berbinar ceria. Rey terkikik geli. Itu terlalu muda. Bisa jadi masalah gadis-gadis di sekitar nanti.
Angin berhembus dingin. Rey sedikit menggigil.
" Asgar.... temani aku mencari minuman coklat hangat..... " kata Rey.
" Aku arak manis ya ..... " kata Zigaz pada Asgar.
" Baik..... "
Asgar berdiri menemani Rey mencari minuman coklat hangat dan 2 arak manis.
Melihat pria tampan duduk sendirian, dua iblis eh, maaf.......... dua orang wanita malam dengan gaun setengah terbuka mendekati Zigaz. Mereka segera duduk mengapit Zigaz sambil memeluk lengannya.
" Ehm..... tuaan....... mengapa dari tadi tak memanggil saya ? "
" Eh...... kamu siapa ? " Zigaz bingung.
" Saya Rossy...... " jawabnya sambil memainkan mata.
__ADS_1
" Tuan juga bisa mengajak saya kemanapun. Saya Mozza..... " kata wanita di sebelah kanan Zigaz. Ia sengaja menempelkan bagian dadanya yang menggembul ke lengan Zigaz. Muka Zigaz seketika memerah.
" Eh.... ehm..... nona, maaf........ jangan begini....... " Zigaz berusaha melepaskan lengannya sambil berdiri.
" Oh, kenapa.... ? Bukankah itu hangat ? " Mozza pura-pura kecewa. Bibirnya tersenyum menggoda.
" Tuan denganku saja, lebih baik kita berjalan-jalan, yuuuk...... ? " ajak Rossy menarik lengan kiri Zigaz agak kuat. Zigaz jadi terhuyung-huyung ke kiri.
" E...eh....... "
" Bruuukk......... "
Dagu Zigaz jatuh menubruk meja karena kedua tangannya tak bisa dipakai menopang ( keduanya dipegangi dua wanita itu.
" Aih.... ! "
" Oh..... ! "
Secara reflek, kedua wanita itu melepaskan pegangannya untuk menutup mulutnya saat terkejut. Zigaz mendesis kesal dan bangkit.
" Tuan..... maafkan saya, biar saya pijit.... " kata Rossy mengulurkan dua tangannya membelai rahang Zigaz.
Zigaz terkejut menjauhkan wajahnya. Iapun mundur dan menabrak kursi yang akhirnya terjengkang.
" Aaah........ bruuukk.... ! "
" Oh..... astaga tuaaan....... ? " teriak mereka.
" Aaaaaah......... ! Pergiiii.......... ! Jangan menggangguku lagi... ! " Zigaz mengibas-ngibaskan tangannya dengan kesal dan mendorong Rossy dan Mozza. Dua wanita itu berdiri dengan bibir cemberut lalu pergi. Mereka gagal merayu Zigaz.
" Hi...hi...hi...hi.... " Rey dan Asgar tertawa pelan melihat kejadian itu. Mereka kembali duduk bersama dan menikmati minuman. Tapi wajah Zigaz tidak sedap dipandang.
Tiba-tiba terjadi kehebohan di sebelah timur taman kota. Beberapa orang berlari dan berpencar. Sekelompok kelelawar menyerang mereka. Rey bertiga segera kesana. Zigaz membakar kelompok kelelawar itu dengan api. Sementara Rey dan Asgar menolong orang-orang yang terkena serangan. Ada yang tercakar, terkena sabetan sayap dan ada juga yang digigit tangan atau lengan.
Selama satu putaran jam pasir, Rey dan Asgar menolong mereka satu-persatu. Tapi Zigaz mencurigai sesuatu. Ia menatap ke arah bukit Palaz di belakang istana Trexodia.
Ada seorang penyihir yang menggerakkan kelompok kelelawar tadi. Itu tadi kelompok kelelawar penghisap darah. Zigaz menengok ke arah orang-orang sejenak, sebelum kembali menatap ke arah bukit. ia merasa ada yang tak beres.
Beberapa orang yang lemas badannya terpaksa dipapah pulang oleh yang lain. Sedang yang hanya luka ringan segera pulang.
Saat itulah Asgar menyadari Nona Rey tidak ada diantara mereka.
" Zigaz.... Nona Rey tak ada.... ! "
" Apa..... ?! "
Zigaz segera berbalik dan mencari diantara orang-orang yang masih ada. Asgar juga mencari ke sekeliling.
Akhirnya Zigaz menarik Asgar. Mereka terbang ke bukit Palaz. Keadaan sunyi sepi. Zigaz mencari seorang penyihir yang tadi mengendalikan kelompok kelelawar penghisap darah. Ia berusaha mencari jejak aura.
__ADS_1
" Nona......... ! " Asgar berteriak memanggil Rey, siapa tahu terdengar.
" Jangan berteriak.... ! " tegur Zigaz pelan.
Terlambat..... !
Terdengar bunyi kepakan sayap begitu banyak. Asgar tercengang. Ada puluhan bayangan hitam beterbangan mendekat.
Zigaz berdiri di sisi Asgar dan segera membentuk bola perisai tebal.
" Dak.... Duk..... Dak..... Sret..... Sret..... ! "
Kelelawar-kelelawar itu menabrak dan mencakar bola perisai Zigaz. Mereka marah mendengar teriakan Asgar yang dianggap menggangu.
Zigaz menempelkan kedua tangannya dan menyalurkan hawa panas keluar bola sehingga para kelelawar itu mundur namun tidak mau menjauh. Mereka berjarak 10 kaki saja. Akhirnya Zigaz membentuk bola cahaya yang memancarkan panas dan terang (seperti bola lampu ).
" Asgar...... terbangkan bola perisai ini, kita akan mencari Nona Rey di sekitar bukit ini " perintah Zigaz.
" Baik.... "
Mereka terus mencari di sekeliling bukit dan goa tersembunyi. Rey tidak bisa dihubungi dengan telepati seolah ada yang menghalangi. Padahal tidak selalu seperti itu. Jarak dan kekuatan masing-masing juga berpengaruh. Sama seperti teleportasi.
Kelelawar sudah tidak menyerang mereka. Zigaz melihat sungai di sebelah barat bukit. Ia menuju kesana dan membuka bola perisainya. Ia turun mencelupkan tangannya selama beberapa saat. Lalu naik lagi ke samping Asgar.
" Apa yang kau lakukan ? " tanya Asgar.
" Aku mencari jejak siapapun, tapi tak ada " jawab Zigaz muram.
" Bagaimana dengan binatang ? " tanya Asgar sambil melihat sekeliling.
" Kau benar..... " Zigaz bersemangat lagi.
Ia menoleh ke sekitarnya. Lalu tangannya menuding ke dahan tinggi di jarak 50 kaki. Seekor burung hantu melayang turun dan hinggap di lengan Zigaz. Zigaz berbicara dengan bahasa burung hantu.
" Bu huu huuuuw....... Hu huuuuw....... "
" Huuuw...hu...hu... buuu......huu...... Zzzt..... huuwuuuw........... "
Cukup lama mereka saling bersahutan. Kemudian burung hantu itu kembali ke dahan yang tadi.
Asgar menatap Zigaz ingin tahu.
" Bagaimana ? Apa katanya ? "
" Dia melihat 2 pria berjubah hitam berbicara. Lalu yang satu menghilang. Yang disini menggerakkan para kelelawar ke kota " cerita Zigaz.
Mereka saling pandang mencoba menebak siapa....
" Jadi..... Nona tidak ada disini. Salah satu dari mereka menculiknya dengan cara mengalihkan perhatian " kata Asgar. Zigaz mengangguk-angguk.
__ADS_1
" Jika Putri Rey tidak bisa dihubungi, mungkin kekuatan lawan lebih tinggi atau...... Nona dalam keadaan pingsan ? " Zigaz menatap Asgar.
" Tccck....... " Asgar mendesah dan mengacak-acak rambutnya dengan hati was-was.