
" Apa dia sudah mati ? "
" Belum.... tapi darahnya sudah hampir kering.......... "
" Tidak ! Istrikuuuu, istrikuuuu....... ! "
" Cepat panggil tabib.... ! "
" Tutup dulu jendelanya.... ! "
Suara ribut dan langkah kaki yang terburu-buru membuat penghuni penginapan tidak bisa beristirahat dengan tenang. Namun mereka tidak ada yang keluar, merasa waspada di kamarnya masing-masing.
Menjelang pagi Rey terbangun. Rey merasa lengannya sedikit kebas. Ia menengok ke kanan. Ternyata Xenia tidur memeluk erat lengannya.
Eh..... Xenia ? Rey melebarkan matanya untuk meyakinkan penglihatannya. Ya, benar.... itu Xenia. Rey tak mengerti mengapa ada Xenia tidur disampingnya.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dilihatnya Asgar tidur di kursi. Rey mencoba mengingat-ingat hal sebelumnya. Ya, Rey ingat kepalanya pusing berat setelah membakar mayat laki-laki besar itu. Syukurlah ia masih sempat mengeluarkan anak kecil dari ruang dimensinya. Ia yakin Asgar sudah memulangkan pada keluarganya. Rey tersenyum lega. Ia kembali memejamkan matanya karena masih mengantuk.
Ketika matahari sudah muncul, Xenia bangun dan membersihkan diri lebih dulu. Saat ia keluar, tampak Asgar menguap sambil meregangkan tubuhnya. Ia keluar untuk mandi di kamarnya sendiri.
Xenia mendekati Rey dan menyentuh dahinya. Tangannya yang dingin membuat Rey terbangun. Ia membuka mata dan tersenyum pada Xenia.
" Bagaimana keadaan Putri..... ? " tanya Xenia.
Rey tidak menjawab namun menarik Xenia untuk duduk di dekatnya.
" Mengapa kamu ada disini ? Mana Zacko ? "
" Tadi malam Zacko hanya mengantarku, ia harus kembali ke markas. Bagaimana keadaan Putri Rey ? "
" Aku baik-baik saja. Mengapa kamu kesini ? "
" Asgar memanggilku. Ia minta tolong untuk menggantikan bajumu. Gaunmu penuh darah dan bau busuk "
Rey melihat ke arah lengan dan dadanya.
" Tidak ada bekas luka dibadanmu. Aku yang membasuhnya tadi malam " kata Xenia.
" Oh... terima kasih "
Mengapa ada 2 kalung dilehermu ? " tanya Xenia.
" Itu punyaku. Membantu penyembuhan Nona " jawab Asgar yang baru masuk.
" Oh, terima kasih Asgar " kata Rey sambil melepaskan kalung Asgar.
" Tidak perlu berterimakasih padaku Nona. Itu wajib kulakukan untuk menolong siapapun. Nona yang mengajarku begitu "
Rey dan Xenia tersenyum.
" Aku juga mau kalung penyembuh " pinta Xenia pada Rey.
" Berikan apimu sedikit " Rey menadahkan tangannya pada Xenia.
Xenia membuka telapak tangannya. Tak lama kemudian, api kecil muncul dan diberikannya pada Rey. Rey menggenggamnya, lalu memejamkan mata sambil membaca mantra. Pada hitungan ketiga Rey membuka tangannya. Tampak satu kalung berliontin elemen api.
" Ini akan menyerap elemen api di sekitarmu. Bisa digunakan sebagai cadangan energi dan penyembuhan " jelas Rey.
" Apakah tidak membakar orang lain yang ku tolong ? " tanya Xenia.
__ADS_1
" Tidak , itu memang menyerap elemen api, lalu mengubahnya jadi energi dan membantu penyembuhan "
Xenia mengangguk-angguk.
" Nona belum makan dari kemarin " kata Asgar mengingatkan.
" Ah ya, aku akan mandi dulu "
" Saya tunggu di ruang tamu "
" Ya "
Rey keluar masih menggunakan gaun pemberian Xenia.
" Putri, kita menyamar jadi pria saja " pinta Xenia.
Rey merubah dirinya dan Xenia jadi laki-laki. Mereka segera mencari Asgar.
Asgar terkekeh melihat mereka berdua jadi laki-laki. Ia segera berdiri melangkah bersama. Mereka masuk ke restoran besar.
Di dalam restoran sudah ada beberapa pengunjung. Kebanyakan mereka adalah pedagang dan pengelana. Para pengunjung itu kagum melihat 3 laki-laki muda yang tampan dan gagah.
Sedangkan para pelayan wanita berlomba menawarkan menu makanan dan minuman dengan sikap sedikit genit. Kasir restoran hanya bisa geleng-geleng kepala melihat itu.
" Tuan-tuaaan.....
Restoran ini menyediakan sarapan omelette jamur, panekuk saus karamel, pudding roti, roti panggang keju dan daging sapi. Anda ingin memesan apa ? "
" Kami juga menyediakan arak manis, teh manis, teh herbal ...... "
Xenia dan Asgar melirik Rey. Rey tersenyum.
" Aku ingin pudding roti dan minum coklat hangat " kata Rey.
" Aku roti panggang dengan keju dan sapi " kata Asgar
" Ehm.... minumnya apa tuaaaan........ "
" Arak manis "
" Baik tuan-tuaaan..... mohon sabar menunggu, kami akan segera menyiapkan pesanan tuan-tuan "
Setelah mereka pergi, ketiganya menghela nafas berat.
" Fuuuhhh..... ! "
" Kurasa menyamar jadi laki-laki tidak lebih baik dari wanita " Xenia mengeluh.
" He..he..he..he.... lebih nyaman jadi kakek-nenek " kata Asgar.
Rey dan Xenia meringis kecil.
Tak lama pesanan datang. Para pelayan meletakkan makanan sambil mencuri-curi pandang. Sikap mereka tidak segenit tadi. Mungkin kasir restoran telah menegurnya.
" Setelah ini kalian akan kemana ? " tanya Xenia.
" Kami masih akan berurusan dengan Odex di hutan Mazox " kata Asgar
" Ada apa dengannya ? "
" Sepertinya ia sedang berusaha meningkatkan kekuatannya dengan banyak cara. Dari menculik gadis-gadis sampai anak-anak " jawab Rey
__ADS_1
" Oh, tadi malam ada 7 iblis berkeliaran di penginapan "
" Uhuk-uhuk " Asgar tersedak araknya mendengar itu.
Rey tertegun.
" Satu iblis berhasil menghisap seorang pengunjung wanita. Aku tidak berani menolongnya karena kondisi Putri tak bisa ditinggalkan "
" Ng.... maafkan aku " Rey merasa bersalah. Xenia menepuk-nepuk punggung tangannya.
" Putri Rey tidak bersalah. Aku hanya tidak ingin mengambil resiko "
" Seharusnya aku kemarin langsung masuk ke ruang dimensi untuk memulihkan diri, namun tidak sempat "
Xenia tersenyum.
" Mungkinkah para iblis itu bawahannya Odex ? "
" Aku tidak tahu.... "
Mereka diam berpikir. Tiba-tiba Xenia duduk tegak.
" Ada apa ? " tanya Asgar.
" Zacko memanggilku. Aku harus kembali sekarang. Jika butuh bantuan, panggil aku ya ? "
" Ya, sampai jumpa lagi " ucap Rey dan Asgar bersamaan.
Xenia segera menghilang. Kali ini Xenia bisa pulang sendiri karena tahu posisi markas. Rey memberi kode pada Asgar untuk membayar ke kasir. Ia menunggu di luar.
Asgar menyusulnya. Mereka berjalan santai melewati pertokoan dan pasar. Seorang kakek setengah berlari mengejar Asgar.
" Anak muda......... Anak muda.......... "
Asgar dan Rey menoleh ke belakang. Kakek itu tersenyum menatap Asgar.
" Anak muda...... Dimana temanmu yang cantik itu ? "
" Ada apa, pak tua ? "
" Terima kasih sudah menyelamatkan kedua cucuku. Tolong sampaikan terima kasihku pada nona cantik itu "
" Tentu pak tua. Jangan ijinkan anak-anak keluar saat malam. Kota ini masih belum aman dari iblis... "
" Kalian akan pergi ke mana ? "
" Kami..... akan berkunjung ke rumah teman kami "
Kakek tua mengangguk-angguk. Ia membuka kantong bawaannya dan memberikan 2 buah jeruk manis yang menggiurkan.
" Ini dari kebunku, rasanya manis sekali "
" Terima kasih pak tua "
Asgar menerimanya. Rey balas memberikan sebuah apel dari ruang dimensinya. Kakek itu terpesona dengan warnanya yang merah ranum.
" Aah..... terima kasih..... "
" Baiklah, kami pergi dulu. Sampai jumpa, pak tua "
Mereka saling melambaikan tangan.
__ADS_1
Pak tua itu melihat apel yang ranum itu. Ia menggigitnya perlahan. Wooaaah......... Rasanya sungguh berbeda dan menyegarkan. Mata pak tua itu berbinar-binar. Ia berjalan pulang sambil memakan apel.