GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
148. Beruang Iblis


__ADS_3

Kira-kira satu putaran jam pasir, walikota dan para warga sudah sampai di pinggir hutan Mazox. Hutan itu berada disisi tenggara kota Malto, berbatasan dengan jurang batu. Hutan itu tampak sunyi mencekam.


Walikota mengangguk pada Gerard. Gerard memberi kode pada orang-orangnya. Mereka melepaskan kelima anjing itu. Anjing-anjing itu segera melesat ke dalam hutan. Kira-kira pada hitungan ke 15 terdengar lolongan bercampur gonggongan.


Gerard dan ke sepuluh orangnya berlari menyusul. Masing-masing membawa golok di pinggangnya. Walikota dan para warga saling menatap. Seseorang memberanikan diri melangkah. Ia menoleh dan mengajak yang lain.


" Ayo.... demi anak-anak kita " katanya memberi semangat.


" Ya... ! demi anak kita... ! sahut yang lain.


Suara gonggongan dan teriakan bersahut-sahutan di dalam hutan. Jaraknya mungkin 500 langkah. Merekapun berbondong-bondong menyusul Gerard dan orang-orangnya.


Semakin dekat semakin jelas teriakan dan pergerakan orang-orang Gerard. Juga suara gonggongan dan geraman. Ketika jarak tinggal 100 langkah lagi, ayah Carlos merentangkan kedua tangannya.


" Tahan... ! "


Mereka berhenti saling menabrak.


" Bruk... Bruk... ! "


" Aah... ! "


" Astaga..... ! "


" Ada apa sih ? "


" Lihat itu "


" Astaga..... ! "



Mereka berdiri terpaku dan menatap ngeri dengan mulut terperangah. Tampak di depan sosok berbulu seperti beruang namun.... seperti iblis juga. Jangan-jangan mahkluk itu adalah beruang yang tubuhnya diambil alih oleh iblis.


Tentu saja warga dan walikota merasa gentar. Mereka hanya orang biasa, bukan keturunan penyihir. Sudah jelas iblis bukan lawan manusia biasa.


" Sebaiknya kita kembali mengambil obor " kata walikota.


" Tidak mungkin..... kita kembali pasti mereka sudah tewas "


" Pikirkan cara lain... "


" Perak... ! Kita harus punya senjata dari perak. Atau apapun juga dari perak "


" Aku bawa koin perak "

__ADS_1


" Hiisss.... "


" Belati... ? "


" Aku... aku punya " seseorang mengacungkan belati peraknya.


Tapi mereka hanya diam. Tidak ada yang berani melawan langsung.


" Be... berikan saja pada Gerard "


" Ah ya, tentu saja. Sini... ! " Seseorang segera merebut belati itu dan berlari ke arah Gerard.


" Geraaaard...... Belati peraaak.... ! " teriaknya sambil mengacung-acungkan belati.


Gerard menoleh dan menyeringai senang menyambut belati itu. Ia segera maju menyerang beruang iblis itu. Yang lain terus melawan dan membacok beruang iblis. Sementara orang yang memberikan belati mundur sedikit untuk melihat pertarungan itu. Setelah waktu berlalu cukup lama, akhirnya Gerard berhasil menancapkan belati di punggung beruang iblis. Tapi belati itu tidak bisa dicabut lagi. Gerard terpaksa melompat mundur melepaskannya.


" Grrraaauuuuuhh........ ! "


Beruang iblis itu meraung keras saat Gerard menusuk punggungnya dengan belati perak. Dengan marah ia berbalik dan menyerang Gerard membabi-buta. Cakarnya menyabet sana-sini membuat darah Gerard terciprat kemana-mana.


Sementara tubuh beruang iblis itu berasap hitam mulai terurai. Orang-orang Gerard segera mundur. Gerard sendiri berjalan mundur terhuyung-huyung dan ambruk ke tanah. Dada dan tangannya terkena sabetan cakar beruang iblis.


Setelah beruang iblis itu habis lenyap, orang-orang Gerard segera menolong Gerard. Walikota dan para warga juga mendekat. Mereka semua menatap ngeri melihat kondisi Gerard. Bekas luka cakaran itu cepat membusuk dan berbau.


" Gerard....... " walikota berlutut di sampingnya dengan sedih. Selama ini Gerard selalu berdiri sebagai pelindungnya. ( Ia berbeda dengan Diego yang berstatus pelayan pribadi ) . Mulut Gerard bergerak-gerak.


" Gadis Takdir ? " walikota bertanya untuk memastikan. Gerard mengangguk lemah.


" Min...ta......to......long..... " ucap Gerard semakin lirih seperti bisikan.


" Gadis Takdir minta tolong... ? " tanya walikota.


" Mungkin maksudnya : minta tolong pada Gadis Takdir.... " kata ayah Xena.


" Tapi dimana Dia... ? Kita bahkan tidak tahu dimana tempat tinggalnya "


" Bukankah Ksatria Asgar mengenalnya ? " tanya ayah Carlos.


" Ya, sekalian minta tolong mencari anak-anak kita " ucap seorang.


Yang lain segera menatapnya tajam.


" Kamu berani meminta Gadis Takdir mencari anak-anak kita ?! "


" Aku akan berlutut menyembahnya demi anak-anak " jawabnya pasti.

__ADS_1


Semua saling memandang. Mereka mengangguk-angguk.


" Ya.... Aku juga akan berlutut demi anak-anak "


" Oh Gadis Takdir.... semoga dia mau menolong kita " ayah Xena tanpa sadar menangkupkan tangannya sambil memejamkan mata.


Rey yang sedang di kedai roti mendengar panggilan itu. Ia mendesah. Roti tidak jadi dimakan. Ia mngeeluarkan beberapa koin perak dan menaruhnya di meja. Tangannya memegang lengan Asgar yang sedang memegang roti besar. Mereka menghilang. Pelayan kedai sedikit bingung mendapati sisa roti yang belum dimakan, teh hangat dan arak manis separuh dengan beberapa koin perak di meja. Ia menengok ke kanan kiri sebelum membereskan meja itu.


Sedang Rey dan Asgar muncul berdiri didepan ayah Xena. Mereka semua mundur terkejut melihat kemunculan tiba-tiba seorang gadis cantik dan lelaki gagah. Ayah Xena mendengar gerakan sekitarnya segera membuka matanya dan tercengang menatap mereka berdua.


" Siapa yang memanggilku... ? " tanya Rey pada ayah Xena.


" A...... A...... ku...... me... memanggil.... Gadis Takdir " katanya terbata ketakutan.


" Akulah dia " jawab Rey menatapnya. Seketika ayah Xena jatuh berlutut dan memohon.


" Se... Selamatkan anak-anak kami.... "


Yang lain segera tersadar dan ikut berlutut memohon.


" Selamatkan anak-anak kami.... "


Walikota menoleh saat mendengar suara orang-orang memohon. Ia tadi tidak melihat kemunculan Rey dan Asgar karena ia membelakangi mereka, posisinya sedang berlutut di samping Gerard. Ia bangkit mendekat.


" Ksatria Asgar.... ? "


Asgar mengangguk. Tangannya masih memegang roti yang berkurang satu gigitan.


" Gadis Takdir, tolong selamatkan anak-anak kami " sekali lagi warga memohon. Walikota menatap Rey.


" Ga... Gadis... Takdir.... ? " tanyanya tak percaya. Matanya seketika berair. Ia berlutut tepat dihadapan Rey dan ikut memohon.


" Nona.... tolonglah kami semua. Anak-anak menghilang dan mereka terluka " tangannya menunjuk Gerard dan anjing-anjing yang tergeletak bersimbah darah.


Rey memandang sekeliling dan menghela nafas. Asgar melangkah ke anjing terdekat untuk memeriksa, sudah mati. Lalu ke anjing kedua, masih hidup. Ia memasang kalung di leher anjing tersebut.


Gerard mempersilahkan Rey ke arah Gerard yang terbaring diam. Rey berlutut untuk memeriksanya. Ia menatap walikota.


" Apakah anda tadi menyentuhnya ? " tanya Rey sambil mengulurkan tangan.


" I... iya... " walikota meletakkan telapak tangannya pada tangan Rey. Seketika ia merasa ada energi mengalir. Walikota tersenyum memejamkan mata. Lima hitungan kemudian Rey melepaskan tangannya.


" Siapa namanya ? " tanya Rey menangkup tangan kanan diatas dada Gerard.


" Gerard, Nona " jawab walikota.

__ADS_1


" Ia terkena racun iblis " kata Rey.


Walikota dan beberapa yang mendengarnya tercengang. Orang-orang Gerard yang tadi ikut bertarung saling memandang. Lalu segera melemparkan goloknya masing-masing. Golok itu tadi dipakai untuk membacok tubuh beruang iblis. Jadi pasti tercemar racun. Mereka memeriksa tangan masing-masing untuk memeriksa apakah ada cipratan darah beruang iblis.


__ADS_2