GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Pangeran Axel


__ADS_3

Jauh di bagian lain, lebih tepatnya di Kerajaan TREXODIA, Ratu Elena sedang bersedih. Putranya yang pertama, Axel sedang terbaring sakit. Terkadang muntah darah meskipun matanya terpejam. Tabib istana sudah memeriksanya. Ia tidak bisa membantu banyak.


" Yang Mulia Ratu, Pangeran Axel sepertinya mengalami benturan tenaga dalam. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya secara langsung. Namun ia bisa kembali sehat jika beristirahat penuh selama beberapa minggu dan tidak memaksakan tenaga dalamnya untuk keperluan apapun. Untuk makanan dan minuman, tidak ada pantangan. Saya akan membuatkan ramuan untuk memulihkan kesehatannya " pesan tabib sebelum undur diri.


Ratu tetap duduk di tepi pembaringan menatap Axel penuh pertanyaan. Ini sudah hari yang ketiga sejak Axel jatuh pingsan di depan gerbang kerajaan. Tadi pelayan berteriak karena Axel muntah darah lagi. Untungnya Tabib istana sedang menjemur beberapa tanaman obat di dekat taman belakang.


" Apa yang terjadi denganmu nak..... ? Siapa yang berseberangan denganmu ? Tak mungkin itu Destraco bukan ? Putri Rey bilang ia sudah musnah. Atau...... beliau salah orang ? " Ratu terus bergumam memikirkannya.


Sementara Raja Alexander hari ini sedang mengadakan rapat khusus. Mereka harus segera mencari pengganti Axel ( hakim agung cadangan ). Untuk saat ini terpaksa Raja Alexander harus menggantikan tugasnya sebagai hakim agung, hanya untuk kasus yang berat. Sedang untuk kasus ringan, akan ditangani 5 hakim biasa.


Para menteri menyarankan 10 lulusan terbaik akademik diuji dengan beberapa materi tersulit yang pernah ditangani Hakim Agung. Jawaban mereka akan diteliti 5 hakim yang biasa bersama Hakim Agung. Setelah disetujui, salah satu menteri segera pergi ke Akademik Trexodia membawa surat perintah Raja. Sementara Raja dan beberapa menteri yang terkait menuju ke Gedung Peradilan untuk membicarakan masalah ujian.


" Yang Mulia..... mengapa terburu-buru mencari pengganti baru ? Tidakkah kita hanya perlu menunggu sebentar kesembuhan Pangeran Axel ? " tanya salah satu hakim biasa.


Raja menghela nafasnya berat.


" Aku tahu bagaimana sifatnya. Dulu saat ia menjadi panglima perang dan melakukan kesalahan yang tak sengaja, ia langsung mengundurkan diri sehingga Xenia terpaksa menggantikannya. Untungnya Xenia sangat mampu, sesuai dengan elemennya yang berapi-api.


Aku khawatir sekarang ia juga akan mengundurkan diri karena suatu hal. Jadi sebelum kepastian darinya, setidaknya kita sudah mempersiapkan diri. Jika nanti ternyata ia masih ingin memimpin peradilan, kita bisa menempatkan calon yang baru di kota besar lainnya. Bukankah itu tidak masalah ? "


" Yang Mulia benar, saya bahkan sudah lupa Pangeran Agung pernah menjadi panglima "


" Baiklah....... Mari kita siapkan materi yang akan diuji pada para calon "


Mereka pun segera serius mengerjakannya.


Axel membuka matanya menatap sekeliling. Ini kamarnya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin. Setelah menempuh perjalanan jauh, ia akhirnya sampai juga di istana Trexodia. Namun kepalanya sedikit pusing dan pandangannya menjadi gelap.


Axel menghela nafasnya. Ia diam mencoba merasakan apa yang salah dalam dirinya. Lalu ia ingat kejadian beberapa hari lalu.


" Tccck....... ! "


Seorang pelayan masuk membawa baskom air.


" Oh..... ! Pangeran Axel, anda sudah sadar..... Saya akan beritahu Yang Mulia Ratu "


" Haiiish....... Tidak perlu. Bawakan aku makanan, aku lapar "


" B... baik Pangeran... "


Pelayan itu secepatnya berlari ke arah dapur dan menyediakan makanan untuk Axel. Ia harus menghangatkan sebentar karena ini bukan jam makan yang seharusnya.


" Mengapa kau terburu-buru ? Itu untuk siapa ? " tanya kepala pelayan.

__ADS_1


" Pangeran Axel sudah sadar. Tolong anda beritahu Yang Mulia " jawabnya tanpa menatap kepala pelayan.


" Baik.... " kepala pelayan segera berlari ke aula Raja. Tapi Raja tidak ada disana, sedang pergi ke Gedung Peradilan. Jadi ia berlari mencari Ratu Elena.


Pangeran Axel sedang menikmati makanannya saat Ratu Elena datang.


" Axel........ "


Ratu Elena menahan diri untuk tidak bertanya, ia menunggu sampai Axel selesai makan. Setelah selesai, pelayan segera membereskan meja dan berlalu.


" Axel, bagaimana keadaanmu sekarang ? "


" Aku baik-baik saja Bu... "


" Tapi..... Apa yang terjadi hingga kau pingsan di depan gerbang istana ? Apakah ada yang menyerangmu diam-diam ? "


" Tidak ada yang menyerangku Bu.... Aku hanya kelelahan karena berkeliling terlalu jauh "


" Oh........... "


Axel bangkit dan naik ke pembaringan.


" Ibu jangan khawatir lagi.... Aku masih ingin beristirahat..... "


Ratu Elena menarikkan selimut untuk Axel. Lalu keluar sambil menutup pintu.


Axel tidak tidur. Ia mengambil sebuah buku usang bertuliskan Kekuatan Tertinggi. Di situ dituliskan tentang betapa hebatnya kekuatan tertinggi di alam sihir. Juga bagaimana cara mendapatkannya dan kapan waktu kemunculannya. Ada beberapa hal yang harus dihindari untuk mendapatkan kekuatan itu. Jika tidak, akan sia-sia atau menyakiti diri sendiri.



Axel menggeram kecil mengingat kesempatan yang terlewat. Ia sangat terlambat dan ceroboh. Ini juga karena kesalahan para pelayan khususnya. Mereka sungguh bodoh.....


Tiba-tiba Axel ingat sesuatu. Ia menyibakkan selimut dan bermaksud ke tempat seseorang. Tapi.......


" Aahk...... ! " darah keluar dari mulutnya.


Axel menyesal, ia lupa tak boleh menggunakan tenaga dalamnya dahulu.


" Tccck..... ! "


Segera ia mengambil baju kotornya dari kamar mandi dan membersihkan lantai dari darahnya. Axel enggan memanggil pelayan karena akan menimbulkan keributan yang menyebalkan. Dan yang pasti akan membuat ibunya banyak bertanya.


" Tccck..... ! "

__ADS_1


Dengan kesal Axel duduk di kursi. Tidak ada jalan lain selain berjalan kaki kemana-mana sekarang. Axel memutuskan untuk pergi dahulu menemui tabib istana.


Segera ia simpan buku itu di laci tersembunyi sebelum melangkah keluar kamar.


" Tok...tok...tok........ "


" Silahkan masuk.... "


Axel masuk dan menutup pintu. Tabib itu sedang memilah-milah tanaman obat yang sudah kering. Ia terkejut melihat kedatangannya.


" Pangeran.... ! Mengapa anda datang kemari ? Seharusnya anda istirahat saja dan menyuruh seseorang memanggil saya ? "


Axel tidak perduli dan mengambil kursi untuk duduk.


" Katakan, apa yang tahu tentang sakitku.... "


Tabib menghela nafas sebelum menjawab.


" Pangeran terluka dalam. Ada cedera serius di pusat dada. Mohon untuk sementara jangan melakukan apapun yang menggunakan tenaga dalam. Saya akan membuatkan ramuan untuk mengurangi rasa sakit di dada "


" Hanya mengurangi ? "


" Benar Pangeran. Kerusakan inti tenaga dalam hanya bisa disembuhkan oleh tabib penyihir. Saya hanya tabib biasa. Yang bisa saya lakukan adalah memulihkan kesehatan anda dan mengurangi rasa sakit anda. "


" Tccck...... tak berguna. Lalu berapa lama aku bisa menggunakan tenaga dalamku ? "


" M... mungkin beberapa minggu "


" Haiiish........ Terlalu lama ! "


" ................ "


Axel keluar dan membanting pintu dengan keras.


" Jdeeerrrr.... ! "


Tabib tua itu mengelus dadanya.


Axel melangkah kesal ke arah taman. Ia berharap akan mendapati ibunya di sana. Sepanjang lorong ia tidak menjawab sapaan pengawal atau pelayan yang berpapasan dengannya.


Axel sampai di halaman belakang istana. Ada bermacam-macam jenis bunga di sana. Ia mengedarkan pandangannya mencari ibunya.


( Kemana ibu.... ? )

__ADS_1


__ADS_2