
Keadaan kota sangat tenang. Rey dan Asgar berjalan santai. Ketika melewati pasar tiba-tiba seorang ksatria berkuda cepat melintasi jalanan. Ia berteriak keras-keras agar orang-orang minggir.
" Minggiiirrr.....! minggiiirrr......! "
( " Eh.......?! )
Rey bertatapan dengan Asgar. Sepertinya itu tadi suara perempuan walaupun agak serak. Asgar mengangkat bahunya sementara Zigaz bercuit-cuit.
Akhirnya mereka tidak perduli, lagipula tidak ada kejadian apapun. Mereka terus berjalan ke arah istana. Di jalan banyak yang menyapa atau hanya mengangguk pada Rey dan Asgar.
Ketika sampai di istana yang sedang proses pembangunan, tampak orang-orang seperti menonton sesuatu. Rey memberi isyarat pada Zigaz agar melihat dari atas kerumunan.
Zigaz terbang diatas orang-orang. Ia melihat seorang perempuan memakai baju zirah sedang memarahi seorang laki-laki yang juga berbadan besar. Zigaz kembali pada Rey dan bercuit-cuit menceritakan pada Rey.
" Ayo Asgar... " Rey menarik lengan Asgar menerobos kerumunan itu. Orang-orang yang mengenali Rey dan Asgar segera memberi jalan. Rey menatap pada Zacko yang hanya menggaruk-garuk kepalanya ketika satria wanita itu marah sambil mengacung-acungkan pedangnya.
" Ada apa ini Zacko ?! " suara Rey yang lembut tapi jernih membuat semua menoleh pada Rey.
Zacko menegakkan kepalanya saat mendengar suara Rey.
" Nona....... tolong saya. Saya ...... "
Sebuah ujung pedang yang tajam berhenti dibawah dagu Zacko. Zacko terdiam. Rey hanya melirik saja.
" Kau harus segera menikahiku....! " ujar gadis itu.
" Xe... Xenia...... lebih baik kita bicarakan dimarkas saja " kata Greg muncul dari belakang Zacko.
" Baik.....! "
( " Asgar kau disini dulu mengawasi pembangunan " ) kata Rey dalam telepati. Asgar mengangguk.
Rey, Zacko, Greg dan Xenia berjalan beriringan menuju markas. Sepanjang jalan Zacko terus bergumam tak jelas.
Sementara Asgar berkeliling mengamati apa saja yang sudah dikerjakan. Ia juga mendengar pembicaraan orang-orang tentang calon raja yang baru. Kebanyakan mereka semua cenderung memilih Greg. Karena ramah, dan bijaksana. Ia juga peka. Namun dari segi kekuatan, Zacko sudah jelas kuat dan emosional. Hanya saja mereka sudah tidak ingin raja yang terlalu kuat (seperti Raja Higo). Bagi mereka raja yang bijaksana akan membuat negara jadi makmur. Biar Zacko menjadi Ksatria atau panglima perang saja.
Di markas, hanya Rey yang duduk, 3 lainnya memilih berdiri saja.
" Katakan padaku siapa namamu nona " tanya Rey
" Saya Xenia, Nona. Saya mencari Zacko karena ia berjanji akan menikahi saya setelah saya selesai mengatasi masalah di perbatasan utara TREXODIA " jelas Xenia sambil melirik Zacko.
__ADS_1
" Zacko..... ? " Rey memandang Zacko.
" Saya.... saya memang pernah berjanji padanya seperti itu Nona. Tapi.... itu.... sebelum saya mengetahui siapa dia " jawab Zacko lalu menunduk.
" Memangnya dia siapa ? " tanya Rey tersenyum.
" Dia adalah Putri Raja TREXODIA, Nona. Sedangkan kami dulunya adalah perampok di hutan GARLOC " Greg menjelaskan.
" Saya.... tidak mungkin membiarkan anak buah saya celaka karena Xenia. Jadi saya memilih keluar dari Kerajaan TREXODIA " kata Zacko.
Rey menghela nafas. Ia menatap Xenia yang memejamkan mata. Ada raut kesedihan yang disembunyikannya.
Tiba-tiba melintas titik-titik cahaya berkilauan. Itu Kendrick. Ia berdiri di samping dan mengecup puncak kepala Rey.
Zacko dan Greg segera berlutut dengan sebelah kaki.
" My Lord.... "
" Bangunlah..... "
Xenia menatap semuanya dengan diam. Ia tidak tahu siapa Rey atau Kendrick. Dipikirnya mereka mungkin majikan Zacko sekarang. Jadi ia tidak perlu memberi hormat.
Tak lama melintas lagi berkas-berkas cahaya yang berhenti disamping Xenia. Seorang wanita anggun mengenakan mahkota muncul. Ia langsung menarik tangan Xenia sampai jatuh berlutut dihadapan Kendrick.
" Salam Yang Mulia...... hamba mohon ampun atas ketidak-sopanan anak hamba " wanita itu berlutut memohon.
" Bangunlah Elena..... " jawab Kendrick.
Xenia ternganga.... Ia baru menyadari siapa laki-laki yang dihormati ibunya. Dia adalah Penguasa Abadi negeri cahaya, Raja ASTRACO.... ?! Oh tidak.....! Xenia menunduk amat dalam.
Elena bangun namun tetap menunduk. Ia membiarkan Xenia seperti itu. Kendrick tersenyum. Xenia terlahir dengan elemen api, jadi wajarlah jika emosinya tidak stabil.
Kendrick menyentuh kepalanya untuk menyeimbangkan elemen api Xenia. Xenia merasakan suatu kekuatan memasuki tubuhnya.
Ia memejamkan matanya sampai proses itu selesai.
" Bangunlah Xenia..... " perintah Kendrick.
Xenia segera berdiri namun tetap menunduk. Ia merasa tidak pantas dihadapan Penguasa Abadi.
" Am... Ampuni hamba... Yang Mulia..... " ucap Xenia gugup.
" Pilihanmu tidak salah Xenia. Hanya waktunya yang belum tepat. Zacko juga berasal dari Astraco. Namun ia ditakdirkan mengabdi pada Kerajaan HIGRESIA. Kalian akan menikah nanti jika Zacko sudah menjadi seorang Ksatria "
__ADS_1
Xenia langsung menoleh ke arah Zacko. Mulutnya terbuka tak bisa berkata-kata. Sementara Zacko sendiri terkejut mendengar kata-kata Penguasa Abadi. Ia juga bertatapan dengan Greg sebelum kembali menatap Xenia.
" Terima kasih Yang Mulia .... " ucap Elena.
" Terima kasih My Lord " ucap Zacko
" Terima kasih Yang Mulia " Xenia menunduk malu.
" Kembalilah.... biarkan Xenia bersama Zacko beberapa hari ini " kata Kendrick melambai pada Elena. Elena membungkuk sebelum berubah menjadi cahaya dan pergi.
" Tinggallah disini beberapa hari Xenia. Jangan berpikir macam-macam tentang Zacko. Kau harus belajar menekan amarahmu " Rey berbicara lembut.
" M.... maafkan hamba, Ratu.... "
" Aku belum menjadi ratu, Xenia. Panggil Nona saja "
" Eh..... baik "
Rey beranjak menarik tangan Kendrick. Greg mengikutinya. Mereka keluar ruangan. Membiarkan Zacko dan Xenia berbicara secara pribadi.
" Nona, saya akan kembali ke istana, melanjutkan pekerjaan " pamit Greg. Rey dan Asgar mengangguk.
Rey mengajak Kendrick ke halaman belakang markas. Mereka duduk di bangku yang dibuat dari tanah padat (karya Zacko).
" Kendrick.... apa kau tahu siapa yang pernah dekat dengan Destraco, maksudku seseorang selain dirimu ? " tanya Rey serius.
Kendrick mengerutkan alisnya. Sejenak kemudian menggeleng.
" Apakah ia punya kekasih ? " tanya Rey lagi.
" Sepertinya tidak, ia membenci siapapun bahkan pada ibunda sendiri. Ia sudah dikuasai keinginannya untuk menjadi seorang penguasa sedari kecil "
" Itu dia..... siapa yang menjadi pengasuh kalian waktu kecil ? " tanya Rey ingin tahu.
Kendrick menatap Rey. Ia mencoba mengingat-ingat.
" Aku........ tidak ingat " jawab Kendrick ragu.
" Kau....... kau tidak ingat masa kecilmu ?! Mungkinkah kepalamu pernah terbentur batu ? " Rey bertanya heran.
Kendrick menghela nafas panjang.
" Destraco sudah berkali-kali mencelakaiku saat kecil. Ayahanda akhirnya mengeluarkannya dari negeri cahaya. Ia kembali datang saat Astraco akan menikah dengan Putri Selena. Namun ia membunuh Astraco dan membakar tubuhnya sehari sebelum pernikahan. Hanya saja Putri Selena segera mengenalinya saat pernikahan sedang berlangsung sehingga Destraco juga membunuhnya. Putri Selena sempat mengutuknya (bersumpah dengan tetesan darah) saat-saat terakhir kematiannya " Kendrick menatap langit dengan kesedihannya.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama terdiam merenungi cerita masa lalu.