GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Mengerjai Axel


__ADS_3

Esok harinya.....


Axel bangun dengan badan sudah sehat.


" Pangeran..... Raja dan Ratu meminta anda makan pagi bersama " panggil pelayan setengah berteriak dari luar pintu.


" Ya " hanya itu jawaban dari dalam.


Pelayan segera kembali menyampaikan jawaban Pangeran Axel.


Tak lama Axel membersihkan badan dan segera menuju ruang makan. Ia langsung duduk di samping Raja. Raja dan Ratu menatapnya sebentar, mengerutkan alis dan saling menatap berdua. Dua-duanya menghela nafas.


" Mari kita makan dulu " kata Ratu mencoba tenang.


Setelah 30 hitungan mereka selesai makan. Ratu menahan Pangeran Axel.


" Nak...... jangan pergi dulu. Ada yang ingin kami tanyakan "


" ......... ? Soal apa ? "


" Axel, apakah kau sudah punya kekasih ? tanya Raja.


" Eh......... mengapa ayah menanyakan hal itu ? "


" Apakah kamu semalam bertengkar dengan kekasihmu ? " tanya Ratu.


" ................ ? " Axel menatap Ratu dengan perasaan tidak suka.


" Jangan marah pada kami. Ada bekas tamparan di pipimu.... " Raja menengahi.


" ............ ! " Axel langsung meraba pipinya. Tentu saja ia tidak bisa melihat. Ia berdiri dan cepat kembali ke kamarnya. Tadi ia tidak berkaca setelah mandi, jadi tidak tahu.


Ketika sudah sampai di kamarnya, Axel langsung melihat wajahnya di kaca rias.


" Astaga........ ! " memang benar tampak bekas tamparan Rey yang begitu jelas.


" Sialan...... ! "


Axel merapal mantra penyembuhan dan mengusap pipinya. Terlihat bekas itu sudah hilang. Tapi Axel sudah tidak merasa gembira lagi. Ia duduk menatap keluar jendela. Lima hitungan kemudian Axel melesat keluar. Ia mencari Rey.


Rey, Asgar dan Zigaz masih berkumpul di kamar Rey setelah mandi. Petugas penginapan mengantar makan pagi untuk mereka bertiga.


" Nona..... saya yakin hari ini Pangeran Axel mencari Nona " Kat Asgar.


" Pasti laaahh..... ia pasti ingin menghukum Nona atas "tamparannya" " sahut Zigaz.


" Mmmm....... " Rey hanya mengangguk-angguk. Ia sedang minum kuah sup jamur.


" Menurut saya lebih baik Nona menyamar saja biar Pangeran Axel tak menemukan Nona ? " usul Asgar.


" Kalau aku terus menghindar, lalu kapan kita akan menyelesaikannya ? " jawab Rey.


" Oh iya..... Nona kan sedang memancing kesalahannya " sahut Zigaz

__ADS_1


" Kalau begitu hari ini orang-orang akan mendapatkan tontonan yang lucu " kata Asgar tersenyum.


" Apa maksudmu...... ? " tanya Zigaz.


" Aku yakin hari ini Pangeran Axel akan memamerkan karya seni Nona kemana-mana " jawab Asgar.


Zigaz termenung sebentar memikirkan kata-kata Asgar. Tak lama ia menepuk dahinya sambil terkekeh panjang. Rey juga tertawa sambil minum teh.


Tiba-tiba Rey duduk tegak.


" Hey Zigaz.... Apa kau bisa membuat Thalia bertemu Axel di depan pasar ? " tanya Rey.


" Akan saya usahakan Nona " jawab Zigaz segera bangkit berdiri.


" Aku ikut.... " kata Asgar memegang bahu Zigaz.


" Jika sudah berhasil, beritahu aku ya "


" Baik Nona " Asgar dan Zigaz segera menghilang.


Tapi sekejap saja Asgar dan Zigaz muncul lagi di depan Rey.


" Nona, rumah Thalia dimana ? " tanya Zigaz.


Rey tercengang. Lalu menepuk dahinya.


" Aku juga tak tahu dimana..... he...he...he........ "


" Lho.... bukankah kalian sudah lihat wajahnya tadi malam ? Tinggal muncul di dekatnya saja kan bisa ? " tanya Rey.


" O... iya....ya........ " Asgar dan Zigaz kembali menghilang.


" Iiiiissh............ " Rey mendesis gemas "


Asgar dan Zigaz muncul di kamar Thalia. Ternyata gadis itu masih tidur.... !


" Ya ampuuun.............. ini kan sudah siang. Matahari sudah tinggi. Benar-benar gadis pemalas ya.... ?! " kata Asgar cukup keras.


Zigaz cepat membekap mulut Asgar dan menyeretnya bersembunyi.


Thalia terkejut mendengar suara laki-laki dikamarnya. Ia membuka matanya dan memelototi sekeliling kamar, namun tak ada siapa-siapa. Ia mengira tadi masih mimpi. Karena sudah tak bisa tidur lagi, Thalia menguap dan menggeliat kemudian duduk.


" Zieeeen...... ! Siapkan air mandi untukku ! " teriak Thalia.


" Baik nona..... " segera masuk seorang pelayan mengurus keperluan Thalia.


Thalia menyibakkan selimutnya. Asgar dan Zigaz sama-sama terbelalak tapi langsung saling menutup mulut dan mata. Ya, Thalia hanya mengenakan gaun tidur yang aduhai.


Ketika Thalia sudah mandi dan pelayan Zien keluar, Asgar dan Zigaz menyamar sebagai pelayan yang membawakan sarapan.


" Selamat pagi nona. Kami membawakan sarapan untuk nona dan juga kabar terbaru di pasar pagi ini " kata Asgar sebagai pelayan wanita.


" .......... ? ceritakan padaku " jawab Thalia sambil mengunyah roti tumpuk ( burger ).

__ADS_1


" Pangeran Axel tadi ada dipasar. Katanya ia sedang mencari seseorang bernama Rey " kata Zigaz


" Tccck, Rey lagi...... Rey lagi. Sebenarnya dia anak siapa sih..... ?! "


" Ya anak orang laaahh....... " cibir Asgar.


Thalia menatapnya tidak suka. Asgar langsung menutup mulutnya dengan tangan.


" Maaf nona...... "


" Sebaiknya nona juga ke pasar. Jangan sampai Pangeran Axel bertemu dengan nona Rey. Nona harus lebih agresif gitu lhooo....... " usul Zigaz


" Baiklah, aku pergi sekarang..... Kalian jaga rumah "


" Baik nona "


Asgar dan Zigaz segera pergi ke pasar lebih dulu. Mereka duduk-duduk bersama orang lain mengamati sekitar. Nona Rey akan datang jika Axel dan Thalia sudah bertemu.


Axel berjalan kesana kemari dengan wajah cemberut. Sementara orang-orang dewasa yang berpapasan dengannya hanya menahan senyum. Berbeda dengan para pemuda dan gadis. Mereka akan langsung tertawa atau berbisik-bisik di belakang Axel.


Thalia berjalan cepat menuju pasar. Ia memakai jubah biru bermotif bintang. Rambutnya ditata sedemikian rupa ditutupi sedikit rambut palsu sehingga tidak terlihat cacat. Tampak seperti penyihir cantik.



Thalia melihat Axel di depan sebuah toko, sedang menengok ke kanan dan ke kiri. Thalia tergesa-gesa menuju kesana. Tapi tak sengaja menabrak seorang pria dan hampir jatuh.


Pria itu memeluk dan tersenyum padanya. Badannya kekar seperti Asgar.


" Apa kau baik-baik saja nona ? "


" Eh..... ya.... tolong lepaskan " Thalia meronta dan mundur 2 langkah. Ia hendak melanjutkan menyusul Axel. Tapi pria itu menghadang pinggangnya dan memeluk Thalia.


" Tidak semudah itu kau pergi.... " bisiknya di telinga Thalia, lalu mengecup ringan telinga Thalia.


" A.... apa yang kau lakukan ?! " wajah Thalia memerah. Dadanya berdebar keras karena hal itu.


Di kejauhan Axel kebetulan berjalan ke arah mereka. Thalia segera menghadangnya.


" Axel...... tolong......... ia berbuat kurang ajar kepadaku " kata Thalia menunjuk lelaki berbadan kekar itu.


Axel menatap penampilan Thalia. Gadis ini ternyata tetap bisa berdandan elegan walau rambutnya terbakar separoh.


" Axel......... ia berbuat kurang ajar kepadaku " Thalia mengulang pengaduannya.


" Apa yang ia lakukan ? " Axel melirik pria kekar itu.


" Ia.... ia memelukku dan.... mencium telingaku " kata Thalia pelan karena malu didengar banyak orang.


" Kalau begitu segeralah menikah dengannya. Jadi kalian bisa melakukan itu sesuka hati kalian tanpa ada larangan dan teguran dari siapapun " jawab Axel sambil berlalu.


" A... apa...... ?! " Thalia tak menyangka jawaban Axel seperti itu. " Axeeell........ "


Thalia mengejar dan menarik keras lengan Pangeran Axel sehingga berbalik. Tapi.....

__ADS_1


__ADS_2