
Odex tertawa lebar. Ia bahagia melihat penyihir itu kesakitan. Teriakannya bagaikan nyanyian penghiburan. Ia berniat akan menyiksanya sampai sekarat. Mulutnya menyeringai kejam.
Ia sangat kesal karena niatnya meningkatkan kekuatannya gagal. Seharusnya ia sudah siap melakukan ritual itu besok malam purnama. Sayang sekali tawanannya diambil alih penyihir wanita tua itu ( Ia menyangka Rey adalah nenek tua yang awet muda )
Odex memikirkan nenek tua itu. Ia pasti juga akan melakukan ritualnya pada malam purnama besok di tempat tertentu. Odex menggeram pelan, ia akan mencari dan mengacaukannya besok.
Sedangkan orang yang dimaksud Odex masih terbaring di penginapan. Racun kematian masih mencemari peredaran darah Rey. Namun itu tidak membahayakan. Sebab dalam tubuh Rey terpadu energi cahaya (api, petir) dari ibunya dan energi gelap (racun) dari ayahnya. Inilah penyebab kelahiran Rey menjadi rebutan.
Ia tidak akan mati karena racun, bahkan ia dulu hanya mengalami mati suri saat tercemar seribu racun milik Terra. Seharusnya Rey akan lebih cepat sembuh jika berendam di danau jiwanya. Namun Rey keburu pingsan lebih dulu setelah mengeluarkan anak kecil dari ruang dimensinya.
Asgar terbangun ketika mendengar panggilan makan malam dari para pelayan yang mengetuk setiap pintu kamar penginapan.
" Waktunya makan malam.... silahkan bergabung di depan "
Asgar memandang Rey yang belum sadar. Ia mengecek dahi Rey. Sapu tangannya sudah kering. Asgar kembali membasahinya dan meletakkannya di dahi Rey. Perutnya terasa lapar. Ia keluar dan kembali membawa piring berisi makanan. Asgar tak ingin meninggalkan Rey sendiri.
Selesai makan, Asgar diam termenung. Ia memikirkan cara bagaimana mengganti baju Rey yang kotor dan berbau busuk. Ia tak bisa memanggil Alice. Kekuatannya belum bisa telepati menembus ke negeri cahaya.
Asgar ingat Xenia. Xenia berada di ibukota HIGRESIA. Itu tak terlalu jauh dari Malto. Asgar berdiri menggenggam liontin kalungnya yang berada di leher Rey.
Dicobanya memikirkan Xenia sambil memanggil.
" Xenia........ Xenia........ "
Xenia terkejut mendengar panggilan telepati. Itu suara siapa ? Bukan ayahnya atau kakaknya...
" Ini siapa ? "
" Ini aku, Asgar "
" Oh, Ksatria Asgar ? ada apa menghubungiku ? apakah ada masalah ? "
" Ya, anu..... Nona Rey ..... tolong kesini.... "
" Apa yang terjadi padanya ? Kalian ada dimana ? "
" Kami di kota Malto. Penginapan BEST-IN "
" Baik, aku datang "
Xenia cepat berlari menemui Zacko. Ia segera memegang lengan Zacko.
__ADS_1
" Zacko, bawa aku ke kota Malto. Sekarang ! "
Zacko terheran dengan tingkah Xenia, namun segera teleportasi ke Malto.
Mengapa Xenia meminta Zacko membawanya teleportasi ? Bukankah Xenia juga penyihir ? Itu karena Xenia berasal dari Kerajaan TREXODIA. Tidak mengetahui posisi kota-kota di wilayah HIGRESIA. Sedangkan Zacko sedikit tahu karena ia seorang petualang (perampok) .
Sampai di tengah kota Malto, Zacko bertanya pada salah satu warga kota tentang penginapan BEST-IN. Mereka cepat berlari masuk dan hendak bertanya pada petugas penginapan. Tapi ternyata Asgar sudah menunggu di ruang tamu.
Asgar menjelaskan pada petugas sebelum ia membawa mereka ke kamar Rey. Xenia berlari ke sisi Rey.
" Putri Rey.... ! "
Zacko segera mendekat. Mereka melihat bagian depan gaun Rey yang penuh darah kering berbau busuk.
" Apa yang terjadi pada Tuan Putri ? " tanya Zacko khawatir.
" Kami bertarung dengan iblis bertanduk 2. Nona Rey terkena serangan cakarnya yang beracun " jawab Asgar.
" Ya ampun...... " Xenia memeriksa denyut nadi dan dahi Rey.
" Aku.... Aku memanggil Xenia untuk menggantikan baju Nona Rey... " Kata Asgar.
Xenia segera ke kamar mandi dan mengambil air untuk membasuh Rey. Ia melepaskan gaun Rey perlahan karena takut membuat Rey kesakitan.
Kemudian ia membasuh muka dan bagian depan tubuh Rey yang belepotan darah kering. Xenia tidak memperdulikan bau busuk yang menguar. Ia adalah gadis petarung. Jadi luka dan darah sudah biasa baginya.
Tapi ia heran karena tidak menemukan luka apapun di badan dan lengan Rey setelah dibersihkan. Juga di punggungnya. Padahal gaunnya sobek-sobek di bagian lengan dan dada.
Xenia mengambil salah satu gaunnya dari ruang dimensi. Ia memilihkan warna biru muda untuk Rey. Setelah membereskan semuanya, Xenia mempersilahkan Asgar dan Zacko masuk.
Mereka berdua berderet di samping ranjang Rey dengan wajah cemas. Sedang Xenia duduk tenang di ujung ranjang, dekat kaki Rey.
" Asgar.... katamu Putri Rey terluka oleh cakaran iblis bertanduk 2. Tapi tadi aku lihat tidak ada bekas luka apapun di tubuhnya " jelas Xenia
" Benarkah..... ?! " tanya Asgar dan Zacko heran.
Xenia mengangguk. Asgar dan Zacko menatap Rey, mereka percaya kata-kata Xenia. Tapi Asgar masih bingung karena tadi jelas terlihat baju Rey berlumuran darah.
" Kemungkinan Putri Rey punya kemampuan menyembuhkan lukanya sendiri " kata Zacko.
__ADS_1
" Zacko, aku akan disini sampai Putri Rey sadar. Kau kembalilah ke markas " kata Xenia.
" Hmmm..... Kabari aku jika Putri Rey sudah sadar "
Xenia mengangguk. Lalu Zacko menepuk bahu Asgar dan mencium dahi Xenia sebelum menghilang.
" Ceritakan padaku apa yang kalian alami hari ini " pinta Xenia.
Asgar duduk di lantai bersandar pada laci kecil samping tempat tidur. Lalu menceritakan kejadian dari awal pagi tadi.
" Aku belum pernah bertarung dengan iblis. Jadi dia punya kecepatan dan cakar beracun ya ? "
" Ya, iblis juga bisa merasuki orang sakit, sekarat atau sudah mati. Untuk hewan, apapun keadaannya bisa jadi alat penyerangan "
Xenia mengangguk-angguk. Tiba-tiba Xenia melangkah cepat ke arah jendela dan mengintip keluar. Asgar bertanya-tanya dalam hati.
Xenia membaca mantra dan menggerak-gerakkan tangannya di udara. Lalu cepat-cepat menarik tangan Asgar agar bangkit mengikutinya. Ia mendudukkan Asgar di kursi sementara ia duduk di pembaringan. Matanya terus menatap ke jendela dan atap penginapan.
(" Waspadalah.... Ada beberapa iblis sedang mengelilingi kota ini. Sepertinya mereka mencari sesuatu ")
Sejenak kemudian Asgar merasakan suasana mencekam. Ada aura gelap yang cukup besar membayang di udara, bahkan diatas penginapan. Rasanya seperti ada mata yang mengawasi mereka.
Xenia bangkit dan duduk di samping kepala Rey. Ia berpura-pura tidak tahu, padahal matanya melirik waspada. Asgar sendiri menahan nafasnya agar tetap tenang.
" Aaaah...... Braaakkk..... ! "
Hatinya terjengit kaget saat mendengar teriakan seorang wanita dan bunyi barang jatuh di kamar sebelah. Asgar saling melirik dengan Xenia. Sesuatu pasti terjadi di kamar sebelah.
Tak lama terdengar suara langkah mendekat dan membuka pintu sebelah kamar Rey.
" Istrikuuuu............. ! istrikuuuu..... apa yang terjadi padamu ? bangunlah......
Toloong......... "
Petugas penginapan dan beberapa pelayan segera datang. Mereka berebut masuk untuk melihat apa yang terjadi.
" Astaga..... siapa yang menggigitnya sampai seperti itu ? "
" Bukan siapa, tapi apa ! "
" Lihat, jendelanya terbuka, pasti kelelawar penghisap darah telah masuk dan menggigitnya. Ia kehabisan darah "
__ADS_1
" Mengerikan.... "