GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Berkunjung Ke Istana


__ADS_3

Sementara Rey dan Zigaz bertemu dengan Asgar dan nenek Wilma.


" Nak Rey...... terima kasih sudah membawaku ke Trexodia. Aku sudah menemukan saudaraku. Untuk selanjutnya aku akan tinggal bersamanya dan menjadi tabib disini. Ia punya 5 cucu laki-laki dan perempuan. Aku tidak akan kesepian lagi "


" Tentu nek, jangan lupa jaga kesehatan nenek sendiri "


" Ini kantongmu aku kembalikan. Aku khawatir cucu-cucuku menemukan keajaibannya "


" Oh tidak perlu nek...... Pakailah..... Kantong ajaib itu hanya bisa dipakai oleh nenek saja. Orang lain tidak akan menemukan apapun atau menyalahgunakannya. Dan itu akan menghilang sendiri jika nenek juga tutup usia. Jadi jangan khawatir, pergunakanlah untuk kebaikan " kata Rey menahan tangan nenek yang hendak melepas kantongnya.


" Oh..... benarkah...... ? Kalau begitu aku akan mentraktir kalian semua makan siang. Dengan kantong ini, aku bisa berbagi apa saja dengan mereka " kata nenek Wilma menunjuk beberapa orang gelandangan yang duduk di pinggir toko.


Rey, Zigaz dan Asgar serempak mengacungkan jempol pada nenek Wilma.


Mereka dengan riang masuk ke restoran Trezzy dan memesan makanan-minuman. Nenek Wilma juga memesan makanan sederhana yang dibungkus untuk orang-orang gelandangan. Kemudian mereka makan sambil bercanda.


Tiba-tiba Rey berubah menjadi dirinya sendiri dan duduk mendekat pada Asgar. Semua menatapnya heran.


" Eh...... Ada apa nona ? " tanya Asgar.


" Ada Carol..... " bisik Rey pelan.


" Uhuk-uhuk...... Uhuk-uhuk...... " Asgar tersedak. Dan itu malah membuat Carol menengok.


" T.... tuan Asgar ? "


Carol melangkah mendekati meja mereka. Rey segera berpura-pura mesra dengan Asgar. Carol seketika merasa dadanya sesak. Ia berhenti dan melihat seorang gadis cantik duduk disamping Asgar. Apakah itu kekasihnya ? Lalu siapa nenek tua dan laki-laki paruh baya itu, apakah itu keluarganya ? Carol ragu-ragu untuk mendekat. Ia tak yakin lagi mendekati Asgar.


" Nona...... Ada yang bisa saya bantu ? " tanya pelayan restoran yang melihat Carol hanya berdiri diam.


" Oh..... Eh.... Aku......... maaf, lain kali saja.... " Carol segera berbalik keluar.


" Fiuuuhhh........... " Asgar menghembuskan nafas lega. Rey tertawa dan kembali duduk biasa.


" Kenapa nak Asgar........ Bukankah dia cantik...... ? " tanya nenek Wilma heran.


" Bukan itu masalahnya nek...... " Asgar mengelak.


" Pacar Asgar galak.... ! " bisik Zigaz mengejek.


" Oooooh.......... He...he...he...he....... " Nenek Wilma tertawa.


" Zigaaaz....... " Asgar menggeram.


" Ha...ha...ha...ha..... "

__ADS_1


Mereka meneruskan makan dan minum hingga selesai. Lalu pelayan menyerahkan nasi bungkus yang dipesan nenek Wilma. Asgar membantu membawakannya. Nenek Wilma membagikannya sambil berjalan pulang. Rey dan Zigaz masih berdiri di samping depan restoran.


" Apakah kita akan ke istana, Nona ? "


" Entahlah..... Apa yang akan kita bicarakan nanti disana ? "


" Ehm....... Tidak ada........ mungkin hanya melihat-lihat istana ? "


" Bagaimana jika dia melihatku ? " tanya Rey bingung.


" Dia siapa ? Memangnya kenapa jika dia melihat Nona ? Apakah ada masalah ? " tanya Zigaz tak mengerti.


" Akhirnya aku menemukanmu.... ! " terdengar suara dingin laki-laki di depan Rey.


Rey menoleh dan terkejut melihat Pangeran Axel berdiri di hadapannya. ( Posisi Zigaz di samping Rey ).


Rey menatapnya diam. Zigaz juga menatapnya heran. Ia tak mengenal siapa laki-laki muda dihadapan nona Rey. Tapi..... sepertinya...... Wajah pemuda ini sama dengan penyihir muda yang mencoba mencuri kekuatan cahaya suci.


Dengan sigap Zigaz menarik Rey agar berlindung di belakangnya. Zigaz menatap pemuda itu dengan berani. Axel mengerutkan alisnya tidak senang. Mengapa selalu ada saja penghalang yang akan menghalanginya memiliki gadis ini. Memangnya apa istimewanya gadis ini, membuatnya semakin penasaran.


" Menyingkirlah....... " kata Axel dingin.


" Memangnya kau siapa ? " tanya Zigaz tidak takut.


" Mengenal atau tidak, tugasku adalah melindunginya "


" Kau........ "


Rey menyentuh bahu Zigaz. Mereka menghilang ke ruang dimensi.


( " Sial.... ! ) Axel menggeram marah karena laki-laki itu menghilang membawa gadis incarannya. Ia segera memindai sekeliling mencari jejak sihir mereka.


" Maaf membawamu masuk ke ruang dimensi, kita tidak boleh bertarung diantara orang banyak " kata Rey pada Zigaz.


" Saya mengerti Nona. Bukankah dia penyihir muda yang berniat merebut kekuatan cahaya suci "


" Oh........ " Rey menghela nafas berat.


" Apakah Nona mengenal dia ? "


" Hmmm......... Asgar bilang dia Pangeran Axel, kakak Xenia.


" Haaahh...... ! .................. bagaimana Nona akan tega menghukumnya ? " Zigaz tak yakin.


" Aku baru akan bertindak jika dia lebih dulu mencari masalah "

__ADS_1


" ................... Maaf jika saya menyinggung perasaan Nona. Sepertinya Pangeran Axel tertarik kepada Nona ? "


" Ya...... dan ia memaksa "


" Baguslah....... mungkin itu jalannya untuk mencari masalah dengan Nona...... Jadi Nona tak perlu repot menyamar lagi. Bagaimana jika sekarang kita berkunjung ke istana ? " mata Zigaz berkilat jahil.


Rey menyeringai.


" Baiklah.... "


Mereka keluar dari ruang dimensi dan muncul di depan gerbang istana. Penjaga segera menemui Ratu untuk mengabarkan kedatangan mereka. Ratu terkejut senang karena yang datang ternyata Putri Rey dan Pengawalnya.



Ia membawanya keliling istana sambil mengobrol. Menjelang sore, Axel pulang dengan muka masam. Ia sudah lelah mencari jejak Rey. Ketika akan masuk lewat jendela, Axel merasakan ada kehadiran penyihir lain di sekitar istana. Segera Axel terbang mengitari istana dan melihat Ratu sedang duduk di gazebo taman belakang, mengobrol dengan seseorang yang dicarinya.


Matanya terbelalak senang, namun meredup kembali karena gadis itu bersama laki-laki paruh baya itu. Ia khawatir jika bergabung mengobrol, laki-laki itu akan mengadukan sikapnya tadi. Jadi Axel bersembunyi mengamati mereka dari tempat tersembunyi.


Tak lama gadis itu berpamitan undur diri. Axel segera menemui ibunya yang masih duduk di gazebo.


" Ibu.... "


" Oh...... Axel, kau darimana saja ? "


" Keliling " jawabnya malas.


Seandainya kau datang lebih cepat, pasti kau akan berjumpa dengan Putri Rey "


" Putri Rey..... ? siapa dia ? "


" Dia adalah Putri negeri Cronos. Pasangan Penguasa Abadi, Lord Astraco "


( " Duaarrr....... ! " ) Rasanya Axel seperti mendengar bunyi petir meledak di kepalanya. Ia menatap ibunya dengan perasaan kecewa, kesal dan sakit hati. Tak disangka, gadis yang diincarnya ternyata milik Lord Astraco.


" Ehm..... apakah ada hal penting dengan kedatangannya ke sini ? " tanya Axel ingin tahu.


" Tidak...... Putri hanya sekedar berkunjung " jawab Ratu.


" Baiklah Bu, aku mau beristirahat " Axel segera kembali ke kamarnya.


Sepanjang lorong tangannya terkepal ingin marah. Ia tak terima Putri Rey menjadi pasangan Lord Astraco. Ia juga berpikir pasti Putri Rey punya keistimewaan sehingga terpilih jadi pasangan Lord Astraco.


Tapi mengapa ia berkelana diluar ? Bukankah seharusnya ia berada di Astraco mempersiapkan dirinya ? Hhh...... kebetulan....... Ini adalah kesempatan baginya untuk merebut Putri Rey. Jika perlu ia akan lakukan sesuatu untuk membatalkan takdir mereka.


Axel berjalan cepat ke arah kamarnya. Bibirnya tersenyum miring memikirkan rencana buruk. Ia sudah tak perduli siapa Lord Astraco dan seperti apa kekuasaan kerajaan sihir itu.

__ADS_1


__ADS_2