
Pengawal itu bergeser agak jauh. Nyonya Marco meremas tangan Mariana agar jangan gegabah. Mereka berdiri menunggu hingga satu putaran waktu. Muka Mariana sudah sangat jelek dibalik sapu tangan yang menutupinya. Ia lelah berdiri.
Syukurlah pintu kamar Axel akhirnya terbuka.
" Eh........ Nyonya Marco ? " Ratu terheran.
" Selamat siang Yang Mulia Ratu " Nyonya Marco dan Mariana memberi hormat. Bau busuk kembali menyebar. Ratu menutup hidungnya sambil mengerutkan alis. Tapi sekejap kemudian ia kembali masuk ke kamar Axel dan muntah-muntah di kamar mandi.
Axel yang sedang duduk bersandar di ranjang mengerutkan alisnya. Ibunya kembali ke kamar tanpa menutup pintu kamarnya sehingga terlihat dua wanita tua dan muda mengintip ke dalam.
Ia menahan diri untuk tidak marah. Ditatapnya wajah ibunya yang baru keluar dari kamar mandi. Ratu duduk di samping Axel, menatap keluar. Tampak nyonya Marco dan Mariana menunggu.
Ratu mengeluarkan sapu tangannya dan menutup hidungnya sebelum keluar menemui mereka. Ia memberi isyarat tangan agar mereka mengikutinya.
Ratu sengaja membawa mereka ke taman belakang karena udara luas. Namun Ratu tetap menjaga jarak agak jauh dari mereka. Ia duduk di tepian gazebo, sedang mereka berdiri 10 langkah darinya. dua pelayan ada di samping Ratu.
" Katakan ada masalah apa dengan kalian.... " tanya Ratu.
" Yang Mulia Ratu, anakku tidak sengaja menyinggung seorang penyihir muda. Ia menantang penyihir itu dan berakhir di kutuk. Ia mengeluarkan bau busuk dari mulutnya. Karena hal itu, para pengawal dan pelayan di kediaman kami memohon berhenti bekerja. Hamba mohon pertolongan.... "
Ratu diam menatap Mariana. Ia melihat raut wajah gadis itu. Diam-diam Ratu melemparkan mantra kejujuran dengan cara meniup lewat mulut ( kata " oh " ).
" Oh......... tolong kamu ceritakan padaku dari awal. Jangan ada yang dikurangi atau dilebihkan " kata Ratu pada Mariana.
Mariana tertegun sejenak. Lalu mulai bercerita jujur.
" Aku tersandung gaunku dan membalikkan meja seorang gadis. Ia menegurku perihal aku aku memukul anak kecil. Jadi aku menantangnya bertanding 4 hal : Memanah, Berpedang, Berkuda dan Bermain Suling. Semuanya ia menangkan.
Tapi aku menolak hukuman yang sudah disepakati bersama di hadapan orang-orang. Jadi ia mengutukku " Mariana tidak dapat menahan hal-hal yang seharusnya tidak ingin dikatakannya. Wajahnya memerah karena malu. Ibunya mengerutkan alis saat mendengar semua itu. Ratu dan dua pelayan menutup hidungnya karena bau busuk menyebar.
" Mariana........ jadi kau berbohong pada ayahmu dan aku...... ?! " tanya nyonya Marco kecewa. Sampai ia tidak sadar mengabaikan bau busuk itu
" M.....maafkan aku ibu...... " Mariana menunduk ketakutan. Ia takut ibunya mengadu pada ayahnya. Ayahnya adalah orang yang tidak segan menghukum siapapun sekalipun Mariana sendiri.
__ADS_1
" Yang Mulia Ratu......... hamba mohon ampun karena kesalahan putri hamba. Mohon kemurahan Ratu...... " Nyonya Marco menunduk malu dan kecewa.
" Apa hukuman yang sudah kalian sepakati ? " tanya Ratu mengabaikan nyonya Marco.
" A... aku............ yang kalah ha.... harus merangkak.... s..... sampai istana............ " Mariana menjadi gugup.
Kalimat itu bagai petir menyambar nyonya Marco. Ia terduduk lemas bersimpuh di tanah.
Ratu mendesah. Seorang penyihir putih tidak akan sembarangan menghukum tanpa sebab. Ia teringat Axel. Axel juga mendapat hukuman sihir karena kesalahannya sendiri.
" Apa kutukan yang diucapkan penyihir itu ? " tanya Ratu ingin tahu.
" M... mulutku akan bau busuk selamanya.... sampai aku menggenapi hukuman pertandingan " wajah Mariana memerah malu dan marah teringat penyihir itu. Ia berharap Ratu sebagai penyihir, bisa menolongnya.
" Jika begitu....... jalanilah hukumanmu. Atau kau ingin mulutmu bau busuk selamanya.... ? " Ratu tersenyum simpul. Nyonya Marco dan Mariana menatapnya terkejut.
" Apakah Yang Mulia Ratu tidak bisa membuang kutukan Mariana ? " tanya nyonya Marco agak takut menyinggung.
" Peganglah bola cahaya itu, pejamkan matamu untuk mengingat wajah penyihir itu "
Mariana melakukan apa yang diperintahkan Ratu. Setelah itu bola cahay kembali pada Ratu. Ratu menatapnya sejenak.
" Oh.... Astagaaa...... ! " Ratu terkejut hingga berdiri seketika. Ia mengambil nafas dengan tenang dan menatap tajam Mariana. Mariana segera menunduk sambil menggigit bibirnya. Nyonya Marco menatap ingin tahu.
" Kau..... sudah mencari musuh yang salah nona Mariana......
Penyihir yang kau maksud adalah Gadis Takdir. Ia adalah calon Ratu Penguasa Kehidupan, pasangan Lord Astraco, Penguasa Tertinggi Abadi saat ini " Ratu berusaha menjelaskan siapa Rey.
Mariana dan nyonya Marco tertegun. Mereka sadar, berurusan dengan orang-orang ( penyihir ) dari negeri Astraco adalah hal buruk. Mereka biasanya menghukum tanpa ampun. Nyonya Marco saling pandang dengan Mariana. Jika sudah begini...... mungkin tak ada jalan lain.
Ratu diam-diam tersenyum. Ia juga adalah penyihir dari Astraco. Ia sudah pernah muda. Ia juga banyak pengalaman di dunia manusia biasa. Kebanyakan manusia biasa cenderung sombong dan semena-mena jika sudah punya kuasa atau kekayaan. Bahkan Ratu Elena sering menghukum wanita-wanita kaya sebelum ia menjadi Ratu Trexodia, termasuk nyonya Marco di masa muda.
" Yang Mulia Ratu.......... apakah tidak ada cara lain ? " tanya Nyonya Marco.
__ADS_1
Ratu menggeleng pasrah " Biasanya...... kutukan tidak bisa dihilangkan, tapi akan hilang sendiri jika sudah terpenuhi syaratnya.... "
" Bagaimana jika kami menemui penyihir itu dan meminta maaf ? " tanya nyonya Marco menatap penuh harap.
" Aku yakin itu tidak ada gunanya. Sekalipun kalian meminta maaf, kutukan itu tak bisa dibatalkan. Kecuali syaratnya adalah 'minta maaf', sedangkan syarat yang diminta penyihir itu adalah harus menjalani hukuman " kata Ratu simpati. Bagaimana pun hukuman itu sangat berat. Tetapi Ratu ingat bahwa yang mengusulkan itu awalnya adalah Mariana. Ratu dapat menebak tujuan utamanya adalah mempermalukan Rey. Pelajaran ini sungguh sangat mahal.
Mariana menatap ngeri. Bagaimana mungkin ia harus merangkak dari rumah sampai ke istana ? Orang-orang akan menghinanya. Dan ke depannya juga akan tetap menghinanya, seolah tak bisa dilupakan.
Sungguh...... ia menyesal telah mengajukan hukuman yang memalukan itu. Niatnya yang ingin mempermalukan gadis itu malah berbalik pada dirinya sendiri. Nyonya Marco menggamit lengannya.
" Jika begitu..... kami mohon maaf sudah menggangu waktu Yang Mulia Ratu. Kami mohon diri..... " pamit nyonya Marco dan Mariana, lalu membungkuk sedikit.
" Hmmm....... "
Di lorong Mariana merengek pada ibunya.
" Ibu...... aku tak mungkin melakukan itu.......... Orang-orang pasti akan mengejekku "
Ibunya mendesah pasrah. Ia pernah mengalami hal seperti Mariana di masa muda. Untunglah hukumannya juga ringan. Ia juga berbalik menjadi gadis berperilaku baik. Itulah sebabnya ia mengenal Ratu walau tidak terlalu dekat.
Mereka kembali ke ruang pertemuan. Tuan Marco dan Raja segera bertanya tentang hasilnya.
" Bagaimana....... apakah Ratu bisa mengatasinya ? "
" Tidak...... Mariana harus menjalaninya. Jika tidak, ia akan begitu selamanya " nyonya Marco menggeleng sedih.
" Jangan memaksa Mariana. Biarkan ia berpikir dan menyiapkan hati yang kuat " Raja memberi saran.
" Yang Mulia Raja sangat bijaksana, kalau begitu kami mohon undur diri "
" Pergilah..... "
Mereka bertiga bangkit dengan lesu. Lalu pergi sambil menundukkan kepala.
__ADS_1