
" Aaaaaaaaaaaaahhh............ Zigaaaaaazzz................ Itu menjijikkaaaaaaan................. " teriak Rey kembali menutup mata.
" A... apa yang Nona lakukaaaan....... ?! " Zigaz bingung harus bagaimana.
" Itu bukan aku, Asgar........ ! "
" Eh.... He...he...he...he...... maafkan aku......... tolong bereskaaan......... " Asgar berteriak menyeringai lucu.
" Iiissh, bakar saja..... ? " tanya Zigaz.
" Ya, bakar saja..... " sahut Rey di belakang Zigaz.
" Baik..... "
Zigaz meletakkan kedua tangannya di dinding perisai. Kemudian mengeluarkan api mengarah pada setiap bagian kepala Cretta yang tersebar di udara. Setelah lima hitungan semua terbakar habis jadi abu beserta iblis yang bersembunyi di salah satu bagian tadi.
" Sudah selesai, Nona "
" Fiuuuhhh.............. " Rey menarik nafas lega. Ia melirik Asgar dengan sebal, sedang Asgar hanya bisa menyeringai tak berdaya. Mereka kembali bertengger di atas atap Garet.
Syukurlah mereka yang masih bertarung tak memperhatikan kehebohan barusan. Rupanya wujud mereka bertiga yang seperti tawon tak menarik perhatian orang-orang itu. Lagipula teriakan mereka terdengar layaknya seperti dengungan tawon.
Mereka kembali mengamati para lelaki yang masih bertarung. Hanya tersisa 3 laki-laki berbadan besar. Itu adalah Broma, Lodra, Waxsa. Tampak tubuh Izabel sudah rusak parah. Ia sudah sampai di titik kritis. Iblis ditubuhnya memilih keluar dan mencari tempat tinggal yang lebih baik. Ia mengincar tubuh Broma.
" Ngggghh............. " Broma berusaha menolak, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi akhirnya menyerah kalah. Iblis itu berhasil menguasai Broma.
Broma menyeringai buas. Ia menerjang Izabel dan memukul kepala dan dadanya.
" Ketua....... ! " Tiffa bermaksud mencegah Broma. Tentu saja ia jadi lengah dan terkena tendangan Lodra.
Tiffa tersungkur ke tanah. Lodra yang berbadan besar segera menduduki punggung Tiffa dan memukul bertubi-tubi.
Waxsa mengambil golok yang tergeletak dan membacok kepala Tiffa. Tiffa sekarat. Darah segar mengalir deras membasahi rambut Tiffa. Melihat darah menggenang membuat Lodra tergoda untuk menjilatinya.
Waxsa yang melihat itu juga menginginkan darah Tiffa. Ia berpikir kekuatannya akan meningkat jika meminum darah Tiffa ( tangan kanan Izabel ). Jadi Waxsa membacok bagian paha Tiffa dan segera menghisap darah yang keluar. Rey yang melihat itu meringis ngeri dan memalingkan mukanya. Sungguh, orang-orang ini memang bukan manusia biasa.
Broma melihat Lodra dan Waxsa sedang menyesap darah Tiffa. Segera ia mendorong Waxsa dengan kasar dan ganti menyesap darah Tiffa. Waxsa tidak terima, ia menendang Broma hingga terbentur Lodra.
Lodra yang merasa terganggu, memukul Broma.
" Pergilah..... ! "
Broma terjengkang. Ia melihat golok Waxsa. Cepat diambilnya dan dibacokkan ke punggung Lodra.
__ADS_1
" Aaaaaaarrrgh.......... " Lodra mengerang. Melihat darah mengalir di punggung Lodra, Broma berebut dengan Waxsa.
Mereka saling mendorong dan memukul. Lodra bangkit dan berusaha lari. Ia tahu mereka menginginkan darahnya.
" Heehhh...... ?! " Broma melupakan Waxsa dan segera mengejar Lodra.
Waxsa hampir mengikutinya ketika teringat akan goloknya. Ia mengambil goloknya lalu berlari mengejar sambil mengayun-ayunkan goloknya. Lalu dilemparkannya ke arah Broma.
" Wuuuss........ Aaarrgh...... ! "
Golok menancap di bahu Broma. Broma hilang keseimbangan dan terguling.
" Bruuukk....... !! "
" He...he...he...he....... "
Waxsa cepat mendekat dan mencabut goloknya dengan kasar. Kemudian membacok lagi di punggung Broma.
" Aaarrgh........... ! "
Lodra tiba-tiba datang dan mendorong Waxsa. Lalu segera menindih kepala Broma sambil menghisap darah Broma di bagian bahu.
Waxsa yang disingkirkan merasa kesal pada Lodra. Ia mencabut golok di punggung dan menebaskannya ke leher Lodra.
" Hkkk.... " Lodra seketika sekarat dengan darah mengalir dari leher. Tubuhnya kejang-kejang selama 8 hitungan.
Waxsa hanya menyeringai kejam melihat Lodra tersiksa. Broma yang tertindih berusaha menggeliat. Waxsa kembali membacok Broma bertubi-tubi hingga semua bersimbah darah.
Iblis dalam tubuh Broma keluar. Tampak hitam besar bermata tiga. Ia marah karena tak punya tempat tinggal ( tubuh ) yang baik. Sedang Waxsa tidak terluka sama sekali, hanya banyak memar bekas pukulan. sehingga tak ada jalan untuknya masuk.
Waxsa menatap waspada. Sejujurnya ia sedikit gentar melihat iblis bermata tiga itu. Wajahnya garang dengan aura gelap yang pekat. Baunya seperti hangus dan busuk ? Iblis apa ini ? suasana terasa hening mencekam. Rey bertiga juga heran melihat iblis ini.
Rey menatap mata ketiga iblis itu. Ia mengerutkan keningnya karena merasa mata itu melihat ke arah mereka bertiga. Ia jadi waspada.
( " Zigaz..... masuklah ke ruang dimensi kemudian keluarlah di gubuk nenek Wilma. Matikan apinya, dan musnahkan sisa tanaman pemancing kemarahan " ) perintah Rey.
( " Baik Nona " )
Diam-diam Zigaz berpindah ke gubuk nenek Wilma melalui ruang dimensi. Ia mematikan perapian dan memusnahkan tanaman pemancing kemarahan.
Sementara Rey menggiring partikel asap pemancing kemarahan yang tersebar di udara untuk turun masuk kedalam tanah.
__ADS_1
Zigaz kembali ke atap gubuk Garet lewat ruang dimensi.
( " Kalian waspadalah..... iblis itu sudah mencurigai kita " )
( " ............ ! " ) Asgar melongo. Ia menatap mata ketiga iblis itu. Mata yang tajam......
Iblis itu membuka mulutnya lebar-lebar. Asap hitam itu meluncur ke muka Waxsa. Waxsa menghindar. Namun asap itu ternyata menyebar di sekeliling Waxsa sehingga terhirup sedikit. Waxsa menelan ludahnya banyak-banyak. Tenggorokannya terasa panas dan perih.
Ia tak tahu harus menyerang iblis ini dengan apa.... ? Tiba-tiba iblis itu melompat menerkamnya. Waxsa menunduk ( berjongkok ) dan cepat meraup tanah berpasir. Lalu menyiramkannya pada mahkluk itu.
" Buurrr........ "
Tanah berpasir itu banyak melobangi tubuh si iblis, namun tidak sampe tembus. Iblis itu menggeram. Ia kembali menerkam Waxsa. Waxsa menhindar sambil berguling-guling. Ia berkali-kali menyiram iblis itu dengan tanah pasir sehingga iblis itu semakin kesal.
Iblis itu mengeluarkan asap hitam begitu banyak, membuat Waxsa semakin teracuni. Waxsa meraup tanah dan dibentuk bola. Kemudian menembakkannya dengan tenaga dalamnya sekuat tenaga tepat ketika iblis itu maju hendak menerkamnya.
" Hhhaahhh...... ! Bluusss.......... "
Bola tanah itu melesat menembus bagian dada iblis.
" ................ !!! "
Iblis itu tercengang melihat dadanya yang bolong. Lalu meraung keras.
" Rrrrooaaaarrrgh................ ! "
Iblis itu melesat menerkam Waxsa.
Waxsa tak sempat menghindar karena tenaganya terpakai banyak tadi. Ia pikir bola tanah itu akan membunuh si iblis karena tepat mengenai bagian dada. Waxsa tak tahu kalau iblis tak punya jantung.
Iblis itu mengeluarkan cakar hitam. Ia menusuk-nusukkan ke punggung Waxsa berkali-kali. Lalu mencabik-cabik dada dan perut Waxsa. Ususnya terburai, bagian dada hancur tercabik.
Hal mengerikan kemudian adalah iblis itu merogoh bagian dada dan mencabut keluar jantung Waxsa.
" Ha...ha...ha...ha...ha...ha........ " ia tertawa gembira mengacungkan jantung Waxsa, lalu dengan rakus memakannya. Mulutnya belepotan darah.
" Oh.... ! " Rey masuk ke ruang dimensi dan muntah karena mual melihat apa yang dilakukan si iblis mata tiga. Nenek Wilma tergopoh-gopoh mendekat dan menggosok punggungnya.
" Ada apa denganmu gadis cantik ? "
" Hueeeekk......... ! Hueeeekk......... ! "
Rey terengah-engah karena banyak muntah.
__ADS_1