GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
136. Sama-sama Bertarung


__ADS_3

" Itu tidak mungkin. Kita tidak tahu mantranya. Lagipula, kita membutuhkan darah ketua. Bukankah darah ketua dicampur dengan darah gadis-gadis ? Itulah yang menyebabkan kekuatan kita bertambah. Jika kita kabur, ketua pasti akan mengejar kita dan menyiksa kita saat tertangkap. Ingat, kekuatannya diatas kita berkali lipat "


" Sudahlah kita kembali saja " ajak salah satu penyihir itu. Dua penyihir lainnya menatapnya dengan perasaan galau dan menghela nafas berat.


Akhirnya mereka kembali dengan tidak bersemangat. Pikiran mereka dipenuhi dengan hukuman dan kekecewaan yang belum tentu terjadi.


Tapi mereka tercengang ketika sampai di hutan, melihat teman-temannya sedang saling serang dengan 3 orang gadis dan 1 laki-laki. Mereka bergegas datang menyerang dari belakang.


Xibo segera berbalik menangkisnya. Lalu Xibo bersalto di udara mendekati salah satu dan membuka mulutnya. Api menyembur membakar jubah penyihir satu.


" Hhaaahh..... "


" Aaaaah...... ! " penyihir itu panik berusaha memadamkan api. Sebenarnya itu satu pekerjaan yang sia-sia. Ia tidak tahu bahwa itu adalah api abadi Cronos.



Xibo tak perduli. Ia bergerak ke samping menyerang penyihir berikutnya. Matanya bercahaya menyorot langsung ke mata penyihir kedua.


" Aaaaaah....... ! mataku....... ? mataku tidak bisa melihat...... " penyihir itu mengucek-ucek matanya. Ia mundur-mundur dan terjengkang karena tersandung akar pohon.


Xibo hanya meringis namun segera menghindar saat penyihir ketiga menyerangnya dengan bola racun. Tapi Xibo terpaksa mengejar bola racun itu dan kembali membuka mulutnya untuk membakarnya karena mengarah ke Axie.


Xibo seketika merasa jengkel pada penyihir ketiga. Ia melesat cepat ke depan penyihir ketiga dan tangannya mencengkeram dada penyihir itu kuat-kuat. Lalu mulutnya kembali mengeluarkan api membakar wajah si penyihir.


" Hhaahhh...... "


" Aaaaaaaaaah........ ! " penyihir itu menepuk-nepuk mukanya berusaha memadamkan api.


Xibo menyorot kedua tangannya yang dipakai menyentuh penyihir tadi. Ia harus menyucikan agar tidak tercemar racun. Setelah itu Xibo kembali membakar bagian bagian jubah penyihir ketiga. Ia tidak punya senjata lain selain mulut dan matanya. Dan ia juga tidak seharusnya menyentuh langsung para penyihir.


Sementara Axie dan Zacko bekerjasama melawan 7 penyihir. Zacko melemparkan bola-bola tanah dari bawah langsung. Sedang Axie mengirim banyak pisau angin. Terkadang Axie memasang perisai angin untuk menghindarkan serangan asap atau bola racun.


" Duaaarrr..... ! "


Axie menghindar ke atas sambil kembali melepaskan pisau angin. Jubah para penyihir sudah banyak terkoyak. Zacko juga terus menerus mengirim serangan. Tubuh para penyihir pasti banyak memar karena terkena hantaman bola-bola tanah dari bawah.


Tentu saja para penyihir itu tak bisa menghalau serangan dari Axie atau Zacko karena lengan jubahnya yang berlubang atau koyak.


" Aiiihh.... Kalian sungguh terlihat menggoda dengan baju seperti itu..... " kata Axie bersikap genit sambil mengedip-ngedipkan matanya.


" He..he..he..he... " Zacko terkekeh.


Dengan marah mereka bersamaan mengirim bola-bola racun. Zacko membuat perisai lebar dari tanah untuk berlindung bersama. Lalu Axie membuat 3 cakram angin dan mengirimkannya ke arah penyihir. Cakram-cakram itu segera berputar dan menyabet para penyihir.


" Awas.... ! "

__ADS_1


" Craassh.... ! "


" Aaah... ! "


Mereka berpencar menghindar. Tapi cakram-cakram itu seolah punya mata, mengejar mereka.


" Asgar, kirim lagi 4 cakram, aku akan melindungimu " kata Zacko.


" Hiiissh..... aku ini sedang jadi Axie, jangan Asgar " bisik Axie.


" Oh iya ya... maaf " Zacko nyengir kuda.


Xenia berjumpalitan menghindari bola-bola asap beracun yang dilemparkan 3 penyihir berurutan. Ia mengacungkan jarinya ke salah satu penyihir. Api segera melesat keluar menyambar jubah bagian bawah.


" Wuuzzz.... ! "


" Aaaaaah...... " penyihir itu menepuk-nepuk jubahnya.


Dua penyihir lainnya bukan menolong malah menyingkir. Xenia kembali meluncurkan api mengenai ujung lengannya.


" Wuuzzz.... ! "


" Aaaaaah...... " cepat dikibas-kibaskan lengan jubahnya bergantian dengan jubah bawah.


" Hi..hi..hi..hi.... " Xenia tertawa geli. Ia menggerakkan kedua telapak tangannya membentuk lingkaran api dan mendorongnya ke arah penyihir kedua.


Tinggal penyihir ketiga. Penyihir itu membuat bola asap besar. Xenia menatangkan tangannya membentuk cakram api. Mereka sama-sama melemparkan serangannya. Terlihat dua serangan itu bertabrakan. Cakram api itu berputar dan membakar. Asap racun perlahan menghilang.


Bagaimana dengan Rey ?


Pertapa tua itu menatap tajam ke arah Rey. Ia tidak dapat menerka seberapa besar kekuatan gadis ini. Digerakkannya kedua tangannya seperti menghempas angin.


" Wuuuss..... "


Rey tersenyum miring. Ia terlihat hanya diam melayang, namun diam-diam menghimpun angin padat menjadi dinding perisai.


" Braakkk.... ! "


Angin pertapa tua itu menabrak dinding tak terlihat. Pertapa itu mengelus jenggotnya. Ia langsung mengambil kesimpulan Rey hanyalah penyihir berelemen angin. Ia mengangguk-angguk tanpa sadar.


Kali ini pertapa tua menggerakkan tanah berhamburan ke arah Rey. Rey mengeluarkan kipas peraknya dan menghempaskan tanah itu ke arah pertapa tua.


" Buuurrr....... "


" Aih.... ! " pertapa tua itu cepat-cepat membuat dinding perisai.

__ADS_1


" Blaaarrr....... praangg..... ! "


Ia terkejut melihat perisainya pecah. Untunglah tanah dan pecahan perisainya terjatuh ke bawah, tidak mengenainya. Ia tersenyum miring.


" Nona.... Kau sungguh hebat. Mengapa tidak bergabung bersama kami saja ? " tanyanya.


" Hah...... ? Ha..ha..ha..ha.... Jika aku lebih hebat darimu, apa gunanya bergabung ? " jawab Rey sinis.


" Bukan begitu, maksudku..... bagaimana jika kita bekerjasama. Kita akan jadi penguasa yang tidak ada lawannya " ujarnya.


Rey melengkungkan bibirnya ke bawah, seolah tidak tertarik.


" Aku tidak percaya padamu. Bukankah kau tadi berniat menculikku ? " tanya Rey.


" Itu... maaf aku tidak mengetahui siapa dirimu. Sebenarnya aku hanya bermaksud menculik gadis-gadis biasa. Tak sangka nona berada di antara mereka " jawabnya.


" Hmmm..... Apa yang akan kau lakukan pada mereka ? " tanya Rey.


" Aku bermaksud mengorbankan darah mereka untuk menaikkan kekuatan dan keabadian " jawab pertapa tua.


" Tidak ada gunanya. Kau sama seperti Terra " Rey mencibir.


" Kau....... Kau mengenal Terra ? " tanyanya bersemangat.


" Hmmm..... Kau siapa ? " tanya Rey.


" Aku.... Outter. Aku berasal dari negeri Astraco " ucapnya bangga.


Rey hanya mengerutkan alisnya.


" Terra bilang kau bukan dari sana " kata Rey ragu-ragu bermaksud memancing.


" Mmm... yah, Sebenarnya namaku Odex. Aku sudah lama meninggalkan Cronos berpuluh-tahun yang lalu. Saat ini aku berada di Astraco, menyamar sebagai Tetua Outter " katanya.


" Untuk apa ?! " tanya Rey tak mengerti.


" Aku mencari benda-benda peninggalan Ratu Cronos yang dititipkan pada Kerajaan Astraco. Ini terkait dengan segel kekuatan Gadis Takdir. Jika aku berhasil mendapatkan lebih dulu, maka aku bisa melintasi ruang dan waktu. Aku ingin merubah masa depan yang lebih baik dengan pergi ke masa lalu terlebih dahulu " jelasnya.


" Ooo.... Aku baru tahu. Tapi jika barang-barang tersebut milik si Gadis Takdir, sudah pasti hanya bisa diaktifkan oleh darahnya " ujar Rey


" Itu benar " jawab pertapa tua.


" Apa saja barang-barang itu ? " tanya Rey.


" Gelang Kehidupan dan Mahkota Waktu "

__ADS_1


" Bagaimana ciri-cirinya ? "


" Gelangnya bercahaya kebiruan . Untuk mahkota, aku belum tahu. Aku sudah menyuruh seseorang mencarinya di Astraco "


__ADS_2