
Selesai makan , mereka bertiga menuju rumah Bapak tua itu. Hanya rumah kecil sederhana. Mereka masuk dan Bapak tua itu membawa Rey ke kamar anaknya. Didalam kamar, istrinya sedang membelai kepala anak itu yang tertidur.
Rey menyadari ada aura gelap disekeliling anak itu. Ia mengamati anak itu, tidak ada apapun. Rey ganti mengamati kamar itu. Ia melihat di kotak mainan ada salah satu boneka yang agak aneh. Ia menunjukkannya pada mereka dengan isyarat. Kemudian diambilnya boneka itu dan dibawanya keluar. Rey bermaksud membakarnya di halaman.
Tapi tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam.
" Jangan ambil bonekaku ...... lepaskan......."
Suara anak kecil yang mencoba melepaskan diri dari pegangan ayahnya. Tenaga anak kecil itu begitu kuat. Asgar segera membantu menahannya.
Rey cepat-cepat membakarnya. Tetangga sekitar berdatangan mendengar keributan. Istri Bapak tua itu menjelaskan apa yang terjadi dan meminta maaf karena menyebabkan keributan.
Mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Ketika boneka itu sudah terbakar habis, anak itu pingsan. Asgar mengangkatnya kembali ke kamarnya.
Bapak Ibu anak itu mengucapkan terima kasih sambil bersujud. Rey mengangkatnya. Ia tidak ingin disembah.
" Jangan biarkan dia bermain sendiri dalam kamar. Ajaklah main di ruang terbuka atau diawasi "
" Baik Nona, terima kasih " Bapak tua itu bermaksud memberi koin emas untuk Rey.
" Tak perlu, aku punya banyak. Pakailah koinmu untuk hal lain "
" T... terima kasih, Nona .... "
__ADS_1
" Hmmm...... sampai jumpa "
Ketika Rey dan Asgar melewati jalan menuju penginapan , satu sosok berjubah putih menghadang mereka. Mukanya tertutup tudung jubahnya. Tampak sosok tubuhnya seperti laki-laki.
Asgar segera berdiri didepan Rey.
" Siapa kau .... ? "
" ......................... " tidak ada jawaban.
Asgar menghela nafas. Ia menyiapkan perisai dan pedangnya. Sekali lagi Asgar bertanya :
Sosok itu menunjuk pada Rey. Asgar menggeleng.
" Langkahi dulu mayatku "
Sosok itu mengulurkan tangannya. Tubuh Asgar terangkat tinggi ke atas.
" Asgar ..... ! " Rey berteriak. Ia berusaha menarik Asgar turun dengan kekuatannya.
Tapi sosok itu mengulurkan tangannya yang satu lagi ke arah Rey. Perlahan menarik Rey mendekat, lalu dipeluknya. Tentu saja Rey meronta-ronta sambil memukul. Kekuatan sihirnya tak bekerja seperti hilang. Rey tidak mengerti.
__ADS_1
" Lepaskan dia..... ! Jangan sentuh Nona-ku .... ! Kau penyihir busuk, lawan aku, brengsek .... ! "
Asgar berteriak-teriak. Sosok itu terkekeh memandang Asgar. Ia menciumi pipi Rey berkali-kali. Kemudian berbisik di telinga Rey. " Aku merindukanmu sayang ...... "
" Apa ...... ?! " Rey mendongak menatap wajah yang tertutup tudung. Ia mengenali suara itu.
" Kendrick ...... ? " Rey menarik tudung itu sehingga menampakkan wajah tampan yang ditutupinya.
" Kau...... " dengan kesal Rey mencubit pipi kiri dan kanan Kendrick kuat-kuat.
" Aaaaaah..... sayangku , sakiiiiittt....... "
" Rasakan itu ..... " Rey tertawa melihat bekas cubitannya memerah di pipi Kendrick.
Kendrick meringis sambil mengusap-usap pipinya. Tak disangka kekasihnya ini kejam juga. Asgar terpana. Ia tak menyangka itu adalah Tuannya yang sedang menyamar. Ia menghela nafas lega. Disimpannya lagi perisai dan pedangnya ke cincin. Lalu ia mengambil posisi seperti duduk bersila di udara. Ia harus rela menunggu para Tuannya.
" Cepat turunkan Asgar " Rey melotot sambil berkacak pinggang.
" Hmmm.......... " Kendrick menurunkan Asgar.
Asgar segera berlutut " Maafkan kelancangan saya My Lord "
" Kau beruntung tidak dicubit pipimu. Ia lebih sayang padamu daripada diriku " gerutu Kendrick.
__ADS_1
Asgar hanya menggaruk kepalanya, ia tak berani berkomentar. Rey melipat tangannya didada. Mulutnya cemberut lucu. Kendrick meraih Rey dan Asgar. Mereka berteleport ke Astraco.