
Para perampok berebut lari keluar ruangan. Mereka tahu kelemahan mereka sendiri. Tak bisa bertarung di ruang gelap. Tepat setelah orang terakhir melompat keluar, pintu ruangan balairung tertutup.
" Blaamm..... "
Tapi mereka hanya menyeringai kecil. Orang-orang ini tidak ada rasa takut terhadap sesuatu yang tak terlihat. Mereka hanya percaya pada akal licik dan kekuatan fisik. Kematian bagi mereka cuma dianggap sebagai kesialan saja.
Terdengar suara-suara aneh yang bercampur dengan dengungan tidak jelas. Lalu muncullah beberapa penyihir dari arah lorong. Lima orang perampok segera menenggak arak kematian ( arak yang sudah dimantrai penyihir putih untuk melawan iblis atau penyihir hitam ) . Penyihir putih biasanya bertapa di gunung-gunung terpencil. Mereka menjauhkan diri dari keinginan duniawi. Mungkin para perampok mendapatkan mantra dengan cara licik.
Kali ini para penyihir itu tidak terbang, mereka terlihat berjalan tapi ternyata sudah ada didepan mata. Mata mereka tajam menatap para perampok satu persatu. Salah satu dari mereka mengayunkan tangan, melempar puluhan jarum beracun. Lima perampok segera menepis dengan senjata masing-masing, membuat jarum-jarum itu terlempar ke dinding atau kembali pada para penyihir.
Seorang perampok melompat maju menerjang seorang penyihir. Tak lupa menyemburkan arak kematian.
" Czzzzz..... " percikan arak itu hanya melubangi jubahnya.
Dengan marah penyihir itu menggerakkan tangannya memukul punggung perampok.
" Bukk....! "
" Arrrgh.....! "
Perampok terhuyung-huyung menabrak dinding. Tampak punggungnya mengeluarkan asap hitam. Ia meringis kesakitan lalu jatuh terduduk. Dengan cepat punggungnya membusuk dan berbau tidak enak. Tak satupun dari para perampok yang datang menolongnya. Bagi mereka itu adalah sia-sia.
" Tidak mungkin....! " perampok lain tertegun. Air kematian itu ternyata tidak mampu melawan penyihir ini.
Mereka kurang memahami bahwa penyihir juga punya elemen dasar. Apalagi jika asalnya adalah manusia, bukan campuran iblis. Ini berarti mereka harus melawan dengan senjata.
" Crasshh.....! "
Sebuah bumerang berhasil melukai salah satu penyihir. Dan bumerang itu memutar kembali pada pemiliknya, perampok yang berbadan pendek. Cepat ia melempar kembali namun satu penyihir menghentikan di udara dan memutar arah serangan. " Awaaass.... ! "
Para perampok kalang kabut menghindari bumerang yang menggila.
__ADS_1
" Aaah.... ! "
" Eiii....! "
" Aduh.....! "
" Ctaarrrr.....!
Ketua perampok berhasil memecut bumerang itu hingga terlempar jatuh. Ia mendesis marah. Ternyata tidak mudah mengalahkan penyihir-penyihir istana. Salah satu anak buahnya berlari ke halaman. Dengan pedangnya ia memantulkan cahaya matahari ke penyihir.Yang lain segera mengikuti.
Seorang penyihir yang terkena bias cahaya langsung terbakar di bagian dadanya. Segera terjadi kepanikan dari para penyihir. Semua anak buah perampok itu serempak menggerak-gerakkan senjatanya sehingga sinarnya mengenai semua penyihir. Melihat itu para penyihir berusaha kabur. Tapi terlambat, tubuh mereka berasap dimana-mana, kemudian musnah jadi abu.
Semua perampok bersorak kemenangan. Mereka mengerti Sekarang bahwa apapun harus dilakukan saat melawan musuh meskipun itu terdengar tidak masuk akal. Mereka saling mengangguk dan bergerak masuk lagi. Ketika melewati balairung, beberapa dari mereka melirik ke pintu balairung utama. Namun tak satupun dari mereka ingin masuk ke sana. Jadi mereka hanya menyisir lorong istana yang terlihat kotor dan suram. Mereka tidak masuk ke dalam ruangan manapun.
Ketika mencapai persimpangan lorong, terdengar suara geraman rendah. Semua langsung waspada. Ketua perampok memilih lorong kiri. Mereka terus menyusuri dan sampai di halaman terbuka. Ada banyak tulang-tulang di sana. Juga senjata-senjata yang berserakan. Mereka mengamati sekitarnya.
Namun mereka terkejut karena ada banyak sosok berjubah hitam sudah berdiri di setiap celah-celah jendela dan bangunan. Juga di lorong yang tadi mereka lewati. Seolah sedang menunggu waktu atau sesuatu ?
Ketua perampok merasa bodoh dan gemetar. Ia telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Membawa anak buahnya terjebak di istana, di kelilingi penyihir dan iblis. Seorang anak buahnya mengambil inisiatif memantulkan cahaya matahari pada sosok iblis di jendela. Itu berhasil membakarnya. Yang lain segera mengikuti sebisanya dengan senjata yang mereka punya. Hanya kapak, pedang dan bumerang yang bisa dipakai mereka. Untuk yang membawa busur, dicelupkan ke dalam guci arak kematian dan ditembakkan ke penyihir. Mereka harus berjuang sampai mati. Apapun caranya. Meski jelas jumlah mereka kalah banyak dengan penghuni istana.
Di tengah-tengah perjuangan, mereka merasakan ada yang berubah. Beberapa penyihir di lorong menghilang jadi asap. Lalu tampak dua orang memakai jubah yang berkilauan. Jubah itu memantulkan serangan para penyihir sehingga mereka tidak terluka. Ternyata mereka adalah Rey dan Asgar.
Merasa ada harapan hidup, para perampok itu semangat kembali untuk berjuang. Ketika lorong sudah kosong, Rey berlari sambil berteriak.
" Kalian semua berpegangan tangan, cepat .....! "
Asgar menyusul dan segera memegang lengan ketua perampok lalu meletakkan tangannya ke bahu Rey.
" Cepat .....! " Asgar membentak.
Para perampok itu mengikuti walau merasa bingung. Mereka saling berpegangan.Sedang para penyihir dan sosok-sosok iblis itu mendekat dengan menggeram marah. Tapi dalam sekejap mereka mendapati tempat itu kosong. Rey membawa semua berpindah ( teleportasi ) ke alun-alun ibukota. Tentu saja para perampok itu terkejut dan tercengang.
__ADS_1
" Woaaah....! "
Mata mereka terbelalak menatap sekelilingnya. Asgar menopang bahu Rey agar jangan terjatuh. Kalung di leher Rey memancarkan cahaya memberi energi. Rey mengatur pernafasannya. Terdengar gumaman penduduk kota yang kebetulan berada disekitar alun-alun.
" Mengapa orang-orang itu tiba-tiba muncul di sini ? "
" Siapa mereka ? "
" Tampaknya seperti perampok ya ? "
Para perampok itu mulai menyadari apa yang terjadi tadi. Mereka telah dipindahkan oleh Rey dan Asgar. Itu berarti mereka selamat !
Ketua perampok langsung berlutut dihadapan Rey dan Asgar. Anak buahnya yang melihat itu segera berlutut semua.
" Tuan dan Nona. Terima kasih telah menolong kami. Maafkan kami yang telah berbuat tidak baik sebelumnya " ucap ketua perampok menunduk malu.
" Apa yang kalian cari di sana ? Apakah kalian mencari kematian ? " tanya Rey lembut.
" Kami.... Kami.... sungguh bodoh " ketua perampok merasa lidahnya kelu. Ia malu karena kesalahannya menyeret anak buahnya dalam kematian. Ia juga malu karena menginginkan Gadis Takdir yang ternyata malah menyelamatkan mereka semua.
" Bangunlah, bawalah mereka semua. Belilah sebuah rumah untuk tempat tinggal. Kalian bisa bekerja sebagai penjaga atau pengawal pengiriman barang. Jangan berbuat jahat kecuali membela diri " kata Rey. Asgar memberikan satu kantong koin emas ke tangan ketua.
" Terima kasih Nona, terima kasih Tuan " semua berbarengan mengucapkannya. Rey dan Asgar melambaikan tangan berlalu.
Sepeninggal Rey dan Asgar, ketua perampok masih duduk berlutut. Anak buahnya maju mengelilinginya.
" Ketua " tanya salah satunya.
" Maafkan aku, aku tak pantas jadi ketua kalian. Aku sungguh bodoh, aku .... " Ketua merasa malu.
" Sudahlah ketua, jangan begini. Kami semua mengandalkanmu. Kami percaya padamu " jawab mereka. Mereka saling berpelukan.
__ADS_1