
Hari sudah menjelang gelap. Asgar menyarankan semua orang pulang ke rumah. Besok silahkan melanjutkan kembali. Ia memperingatkan warga agar tidak menyelinap masuk ke ruang bawah tanah untuk menghindari hal buruk yang tidak terduga.
Setelah rombongan Asgar pergi meninggalkan area istana, tampak beberapa orang kembali lagi ke area itu. Mereka adalah warga kota yang tertarik dengan lorong rahasia di kamar Raja. Mereka berpikir ada harta tersembunyi disana.
Setelah hari benar-benar gelap, mereka mengendap-endap menuruni tangga lorong. Ada 7 orang yang masuk. Namun seketika semuanya mengumpat karena dibawah tangga ada perisai api menghalangi.
" Sial.....! mereka memasang perisai api disini, kita tidak bisa masuk "
" Oh, sialan.....! "
" Apa itu benar-benar api ? jangan-jangan cuma tipuan "
" Kau cobalah sendiri ! " ujar seseorang sambil menarik orang yang tidak percaya.
" Eeee...... jangan.. jangan.. jangan....... aku percaya itu api sungguhan. Maafkan aku... " jawab orang itu meringis kecil. Ia beringsut ke belakang.
" Bagaimana ini, apa tidak ada cara lain untuk masuk ? "
" Bagaimana kalau kita siram dengan air ? "
" Ya itu ide bagus "
" Ayo ..... "
Mereka cepat-cepat naik ke atas untuk mencari air. Dengan terpaksa mereka harus membawa air dari rumah masing-masing dengan menggunakan ember kayu.
Di markas, semua sedang berkumpul di aula. Mereka makan malam sambil menonton pertunjukan. Asgar membuat sejenis layar lebar dari udara dan Rey mengucap mantra pada layar itu untuk menampakkan kegiatan di sekitar lubang pelarian. Ya .... ternyata Rey menggunakan nyamuk untuk menjadi " mata " .
Sebelumnya Rey sudah melihat isi lorong itu dengan mengirimkan bola cahaya . Tidak ada harta apapun disana. Juga tidak ada iblis. Hanya ada ular dan tikus-tikus besar.
Rey sengaja memperlihatkan ini sebagai hiburan dan peringatan pada anggota markas agar jangan ada yang punya niat jahat atau berkhianat.
Tak lama orang-orang tadi sudah datang kembali. Mereka masing-masing membawa seember air. Satu-persatu turun ke bawah.
" My Empress, apakah api itu bisa dipadamkan dengan air ? " tanya salah satu orang Asgar.
" Sebenarnya api itu tidak akan padam kecuali aku sendiri yang mencabutnya " jawab Rey tersenyum.
" Padamkan saja Nona, biar mereka masuk dan terkurung didalam " sahut yang lain.
" Ya, benar Nona. Nanti nyalakan lagi apinya " teriak Zacko.
__ADS_1
Asgar juga mengangguk saat Rey menatapnya.
" Baiklah "
Orang pertama menyiram perisai api. Tampak api di bagian tengah menghilang sesaat namun api dari sisi merembet lagi ke tengah, menutup kembali seperti semula.
Begitupun orang kedua dan ketiga. Api selalu merembet lagi ke tengah dan menutup sebagai perisai.
" Bagaimana ini, apinya selalu kembali lagi "
" Mungkin karena kau hanya menyiram bagian tengahnya saja. Coba dari pinggir "
" Bukan..... dari bawah saja "
Orang keempat menyiram bagian bawah. Tapi api dari tengah kembali merembet ke bawah menutup lagi. Dengan gemas orang kelima bersiap menyiram. Namun orang pertama mencegahnya.
" Eh, tunggu..tunggu..tunggu...... dengarkan aku. Tinggal 3 ember lagi. Karena apinya selalu merembet lagi lebih baik menyiramnya secara bersamaan saja. Kau bagian bawah, kau tengah dan kau ke atas. Gimana ? "
" Ya, begitu saja. Pasti berhasil. Kau pintar, teman... " mereka mengacungkan jempol pada orang pertama.
Penonton di aula markas bergumam...
Lalu tiga orang bersiap menyiram air, sementara orang pertama mulai menghitung.
Serentak mereka menyiram ke arah api. Karena penyiraman tidak bisa sempurna maka ada bagian tepi dan atas yang masih berapi.
" Cepat kita masuk.....! " orang pertama nekat melompat masuk. Yang lain segera melempar embernya dan berebut masuk.
Rey menggerakkan nyamuknya ikut masuk.
Perlahan api yang tersisa merembet untuk menutup lagi.
" E..eeeh....... apinya menutup lagi, bagaimana nanti keluarnya ? " tanya orang keempat.
" Haiiish....... biarkan saja, nanti kita pikirkan lagi. Yang penting kita sudah didalam. Ayo.... "
Mereka masuk ke dalam namun karena semakin gelap, salah satu mengambil tiang obor di dinding dan kembali ke awal lorong untuk menyalakan api .
Sekitar 100 langkah tiba-tiba terdengar beberapa cicitan tikus. Tikus-tikus itu ada yang menabrak kaki orang pertama dan orang ketiga.
" Haiiish, tendang saja... " orang kelima berusaha menendang namun gagal. Tikus itu sudah lolos.
Terdengar suara mendesis.
__ADS_1
" Aaaaah, ada ular...... ! " salah satu berteriak mencoba menghindari tapi malah tersandung kakinya sendiri dan jatuh terduduk. Ular itu cepat mematuk tangannya yang terdekat.
" Aaaaaaah....... ia menggigitkuuuu.........! "
Yang memegang obor segera mengusir ular tersebut dengan obor.
" Hush...... hush........!
Ular itu mendesis tapi segera mundur. Yang lain segera memeriksa tangan orang yang terpatuk ular. Terlihat bekas gigitan berwarna merah keunguan....
Mereka saling memandang, sudah jelas ular itu beracun. Orang ketujuh mengikatkan saputangannya di pergelangan tangan orang yang terikat. Lalu membantunya berdiri. Mereka lanjut berjalan sampai ada persimpangan.
" Persimpangan. Kemana kita akan pergi ? " tanya orang yang memegang obor. Ia mencoba menerangi lorong yang kiri namun tak bisa melihat terlalu jauh karena sempit. Hanya muat satu orang saja untuk melaluinya.
" Yang kiri sempit, kita ke kanan saja "
Akhirnya mereka memilih lorong kanan. Tiba-tiba orang yang digigit ular jatuh terduduk. Orang ketujuh kembali memeriksanya. Dilihatnya tangan orang itu membengkak, badannya terasa panas sementara wajahnya pucat.
" P...pergilah..... tinggalkan.... aku....... " katanya sedikit terengah-engah.
Yang lain saling memandang dalam diam. Akhirnya satu-persatu meninggalkan tanpa berkata apapun. Begitulah orang-orang yang berhati busuk tidak akan peduli temannya. Yang mereka pikirkan hanya harta dan diri sendiri.
Penonton di aula kembali bergumam. Mereka saling berkomentar.
Tiba-tiba kembali terdengar cicitan tikus. Orang-orang itu waspada.
" Lihat, tikus-tikus itu kemari. Pasti ada ular dibelakangnya. Cepat lari....! "
Mereka berebut lari dengan panik. Obor terlepas jatuh. Dan karena tak dapat melihat dalam gelap, mereka saling bertabrakan dan terjatuh. Namun siapa yang mau ribut ? Cepat-cepat mereka bangkit dan kembali berlari.
Tak lama tampak sedikit terang diujung lorong. Mereka secepatnya berlari kesana dengan tikus-tikus yang juga berebut melarikan diri.
" Lihat, itu pintu keluar. Ayo cepat....! "
Mereka mempercepat larinya.
" Aaaaaaaaaahhhhh..................... "
Mereka tak melihat jurang didepan. Semuanya terjun bebas. Sementara beberapa tikus berbelok ke samping. Sebenarnya ada jalan setapak ke samping dari ujung lorong itu. Namun karena berlari, mereka tak sempat berhenti atau memperhatikannya. Entah bagaimana nasib mereka. Namun semua yang di aula bersorak...
Rey dan Asgar menyudahi tontonan itu. Para anggota bergumam dan mulai berbenah untuk tidur. Ini sudah larut malam. Rey pamit pada Asgar untuk kembali ke penginapan dengan cara teleportasi.
Asgar keluar aula untuk memeriksa sekeliling, Zacko mengikutinya. Ia memastikan obor tetap menyala walau sudah tak ada lagi iblis dan penyihir di ibukota. 4 orang segera bertugas jaga malam. Mereka sudah biasa bergantian jaga tanpa diingatkan.
__ADS_1