
Axel tersenyum miring. Ia akan membuat Thalia tidak berani keluar selama beberapa waktu. Telunjuknya mengacung ke arah kepala Thalia. Api kecil meluncur membakar ujung rambut Thalia. Lalu Axel segera berbalik pergi.
Tak lama terdengar teriakan kepanikan di kejauhan. Ia yakin Thalia sedang sibuk memadamkan api di rambutnya.
" Aaaaaaaahhh........... ! Apiiii......... ! Tolooooong.......... ! Rambutku terbakaaaar.......... ! "
Pengawal segera datang menolong. Ia terpaksa menepuk-nepuk kepala Thalia untuk memadamkan apinya.
" Puk..... puk..... puk...... puk...... ! "
" Aow..... Aow..... Aow..... Apa yang kau lakukan ?! " Thalia melotot marah.
" Maaf, nona. Maaf....... saya terpaksa harus padamkan apinya. Lihatlah rambut nona banyak terbakar " pengawal itu menunjuk rambut Thalia.
Thalia memeriksa rambutnya yang sudah pendek tak teratur
" Tidaaaaak................... !! "
Thalia berlari ke kamarnya. Ia langsung menuju meja rias untuk melihat keadaannya. Rambutnya hampir gundul dibagian belakang. Matanya terbelalak ngeri dan ia melorot pingsan.
" Astaga, nona...... "
Para pelayan segera berdatangan untuk menolongnya. Mereka meringis ngeri melihat rambut Nona Thalia. Pasti akan ada badai di kamar ini nanti.
Seorang pelayan segera menemui Nyonya Carloz. Ia menjelaskan keadaan nona Thalia.
" Apaaaa....... ?! Kenapa bisa terbakar.... ? Siapa yang melakukannya ? "
" Tidak ada, nyonya. Saat itu nona Thalia sedang sendiri. Nona duduk di taman sambil makan kacang rebus. Nona menyuruh saya mengambilkan madu ke dapur. Saat saya kembali, nona sudah kembali ke kamar " kata pelayan itu.
Nyonya Carloz segera menengok keadaan putrinya dan memanggil tabib. Tabib memeriksa keadaan Thalia.
" Nyonya, Nona Thalia tidak terluka sama sekali. Juga tidak ada sakit apapun. Hanya rambut Nona saja yang rusak terbakar. Anda terpaksa harus merapikannya. Saya akan memberi ramuan agar rambut cepat tumbuh. Tapi untuk sementara Nona harus memakai topi atau kain penutup kepala ( kerudung ) " tabib menjelaskan.
" Saya mengerti tabib "
Setelah tabib pergi, nyonya Carlos segera duduk disamping Thalia.
__ADS_1
" Oh anakku..... Kenapa bisa jadi begini ? "
Nyonya Carlos membelai tangan Thalia yang masih pingsan.
Axel kembali ke kota, berjalan kesana-kemari mencoba mencari Rey. Ia berpikir Rey adalah warga kota Grasto. Ia agak ragu apakah Rey bisa sihir atau tidak. Sebab tadi gadis itu tidak bisa melawannya sebelum kedatangan kakek tua itu. Apakah ia benar-benar kakeknya atau bukan ? Atau hanya seorang kakek yang kebetulan berada di sana ?
Rey memang kembali ke Grasto. Tapi ia menyamar jadi nenek-nenek untuk menghindari bertemu Axel lagi. Saat ini Rey sedang menikmati minuman buah-buahan di pinggir taman kota. Ia memandang anak-anak kecil yang sedang bermain. Ia masih menunggu berita dari Asgar.
Asgar sedang berada di kantor kota. Ia membaca tentang data-data penduduk keturunan penyihir. Ia ditemani petugas kantor. Wanita itu menjelaskan dengan suara sedikit merdu. Ia berkali-kali menatap Asgar sambil menjilati bibirnya. Kelihatan sekali ia tertarik pada Asgar.
" Tuan..... aku akan menemani anda menemui mereka satu-persatu " ucapnya berharap Asgar setuju.
" Tidak perlu nona, aku hanya perlu menyampaikan informasi ini pada tuanku. Jadi tidak perlu menemui mereka. Permisi....... "
Wanita itu memandang kecewa karena Asgar menolak ditemani.
( " Nona, anda dimana ? " ) telepati Asgar.
( " Aku di taman kota " ) jawab Rey.
" Aku nenek Rey, duduklah..... " kata Rey menjawab kebingungan Asgar.
" Oh....... " Asgar segera duduk.
" Bagaimana hasilnya ? "
" Hanya ada 2 keluarga penyihir di kota ini. Tapi mereka tidak punya anak laki-laki yang sudah dewasa. Maksud saya mereka masih anak-anak. Sedang keluarga kerajaan ada seorang Pangeran bernama Axel "
" Uhuk.... uhuk-uhuk....... " Rey tersedak.
Asgar berhenti makan buahnya dan menepuk-nepuk punggung Rey. Ia yakin Nonanya tidak sembarangan tersedak. Rey menarik nafas bolak-balik. Setelah tenang ia minum kuahnya sedikit.
" Pangeran Axel ? Berarti putra Ratu Elena ? "
" Ya, kakak Xenia. Dia dikenal sebagai Hakim Agung Trexodia "
" Pantas saja..... wajahnya mirip dengan Xenia. Aku bertemu dengannya tadi di pasar. Ia menginginkanku "
__ADS_1
" Uhuk-uhuk....... uhuk-uhuk............. " sekarang ganti Asgar yang tersedak. Rey cepat-cepat menepuk punggungnya.
" Kapan Nona bertemu dengannya ? Apa dia orang baik ? " tanya Asgar.
" Tidak, dia orangnya tidak suka dilawan dan sifatnya tidak perduli apapun. Dia sempat membawaku lari ke bukit belakang istana. Aku terpaksa meminta bantuan Kendrick "
Asgar tercengang sesaat.
" Apakah kekuatannya diatas Nona ? " Asgar tak percaya.
" Kendrick bilang begitu. Tapi ia punya kelemahan. Jadi aku harus lebih cerdik darinya. Kendrick melarangmu berhadapan langsung dengannya " jawab Rey.
Asgar mengangguk-angguk. Matanya terbuka lebar ketika mengingat satu hal.
" Nona...... Apakah keluarganya ; Raja, Ratu, Xenia, tahu tentang hal ini ? "
" Itulah yang aku tidak tahu....... " Rey menatap Asgar dengan perasaan dilema.
Mereka meneruskan menikmati minuman buah-buahan tanpa bicara lagi. Setelah itu berjalan mencari penginapan Rozanda. Sedang Axel pergi ke kantor kota untuk memeriksa data keluarga penyihir kota ini.
" Eh.. Pangeran, ehm, maksud saya...... Hakim Agung...... Ada yang bisa saya bantu ? " tanya wanita penjaga kantor.
" Ya, aku minta data warga kota ini. Siapa saja saja yang keluarga penyihir ? "
" Keluarga penyihir..... ? Ada 2 tuan, keluarga Martinoz dan keluarga Brazon. Leluhur mereka berasal dari Kerajaan Cronos "
" Apakah mereka mempunyai anak perempuan yang sudah dewasa ? "
" Eh...... ? Ada Hakim Agung. Clarisa dari keluarga Martinoz, berumur 19 tahun dan Griselda dari keluarga Brazon, 21 tahun " jawab wanita itu sambil membaca data keluarga yang dimaksud. Tentu saja data itu masih ada dimeja karena Asgar baru saja dari sini dan ia belum membereskannya.
Wanita itu heran karena hari ini ada dua pria menanyakan data tentang keluarga penyihir. Asgar menanyakan tentang anak laki-laki dewasa. Sedang Hakim Agung menanyakan tentang anak perempuan dewasa. Ada apa ini ?
Karena melamun wanita itu tidak menyadari kepergian Pangeran Axel. Namun diam-diam ia merasa lega. Hatinya merasa jerih berhadapan dengan Pangeran Axel. Ia mendengar sudah banyak putri para menteri yang mendekati Pangeran Axel. Namun mereka semua berakhir dengan hukuman cambuk karena berani menyentuh tangan atau lengannya. Bahkan ada juga beberapa yang dibiarkan jatuh karena pura-pura terpeleset dengan harapan dipeluk oleh Pangeran. Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum hambar. Ia tidak akan berani melakukan itu.
Lebih baik mencari pria lain yang lebih lembut pada wanita. Seperti pria tadi pagi yang datang sebelum Pangeran Axel. Kalo tak salah, namanya Asgar. Pria itu gagah tapi ramah dan lembut. Wanita itu tersenyum sendiri membayangkannya.
Kapan lagi ia akan bertemu pria itu ? Apakah ia sedang mencari keluarganya ? Sepertinya tidak..... tadi ia bilang informasi ini untuk tuannya. Berarti mereka menginap di kota ini. Mungkin tuannya yang sedang mencari keluarga penyihir.
__ADS_1