
Rey merasa sedikit panas dan nyeri di bagian lengannya. Namun ia tetap fokus menyelesaikan kubah pelindung.
Asgar waspada memperhatikan iblis yang keluar dari badan laki-laki besar itu. Energinya sudah dikumpulkan di kedua telapak tangannya.
Ketika iblis itu sepenuhnya keluar dari tubuh pria itu, tubuh itu segera ambruk ke tanah dan mulai membusuk. Asgar memasang perisai di depannya.
" Jdeeerrrr..... ! " tiba-tiba iblis itu sudah menabrak perisai buatannya. Iblis itu terhuyung 2 langkah ke belakang.
Asgar menghentakkan perisainya menjadi pecahan angin tajam menembus tubuh si iblis "
" Hua...ha..ha..ha..ha........ "
Pecahan angin tajam itu hanya melewati setiap inchi tubuhnya.
Asgar mengerutkan alisnya. Tubuh iblis itu bisa melewatkan benda kecil atau tajam, tapi tidak bisa melewati perisainya ?
Setelah menyelesaikan kubah pelindung, Rey merasakan lengannya semakin ngilu dan berbau busuk. Tusukan cakar iblis memang beracun. Ia menyalurkan energi penyembuh ke arah lengannya.
Iblis itu mengeluarkan asap beracun ke udara. Asgar mencoba mengendalikan pergerakan udara. Ia tidak ingin menghirup asap beracun itu.
Tiba-tiba iblis itu menyabet kedua tangannya.
" Ah.... ! "
tangan Asgar terluka. Konsentrasinya mengendalikan asap racun buyar.
Rey membuat perisai api dengan tangan kirinya ( tangan kanan masih proses penyembuhan ). Iblis itu mundur ke belakang. Lalu meniup perisai api itu. Bukannya mati, kobaran api itu malah berkobar dan memercik kemana-mana. Tentu saja, itu adalah api abadi. Hanya yang punya yang berkuasa memadamkannya.
Asgar mengerahkan sedikit kekuatannya untuk menyembuhkan telapak tangannya yang tersabet iblis.
Iblis itu menggeram, ia tak berani melewati perisai api. Rey memang sengaja membuat perisai api agak lebar untuk melindungi mereka berdua. Iblis ini kecepatannya tak terduga. Bisa sewaktu-waktu menyerang mereka.
( " Asgar, kau berdirilah di belakang. Lakukan penguraian di bagian kepala saja " )
( " Baik Nona " )
Rey membaca mantra. Api semakin melebar. Ia menggerakkan apinya maju perlahan mendekati iblis itu. Iblis itu tahu apa yang akan dilakukan Rey.
__ADS_1
Ia meniupkan asap beracun dan berusaha menyebarkannya ke seluruh ruangan dalam bola perisai. Namun perisai api itu memusnahkan asap racunnya (menguap terbakar ) .
Tidak ada jalan lain. Iblis itu tiba-tiba melesat menembus perisai api dan langsung berhadapan dengan Rey. Beberapa bagian tubuhnya terbakar hangus. Cakarnya segera mencabik-cabik tubuh dan tangan Rey.
" Aaah..... ! "
" Nona.... ! "
Asgar hendak maju menolong Rey, namun teriakan telepati Rey mencegahnya.
( " Cepat lakukan penguraian ! " )
Rey berusaha menangkis dan mendorong mundur iblis itu.
Asgar ragu dan cemas melihat Rey. Ia berusaha berkonsentrasi dan secepatnya menguraikan kepala iblis.
" Aaaaaaarrrgh.............. ! "
Iblis itu memegangi kepalanya sambil berteriak. Asgar semakin memperkuat serangannya.
" Aaaaaaaaaaaaaaaarrrrgh................ . . . ! "
Rey menggerakkan api kembali mengurung tubuh iblis itu. Pelan-pelan sisa tubuh iblis itu terbakar. Sementara bagian kepala sudah terurai sepenuhnya.
Asgar mencium bau busuk di udara. Ia mengira itu bau iblis yang terbakar. Rey sesekali memejamkan matanya menahan sakit perih, gatal dan nyeri akibat tercabik cakar si iblis. Racunnya terasa menggerogoti daging di sekitar bekas cakaran. Ia harus memastikan tubuh iblis itu habis terbakar sepenuhnya. Lalu membuka bola pelindung ( kembali menjadi udara ).
Asgar maju ke depan untuk mengecek mayat laki-laki yang sudah tewas membusuk itu.
" Bruuukk.... ! "
Asgar menoleh mendengar bunyi sesuatu terjatuh di belakangnya. Ia terbelalak melihat Rey terduduk ke tanah.
" Nona.... ! "
Asgar berlari kemudian berlutut menahan tubuh Rey. Sekarang ia tahu darimana bau busuk tadi. Ternyata luka-luka Rey mulai membusuk. Asgar melepas kalungnya dan memasangkannya di leher Rey.
Rey mengacungkan jarinya ke arah mayat laki-laki besar itu. Ia membakarnya sampai jadi abu yang beterbangan di udara. Lalu Rey mengeluarkan cucu laki-laki kakek tua itu sebelum pingsan di pelukan Asgar. Orang-orang mulai mendekat.
" Nak.... apa kau bisa pulang sendiri ke rumahmu ? " tanya Asgar pada anak kecil itu.
__ADS_1
Seseorang mendekat.
" Aku mengenalnya, dia putra Tuan Andreas. Aku akan mengantarnya pulang "
Asgar dan anak itu menoleh.
" Paman Sam..... " panggil anak kecil itu. Namun seorang anak lain menubruk anak kecil itu.
" Kakak.... "
" Bertoz.... " ( Tadi Bertoz disuruh bersembunyi, masuk ke toko pakaian ).
" Syukurlah kalian semua selamat, ayo ku antar pulang " kata Paman Sam menggandeng mereka. Ia mengangguk pada Asgar sebelum pergi.
Asgar membopong Rey. Ia menyentuh liontin kalungnya di leher Rey dan melakukan teleportasi ke penginapan, lebih tepatnya ke kamar Rey.
Ia segera membaringkan Rey di atas ranjang. Dilihatnya bagian depan tubuh dan lengan Rey bersimbah darah agak hitam. Baunya juga busuk. Asgar menggigit bibirnya hampir menangis. Ia tak berani membersihkan luka-luka atau mengganti baju Rey karena itu tidak sopan. Ia juga tak mungkin memanggil wanita lain (pelayan penginapan) karena pastilah mereka enggan menolongnya sebab berbau busuk.
Jadi Asgar duduk berlutut menunggu di samping ranjang sambil menyusut air matanya. Asgar yakin Nonanya akan segera membaik.
Terdengar Rey menggumam tak jelas. Asgar melihat Rey masih memejamkan matanya. Ia mengulurkan tangannya ke dahi Rey.
" Astaga..... ! Nona Rey demam ! "
Asgar berdiri mengeluarkan saputangannya dan membasahinya dengan air minum di meja. Lalu menempelkannya di dahi Rey. Kemudian kembali duduk berlutut di samping ranjang. Tak sadar Asgar ketiduran karena lelah.
Sementara Odex merasakan aura sihir yang kuat dari arah kota ( Rey tidak sempat menghapus jejak sihirnya karena keburu pingsan ). Ia bergegas terbang menyusuri udara.
Akhirnya ia sampai di dekat pasar kota Malto. Aura sihir sudah mulai samar jejaknya. Dilihatnya banyak orang sedang mengerumuni seorang kakek tua yang menangis keras.
Ia mencibirkan bibirnya saat melewati kerumunan itu. Baginya, kakek tua itu begitu cengeng hingga menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Ia berhenti sebentar untuk mengendus aura sihir. Jejaknya terakhir di sini. Mungkin kakek tua itu ada hubungannya dengan salah seorang penyihir tadi. Mulutnya sedikit miring. Odex mengira kakek itu dihajar penyihir.
Akhirnya Odex kembali ke hutan Mazox. Ia masih belum puas menyiksa salah satu penyihir yang menyebabkan ia kehilangan penyihir wanita muda ( Rey ) yang membawa lari tawanannya ( anak-anak ).
Odex tertawa melihat penyihir itu tampak lesu. Ia sengaja mengikatnya dengan sihir agar tak dapat kabur. Lalu kembali menyiksanya. Kali ini ia membawa sarang lebah hutan dan mengoleskan madunya ke jubah si penyihir. Kemudian ia memukul-mukul sarangnya dengan keras dan melemparkannya ke dekat si penyihir.
Tentu saja tawon-tawon itu marah dan menyerang si penyihir. Mereka menyengat dari kepala sampai ke ujung kaki. Si penyihir hanya bisa berteriak kesakitan karena Odex mengunci kekuatannya.
__ADS_1