
Malamnya Rey dan Asgar jalan-jalan menonton festival bulan purnama. Zigaz senang sekali karena tidak pernah pergi ke acara seperti ini. Rey membeli beberapa cemilan. Asgar ikut permainan lempar gelang, tembak bola, tangkap kelinci dan permainan lainnya. Hadiahnya ia berikan siapapun anak kecil di sekitarnya.
Tiba-tiba ada keributan di kios roti. Orang-orang memukuli seorang pemuda yang ketahuan mencuri roti. Asgar segera menyelamatkan pemuda itu.
" Tuan-tuan, tunggu.... Tolong jangan memukulinya lagi. Dia hanya lapar dan tidak punya uang. Aku akan membayar roti untuknya " kata Asgar sambil mengacungkan 2 keping emas ke udara.
Mereka pun bubar.
Pemilik toko roti mengambil koinnya dan bermaksud pergi. Tapi Asgar menahan pergelangan tangannya.
" Berapa harga rotinya ? Bukankah cuma 2 perak ? Apakah sebanding dengan nyawamu yang aku beli seharga 2 koin emas ? "
" ................. Tuan mau apa ? "
" Kamu terlalu pelit bahkan untuk sebuah roti pada orang miskin. Maka aku pun tak perlu berbelas kasih pada nyawamu "
Asgar melepaskan tangannya dan mengeluarkan pedang yang berkilat tajam. Seketika pemilik roti berlutut ketakutan.
" Ampuni aku Tuan, ampuni aku..... aku berjanji akan memberinya roti setiap hari " ujarnya sambil menunduk dalam.
Rey mendekat dan menyentuh kepalanya.
" Aku tidak melihat ketulusan dalam hatimu. Kau hanya bermulut manis untuk menipu. Maka seperti 2 koin emas yang kamu terima, itulah harga yang harus kau bayar untuk nyawamu "
Pemilik toko roti hanya tersenyum sinis tersembunyi karena masih menunduk. Ia tidak tahu bahaya apa yang akan menantinya.
Lalu Rey memberi isyarat pada Asgar untuk membawa pemuda itu pergi. Mereka menuju tempat sepi.
" Siapa namamu ? " tanya Asgar.
" Dominic, Tuan "
" Dimana kamu tinggal ? " tanya Rey
" Saya tidak punya rumah Nona, rumah orang tua saya disita untuk membayar hutang ayah "
" Apakah di pinggir jalan sekitar sini ada rumah kosong ? "
__ADS_1
" .............. Tidak ada Nona, tapi ada satu rumah agak jelek milik Pak Tua Roland "
" Belilah rumah itu dan buatlah usaha apapun yang kamu bisa. Ingatlah untuk selalu menolong orang miskin dan berbuat baik " Rey memberikan satu kantong koin emas. Ia menyentuh baju pemuda itu sehingga tampak bagus.
Pemuda itu berlutut dan menangis. Ia tidak menyangka hidupnya ditolong orang. Asgar menepuk-nepuk bahunya agar tenang.
" Malam ini temanilah kami menonton festival " ajak Asgar. Rey tersenyum.
Mereka bersenang-senang bersama. Pemuda itu sangat gembira namun juga cengeng. Berkali-kali ia menyusut air matanya karena terharu. Rey terpaksa memberikan sapu-tangannya.
Ketika akan kembali ke penginapan, mereka melihat seorang ibu dan anak perempuannya meringkuk di depan sebuah rumah. Dominic mendekati dan mengulurkan makanan yang ia punya. Ibu dan gadis kecil itu makan dengan rakusnya.
Dominic menatap Rey.
" Nona, bolehkah aku mengajaknya ikut bersamaku "
" Tentu, uang yang aku berikan padamu tidak akan pernah habis untuk kebaikan. Mereka akan membantumu membuka usaha makanan "
Rey mengacungkan jarinya ke arah mereka sehingga gaunnya lebih baik dan pantas. Lalu bersama-sama menuju penginapan untuk beristirahat.
Keesokan paginya Rey makan bersama dengan mereka di restoran depan penginapan. Gadis kecil itu makan dengan rakusnya seolah takut tak akan pernah lagi makan enak. Rey tersenyum maklum.
Gadis itu memandang Dominic agak bingung.
" Mulai hari kamu dan ibumu akan tinggal bersamaku. Kita akan membeli sebuah rumah. Kakak akan bekerja keras supaya bisa membelikan kalian baju-baju bagus "
Gadis itu tersenyum lebar dan menatap ibunya. Mereka saling memeluk dengan terharu.
" Baiklah Dominic. Kami akan melanjutkan perjalanan. Jaga diri kalian baik-baik. Ingatlah untuk selalu menolong orang " pesan Rey.
" Saya berjanji, Nona. Terima kasih atas semuanya. Hati-hati di jalan " mereka bertiga melambai.
Mereka berkuda keluar dari kota memasuki hutan kecil. Rey fokus pada pergerakan aura disekitarnya. Ia ingin mencari jejak keberadaan penyihir misterius. Asgar memindai udara dan Zigaz mengecek pohon atau tanah. Karena tidak ada apapun, Mereka meneruskan melewati desa, kota-kota dan mencapai ibukota TREXODIA : GRASTO
Hari sudah gelap. Namun suasana di kota GRASTO tampak terang dan ramai. Toko-toko dan restoran juga masih buka. Mereka masuk untuk menikmati makan malam. Zigaz berubah menjadi pria tua. Ia duduk disamping Asgar.
Karena banyak pengunjung, mereka harus menunggu antrian. Asgar pamit ke kamar kecil. Datanglah seorang pemuda berpakaian mewahh bersama 2 orangnya. Ia melihat sekeliling. Tatapannya tertuju pada Rey yang cantik, namun duduk berhadapan dengan seorang tua kurus. Ia mengerutkan alisnya.
__ADS_1
Lalu ia mendekati meja Rey.
" Hei Pak tua. Kau tidak pantas duduk bersama seorang gadis muda. Ingatlah umurmu sudah tua, bau tanah... ! minggir..... !! "
Salah satu orangnya menarik keras Zigaz dan mendorongnya pergi. Lalu yang satunya membetulkan kursi untuk pemuda itu.
Kebetulan Asgar sudah kembali dari kamar kecil dan melihat kejadian itu. Ia menahan Zigaz sambil tersenyum. Ia menarik kursi di meja yang bersebelahan dengan meja Rey. Ditepuknya bahu Zigaz agar duduk tenang. Asgar sendiri duduk menatap ke meja Rey sambil tersenyum simpul. Ia yakin Nonanya tak akan tinggal diam.
" Ehm....... nona...... Kau jangan berkecil hati. Ia sudah tua, tak kan mampu melayanimu. Denganku kau tak kan kecewa. Aku juga akan memberimu koin lebih banyak. Apapun permintaanmu akan kuberikan asalkan kau menemaniku bersenang-senang malam ini.
Rey menatapnya lucu.
" Memangnya kau siapa ? "
" Oh.... Aku Janson, putera Menteri Arden "
" Aku tidak bertanya namamu. Maksudku kamu siapa bagiku ? "
" Eh..... ? kita....... eum....... " pemuda itu kebingungan menjawab.
Salah satu orangnya mencoba menjelaskan " Dia putra Menteri Arden, nona. Namanya Janson "
" Lalu siapa dia bagiku ?! " Rey bertanya dengan mata bulat lebar.
Mereka tak tahu harus menjawab apa.
Pada saat itu pelayan datang membawa pesanan Rey. Asgar melambai pada pelayan untuk membawanya ke meja Asgar dan Zigaz berada. Kemudian Asgar berdiri mengulurkan tangannya menjemput Rey. Rey tersenyum mengejek pada Janson sebelum berpindah ke meja Asgar.
Janson dan orang-orangnya melongo. Para pelayan restoran yang melihat itu menahan senyum sambil menunduk. Janson mengepalkan tangannya karena merasa malu disepelekan. Ia bangkit berdiri ingin menggebrak meja Rey tapi satu suara wanita menghentikannya.
" Janson...... ! Katakan pada ayahmu besok untuk berhenti dari pekerjaannya. Ia ternyata tidak mampu mendidik putranya. Tuan Arden pandai bermain hukum di istana. Tapi putranya pandai bermain wanita. Memalukan sekali "
" Tidak, Yang Mulia, Ratu Elena...... Mohon jangan berhentikan ayahku " Janson dan 2 orangnya berlutut dihadapan pria gagah dan wanita cantik. Seorang gadis berwajah tegas namun cantik mengintip di belakang mereka, itu Xenia.
Rey, Asgar dan Zigaz segera berdiri setengah membungkuk untuk memberi hormat. Ratu Elena meraih Rey.
" Anda tidak seharusnya memberi hormat padaku Tuan Putri Cahaya, aku memohon maaf "
__ADS_1
" Selamat datang di Kerajaan kami, Tuan Putri " ucap Alexander setengah membungkuk bersama Xenia.
Lalu Xenia menendang kecil pada Janson, menyuruhnya pergi.