
Roy membuat beberapa tonggak bundar agak lebar dari tanah untuk duduk di sekeliling pinggir lapangan secara diam-diam. Orang-orang heran dari mana itu muncul. Namun mereka tak perduli dan duduk.
Seorang wanita penjual kue keliling lapangan menjajakan jualannya. Beberapa orang membeli termasuk Roy dan Axie. Mereka makan sambil menikmati waktu. Langit sudah mulai gelap. Segera obor-obor di rumah penduduk mulai dinyalakan. Beberapa laki-laki keluar menyalakan obor-obor yang tertancap di pinggir lapangan.
Langit semakin gelap. Namun bulan belum muncul. Para gadis mulai resah, mereka tak sabar menunggu waktu.
" Dimana pertapa itu. Katanya ia akan datang ? "
Beberapa gadis yang tadi sore berseteru dengan Teana telah datang kembali dengan berganti gaun. Roy dan Axie yakin Teana juga pasti datang lagi. Siapa yang tidak tergiur dengan hadiah yang dijanjikan sang pertapa ?
Axie mengamati sekeliling. Para gadis masing-masing didampingi pelayannya. Sementara jika ada, ayah atau ibunya hanya menunggu di tepian. Banyak juga laki-laki genit yang menggoda para gadis. Rayuan mereka semua ditolak karena gadis-gadis itu lebih menginginkan hadiah dari pertapa.
" Nona..... Mohon maaf jangan marah. Tapi maukah Nona sementara berubah menjadi pelayan perempuan untuk mendampingiku agar siapapun tak curiga tentang kita. Aku lihat semua gadis didampingi para pelayan karena sekarang adalah malam hari. Atau posisi kita dibalik ? Nona yang jadi gadis pilihan dan saya yang jadi pelayannya ? " tanya Axie.
Roy melihat sekeliling dan mengangguk.
" Aku akan jadi ibu-ibu pelayan saja " Rey berubah diam-diam menjadi pelayan berpakaian sederhana.
" Ehm... Nona Axie.... ? " seorang pria menyapa.
" Oh.... Selamat malam Tuan Xander " Axie membungkuk sedikit. Rey juga sama.
" Apakah nona akan mengikuti pemilihan gadis istimewa ? " tanya Xander.
" Eee..... Entahlah tuan. Saya akan lihat dulu keadaannya nanti " jawab Axie.
" Sebenarnya saya........ " Xander menatap ke arah para gadis yang berkumpul di tengah lapangan.
" Ada apa tuan Xander ? " Axie merasa janggal.
" Entahlah nona Axie, saya merasa ada yang tersembunyi dari acara ini. Sepanjang umur saya, baru kali ini saya tahu ada acara pemilihan gadis istimewa. Dengan hadiah akan menuruti apapun permintaan gadis yang terpilih. Itu seolah permintaan terakhir gadis tersebut sebelum kematiannya. Sebenarnya gadis yang dipilih untuk apa ? Maksudnya untuk dinikahkan atau untuk persembahan suatu ritual ? " Xander mengeluarkan pikirannya pada Axie. Axie terperangah.
" Aaah..... ternyata pikiran anda sama dengan pikiran saya tuan Xander. Saya juga curiga dan ingin tahu apa maksudnya. Itulah sebabnya saya ada di sini sekarang " Axie dan Xander saling menatap lalu mengangguk-angguk.
__ADS_1
" Begini saja nona, saya akan berusaha mempengaruhi semua laki-laki untuk ikut berjaga-jaga saat proses itu berlangsung. Anda berhati-hatilah sendiri, jika merasakan bahaya segeralah menyelamatkan diri " kata Xander melambaikan tangan.
" Saya mengerti, tuan " jawab Axie.
" Lihat, bulannya muncul " tunjuk Rey ke langit. Tampak bulan mulai mengintip. Samar-samar ada sedikit awan menutup separuh. Angin terasa berhembus pelan dan agak dingin.
" Ini tidak baik. Jangan-jangan akan ada badai... " gumam Axie.
(" Ini bukan tanda badai, Axie. Ada beberapa penyihir di kegelapan sana ") kata Rey dalam telepati.
Axie terkejut. Ia memejamkan mata untuk merasakan elemen udara disekitarnya. Mereka berada di jarak seribu langkah. Ada 13 penyihir sedang melayang diam di udara seolah menunggu sesuatu.
(" Apakah ini ada kaitannya dengan pertapa itu ? ") tanya Axie.
(" Aku tidak tahu... ") Rey menggeleng.
(" Jika pertapa itu adalah bagian dari penyihir, maka tujuannya bukan hanya satu, tapi semua gadis-gadis itu. Bisakah kita mencegahnya ? ") tanya Axie.
(" Aku tidak dapat menyerang jika harus melindungi mereka semua. Kita butuh bantuan. Aku akan memanggil Zacko dan Xenia. Elemen api Xenia akan membantuku menangani para penyihir. Kau dan Zacko akan menyelamatkan gadis-gadis dan para warga lainnya ") kata Rey.
(" Aku akan mengembalikan wujudmu pada waktunya. Sekarang kita akan bergabung dengan para gadis itu ") Rey menarik lengan Axie.
(" Xenia... Aku butuh bantuanmu. Datanglah bersama Zacko ke lapangan kota Blazein sekarang. Ada 13 penyihir bersembunyi. Mereka mengincar para gadis. Berdandanlah yang cantik dan pakai gaun yang lebar. Zacko juga harus berbaju bangsawan. Jangan lupa hilangkan aura sihir kalian begitu sampai " )
" Uhuk.... uhuuukkk..... ! " Xenia tersedak. Ia sedang makan malam bersama Zacko. Zacko menyodorkan segelas air.
" Ada apa sayang ? " tanya Zacko lembut.
" Segera bayar makanannya, Tuan Putri membutuhkan kita " kata Xenia.
Zacko tertegun. Namun cepat-cepat berdiri dan menaruh beberapa koin di meja. Mereka cepat-cepat keluar sambil bergandengan tangan.
" Apa kata Tuan Putri ? " tanya Zacko setelah diluar. Mereka berjalan mencari tempat sepi.
__ADS_1
(" Kita harus pergi ke lapangan kota Blazein. Rubah penampilan jadi bangsawan. Ada 13 penyihir disana. Mereka mengincar para gadis ") jawab Xenia menjelaskan.
Ditempat sepi Zacko dan Xenia berubah dan menghilang. Mereka muncul ditempat yang sudah diarahkan Rey. Xenia segera menghilangkan aura mereka berdua. Xenia mengamati keramaian disekitarnya.
Tampak lapangan diterangi obor disekelilingnya. Para gadis-gadis bergaun mewah terlihat berkumpul di tengah.
(" Nona, biarkan aku keluar, aku bisa membantu mengusir penyihir ") kata Xibo dari dimensi ruang.
(" Tapi kau harus menyamar jadi manusia, Xibo ") jawab Xenia.
(" Baiklah ") sahut Xibo berubah menjadi seorang gadis. Lalu keluar dan berdiri disamping Xenia. Ia mengangguk sedikit pada Zacko. Zacko sudah tahu siapa gadis muda berwajah jutek itu.
" Aku akan bergabung dengan para gadis itu. Kau berjagalah bersama para lelaki " pamit Xenia.
Zacko mengangguk " aku akan mencari Asgar " .
Xenia melangkah bersama Xibo ke arah lapangan. Rey melihatnya segera melambai. Gadis-gadis lain melirik dengan agak sinis karena merasa tersaingi.
Xibo tersenyum dan hendak menunduk di hadapan Rey, namun Rey mencegahnya sambil berbisik sesuatu. Xibo mengangguk-angguk.
Sementara Xenia menatap Axie dengan tatapan menelisik. Axie menahan senyum. Xibo membisikkan sesuatu pada Xenia. Xenia terbelalak. Kemudian menatap Axie sambil menutup mulutnya. Axie dan Rey terkekeh. Mereka lalu mengobrol sambil menunggu waktu.
Bulan sudah mulai naik. Memang benar sekarang bulan purnama, langit begitu terang. Angin kembali berhembus dingin. Beberapa gadis mulai menggerutu.
" Dimana pertapa tua itu ? "
" Apa dia lupa kalau ada janji ? "
" Aku tak mau berlama-lama di sini, nanti masuk angin "
Seorang tua berjubah putih melintas pelan menuju para gadis. Ia membawa tongkat kayu putih. Jenggotnya yang putih panjang mencapai perut. Rambutnya juga sudah beruban, namun potongannya rapi.
__ADS_1
Mata Rey, Asgar, Xenia dan Xibo menatap tajam. Mereka tidak dapat merasakan aura sihir dari pertapa tua itu. Namun mereka tahu pertapa itu sengaja menutupinya.