
Rey dan Asgar berjalan pergi, kembali ke penginapan. Di ruang tamu orang-orang ramai membicarakan sesuatu. Rey mengangguk kepada Asgar. Asgar segera bergabung dengan orang-orang itu. Sementara Rey masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat sebentar.
" Ada apa ini ? apa yang sedang kalian bicarakan ? " tanya Asgar.
" Itu.... tadi ada orang tua yang mengatakan tentang bencana. Katanya ada gerhana bulan .... " ucap seseorang.
" Bukan gerhana bulan, bodoh ! gerhana matahari " sergah seseorang.
" Eh ya.... gerhana matahari " ucapnya membetulkan.
" Memangnya ada apa dengan gerhana matahari ? " tanya Asgar lagi.
" Bencana katanya. Saat gerhana matahari keadaan gelap semua. Itu berarti iblis dan penyihir akan keluar menyerang kita semua " ia menjelaskan.
" Kita harus berlindung dalam rumah dengan penerangan jika ingin selamat " ujar yang lain.
" juga harus punya senjata " tambah yang lain.
" Masalahnya orang tua itu tidak tahu tepatnya saat gerhana matahari. Ia hanya mengingatkan kita semua untuk berjaga-jaga " sahut yang lain lagi.
Asgar terdiam mendengar itu. Tiba-tiba ia berdiri.
" Kalian harus segera memesan senjata dari perak, setidaknya itu cukup melindungi diri saat melakukan perjalanan. Untuk perempuan, bisa memesan kipas atau payung perak. Dan jika mampu, silahkan memesan jubah perak secepatnya "
Lalu Asgar keluar, duduk di teras. Orang-orang itu juga segera pergi melakukan saran Asgar.
Beberapa waktu kemudian Rey keluar mengajak Asgar makan siang. Asgar menceritakan yang ia dengar dari orang-orang. Rey mengangguk-angguk.
" Bagaimana jika kita mendahului mereka membuat kekacauan ? " Rey tersenyum miring.
" Maksud Nona ? " tanya Asgar.
" Istana telah dikuasai iblis dan penyihir. Kita tidak tahu kapan saat itu tiba, tapi kita bisa menghancurkan istana sebelum gerhana matahari " jelas Rey. Asgar membelalakkan matanya.
" Nona benar, tapi bagaimana caranya, istana sangat luas. Dan kita tidak bisa masuk ke dalam untuk membakar bagian tengah " ujar Asgar.
__ADS_1
" Hmm..... Kita akan bekerjasama dengan para perampok itu. Suruh lah mereka membeli minyak bakar yang banyak. Juga tali serat yang besar dan panjang. Lalu buatlah peledak-peledak yang dibungkus jerami dalam jumlah banyak, ukuran besar dan kecil. Juga siapkan banyak obor. Buat juga 10 pelontar peledak. Pastikan mereka tutup mulut agar penghuni istana tak sempat kabur. Jika masih kurang orang, pergilah dahulu mencari anak buahmu yang dulu " jelas Rey.
" Baik nona, saya akan segera lakukan. Tapi saya mohon Nona tetap di penginapan menunggu saya kembali " Asgar menatap Rey khawatir.
" Jangan khawatir .... Jika ada sesuatu yang membahayakanmu, panggil namaku atau Kendrick " jawab Rey.
" Saya mengerti Nona " Asgar beranjak pergi.
Rey bangkit membayar makanan dan berlalu. Namun Rey merasa ada yang mengikutinya. Ia tetap berjalan santai. Akhirnya Rey masuk ke kedai roti, berharap seseorang itu mengikutinya. Benar saja, seorang wanita tua mendekatinya.
" Nona, boleh aku duduk di sini ? " tanyanya.
" Tentu nek, silahkan " jawab Rey. Rey meminta pelayan menyediakan teh dan cemilan.
" Katakan padaku ada apa nek ? " tanya Rey.
" Itu....Anu....Apa benar nona adalah Gadis Takdir ? " tanya si nenek tua. Matanya menatap tajam. Rey tersenyum.
" Maaf nek, saya hanya orang biasa " jawab Rey.
" Apa laki-laki yang sering bersamamu adalah suamimu ? " tanyanya lagi.
" Tidak, eh... iya " jawabnya gugup. Rey mengerutkan keningnya sedikit.
" Anu... bisakah nona mengobati suamiku yang sedang sakit ? " tanyanya lagi penuh harap.
" Saya hanya mengerti sedikit tentang pengobatan. Suami nenek sakit apa ? " Rey bertanya lembut.
" Anu... ia lumpuh " jawab nenek itu menunduk sedih. " Baiklah, saya akan datang bersama nenek untuk melihatnya " Rey bangkit berdiri dan mempersilahkan nenek itu jalan duluan.
Sepanjang perjalanan nenek itu hanya diam sambil sesekali melihat Rey. Rey hanya tersenyum kecil. Sampailah mereka di rumah kumuh. Daerahnya sepi dan kotor. Nenek itu menyuruh Rey masuk dan menunjukkan kamar anaknya. Ketika masuk ke kamar itu, Rey perhatikan kamarnya berdebu. Namun laki-laki tua yang terbaring tampak bersih. Ia tidak sakit, hanya seperti sedang tidur.
" Silahkan nona periksa " ujar nenek itu sambil tersenyum manis. Rey juga tersenyum manis, ia tahu sesuatu. Ia mendekat dan menaruh telapak tangannya di dahi kakek itu. Seketika mata kakek itu terbuka dan berteriak.
" Aaaaaaah................... Lepaskan ! " tangannya menepis tangan Rey dan segera duduk. Ia menatap Rey sambil menyeringai.
__ADS_1
" Jadi benar kau Gadis Takdir ? " tanyanya. Namun Rey hanya menatap tanpa reaksi. Kakek itu bangkit menerjang Rey sampai Rey tersandar ke dinding. Tangannya mencekik leher Rey.
" Ambilkan aku pisau, aku harus dapatkan darahnya. Cepat !! " suruhnya pada nenek tua. Nenek itu mengambil pisau yang sudah dipersiapkan. Ia memberikannya pada kakek tua itu. Cepat-cepat kakek tua itu menghujamkannya pada bahu Rey. Namun ia terpental saat pisau itu menyentuh Rey.
" Aaaah......! "
Ia terjatuh menabrak pinggiran tempat tidur. Pisaunya terlempar dekat kaki nenek tua. Nenek tua segera mengambilnya dan menghunuskannya ke arah Rey. Rey menangkap tangannya dan mendorongnya mundur. Rey menunjukkan tangannya pada gaun nenek tua itu. Satu api kecil membakar ujung gaun si nenek tua.
" Eh...api......api...... Kebakaran.......! nenek itu melompat-lompat sambil mengibaskan roknya ke kanan dan ke kiri karena panik.
Kakek tua datang menyerangnya dengan serangan asap hitam. Rey mengambil kipas peraknya dan mengebutkan asap itu kembali.
" Wush....! "
" Eh.....! " si kakek segera menunduk. Namun asap itu mengenai nenek tua yang sedang sibuk memadamkan api di gaunnya.
" Uhuk-uhuk....... uhuk-uhuk........ " mulutnya mengeluarkan darah sedikit.
" Laki-laki bodoh ! Apa yang kau lakukan padaku.... !? " nenek itu marah dan melempar barang pada si kakek. Si kakek menghindar dan membalas dengan serangan. Begitu terus sampai mereka tak menyadari bahwa Rey sudah teleportasi keluar halaman.
" Eh.... kemana dia ? " tanya si kakek.
" Apanya yang kemana, kakek bodoh ! " jawab si nenek tua sambil bersiap-siap menyerang.
" Gadis itu....! dasar nenek bodoh ! " kata si kakek sambil berlari keluar.
" Kau yang bodoh.... ! " nenek tua berteriak marah. Ia mengejar si kakek sambil melemparkan bola racun. Merasakan ada serangan dari belakang, si kakek segera menghindar dan melesat untuk memukul si nenek tua, tapi meleset.
" Kau ingin membunuhku ? " tanya si kakek gusar.
" Ya...! jika kau mati, maka akulah yang akan mendapatkannya " jawab si nenek percaya diri.
" Ha..ha..ha..ha... Dasar perempuan bodoh " kakek tua mempersiapkan serangannya. Begitupun si nenek, ia mengumpulkan seluruh tenaga di telapak tangannya membentuk bola tenaga dalam berukuran 2 jengkal tangan. Ketika siap, dua-duanya melemparkan bola tenaga untuk beradu.
" Blaaarrr........! "
__ADS_1
Rumah itu seketika hancur. Si kakek dan nenek tua itu sama-sama terkena efek ledakan bola tenaga. Masing-masing jatuh terjengkang sambil memegangi dadanya. Dari mulutnya mengeluarkan darah banyak. Nafas tersengal-sengal. Rey menyaksikan semua itu dari halaman rumah yang tinggal puing-puing. Dua penyihir rendahan itu dikalahkan kebodohan masing-masing.
Tiba-tiba seseorang mendekati Rey dari belakang....