
Melewati desa terakhir Raja turun di tepi sebuah hutan. Ia menatap Rey dan Elena. Lalu terbang rendah memasuki hutan. Semakin lama semakin rapat pepohonan. Ada beberapa hewan besar melintas. Setelah beberapa saat mereka sampai di padang terbuka.
Di tengah-tengah padang itu ada reruntuhan bangunan kuno. Tampak ada altar yang retak. Rey menahan tangan Elena yang berarti juga menahan Raja (mereka saling bergandengan). Rey melihat simbol-simbol di tepian altar. Ia mengamati semua reruntuhan itu dengan rinci. Kemudian mengangguk pada Raja.
Raja meneruskan terbang ke arah air terjun. Terlihat pemandangan desa kecil di kejauhan. Kemudian berdiri di tepi tebing, melihat banyak tulang berserakan. Itu adalah kerangka korban persembahan.
Kemudian Raja terbang tinggi, melewati atas hutan, desa dan kota. Kembali ke istana. Raja membuka matanya.
" Terima kasih sudah meminjamkan mata dan ingatan Raja " ucap Rey
" Tak masalah. Saya juga senang bisa terbang kesana. Selama ini tak pernah terpikirkan seperti itu " sahut Raja Alexander.
Rey tersenyum.
" Karena saya sudah tahu dimana letak reruntuhan itu, maka saya akan segera berangkat " kata Rey
" Tapi Tuan Putri, ini berbahaya. Penyihir Terra sangat licik " cegah Elena.
" Jangan khawatir, ada Asgar dan Zigaz. Penyihir Terra adalah Penyihir Jiwa. Ia bisa menguasai jiwa siapapun dengan menyamar menjadi seseorang yang berarti bagi musuhnya. Jika saya melibatkan Ratu Elena, maka ia akan mengancam jiwa Raja atau Xenia. Saya akan mengirim telepati jika terjadi sesuatu yang buruk " Rey menjelaskan.
" Hati-hatilah Tuan Putri " kata Raja dan Ratu.
Rey, Asgar dan Zigaz segera berangkat.
Rey mampir ke toko roti untuk bekal di jalan. Kemudian mereka berjalan cepat sampai ke pinggir kota. Zigaz berubah menjadi burung Elang. Rey dan Asgar juga sama.
" Nona, kenapa kita harus jadi burung ? " tanya Asgar.
" Ya, kita akan menyamar. Tujuan kita adalah reruntuhan kuno. Kita terbang sambil mencari jejak Terra. Usahakan merasakan pergerakan udara atau membauinya dan bicara dalam telepati "
" Baik Nona "
Mereka terbang melintasi kota dan desa. Teleportasi tidak dapat dilakukan jika belum pernah ke tempat tersebut. Namun bisa jika terhubung dengan seseorang yang dituju, misalnya Kendrick menemui Rey dimana pun berada. Ketika mendekati hutan mereka terbang perlahan untuk merasakan jejak atau apapun yang mencurigakan. namun tak ada apapun. Masuk kota ketiga mereka istirahat dan makan siang.
Seperti biasa selalu ada gangguan saat makan. Mata laki-laki gatal selalu tertuju pada Rey dengan pertanyaan dalam kepala.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang tua mendekati meja mereka.
" Maaf Tuan dan Nona, bolehkah saya duduk disini ? " tanyanya penuh harap.
( " Asgar.... pindahlah kesampingku " ) kata Rey.
Asgar berdiri mempersilahkan orang tua itu " Silahkan duduk, Pak Tua ".
Lalu Asgar memutar dan duduk disebelah Rey. Rey meminta satu minuman untuknya. Zigaz menawarkan makanan pada Pak Tua.
" Makanlah Pak Tua, jangan sungkan " kata Zigaz.
" Terima kasih Tuan dan Nona "
Mereka makan bersama dengan tenang. Sementara para laki-laki yang mengincar Rey mendecak kesal.
" Sialan.... Kalau tahu begitu aku pasti sudah duluan dari tadi. Tcckk..... ! "
Setelah makan, Pak Tua itu memberikan bungkusan kain putih.
Setiap warna ada artinya :
Kain putih : tulus, pertolongan.
Kain hitam : ancaman.
Kain merah : persembahan untuk kerajaan atau seseorang dengan kedudukan lebih tinggi dari si pemberi.
Kain hijau : persahabatan, hubungan kerja. Kain merah muda : kasih sayang )
" Nona, simpanlah ini, aku yakin nona akan memerlukannya " kemudian Pak Tua itu bangkit dan berpamitan.
Rey mengucapkan terima kasih. Lalu membukanya namun tidak terlalu terbuka. Asgar dan Zigaz menjulurkan kepalanya ingin melihat. Tampak sebuah cermin kuno dengan pigura bertuliskan huruf-huruf kuno.
Zigaz seketika terbatuk kecil. Tangannya menunjuk pada cermin itu.
__ADS_1
" Uhuk-uhuk.......... uhuk-uhuk.......... "
Rey dan Asgar mengerutkan alis. Mereka yakin Zigaz mengetahui tentang cermin itu. Rey mengucap mantra agar percakapan mereka tidak didengar yang lain.
Setelah batuknya reda, Zigaz menghela nafasnya.
" Apa yang kau ketahui tentang cermin ini Zigaz ? " tanya Rey sambil sesekali melirik cermin itu.
" Itu adalah " VISIJA " Nona, artinya " Cermin Pelihat " . Biasanya digunakan untuk melihat apapun yang ingin dilihat oleh si pemegang, misalnya melihat seseorang atau suatu tempat. Namun cara melihatnya harus mengucapkan suatu mantra. Dan yang dapat melihat hanyalah si pembaca mantra. Pak Tua tadi pasti bukan seorang biasa. Ia bisa mengetahui tentang Nona dari cermin itu. Itulah sebabnya ia segera menemui Nona di sini " jelas Zigaz.
" Itu berarti dia tinggal di kota ini juga ? " tanya Rey.
" Nona bisa mencoba melihatnya, mantranya tertulis di sekeliling pigura " tunjuk Zigaz pada bagian pigura.
Rey membaca mantra itu dan mengatakan apa yang ingin dilihatnya. Kemudian cermin itu menampakkan gelombang. Lalu semakin jelas memperlihatkan seorang tua yang duduk di kursi teras sebuah rumah tua. Rey tersenyum dan mengusap kacanya.
" Kau benar Zigaz. Dia sudah tahu tentang kedatanganku. Kurasa dia menyerahkan ini karena umurnya sudah tak lama lagi " ucap Rey.
"
" Sebaiknya kita mencari tempat lain untuk berbicara, Nona. Mereka semua ingin tahu apa yang sedang kita lakukan " Asgar bangkit berdiri untuk membayar. Rey dan Zigaz meringis kecil melihat tatapan para pengunjung.
Mereka berjalan terus hingga sampai di pinggir kota. Kemudian berubah lagi menjadi burung dan melewati 2 desa dan 2 kota. Mereka menginap di kota LORZON. Setelah ini mereka akan melewati satu desa sebelum hutan terlarang.
Ashar dan Zigaz mengobrol dengan para pengunjung penginapan di ruang tamu. Kebanyakan mereka para pedagang.
Rey di kamar duduk diatas pembaringan. Ia memegang VISIJA. Ia memperhatikan tulisan kuno di pigura. Ia membaca mantra itu dalam hati. Kemudian ia memiringkan kepalanya sambil memutar cermin, membacanya dari arah terbalik.
" Aaah....... ! " mulut Rey terperangah. Matanya terbelalak lebar. Arti dari tulisan kuno yang dibaca terbalik itu : " Masuk dan terbakarlah oleh api suci abadi " .
Itu berarti cermin ini bukan hanya sebagai cermin pelihat. Tapi ada ruang dimensi lain yang berisi api abadi. Apakah itu untuk membakar iblis atau penyihir ?
Rey melihat ada kertas dan pena tersedia di meja samping pembaringan. Ia turun mengambilnya. Kemudian menghadapkan cermin ke arah kertas yang diletakkan dilantai dan membaca mantra. Sama seperti mantra pelihat, Rey menyebutkan apa yang harus dia masukkan dan bakar. Seketika kertas itu tertarik masuk ke dalam cermin dan terdengar bunyi kertas terbakar.
Rey menutup mulutnya dengan sebelah tangan masih memegang cermin. Ia segera mengusap cermin itu agar kembali seperti semula. Ia merasa ngeri dengan cermin itu. Apa jadinya jika cermin itu jatuh ke tangan yang salah. Pastilah pemegangnya akan sewenang-wenang membakar siapapun yang tidak disukainya.
__ADS_1
" Ya ampun........ cermin ini sangat berbahaya ! "