
" Apa....... ?! Kau bukan kelelawar penghisap darah kan ?! " kata Axel.
" Hhhhhh......... " penyihir itu tersenyum miring. Ia adalah penyihir hitam. Minum darah sudah pasti akan menaikkan kekuatannya. Apalagi jika darah istimewa. Tapi kelihatannya Pangeran Axel tak menyadari keistimewaan gadis itu.
Ditatapnya mata Pangeran Axel. Ia tahu sekarang bukan saat yang tepat untuk keinginannya. Lagipula ia tidak ingin memberitahu Pangeran bodoh ini. Penyihir itu segera berubah jadi asap hitam dan pergi.
Pangeran Axel membalikkan badannya menghadap Rey. Tapi Rey tidak ada disitu. Hati Axel terasa tersengat petir. Ia melesat kesana-kemari mencarinya. Khawatir Rey diculik oleh penyihir hitam itu.
Asgar datang mencari Rey. Ia membawa setumpuk dahan dan ranting kering. Tiba-tiba seseorang menabraknya keras.
" Wuuuss........ ! Bruuukk........ ! " Asgar bergulingan di rumput bergelimang dahan dan ranting.
" Duukkk....... ! Duukkk........ ! Duukkk........ ! "
Asgar terkena tendangan di punggung dan dadanya. Asgar cepat bangkit untuk melihat siapa yang menyerangnya.
" Aaahhkk....... ! " Asgar muntah darah setelah melihat seseorang berdiri dengan wajah marah disana. Pangeran Axel.... !
" Dimana dia.... ?! "
" Hmmm....... ? Bukankah tadi dia disini....... ? Mungkinkah dia pergi karena tak ingin melihat wajahmu yang memalukan itu....... ? " ejek Asgar tanpa rasa takut.
" Kau...... ! "
Axel mengacungkan jarinya ke arah Asgar.
" Zaappp.... ! "
" Eiitt...... ! " Asgar cepat menghindar ke kanan.
" Zaappp.... ! Zaappp.... ! Zaappp.... ! Zaappp.... ! Zaappp.... ! " Axel menyerang Asgar dengan petirnya bertubi-tubi. Pada akhirnya dua petir menyambar lengan dan dadanya.
" Aaah..... ! Aaah...... ! Bruuukk..... ! " Asgar terhempas. Bau daging gosong menguap di udara.
" Asgaaar...... ! " Zigaz datang memeriksa Asgar. Rusa buruannya dia lemparkan ke rumput.
Axel tidak suka melihat Zigaz menolong Asgar.
" Siapa kamu ?! dimana kalian sembunyikan kekasihku ?! " tanya Axel menahan marah.
Tapi Zigaz mengabaikannya. Ia lebih peduli pada Asgar daripada menjawab Pangeran Axel. Axel semakin emosi. Ia melesat maju hendak memukul Zigaz.
" Dduuaarrrr...... !!! "
Begitu kerasnya benturan itu hingga Axel terjengkang.
" Bruuukk..... ! "
" Hi...hi...hi...hi..... " terdengar tawa pelan Rey. Ternyata ia sudah berdiri di belakang perisai tebal yang dibangun Zigaz. Rey lalu berjongkok memeriksa luka Asgar. Ia segera menghilang membawa Asgar masuk ke ruang dimensinya. Zigaz bangkit bersiap menghadapi Pangeran Axel.
Axel sendiri tak menyangka pria tampan itu diam-diam membangun perisai. Hatinya cemburu melihat dua pria tampan itu berhubungan dekat dengan gadis pujaannya. Bahkan Rey malah menghilang bersama pria yang tadi dipukulinya.
Ia bangkit dengan rasa marah dan cemburu. Ditatapnya Zigaz dengan sengit.
__ADS_1
" Kemana dia pergi..... ?! "
" Hmmm........ ? Mana aku tahu ? Mungkin mereka sedang menikmati waktu bersama ? " jawaban Zigaz semakin membuat hatinya panas.
" Tidak mungkin.... ! "
Axel melemparkan petir berkali-kali.
" Zaappp.... ! Zaappp.... ! Zaappp.... ! Zaappp.... ! Zaappp.... ! "
Zigaz terpaksa berjumpalitan menghindarinya.
Lalu Axel menyerang dengan puluhan pisau terbang.
" Wuuuss........ !
" Praakk...... Praakk...... Praakk...... "
Semua pisau angin itu menabrak dinding perisai Zigaz.
Dengan kesal Axel mengeluarkan bola api agak besar. Ia melemparkannya kepada Zigaz. Zigaz terbang menghindar, tapi bola api itu terus mengejarnya. Akhirnya bola api besar itu mengenai tubuhnya dan membakar seluruh tubuhnya.
" Aaaaaaaahhh.......... " Zigaz berteriak keras.
Axel langsung tersenyum miring " Matilah kau..... ! "
Selama 10 hitungan tubuh Zigaz menyala oleh api. Namun Axel heran karena tubuh Zigaz tidak terbakar hangus. Api itu seolah hanya seperti pembungkus saja. Dilihatnya rambut dan baju Zigaz memang tidak terbakar. Aneh..... !
Zigaz melayang turun. Ia tersenyum lebar mengejek Pangeran Axel. Tubuhnya memang berkobar api. Tapi api itu tidak membakarnya. Ingat kan..... ? Zigaz adalah Serigala Cronos ( Naga ) yang punya unsur api. Jadi ia tidak mempan serangan api. Justru ia menyerap api ke dalam tubuhnya.
" Aaaah........ Apa yang kau lakukaaaaann !? " Axel mendorong mundur Zigaz dengan keras. Ia segera menepuk-nepuk api di baju dan mengusap-usap rambutnya.
Setelah api padam, Axel menatap Zigaz penuh kemarahan. Ia mengangkat kedua tangannya dan bergerak-gerak. Tanah berumput tercabut seperti permadani lebar yang akan menggulung Zigaz.
" Wuuuttt....... ! "
............................ ( sunyi )
Axel mengerutkan alisnya. Mengapa tidak terdengar suara apapun ? Ia menatap gulungan berumput itu.
" Baaa........ ! "
Zigaz muncul dibelakang Axel dan memukul punggungnya dengan kekuatan cahaya.
" Aaahhkk........ ! " Axel muntah darah sambil terhuyung-huyung ke depan. Belum sempat berbalik, Zigaz mengirim petir.
" Zaapp...... ! "
" Aaaaaah....... "
Axel memegang kepalanya. Rasanya sakit bukan kepalang. Zigaz kembali melesat cepat memukul di bagian dada.
" Buukkk..... ! "
__ADS_1
" Aaahhkk........ ! "
Entah sudah keberapa kali Axel muntah darah. Matanya berkunang-kunang sehingga tidak dapat melihat Zigaz dengan jelas.
( " Sudah cukup menghajarnya Zigaz, beri kesempatan dia untuk merenung.... " ) terdengar suara Rey di kepala Zigaz.
Zigaz segera masuk ke ruang dimensi Rey. Ia melihat Asgar sudah duduk bersandar sendirian di pohon sambil memakan apel.
" Asgar..... bagaimana keadaanmu ? "
" Aku baik-baik saja kawan. Mana rusanya ? Kau tak meninggalkannya begitu saja kan ? "
" Oh..... ya... ! " Zigaz menghilang 5 hitungan dan kembali membawa rusa beserta kayu bakar (dahan dan ranting ) yang tadi dibawa Asgar.
" Bruuukk...... ! "
" Wooaaah..... besar sekali. Nona pasti makan banyak "
" Ya, ayo bantu. Nona pasti sudah lapar dari tadi ada gangguan "
Asgar dan Zigaz segera mengurusnya. Rey berada di bagian lain bersama rusa, tupai, dan burung-burung. Ia sengaja disana agar hewan-hewan kecil itu tak melihat buruan Zigaz.
Setelah tercium aroma daging bakar, Rey kembali ke tempat Asgar dan Zigaz. Ia melayang perlahan dikuti hewan-hewan kecil itu.
Begitu melihat kedatangan Rey, Zigaz langsung memberikan daging terbesar padanya.
" Ha.... Nona, ini untukmu...... "
" Uiiih........ besar sekaliii......... terima kasih " Rey segera duduk ditemani si burung. Terkadang ia memberi cuilan kecil pad burung itu. Burung kecil itu selalu bercuit setelah makan, seolah mengatakan " Ini lebih enak dari ulat "
Sementara si tupai mendekati Asgar, seolah meminta makanan. ( Rey diam-diam menunjuk tupai itu sambil membaca mantra ).
" Hei..... bukankah kamu pemakan kacang ? " tanya Asgar sambil memakan daging rusa.
" Tuan..... aku juga ingin mencicipinya sedikit "
" Uhuk-uhuk...... " Asgar terkejut mendengar tupai itu bicara. Ia menatap tupai itu dengan mata melotot. Tupai itu juga balas melotot lucu.
Rey dan Zigaz terkekeh.
" Ha...ha...ha...ha...... "
" Kamu bisa bicara ?! " tanya Asgar tak percaya.
" Tentu saja ! aku sama seperti tuan serigala, pemakan binatang ! " jawab tupai menunjuk Zigaz.
" Eh.... ? " Zigaz langsung menoyor kepala tupai kecil hingga terhuyung-huyung ke depan.
" A...ha...ha...ha...ha..... apa kau tahu ini daging apa ? " tanya Asgar.
" Aku tak perduli " tupai itu langsung melompat menerkam daging panggang yang dipegang Asgar.
__ADS_1
" Eh......? eh... eh... eh...... ! " Asgar mengibas-ngibaskan dagingnya membuat tupai kecil terombang-ambing. Namun gigi tupai benar-benar menancap kuat.
Akhirnya Asgar ribut terus dengan si tupai kecil. Rey dan Zigaz tak perduli dan terus makan.