
Rey mengeluarkan cermin pelihat. Dilihatnya Asgar bertarung dengan seorang anak kecil. Rupanya iblis itu berhasil masuk dan menguasai tubuh anak kecil itu. Rey melihat Asgar tak tega menyerangnya terus-terusan.
Rey teringat sesuatu. Ia melihat lebih dekat pada cerminnya. Di bagian dada anak itu bersimbah darah. Itu berarti jantung anak itu sudah tidak ada. Rey menghela nafas panjang. Lalu disimpannya cermin pelihat itu.
( " Asgar.... Anak itu sudah kehilangan jantungnya " ) kata Rey menahan tangisnya.
Ia memejamkan matanya. Air mata yang menetes ke pipi segera dihapuskan. Dialihkannya pandangannya ke arah Martin. Ia menarik nafas dan menggigit bibirnya untuk menenangkan diri.
Martin begitu lekat menatap ke arah penyihir itu. Ia menyalurkan kekuatannya ke arah telapak tangannya. Mencoba merasakan udara didalamnya. Tapi..... ia merasa tidak ada udara didalam bola kaca ?
Tentu saja. Bukankah Rey menyedotnya untuk membentuk lapisan bola kaca kedua ? Ya, Rey lupa memberitahu Martin tentang hal ini. Ini karena Rey larut dalam kesedihannya tentang kematian anak-anak.
Martin memindahkan kekuatan menelusuri bola kaca. Ia merasakan tubuh penyihir yang tergeletak di dasar. Kemudian memulai proses penguraian.
Tampak jari-jari tangan penyihir itu mulai terurai, Martin menatap gembira. Ia semakin bersemangat. Penguraian terus merambat ke tangan, lengan dan badan.
Namun bagian-bagian yang besar membutuhkan tenaga dan konsentrasi penuh. Keringat mulai muncul di dahinya. Mengalir ke arah hidung dan pelipis. Sungguh sangat menggangu. Tapi Martin tidak bisa menghapusnya karena kedua tangannya sedang dipakai.
Ini membuat Martin ingin segera menyelesaikan penguraian. Ia mengerahkan sepenuhnya tenaga untuk mempercepat prosesnya. Dan................
" Pyaaaarrrr................... ! "
Bola kaca itu pecah berhamburan termasuk bagian-bagian tubuh penyihir tadi. Rey terkejut karena sedang melamun. Ia melihat Martin terpental di udara dengan serpihan bola kaca dan bagian-bagian tubuh penyihir.
" Astaga..... ! "
Rey mengulurkan kedua tangannya di udara. Seketika semua pergerakan udara di sekitar Martin terhenti. Rey melayang menyingkirkan pecahan kaca dan menarik Martin keluar (posisi masih melayang di udara). Lalu membakar semuanya ( pecahan kaca dan bagian-bagian tubuh penyihir yang mati ) .
Setelah itu turun ke tanah. Rey memeriksa keadaan Martin.
" Maafkan aku, Dewi..... " Martin menunduk.
" Tidak apa-apa.... untunglah kau tidak terkena pecahan bola kaca. Jadikan ini sebagai ilmu pelajaran. Setidaknya di masa depan, kau harus selalu memperhitungkan reaksi balik suatu serangan atau kekuatan " kata Rey sambil membelai kepala Martin.
" Kau sudah pandai terbang bukan ? " tanya Rey.
__ADS_1
Martin mengangguk sebagai jawaban. Rey menariknya terbang.
" Rasakan udara di sekitarmu. Cari tahu dimana Asgar berada. Waspadalah dengan pergerakan para penyihir dan iblis " kata Rey melepaskan tangannya.
Bagaimana dengan Asgar ? Ia sedang berhadapan dengan iblis pemangsa yang masuk ke tubuh anak kecil yang diculiknya. Asgar tidak berani menyakiti terlalu keras. Hal ini membuat ia kesulitan mengalahkan si iblis. Setelah sekian lama menepis dan menghempas serangan iblis, tiba-tiba ia mendengar suara Rey :
( " Asgar.... Anak itu sudah kehilangan jantungnya " )
Seketika mata Asgar tertuju ke dada anak kecil itu. Ia baru menyadari bagian dada anak itu bersimbah darah. Mengertilah ia sekarang mengapa anak itu dari tadi diam saja tak menjerit atau menangis saat mereka berkejaran. Asgar mengira ia pingsan karena takut. Ternyata.......
Dengan marah Asgar melemparkan banyak cakram angin ke arah anak (iblis) itu. Sekalipun menghindar, cakram-cakram angin itu memutar balik menebas tubuh anak itu menjadi beberapa bagian.
" Grrraaauuuuuhh........ " Iblis itu akhirnya lepas dari tubuh anak kecil itu. Ia tidak terluka oleh cakram angin Asgar karena tubuhnya berwujud asap hitam.
Iblis itu mengulur tangannya yang berkuku panjang. Lengan kanan Asgar sempat tergores.
" Aaah.... ! "
Asgar menjauh. Kedua tangannya bergerak-gerak. Bola kaca dari udara terbentuk mengurung si iblis.
" Rroaarr...... Rrrrooaaaarrr........ ! " iblis itu marah dan berusaha mencakar atau memecahkan kaca.
Tapi Asgar hanya terkekeh tanpa suara. Ia sengaja mengejek di depan wajah iblis. Lalu memulai proses penguraian. Ini dilakukan karena Asgar tidak mempunyai elemen api.
Namun kali ini Asgar sengaja memperlambat prosesnya. Ia sangat marah karena iblis itu telah membunuh anak kecil yang seharusnya dilindungi Asgar. Setiap unsur tubuh iblis begitu meregang lebar.
Iblis itu berteriak kesakitan. Terkadang juga melolong. Asgar benar-benar tidak perduli. Ia semakin mempermainkan si iblis. Wajah yang tadi beringas sekarang tampak mengenaskan.
Setelah puas, Asgar menyelesaikan dengan tersenyum kejam. Setiap unsur tubuh iblis itu tersebar di dalam bola kaca. Asgar meluruhkan bola kacanya sehingga semua isinya hilang tertiup angin.
Lalu Asgar mengumpulkan potongan tubuh anak kecil itu sambil menangis. Ia membuat sekop dari angin untuk menguburkannya. Lalu berlutut dengan sedih di hadapan gundukan tanah itu.
Rey dan Martin melayang sambil mengamati dan merasakan keadaan di sekeliling. Hari sudah menjelang sore. Mereka turun dan beristirahat dibawah pohon cemara. Rey mengeluarkan apel dari ruang dimensi untuk dimakan bersama Martin.
Belum habis apel yang dimakan, datanglah 2 penyihir hitam tingkat tinggi bersama Odex. Rey bermaksud memasukkan Martin ke ruang dimensinya, tapi Martin menolak.
" Biarkan aku membantu Dewi... ! "
__ADS_1
Rey tak mungkin berdebat di saat ini, ia segera memanggil Asgar.
( "Asgar, cepatlah kemari. Aku butuh bantuanmu... ! " )
( " Baik, Nona " )
Asgar terbang kembali ke arah tengah hutan Mazox. Tadi ia berkejaran dengan iblis itu hingga ke pinggir tebing.
" Kamu berani mencuri buruanku semua. Apakah kamu menggunakannya untuk kecantikanmu ? Dasar nenek tua tak tahu diri ! " Odex mengomeli Rey.
" Jangan menghina Dewiku ! " sergah Martin.
Rey hanya terkekeh. Odex salah mengira dirinya penyihir hitam yang melakukan ritual awet muda.
Dua penyihir lain menatap Rey penuh minat. Pikiran mereka segera dipenuhi dengan nafsu. Wajarlah mereka begitu karena umur mereka dibawah seratus tahun. Berbeda dengan Odex yang mungkin lebih dari seribu tahun.
Odex melemparkan belati pada Martin.
" Jlebb... ! Bruk..... "
Belati itu menancap pada seonggok tanah yang digerakkan Martin. Dan Martin membungkus belati itu dengan tanah yang dikeraskan.
" Oh..... rupanya kau seorang penyihir kecil ? Pasti darahmu amat lezat rasanya.... " kata salah satu penyihir sambil menjilat mulutnya.
" Berikan dia padaku, aku membutuhkan untuk menaikkan kekuatanku " kata penyihir kedua.
" Enak saja.... dia milikku. Nenek tua itu mencurinya dariku " sahut Odex.
" Aaayam goreng, ayam goreeeeng.......
Saaapi panggang bumbu pedaaass.....
Murah meriah, silahkan beliiii........... "
Odex dan 2 penyihir menoleh, menatap Rey dengan kesal. Rey hanya menyeringai lucu.
" Ubi goreng, ubi panggang, ubi rebuuuuusss........ he..he..he..he...... "
__ADS_1
Martin menambahkan sambil tertawa