GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Desa Tersembunyi


__ADS_3

Itulah sebabnya Kendrick senang sekali jika bisa bergabung dengan Rey di luar. Namun apa daya takdirnya adalah seorang Penguasa Abadi, yang mengharuskan ia duduk manis menjaga Astraco, pusat inti kehidupan. Ia dan para tetua harus selalu menyalurkan tenaga dalam untuk menguatkan kubah pelindung.


Ketika Odex bisa masuk ke Astraco, Kendrick heran, bagaimana bisa ? Ia tidak tahu kalau Odex saat itu bisa masuk melewati perisai dengan cara menggunakan darah Tetua Outter yang ditampung dalam botol kecil. Botol kecil itu selalu dibawanya ke mana-mana. Kemungkinan ikut terurai saat pertarungan melawan Martin.


Sekarang Odex sudah tidak ada. Namun siapa sangka muncul penyihir lain yang menginginkan kekuatan tak terbatas milik Rey. Meski ia tak khawatir lagi karena Rey sudah mendapatkan kekuatan purnama suci, namun ia khawatir Rey tak tega membunuh penyihir muda itu. Itulah sebabnya ia tak mengatakan siapa dia. Biarkan Rey mengetahuinya sendiri dan mengambil keputusan terbaik. Ada Asgar dan Zigaz yang akan membantunya jika ada hal memburuk.


Rey sebagai calon pendamping, saat ini masih ingin bertugas di luar Astraco. Hidupnya seperti petualang, penuh warna dan tantangan. Ia membiarkan Rey sepuasnya di luar Astraco supaya jangan bersedih ketika tiba saat menikah, setelah itu tugas diluar akan digantikan yang lain.


Saat ini Rey bertiga sudah melewati hutan Porton. Tidak banyak binatang berbahaya di dalam. Hanya ada babi hutan, dan ular. Lainnya binatang kecil dan buruan. Tapi saat akan masuk sebuah desa kecil di sisi kanan hutan, mereka dihalau seorang nenek dengan tongkat terbalut tanaman.



" Pergi.... ! jangan mencari kematian. Terbanglah seperti burung ! " teriaknya sambil menyabet-nyabetkan tongkatnya seolah mengusir.


Zigaz hampir maju, tapi Rey menahan lengannya. Mereka semua memperhatikan nenek itu. Penampilannya seperti seorang tabib tapi..... seolah kurang terurus.


" Pergi..... ! " nenek itu berbisik keras mengusir mereka.


Rey melirik ke satu arah. Cepat ia menarik mundur Asgar dan Zigaz. Lalu menghilang ke dalam ruang dimensi. Nenek itu terkejut ketika mereka menghilang. Ia mengelus dadanya sendiri.


Sekejap kemudian seorang wanita mengenakan topi bulu elang melesat dan berhenti di depannya, menatap tajam dan melirik sekitar. Tapi nenek itu terus berlalu tanpa kata seolah tak melihat atau mendengarnya. Ia


berhenti di bawah pohon dan memeriksa semak-semak di situ. Lalu mencabut beberapa tanaman dan melangkah lagi.


Akhirnya wanita bertopi bulu-bulu itu pergi. Nenek tua itu hanya melirik kepergiannya.


" Kalian keluarlah..... "


Tapi tiba-tiba malah nenek itu yang menghilang. Ternyata Rey membawanya masuk ke ruang dimensi. Ya, Rey tahu seseorang beraura gelap akan datang. Itu sebabnya ia menarik Asgar dan Zigaz masuk ke dimensi.


Mereka berempat duduk dibawah pohon apel. Nenek itu tersenyum lebar melihat banyak apel berserakan di rumput. Ia mengelapnya satu lalu memakannya. Sementara tangan lainnya memasukkan apel lain ke kantong baju lusuhnya.


" Gadis.... Aku akan menanam biji pohon ini di kebunku, supaya aku tidak kelaparan lagi "

__ADS_1


" Apakah di desa nenek tidak tumbuh pohon apel ? "


" Mereka tidak makan buah. Tapi daging dan minum darah "


" Apa..... ?! "


" Mereka orang-orang buas. Aku harus menyimpan buah-buah apel ini untuk beberapa hari "


" Tidak perlu nek "


Rey meraih kantong kain nenek tua dan membaca mantra. Seberkas cahaya menyelimuti kantong kucel itu.


" Apapun yang nenek perlukan sudah ada disini. Jangan kuatir lagi nek...... Nenek hanya perlu menyebutkan benda apa yang sedang nenek butuhkan saat itu "


" Terima kasih nona cantik, kamu memang pantas terpilih sebagai Gadis Takdir "


" Eeeeh...... ? Bagaimana nenek tahu kalau Nonaku adalah Gadis Takdir ? " tanya Asgar.


Asgar dan Zigaz memelototi Rey......... Namun tetap tak dapat melihatnya.


Nenek itu mengeluarkan cermin kunonya. Itu hampir sama dengan milik Rey ( pemberian seorang kakek tua ). Ia memperlihatkan Rey yang wajahnya terang terkena bias cahaya mahkota diatas kepalanya. Asgar dan Zigaz tercengang. Nenek itu terkekeh pelan. Ia menyimpan kembali cerminnya.


Si tupai dan kelinci datang mendekat. Mereka ingin tahu siapa nenek bau ini. Asgar menahan tawa melihat hidung mereka yang kembang kempis saat membaui nenek itu. Ia menjahili mereka dengan menarik ekor masing-masing bergantian. Akibatnya dua hewan berbulu itu mengeroyok Asgar. Zigaz menyingkir, ia tidak mau ikut campur.



" Siapa nama nenek ? " tanya Rey.


" Saya Wilma, Nona. Saya sebenarnya warga kota Porton. Saya terlalu jauh mencari tanaman obat hingga tertangkap mereka "


" Mengapa nenek mengusir kami ? " tanya Zigaz.


" Mereka orang-orang buas nak..... Selalu menyiksa siapapun yang kebetulan tersesat masuk ke desa itu. Bahkan meminum darahnya. Sepertinya mereka keturunan campuran penyihir hitam. Meski tak semua minum darah, tapi hampir semuanya bisa sihir.

__ADS_1


Sebenarnya saya selalu mengusir siapapun yang kebetulan tersesat. Tapi kebanyakan mereka tidak mendengarkan saya. Sehingga mereka tertangkap. Ketua suku akan mengadakan ritual untuk meminum darah korban. Mereka akan diikat di tiang dan disayat nadi tangannya. Lalu bergantian meminum darahnya "


Zigaz bergidik jijik.


" Apakah walikota Porton tak tahu keberadaan desa itu ? " tanya Zigaz.


" Siapa yang memberi tahu ? Tak ada yang selamat dari mereka. Saya beruntung karena ketua mereka melihatku membawa tanaman obat. Jadi aku diharuskan mengobati siapapun di desa itu yang sedang sakit "


" Sudah berapa lama nenek berada di desa itu ? " tanya Rey


" Entahlah........ Penduduk desa itu tak pernah pergi ke kota manapun kecuali berburu di hutan "


Asgar kembali duduk dengan tenang. Ia sudah berdamai dengan tupai dan kelinci. Rey menuding nenek Wilma sambil mengucap mantra. Seketika nenek itu menjadi bersih dan memakai baju sederhana.


" Nenek ingin kembali ke desa itu atau ke kota Porton ? " tanya Rey.


" Nona, hidupku adalah untuk mengobati siapapun. Kantong ini sudah diberkati oleh Nona. Tolong bawalah aku ke desa atau kota yang belum mempunyai seorang tabib "


" Baiklah. Untuk sementara nenek tinggal di sini. Kami bertiga akan menangani desa penyihir itu "


"Tunggu Nona...... "


Nenek itu memperlihatkan pergelangan kaki kirinya. Ada tanda merah melingkar di situ. Rey memperhatikan baik-baik. Tanda itu terbuat dari darah penyihir. Mungkin dimaksudkan agar nenek Wilma tak bisa kabur.


" Ini seperti tanda ikatan sihir. Siapa yang melakukannya ? "


" Ketua mereka "


Rey berpikir sebentar. Lalu menoleh ke arah danau.


" Mari nenek ikut saya "


Rey menggandeng nenek Wilma ke pinggir danau. Asgar dan Zigaz mengikuti ingin tahu. Ia meminta nenek duduk menjulurkan kakinya ke danau. Lalu Rey mengucap mantra dan meniupkannya ke tangan kanannya. Ia menggosok-gosok pelan pergelangan kaki nenek Wilma hingga tanda merah itu luntur. Nenek Wilma merasa lega.

__ADS_1


__ADS_2