
" Kau gila, nak...... ! Bukankah aku sudah bercerita padamu bahwa Putri Rey adalah belahan jiwa Lord Astraco ? Apakah kau sungguh tidak waras atau buta ?! " Ratu berapi-api menegurnya. Ia berusaha menahan kemarahannya pada Axel.
" Tolong ceritakan lebih banyak tentang Rey.... "
" Putri Rey ! jangan sembarangan memanggil namanya ! " Ratu kembali menegur Axel.
" Putri Rey " Axel mengulang nama itu.
Ratu mendengus pelan. Ia tahu Axel lebih keras kepala daripada Xenia. Diambilnya nafas sebelum bercerita.
" Putri Rey adalah anak Putri Mozza dari kerajaan Cronos dan penyihir gelap Franklin. Ia terlahir dengan membawa dua kekuatan, cahaya dan kegelapan. Namun kekuatan itu disegel orangtuanya sampai pada waktu yang seharusnya. Kekuatan cahaya didapatkan ( aktif ) dari gerhana bulan suci. Sedang kekuatan gelap dari gerhana matahari suci. Ia diramalkan akan menjadi calon Ratu Penguasa Semesta dengan kekuatan yang tak terbatas. Itulah sebabnya ia disebut Gadis Takdir. ( Ratu tidak mengatakan tentang darah Putri Rey yang bisa menyembuhkan dan mampu menghidupkan orang mati. Itulah sebabnya banyak penyihir hitam yang mengincar darahnya ).
Sebenarnya Putri Rey adalah titisan Putri Solana. Itulah sebabnya ia terikat dengan Lord Astraco. Lord Astraco Di kehidupan lampau dibunuh oleh saudaranya sendiri "
" Jadi Lord Kendrick adalah titisan Lord Astraco "
" Ya.... "
" Lalu apakah si pembunuh tidak terlahir kembali ? " ( Aku berharap aku adalah titisan si pembunuh sehingga akulah yang akan membunuhnya lagi. Kali ini tak akan kubiarkan ia terlahir kembali ) batin Axel.
Ratu menatap Axel ngeri. Ia dapat menebak pikiran Axel melalui senyumannya. Hati Ratu serasa tersiram racun yang lambat prosesnya.
" Berhentilah bermimpi buruk........ daripada bangun dengan tubuh hancur " tegur Ratu dengan bahasa sindiran halus. Ratu merasa tidak ada gunanya menegur Axel. Ia seolah seperti titisan Destraco, pangeran kegelapan. Tapi setahu Ratu Destraco tidak bisa terlahir kembali karena kutukan Putri Solana. Wujudnya berubah jadi asap.
Ratu membereskan rajutannya dan meninggalkan Axel di gazebo. Hatinya resah dan kecewa. Ia ingin segera menemui Raja.
Raja masih di perpustakaan, tapi ditemani penasehat. Ratu langsung masuk dan memeluk Raja sambil menangis. Penasehat segera undur diri menyadari keadaan hati Ratu sedang tidak baik. Ia keluar untuk memberikan ruang pada Raja dan Ratu.
" Ada apa denganmu ? " tanya Raja membelai punggung Ratu. Ratu menengadah dan menjawab
" Axel bertindak kurang ajar pada Putri Rey "
" Apa yang dilakukannya ? "
" Dia ....... mencium Putri Rey "
" Putri Rey......... ? pasangan Lord Astraco ? " tanya Raja tidak yakin.
" Benar....... Gadis Takdir milik Penguasa Abadi "
Raja langsung mengambil nafas panjang dan menghelanya kasar. Ia menatap mata Ratu.
__ADS_1
" Tccck........ Putra kita bermain api...... "
Ratu menundukkan kepala dan kembali menangis di dada Raja.
" Istriku..... apa kau tidak bisa menghilangkan bekas tamparan di pipinya ? Axel mengeluh bekas itu tak mau hilang "
" Suamiku..... yang dialami Axel adalah tamparan sihir. Itu dibalaskan oleh penyihir wanita karena tidak menginginkannya. Dan itu disertai dengan mantra pembalasan bersyarat. Yang akan hilang sendiri jika sudah terpenuhi "
" Jadi kau tidak bisa menghilangkannya ? "
Ratu mengangguk pelan. Raja menghela nafas.
Sementara Axel masih di gazebo memikirkan tentang Destraco. Pikirannya dipenuhi dengan sisi buruk cerita tentang Rey. Jika bisa, ia ingin membunuh Lord Astraco untuk mendapatkan Rey. Ia yakin ialah yang akan menjadi Penguasa Tertinggi jika bisa memiliki Rey. Tak perduli dengan cara apapun.
Axel cepat-cepat pergi ke perpustakaan. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Rey dan Lord Astraco. Axel hampir saja masuk jika telinganya tidak mendengar samar-samar suara orang bercakap di perpustakaan. Ia akhirnya kembali ke kamarnya.
Di kamar Axel kembali berkaca.
" Tccck...... ! " Axel ingat ibunya berkata bahwa bekas tamparan itu tidak akan bisa hilang kecuali syaratnya terpenuhi. Itu berarti dia harus menemui Rey untuk meminta maaf dan menanyakan tentang syarat itu.
" Sialan...... ! "
" Pelayaaaan......... ! "
" Ambilkan aku serbuk kecantikan ( bedak ) "
" Eh....... ? serbuk k... kecantikan ? " pelayan itu menengadah menatap Pangeran Axel untuk memastikan tidak salah dengar.
" Ya, cepat "
" Baik Pangeran "
Pelayan itu segera keluar mengambil bedaknya sendiri dan memberikannya kepada Pangeran Axel.
" Ini, bantu aku menutupi ini " kata Axel menunjuk pipinya yang memerah.
Pelayan itu tercengang. Lalu segera mendekat untuk membubuhkan serbuk kecantikan itu di pipi Axel. Ia menebalkan di bagian yang merah dan membaurkan di bagian tepi supaya menyatu dengan warna kulit Pangeran Axel. Tampak tangannya gemetar karena takut.
" Su....sudah Pangeran " katanya mundur dan menunduk.
Axel melihat hasilnya di kaca. Itu bagus. Bekas tamparannya tidak terlihat sekarang.
__ADS_1
" Berapa lama ini bertahan ? " tanya Axel.
" Hanya sampai saat makan siang jika tidak terhapus tangan atau terkena air, Pangeran.... " jawab pelayan itu.
" Baik, nanti aku minta bantuanmu lagi. Dan ingat, tutup mulutmu jika ingin selamat " kata Axel sebelum terbang lewat jendela.
Pelayan itu terduduk di lantai dan menghela nafas lega. Kemudian keluar dari kamar Pangeran Axel tanpa membawa kembali bedaknya.
Axel langsung menarik kerah Asgar yang sedang duduk-duduk. Rey cepat menahan Zigaz agar jangan emosi. Axel tak mengenali Rey yang menyamar sebagai pria ( yang tadi menggoda Thalia ) .
" Dimana dia..... ? " tanyanya pada Asgar.
" S... siapa ? " Asgar tak tahu yang dimaksud Rey atau Thalia.
" Gadis penyihir itu "
Asgar menunjuk kearah barat. Ia pikir Axel mencari Thalia karena tadi Thalia berpenampilan seperti penyihir wanita. Axel melepaskan Asgar dengan setengah mendorong. Rey dan Zigaz menahannya agar tidak jatuh. Mereka bertiga saling menatap sambil melipat bibir masing-masing karena menahan senyum.
" Waaooow.......... wajahnya cantik sekali....... ?! " bisik Asgar.
" Ya, ia jadi cantiiiik....... ejek Zigaz.
Rey hanya terkekeh pelan.
" Aku jadi ingin makan rusa bakar....... "
Asgar dan Zigaz saling menatap dengan berbinar.
" Yuuuukk................ " mereka berdua terbang menarik Rey ke arah bukit Palaz.
Zigaz segera berburu, sementara Asgar mengumpulkan kayu bakar. Rey menunggu sambil merangkai bunga rumput. Ia menengadah saat melihat seseorang berdiri di hadapannya.
Dialah penyihir hitam yang mengirim belasan kelelawar penghisap darah. Ia sebelumnya bekerjasama dengan Pangeran Axel agar dapat menculik Rey.
Ia berjongkok dan hendak meraih dagu Rey. Tapi Rey segera bangkit dan mundur 2 langkah. Penyihir itu sedikit menyeringai menatap Rey. Jadi Pangeran Axel menginginkan gadis cantik ini ? Kelihatannya ia bukan gadis biasa....
Rey mengukur kekuatan penyihir hitam itu. Ternyata setara dengan Zigaz. Itu berarti umur penyihir ini cukup tua. Rey mundur lagi sambil diam-diam membangun bola perisai.
Tiba-tiba seseorang melesat dan berdiri diantara Rey dan penyihir itu.
" Jangan coba-coba menyentuhnya, ia milikku " kata Axel.
__ADS_1
" Hmmm.......... Mengapa tuan begitu pelit ?! aku hanya ingin darahnya sedikit saja " jawab penyihir itu.