
Pelayan itu menunjukkan posisi sarang tawon rumahan. Itu adalah tawon kayu yang pemarah. Rey mengeluarkan cahaya kecil dari tangannya dan mengarahkannya masuk ke sarang tawon itu.
Tak lama para penghuninya keluar dan menghadap Rey. Rey berkata-kata dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Bidoff dan yang lainnya. Lalu para tawon itu keluar dan menghubungi para tawon lainnya di seluruh kota. Mereka selalu bersarang di sekitar rumah siapapun. Para tawon itu menyanggupi perintah Rey.
Rey berkata kepada Marko " Temuilah satu-persatu warga yang biasanya ditindas oleh orang-orang Tuan Manjoy. Mereka harus memanggil " TAWON " ketika membutuhkan pertolongan. Yang percaya akan selamat "
" Saya mengerti, Nona... " Marko segera turun dan memberitahu warga tertentu.
Rey dan yang lainnya kembali turun ke bawah.
Sementara di rumah Tuan Manjoy sedang ramai membicarakan tentang serigala di rumah Marko.
" Bagaimana bisa ada serigala di rumah Marko ? "
" Kami juga tidak tahu ! "
" Mungkin itu milik laki-laki yang tadi berdiri di samping Marko "
" Ya.... ! mungkin saja. Mungkin dia hanya kebetulan sedang bertamu di sana "
" Kalau begitu kita tunggu sebentar lagi. Pasti pria itu akan pulang jika urusannya sudah selesai "
" Hei teman-teman..... ! Lihat itu si Marko sedang sendirian "
" Ayo kita pukul dia ! "
" Eh jangan, jangan.... Kita kan mau menuntut ganti rugi, jadi jangan memukulnya. Tapi kita datang ke rumahnya dan mengancam si tua Bidoff agar dia mau membayarnya "
" Kalau begitu sekarang saja, mumpung Marko sedang keluar. Jadi pak tua itu sendirian "
" Baiklah. Ayo cepat... ! "
" He.... cukup 5 orang saja lah.... "
Akhirnya 5 orang cepat-cepat ke rumah Marko.
Pada saat itu Asgar dan Bidoff sedang mengobrol di teras. Sedang Rey dikebun belakang melihat-lihat bunga. Zigaz rebahan di rumput menikmati matahari pagi. Para lebah dan kupu-kupu ada disekitarnya, mengajak bicara dalam bahasa binatang.
Terdengar langkah banyak orang masuk ke halaman rumah Marko. Mereka menyeringai menatap Bidoff. Namun mereka seketika waspada saat melihat laki-laki di samping Bidoff. Mereka menyangka Asgar adalah pemilik serigala.
Mereka menoleh ke sekitar tak melihat ada serigala. Segera mendekati Bidoff dan Asgar dengan garang.
" Heh, pak tua.... ! Kau harus mengganti rugi kesalahan Marko pada Tuan Manjoy "
Bidoff hanya menatap tanpa kata.
__ADS_1
" Apa kalian tidak punya pekerjaan selain memukul dan memeras orang ? " tanya Asgar.
" Heh..... kau tak usah ikut campur urusan kami. Memangnya kau mau ganti rugi kesalahan Marko ? "
" Aku akan berikan 1 kantong koin emas jika kalian bisa mengalahkan Zigaz " kata Asgar sambil menggerak-gerakkan lengannya sehingga menampakkan gelembung otot.
Mereka saling pandang, dikiranya Zigaz adalah nama orang. Mereka tersenyum mengejek.
" Baik.... siapkan koinnya "
Asgar mengeluarkan sekantong koin emas dan melemparkannya ke halaman sambil memanggil Zigaz.
" Zigaaaaz..... ! "
Zigaz melenggang perlahan dari samping ke belakang orang-orang itu. Mereka tak melihatnya karena berpikir Zigaz ( manusia ) keluar dari pintu depan.
Rey muncul di pintu sambil tersenyum manis membawa kue-kue. Mereka seketika terpesona dengan mulut terbuka.
" Bukan akuuu..... Tuuuh...... ! " tunjuk Rey ke belakang orang-orang Manjoy.
Mereka menoleh dan melihat seekor serigala berdiri tegak menampakkan giginya.
" Aaaaaaaahhh................. Serigalaaaaaa.................. !! "
Mereka berpencar mencari tempat persembunyian. Namun akhirnya melompati tembok pagar.
Tuan Bidoff dan Rey menikmati kue bersama.
" Tuan Bidoff apakah anda mengerti tentang perhitungan gerhana matahari ? " tanya Rey.
" Tidak, Nona. Biasanya para peramal yang mengetahui tentang perhitungannya dengan melihat bintang. Tapi bisa juga meleset berapa hari atau bulan. Tergantung pergerakan benda-benda langit yang lain "
" Oooo......... "
" Penyihir masih bisa menggeser atau menghancurkan benda-benda di alam. Tapi ia tidak bisa menjangkau benda-benda di langit karena terlalu amat jauh. Jikapun penyihir memaksa memutar angin untuk mengubah letak awan, bisa saja angin ciptaannya bertabrakan dengan dengan angin barat sehingga tujuan tidak tercapai "
Rey mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu.
" Apakah ini ada kaitannya dengan tujuan Nona ? " tanya Bidoff pelan.
Rey mengangguk.
" Jika Nona mencari ikan, maka Nona harus menyediakan kail untuk menangkapnya. Jika Nona berburu hewan, maka Nona harus menjebaknya dalam perangkap sebelum membunuhnya. Satu hal yang Nona harus ingat, ikan ada di sungai, hewan buruan ada di hutan "
Bidoff dan Rey saling pandang. Mata Rey berbinar. Ia mengerti maksud Bidoff.
" Terima kasih atas pengetahuannya "
__ADS_1
Ucap Rey sambil membungkukkan sedikit badannya. Asgar mengikutinya.
" Kami akan melanjutkan perjalanan. Panggil saja si Tawon jika anda dan Marko dalam bahaya "
" Jangan khawatir, hati-hatilah di jalan "
Bidoff menepuk-nepuk kepala Zigaz. Zigaz berubah menjadi burung dan bertengger ke bahu Asgar.
Lalu mereka saling melambaikan tangan.
Mereka naik kuda perlahan. Rey agak melamun memikirkan kata-kata Bidoff. Dimana kira-kira persembunyian penyihir misterius itu. Hutan dan desa sudah ia lewati namun tidak ada kabar berita atau jejaknya.
" Nona..... jangan terlalu berpikir. Kita lalui seperti air mengalir. Pada waktunya ikan akan terlihat dengan sendirinya " tegur Asgar.
" Yaaaa..... kau benar Asgar. Aku akan menikmati sambil berjalan " Rey tersenyum.
Zigaz bercuit-cuit seolah setuju.
Keluar dari kota ini, Rey memilih jalan ke kanan. Tampak ladang berjajar sepanjang jalan. Menjelang sore mereka masuk ke kota berikutnya.
Tampak keramaian orang berlalu-lalang membawa gerobak atau bangku-meja.
" Maaf tuan, permisi.... ada apa ya keramaian ini ? " tanya Rey.
" Biasa nona, festival bulan purnama. Nona bukan warga sini ya ? " tanya orang itu.
" Iya, dimana ada penginapan, saya ingin menonton festival nanti "
" Ada Penginapan Jasmine, di sebelah kanan jalan setelah jembatan kecil "
" Terima kasih "
Rey dan Asgar segera menuju penginapan Jasmine. Mereka menunggu waktu di penginapan sambil mengobrol.
" Malam ini ada festival bulan purnama "
" Oh ya ? Apa mereka tak takut iblis ? "
" Mana ada... penduduk TREXODIA selalu menyalakan obor sepanjang malam sejak Raja Alexander menikah dengan Ratu Elena "
" Oh.... mengapa ? "
" Istrinya berasal dari Kerajaan Cahaya. Dan ia mewajibkan seluruh desa dan kota menyalakan obor setiap malam untuk menghindari iblis dan penyihir gelap "
" Jelas berbeda dengan Kerajaan HIGRESIA. Tidak semua wilayah menyalakan obor di luar rumah. Itu sebabnya iblis dan penyihir menyerang mereka. Lagipula... kebetulan sekali putri Xenia berelemen api. Jadi mudah saja baginya untuk membakar para iblis yang mencoba menguasai wilayah TREXODIA "
Rey dan Asgar saling berpandangan. Mengertilah mereka sekarang penyebab kehadiran iblis dan penyihir di HIGRESIA. Jadi menyelusuri desa dan kota di TREXODIA tak akan menemukan apa yang dicari.
__ADS_1
Rey diam termenung. Jika begitu, tempat gelap yang tidak bercahaya adalah hutan. Ya, bukankah Destraco juga bersembunyi di hutan BLACKBURN ? Rey menatap Asgar dan Zigaz. Mungkin Rey harus berkunjung ke Kerajaan TREXODIA. Ia ingin mencari tahu tentang hutan-hutan di wilayah TREXODIA.