
Ratu segera menceritakan tentang kedatangan para penyihir Cronos di kota. Tapi tidak menceritakan tentang Axel yang terluka saat menguji mereka.
" Maksudmu mereka bukan penyihir jahat atau pengintai kerajaan ? " tanya Raja.
" Bukan Raja. Saat aku bertemu mereka baru saja menolong seorang laki-laki yang patah kakinya karena terjatuh. Terdapat aura agung pada sihir mereka. Kemungkinan mereka termasuk golongan Tetua Cronos. Elang raksasa yang terlihat di atas istana adalah hewan tunggangan mereka " jelas Ratu.
" Apakah Ratu tidak mengundang mereka agar berkunjung ke istana ? " usul penasehat.
" Sudah penasehat. Tapi mereka menolaknya. Mereka masih ingin berjalan-jalan di sekitar kota "
" Itu berarti negara kita aman, kondisi militer akan diturunkan dari keadaan waspada "
" Benar.... "
Axel sendiri merasa bosan di kamar. Ia masih penasaran dengan nenek tua itu. Lebih baik ia bicara dengan ibunya. Axel keluar mencari ibunya. Kebetulan ia berpapasan dengan Raja, Ratu dan penasihat di lorong istana.
" Salam ayahanda Raja, salam ibunda Ratu, salam tuan penasehat...... " Axel memberi hormat.
" Salam Pangeran..... " jawab penasehat mewakili Raja dan Ratu.
" Ibunda Ratu, bisakah kita bicara sebentar ? Ada hal yang ingin saya tanyakan " kata Axel.
" Kalau begitu aku dan penasehat akan langsung ke markas militer " kata Raja.
" Silahkan........ "
Setelah Raja dan penasehat menjauh, Ratu dan Pangeran Axel memilih bicara di ruang perpustakaan.
" Ibu...... Apa ibu sudah bertemu nenek tua itu ? " tanya Axel.
" Sudah. Mereka adalah para tetua dari kerajaan Cronos. Hanya ingin berjalan-jalan dan melihat istana Trexodia " jawab Ratu.
" Jadi elang raksasa itu..... ? "
" Ya, itu hewan tunggangan mereka "
" Apakah kekuatan mereka diatas ibu ? "
" Tentu saja. Bisa jadi umurnya sudah seribu tahun "
" Bukankah nenek tua itu sedang menyamar ? Aku melihatnya diselubungi kabut putih di wajah aslinya "
Ratu tertegun. Ia juga teringat saat mereka memanggilnya "Ratu" . Itu berarti mereka dapat melihat penyamarannya. Sebesar apa kekuatan mereka ? Bagaimana mereka bisa mengenalnya sebagai Ratu, padahal ia tak mengenal mereka ?
" Apakah hanya dua orang itu yang berkunjung, atau ada yang lain lagi ? " tanya Axel melihat ibunya termenung.
" Oh.... ! Ibu lupa menanyakan itu. Apakah itu penting ? "
" Ehm...... tidak terlalu. Hanya ingin tahu saja. Baiklah aku pergi "
__ADS_1
" Kau mau kemana ? "
" Aku akan mengawasi mereka dari jauh "
" Jangan mencari masalah. Kau bukan tandingan mereka " Ratu memperingatkan.
" Hmmm........ " Axel berlalu.
Axel kembali ke sekitar pasar kota. Kali ini ia menyamar jadi lelaki biasa. Ia mengamati setiap orang yang berlalu-lalang. Pikirannya masih penasaran dengan nenek tua itu. Ia benar-benar ingin tahu wajah asli nenek itu dan alasan kenapa harus menyamar.
Apakah mereka sedang mencari seseorang di sini ? Siapa ? Axel jadi teringat gadis cantik yang sempat diculiknya. Dimana dia ? Apakah orang-orang Cronos itu juga mencarinya ? Tidak mungkin.....
Gadis itu bahkan tidak bisa sihir. Tapi..... Kakek tua yang di bukit itu mengatakan bahwa gadis itu adalah cucunya. Ah.... Ia ingat keterangan penjaga kantor data penduduk. Ada dua gadis penyihir dewasa dari keluarga Martinoz dan Brazon. Kalau tidak salah, namanya adalah Calista dan Griselda.
Axel segera pergi ke tempat tinggal dua keluarga penyihir itu. Salah satunya ada di pinggir kota dekat ladang gandum. Ia menyuruh seseorang mengantarkannya menemui keluarga Martinoz.
" Selamat siang Tuan Martinoz. Saya kesini untuk memastikan satu hal. Bisakah saya melihat putrimu yang bernama Clarisa ? " tanya Axel.
" Kamu siapa ? Dan apa alasanmu ingin bertemu Clarisa ? " Tuan Martinoz mengerutkan alisnya.
" Aku..... bawahan Hakim Agung Axel " jawab Axel tak ingin membuka samarannya.
" .............., apa tandanya jika kau benar-benar bawahan Tuan Axel ? "
Axel mengeluarkan bros yang biasa tersemat di jubah kehakimannya saat pengadilan. Tuan Martinoz mengangguk dan masuk ke dalam.
Axel menggelengkan kepalanya lalu berpamitan. Clarisa menatap ayahnya tak mengerti.
" Dia siapa ayah ? "
" Bawahan Pangeran Axel, Hakim Agung Trexodia "
" Waaaaahh........ seperti apa wajahnya, apakah ia tampan "
" Huuussh.... jangan mencoba mendekatinya. Ia laki-laki kejam "
" Oh..... ? Lalu kenapa mencariku ? "
" Dia hanya memeriksa untuk keperluan pekerjaan. Sudah, kembalilah.... "
Tuan Martinoz menghela nafas dan mendorongnya kembali ke dalam. Ia tadi sudah was-was mengira putrinya akan dibawa pergi.
Axel pergi ke keluarga Brazon. Ia merubah penampilannya kembali semula untuk memudahkan pemeriksaan. Axel paling tidak suka membuang waktu untuk pertanyaan sepele.
Rumah keluarga Brazon berpagar tertutup. Axel menggedor gerbangnya dengan keras.
" Dor.... Dor..... Dor.......... "
Sejenak kemudian pintu gerbang terbuka sendiri. Terlihat seorang wanita gendut berdiri di teras rumah. Axel melangkah masuk dengan tenang. Ia berdiri di hadapan wanita itu.
__ADS_1
" Nyonya Brazon...... ? "
" Ya, saya. Kamu siapa ? "
" Saya Axel, ingin bertemu dengan nona Griselda "
" Oh..... Apakah kamu temannya "
" Hmmm...... " Axel hanya mengangguk saja.
" Grisseldaaaaaa........ " teriak nyonya Brazon.
" Yaaaaaaa........... ? " seorang gadis berambut ikal datang berlari dari samping rumah membawa seonggok bunga. Wajahnya manis dan sifatnya ceria. Karena terburu-buru, ia tersandung tangga dan hampir saja jatuh.
" Aiiih....... ! "
Axel menahan lengannya sebentar sampai ia berdiri tegak dan segera melepaskannya. ( Jika saja tidak ada nyonya Brazon, Axel pasti akan membiarkan gadis itu jatuh karena mengira berpura-pura mencari perhatian ).
" Oh, Griselda kau sungguh ceroboh ! " tegur nyonya Brazon.
" M...maafkan saya Bu, tuan....... aaaaaah........ maafkan, maafkan saya Pangeran " Griselda menarik-narik ibunya agar ikut bersujud dengannya.
" Griselda..... ! apa yang kau lakukan ? bangunlah ! " nyonya Brazon malah menarik balik tangan Griselda. Bunga-bunga yang dibawa Griselda terlepas jatuh berantakan.
" Ibu..... bersujudlah....... Dia Pangeran Axel, Putra Mahkota Trexodia " tegur Griselda sambil menarik lagi tangan ibunya.
" A....apa....... ?! "
Nyonya Brazon melotot tak percaya pada Axel. Mulutnya tercengang.
" Ibuuu..... ! " Griselda kembali menarik tangan ibunya, kali ini lebih keras hingga ibunya jatuh berlutut di hadapan Pangeran Axel.
" Mohon ampun Pangeran, ibu saya tidak mengenali anda " Griselda menunduk dalam minta maaf. Nyonya Brazon membungkuk ketakutan.
" Hmmm....... "
Axel melangkah pergi tanpa pamit. Nyonya Brazon dan Griselda masih bersujud membungkuk. Mereka saling melirik dan berbisik.
" Apakah ia sangat marah ? "
" Entahlah Bu...... "
" Semoga ia tidak menghukum kita "
Perlahan mereka mengangkat muka setelah Axel sudah tidak terlihat lagi.
Axel kembali ke pasar kota. Ia kecewa karena ternyata Clarisa dan Griselda bukan gadis yang ia cari. Berarti gadis itu bukan warga kota ini. Siapa dia ? Axel kesulitan menemukannya karena tidak mengetahui nama gadis itu.
Entah mengapa ia curiga dengan nenek tua itu. Matanya teliti melihat sekeliling untuk mencari nenek tua itu.
__ADS_1