GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
128. Hukuman Untuk Carxen


__ADS_3

Pedro segera pergi mencari orang-orang yang akan disuruhnya untuk menyingkirkan Zigaz. Sementara Carxen terus mengikuti Rey yang pergi ke meja lain.


" Nona, tuan Carxen mengikuti kita " bisik Zigaz.


" Aku tahu, orang ini terbiasa menggunakan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Dia tidak memikirkan anak-anaknya dengan baik. Aku akan memanggil Kendrick untuk membuatnya cemburu. Kau menepilah " sahut Rey.


( " Sayang, kemarilah. Aku di meja anggur sebelah barat " telepati Rey pada Kendrick )


Kendrick berpamitan pada Raja Alexander dan segera datang ke tempat Rey. Rey menceritakan yang baru saja terjadi dan keinginannya untuk menghukum Carxen. Kendrick tersenyum mengangguk. Ia menggandeng tangan Rey dan mencium pipinya.


Melihat Zigaz menjauh, Carxen cepat-cepat menghampiri Rey. Namun ternyata sudah ada pria muda yang menyapa Rey. Carxen menjaga jarak. Dilihatnya laki-laki itu tersenyum, menggandeng tangan Rey dan mencium pipinya ? Tak bisa dibiarkan !


Dengan emosi ia melepaskan tangan Kendrick dan mendorongnya keras.


" Lepas.... ! Ia milikku.... ! " Carxen menatap tajam pada Kendrick.


Rey mencibirnya " Aku tidak mengenalmu, tuan "


" Diam... ! " Carxen membentak Rey sambil mengacungkan jarinya " Aku akan mengurusmu nanti "


" Dan kau.... beraninya merebut milikku, memangnya kau siapa ? "


" Aku..... " Kendrick belum selesai memperkenalkan dirinya, Carxen sudah menerjang.


Kendrick menghindar. Carxen terus saja menerjang dan berusaha memukul Kendrick. Orang-orang mulai menonton pertarungan itu.


Seseorang menarik lengan Rey lembut. Ternyata Ratu Elena bersama Raja Alexander.


" Apa yang terjadi ? " tanya Ratu.


" Dia Baron Carxen, ingin memilikiku. Lalu menantang Kendrick "


" Ha..ha..ha..ha.... Aku ingin lihat seberapa besar nyalinya melawan Penguasa Abadi " raja Alexander mengeluarkan pedang dari cincinnya dan dilemparkan ke dekat dua orang itu.


Carxen cepat-cepat mengambilnya. Kendrick hanya melirik. Baginya tak perlu menggunakan senjata. Kekuatannya sudah jelas di atas langit. Jika ia mau, sudah dari tadi Carxen mati tanpa sempat bernafas.


Zigaz menahan Asgar dan membisikkan perintah Rey. Segera Asgar pergi mencari raja Greg.

__ADS_1


Carxen semakin beringas menyerang Kendrick. Apalagi dimatanya Kendrick hanya bisa bertahan tanpa melawan. Dipikirnya Kendrick tidak bisa bertarung.


" Hentikan..... ! " terdengar suara menggelegar.


" Traang..... ! "


Satu pedang menghadang serangan pedang Carxen.


Carxen mundur dan terkejut menatap seseorang yang berani menghentikan serangannya. Tampak pemuda berjubah keemasan berdiri menatap marah padanya. Itu Raja yang baru, Raja Greg... !


Segera ia melempar pedangnya dan berlutut di hadapan Raja Greg.


Raja Greg memukul kepalanya dengan sisi pedang. Carxen terhempas. Namun Ia segera bangkit dan berlutut lagi di hadapan Raja Greg. Hanya itu cara untuk menghindari hukuman mati. Namun ia heran mengapa Kendrick tidak ikut berlutut ?


" Apa yang membuatmu ingin mengacaukan pestaku ? " tanya Raja Greg.


" Saya tidak bermaksud seperti itu yang mulia " jawab Carxen.


" Lalu mengapa kau bertarung disini ? "


" Saya hanya ingin memberi pelajaran padanya agar tidak menggangu kekasih saya "


Carxen menatap sekeliling dan menunjuk pada Rey yang sedang tersenyum di samping Ratu Elena. Raja Greg tercengang. Asgar dan Zigaz menutup mulut menahan tawanya. Elena menggandeng Rey menuju ke samping Raja Greg.


" Ehm..... apakah kau tahu siapa gadis ini ? " tanya Greg.


" Ia adalah calon kekasih saya... " jawab Carxen percaya diri.


" Aku rasa mulutmu membual terlalu tinggi. Nona ini adalah Gadis Takdir, belahan jiwa Penguasa Abadi. Dan orang yang kau lawan adalah Lord Astraco " Raja Greg memberi tahu.


Mulut Carxen ternganga lebar. Ia terbelalak menatap Rey dan Kendrick bergantian. Ia ingat, seharusnya ia memohon pertolongan untuk Devano, malah ia sendiri terpesona pada Gadis Takdir dan berurusan dengan Lord Astraco....


" Karena mata dan mulutmu selalu menyebabkan masalah untuk orang lain, maka untuk selamanya kamu akan buta dan bisu " Rey meniup mantra ke arah Carxen.


" Tidak nona, jangaaan..... ampuni saya, ampuni sayaaaa...... " Carxen memohon sambil pura-pura menangis. Ia berharap nona cantik itu luluh dan mengampuninya.


Namun orang-orang mencibirnya. Diantara mereka juga ada yang putrinya pernah menjadi korban Carxen semasa Raja Higo. Namun Raja Higo membelanya. Mereka berdua sama-sama lelaki hidung belang yang merusak gadis-gadis polos.

__ADS_1


Kendrick menggandeng Rey pergi. Raja dan Ratu ikut berlalu. Dan orang-orang kembali melanjutkan pesta. Tak perduli pada Carxen yang berteriak-teriak memohon ampun. Matanya sudah mulai tidak jelas menatap sekelilingnya. Ia berkali-kali menabrak orang hingga terjatuh.


" Tuan.... apa yang terjadi ? " seseorang membantunya berdiri dan membawanya ke tepi.


" Pedro.... ? Kaukah itu ? " tanya Carxen.


" Ya tuan, ini saya, Pedro " jawab Pedro. Ia datang bersama orang-orang yang akan disuruhnya untuk menangani Zigaz.


" Bawa aku pulang, mataku mengalami masalah " Carxen malu menceritakan keadaan yang sebenarnya. Pedro memberi isyarat pada orang-orang suruhannya untuk mengikutinya pulang lebih dulu. Ia menuntun Carxen yang kadang-kadang tersandung.


Ketika sampai di rumah, Carxen menyuruh Pedro memanggil tabib. Pandangannya sudah semakin gelap. Ia diam menunggu tabib. Seorang pelayan datang menemuinya dan melaporkan masalah yang disebabkan Delisa. Ia marah mendengar itu.


" Aaaaarrrggh...... !! " Carxen hanya bisa berteriak kesal, tenggorokannya terasa amat sakit. Ia mengusir pelayan itu. Pedro datang membawa tabib. Ini sudah ketiga kalinya tabib ini menangani keluarga Carxen di hari yang sama.


Ia memeriksa Carxen. Alisnya berkerut lalu menatap Pedro.


" Apa yang terjadi pada tuan Carxen ? Apakah ia keracunan.... ? " tabib mengira tuan Carxen meminum atau memakan sesuatu yang beracun.


" Saya tidak tahu tabib, bagaimana keadaannya ? " tanya Pedro.


" Matanya mengalami kerusakan. Ia tidak akan bisa melihat lagi selamanya. Tenggorokannya juga rusak parah. Kemungkinan suaranya akan menghilang "


jelas tabib.


Carxen yang mendengar itu tertegun. Ia teringat ucapan Gadis Takdir yang mengutuknya. Ini nyata. Gadis itu sungguh kejam. Devano lumpuh, Delisa dikutuk tangannya. Sedang dirinya sendiri, buta dan bisu ?


Tidak.... siapa yang akan mengurus usahanya ? Ia menatap Pedro, orang kepercayaannya.


" Pedro... " namun suaranya lebih mirip bisikan. Pedro mendekatkan telinganya. Carxen mengambil nafas sejenak.


" Ambilah koin di laci kamar kerjaku. Bayarlah tabib ini. Mulai besok, kau harus mengajari Delisa berdagang. Jika tak mau, usirlah dia. Semuanya aku serahkan padamu " kata Carxen.


Pedro terbelalak, ia menolak hal itu.


Tapi Carxen membaringkan diri dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya, tanda tak ingin dibantah. Akhirnya Pedro membawa tabib ke ruang kerja Carxen. Ia mengambil 100 koin perak untuk bayarannya.


Selepas tabib itu pergi. Pedro termenung. Tuannya mengalami musibah, buta dan bisu. Sementara Devano lumpuh. Hanya nona Delisa yang tidak bisa diandalkan mengurus usaha Tuan Carxen.

__ADS_1


Sementara Carxen dibalik selimut menangis diam-diam. Penyesalan tidak ada gunanya. Kebodohan dan kesombongannya dikalahkan Gadis Takdir. Apa yang bisa dilakukannya sekarang ? Matanya buta, suaranya hilang. Sungguh ia merasa dirinya bagai sampah.


__ADS_2