
Ia meraih tangan Rey sambil tersenyum.
" Terima kasih sudah membebaskan aku dari mereka. Berhati-hatilah disana, jangan sampai terkena cakaran mereka, kuku-kukunya beracun "
" Saya mengerti nek...... "
Rey berdiri menggerak-gerakkan tangannya. Perlahan-lahan terbangun sebuah gubuk sederhana lengkap dengan tempat tidur hangat di dekat danau. Si Tupai dan kelinci berebut masuk ke gubuk itu. Mereka semua tertawa melihatnya.
" Siapa diantara kalian yang mau menyamar jadi nenek Wilma ? "
Asgar dan Zigaz saling pandang.
" Lebih baik saya saja Nona, saya mengerti beberapa tanaman obat "
" Ah..... Itu bagus. Aku dan Asgar akan menyamar sebagai pasangan yang...... terkena sakit kulit "
" Haah..... ?! mengapa harus sakit kulit Nona ? " tanya Asgar meringis ingin menolak.
" Supaya mereka tidak akan menyentuh kita atau mengambil darah kita "
" Ooh..... ! Yaaah......... Itu masuk akal...... " Asgar mengangguk pasrah mengingat cerita nenek Wilma tentang suku desa tersebut. Zigaz dan nenek Wilma terkekeh.
Rey mengacungkan jarinya pada Zigaz.
" Tidak, tunggu Nona....... Biarkan saya mencoba melakukannya sendiri "
Zigaz membaca mantra sambil menatap nenek Wilma. Perlahan penampakannya berubah menjadi persis seperti nenek Wilma sekarang.
" Wooaaah............ hebat ! " Asgar kagum.
" Salah Zigaz......, Bukan penampakan yang ini, tapi yang sebelumnya tadi " tegur Rey.
" Oh..... ! Ya, maaf......... "
Zigaz mengucap mantra lagi sambil mengingat-ingat penampakan nenek Wilma yang lusuh tadi. Zigaz berhasil. Hanya badannya tidak berbau.
" Bagus..... "
Lalu Rey mengucap mantra untuk merubah dirinya dan Asgar.
" Iiiiih........... " Asgar meringis melihat dirinya yang banyak luka dan bernanah. Dan....... berbau.....
" Ha...ha...ha...ha....... " Zigaz tertawa mengejek. Asgar cemberut masam.
__ADS_1
Rey dan nenek Wilma terkekeh pelan.
Rey mengeluarkan cermin yang mirip dengan kepunyaan nenek Wilma. Ia mengamati hutan pinggir desa itu. Tampak sepi.
" Zigaz..... Kau kembalilah masuk ke desa mereka. Usahakan jangan menggunakan sihir. Kami akan berpura-pura tersesat " perintah Rey.
" Tunggu....... Nek, apa kau punya rumah di desa itu ? Yang mana ? " tanya Zigaz pada nenek Wilma.
Nenek Wilma mengangguk dan mengeluarkan cerminnya. Ia memperlihatkan desa itu dan menunjuk salah satu gubuk paling ujung. Terlihat ada panci menggantung di atas perapian yang mati. Ada rak untuk tempat beberapa tanaman obat. Zigaz mengangguk dan bersiap keluar dimensi.
" Ingat, jika memang tak bisa mengatasi masalah yang timbul, segera masuk ke dimensi. Kau mengerti ? "
" Mengerti Nona "
Lalu Zigaz keluar. Ia melangkah pelan memasuki desa sihir. Diliriknya suasana sekitar yang seolah tidak perduli padanya. Ia terus berjalan menuju gubuknya. Duduk sebentar untuk mengamati tempat tinggal nenek Wilma.
Sementara Asgar dan Rey muncul di dalam hutan. Ini untuk menghindari kecurigaan ketua suku desa penyihir. Mereka berjalan terus menuju desa itu dengan perasaan yang sedikit tegang.
Ketika hampir memasuki desa itu dua bayangan melesat dan berhenti sekitar 5 langkah. Dua orang gadis desa memakai topi bulu elang menatap curiga pada Rey dan Asgar. Rey memegang lengan Asgar berpura-pura takut.
Salah satu gadis yang pipinya dilukis berjalan mengelilingi mereka berdua sambil mengamati dari atas ke bawah. Asgar juga melirik waspada, khawatir gadis itu menyerang tiba-tiba.
Gadis itu berbisik pada gadis satunya. Lalu mereka menggiring Rey dan Asgar masuk desa. Beberapa penduduk berhenti dari kegiatannya dan menatap kehadiran mereka dengan menyeringai.
Rey dan Asgar terus digiring hingga sampai di depan patung perunggu. Rey menatap patung itu seksama, dari atas sampai kaki. Hatinya berdesir mengetahui bahwa itu bukan patung. Ada kehidupan terpancar dari mata patung itu. Lagipula, posisi patung itu tidak seperti patung biasa. Lebih tepatnya ia seperti wanita yang menjadi patung.
Melihat itu gadis berpipi lukisan mendorong punggung Asgar sambil mengomel. Asgar tersungkur di hadapan patung perunggu itu.
" Aaah..... ! "
" Asgar.... ! " Rey menarik lengan Asgar agar segera bangkit. Tapi Rey pun didorong jatuh seperti Asgar.
" Nona.... ! "
Rey melirik tajam mengingatkan Asgar tentang panggilannya. Asgar segera menutup mulutnya menyadari kesalahannya.
Sedang mereka saling berpegangan untuk bangkit, tiba-tiba patung itu bergerak dan berubah menjadi hidup.
" Aaaaaaaah.................. !!! " Rey dan Asgar berteriak karena terkejut. Mereka seketika mundur sambil menuding patung yang hidup itu. Mata mereka terbelalak menatap perubahan warna dari perunggu menjadi manusia normal. Seorang wanita dewasa dengan topi bulu elang.
Wanita itu menatap tajam pada mereka berdua. Mengamati kulit Rey dan Asgar yang bernanah dan bau.
__ADS_1
" Grrraaahhh............ ! Mereka kotor........ ! Menjijikkan........ ! " teriaknya sambil menuding Rey dan Asgar. Suaranya serak seperti burung gagak.
" Ketua.... Sudah lama kita tak minum. Biarkan Wilma mengobati mereka dahulu. Barulah dapat melakukan persembahan " kata gadis berpipi lukis sedikit tersenyum jahat.
Ketua wanita itu berpikir sejenak, lalu mengangguk.
" Kamu benar. Bawa mereka pada Wilma. Ikat sihir di kakinya "
" Maaf ketua, saya tidak bersedia menyentuh mereka. Bisa saja kulit mereka tercemar racun atau penyakit kulit menular "
" Kalau begitu rantai mereka satu-satu "
" Baik "
Salah satu gadis itu pergi ke salah satu gubuk dan kembali membawa dua rantai. Mereka memasangkannya pada kaki Rey dan Asgar. Lalu menggiring mereka berdua ke arah gubuk Wilma yang letaknya paling ujung.
Gadis yang cantik mendorong Rey dan Asgar jatuh di depan gubuk Wilma.
" Wilma.... ! Ketua suruh kau obati mereka sampai sembuh. Mereka akan dijadikan persembahan.... ! " bentak gadis berpipi lukis pada Wilma.
Wilma mendekat dan melihat mereka sebentar.
" Tinggalkan saja. Aku akan periksa dulu "
" Cizzz...... ! Siapa percaya padamu. Kau akan melepaskan mereka ! "
" Hhhhhhhhhh....... ! Terserah..... ! "
Wilma seolah kesal karena mereka tak percaya padanya. Tapi ia berjongkok dan memegang tangan Asgar untuk memeriksa.
" Jangan sentuh..... ! " Asgar pura-pura menepis kasar.
" Menurutlah..... ! " bentak gadis berpipi lukisan memukul kepala Asgar.
" Aah...... ! "
( " Sialan..... ! " ) Asgar mendesis pelan saat melihat gadis itu melotot. Rey menyentuh lengannya agar bersabar.
Dengan muka cemberut, Asgar membiarkan nenek Wilma memeriksa tangannya, kakinya, mata dan lidahnya. Rey hanya berpura-pura takut dan cemas. Padahal ia memeriksa kedua gadis ini. Dua gadis ini mempunyai kekuatan setara Asgar. Mereka beraura gelap. Tapi tak sepekat wanita perunggu itu.
Nenek Wilma juga memeriksa keadaan Rey. Lalu masuk ke gubuk untuk mencuci tangan. Tak lama dia keluar dan mengusir mereka.
" Bawa pergi..... ! Aku tak mau ketularan penyakit mereka. Aku akan buatkan obat, nanti aku antar kalau sudah jadi "
__ADS_1
Mendengar perkataan nenek Wilma, dua gadis itu melepaskan pegangannya pada rantai. Mereka tak ingin tertular.
" Ciiizzz...... Enak saja. Itu tugasmu. Kau mau cari mati kah dengan Mahadewi ? " Cibir gadis berpipi lukisan