
Putri menghentikan langkahnya saat dia mendengar pemilik rumah menyindirnya dengan sangat pedas.
"Iya begitulah,kalau orang miskin biasanya mengesampingkan harga diri yang penting bisa makan dan tinggal dirumah mewah,makanya dari dulu aku selalu melarang cucuku untuk bergaul dengan orang miskin."Setelah mengucapkan sindiran itu nenek langsung menyeruput teh yang ada dimeja.Tidak mau ambil pusing,putri melangkah kebelakang dan menemui para pelayan yang sedang sibuk mengurusi pekerjaan masing-masing.
"Mbak,kamu tau nga kakak ku dirawat dirumah sakit mana?" Tanya putri kepada seorang pelayan yang masih muda,mungkin beda tipis lah dengannya,dia bersikap pura-pura sopan di hadapan mereka.
"Aku sangat khawatir dengan kakakku,aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali dia sementara ayahku sudah menikah lagi."Ucap Putri,dia pura-pura mencari simpati dari para pelayan itu,rasanya dia sudah lelah mendapat sindiran dirumah ini terus menerus.Pelayan yang berada disana saling menatap,mereka merasa iba dengan nasib yang menimpa putri,padahal mereka tidak tau jika sikapnya itu hannya tipu muslihat,putri memang jarang bergaul dengan mereka makanya mereka tidak tau dengan sikap wanita licik itu.
"Kami nga tau,nyonya Dela dirawat dimana,cuma bibi ainun setiap hari akan berkunjung kerumah sakit,dia yang selalu menemani tuan Mahesa disana jadi kamu bisa ikut bersamanya besok kesana." Ucap salah seorang dari mereka.
"Ainun? Pelayan yang sudah berumur itu ya?" Tanya putri memastikan,mereka mengangguk kepada putri setelah itu putri meninggalkan mereka lalu pergi memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Kita tidak salahkan memberitahunya?" Tanya seorang pelayan kepada temannya.
"Entah.." Jawab yang lain,karna mereka juga curiga dengan perubahan sikap putri,biasanya sombong dan angkuh tapi kali ini dia datang dengan wajah menyedihkan hingga mereka merasa iba.
"Sudahlah,lebih baik kita kerja lagi,lagian kan nyonya Dela Kakaknya apa salahnya iyakan." Lalu mereka kembali bekerja sebelum pemilik rumah datang dan memergoki mereka sedang ghibah di jam kerja.
*****
"Tuan,Mahesa tuan.." Seorang perawat memanggilnya sambil berlari mendekatinya,Mahesa sangat panik dia takut sesuatu yang buruk terjadi kepada istrinya yang baru saja ditinggalkan di ruangannya karna dia merasa bosan disana.
"A_ada apa,kenapa kamu panik seperti itu apa yang terjadi?" Mahesa bertanya dengan gemetaran jantungnya berdebar sangat kencang,mendengar berita yang akan diberitahu wanita berpakaian putih itu.
__ADS_1
"Tuan,barusan nyonya Dela bergerak dan dia sudah melewati masa kritisnya."Ucap perawat dengan dada naik turun mungkin dia kelelahan mencari dirinya kemana-mana.
"Benarkah."Mahesa tampan bertanya panjang langsung berlari meninggalkan perawat menuju ruangan istrinya.Mahesa membuka pintu lalu berjalan mendekati istrinya lalu dia duduk dikursi yang ada dipinggiran ranjang istrinya.
"Sayang cepatlah sadar,aku menunggumu,terima kasih karna kamu sudah melewati masa sulit,terima kasih karna kamu masih bersedia menemui ku,terima kasih sayang."Ucap Mahesa lalu dia mengecup tangan kurus istrinya itu.
"Sayang aku disini bukanlah matamu,aku sudah tidak sabar mendengar suaramu,melihatmu marah,melihat mu merajuk,ayo bangun sayang,hari-hariku begitu menyedihkan tampa mu sayang."Ucap Mahesa,hingga sadar atau tidak sekilas dia merasakan tangan istrinya bergerak.
"Sayang apa kamu mendengar ucapan ku?" Tanya Mahesa dia memperhatikan tangan istrinya lagi dia sangat berharap dia merasakan lagi gerak tangan itu agar membuatnya semakin yakin jika istrinya baik-baik saja.
Semenjak Mahesa merawat istrinya selama dua Minggu ini dia sama sekali tidak memperhatikan penampilannya,rambut-rambut halus di wajahnya sudah mulai panjang bahkan rambutnya tidak terurus sama sekali,dia terlihat sangat menyedihkan.Pikirannya sangat frustasi memikirkan keluarganya yang sama sekali tidak pernah mengunjungi istrinya,dia sudah berniat jika istrinya sudah sadar dia tidak akan membawanya kesana lagi karna dia tidak ingin hal yang lebih buruk terjadi kepada istrinya.
__ADS_1
**** bersambung***