
Karin dan Mahesa mengobrol singkat di ruangan Mahesa,setelah Karin meminta maaf dengan tulus kepada Mahesa,akhirnya Mahesa memaafkan Karin,apalagi katanya Karin akan kembali keluar negri menemui suaminya yang pernah dia tinggalkan karena paksaan dari orang tuanya.
"Aku akan membantumu,untuk mencari donor yang pas untuk nenek,mungkin disana jauh lebih banyak dari pada di negara ini." Ucap Karin.
"Baik terima kasih,aku berharap kamu bisa memberi kabar baik kepadaku secepatnya aku sudah tidak sanggup melihat nenekku menderita seperti itu."Jawab Mahesa mereka saling bersalaman dan Karin segera meninggalkan kantor milik mahesa dan segera menunjuk bandara bersama asistennya yang selalu menemaninya kemana pun dia mau.
Tidak beberapa lama Karin meninggalkan ruangannya,tiba-tiba ruangnya terbuka dan saat itu putri sudah masuk ke ruangannya dengan mata sembab sepertinya dia sedang menangis.
"Ada apa denganku kenapa kamu menangis seperti itu,apa ada yang mengganggumu? tanya Mahesa,Putri terus berdiri dan tubuhnya bergoyang karena menangis.
"Huu....huuu....huu...bang ayahku,...huhu...."
"Kenapa dengan ayahmu?" Mahesa tidak sabar,ingin tau apa yang membuatnya sampai menagis sesenggukan seperti itu,tidak biasanya Putri sedih seperti itu,apalagi sampai menangis lama.
"Ayahku,bang katanya di kecelakaan dan sekarang dia dibawa ke rumah sakit dia kritis kemungkian tidak akan bisa di tolong bang..huhu...." Putri menagis,dia jongkok sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.Putri sangat terluka,biar bagaimana pun jahatnya ayahnya kepadanya pada waktu terakhir,itu tidak membuatnya sakit.Biar bagaimana pun jahatnya pria itu,dia tetap lah ayahnya orang yang sudah membesarkannya bersama kakaknya Dela.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita berangkat ke rumah sakit,kita lihat dia." Ucap Mahesa.Mereka berangkat berdua ,seluruh kariawan di perusahaan itu belum tau jika putri adalah adik ipar tuan mereka,jadi saat mereka jalan bersama banyak kariawan yang menatap tidak percaya kepada putri karena selevel OB sanggup pergi bersama pemilik perusahaan.
"Baru tau aku OB itu memiliki koneksi kuat di perusahan ini,padahal dia sangat polos dan tidak banyak tingkah Kok bisa ya mereka keluar bersama."Ucap seorang kariawan.
"Sudahlah,tidak perlu kita mengurusi yang bukan urusan kita." Ucap yang lain,akhirnya mereka,kembali ke tempat masing,setelah sebelumnya mereka berkumpul untuk ghibah.
****
Sepanjang jalan putri terus menangis,dia tidak sanggup jika harus kehilangan orang tuanya,dia hannya memiliki satu orang tua,setelah ibunya meninggal satu tahun yang lalu,dan hari ini dia belum siap kehilangan orang tuanya.
📞Baiklah mas aku akan menyuruh supir untuk mengantarku,mas hati-hati ya." Ucap Dela.
Mahesa memutuskan sambungannya teleponnya lalu dia kembali menyetir dengan kecepatan tinggi,hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang di tuju.
"Putri langsung berlari masuk kedalam rumah sakit lalu menanyakan keberadaan ayahnya kepada seorang perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Ohh,kamu adalah anak dari korban kecelakaan tadi,semoga kamu sabar dan kuat,kamu bisa melihat ayahmu di ruang mayat,kami tidak bisa menolongnya." Ucap perawat itu.Putri langsung jatuh di lantai,rasanya dia cukup tidak mampu mendengar kabar yang di berikan wanita itu,dan saat itu Mahesa langsung datang menghampirinya.
"Bang.....Huhu....Ayahku,tidak tertolong,ayah.....Jangan tinggalkan aku." Ucap Putri dia berlari ketempat dimana ayahnya sekarang.Putri langsung berdiri menatap mayat ayahnya dia benar-benar terpukul,dia belum sempat membuat ayahnya berubah,tetapi ayahnya sudah menerima kabar tidak baik ini,bahkan saat ini dia tidak melihat ibu tirinya ada di rumah sakit,selama ini putri tidak mengunjungi ayahnya karena dia sangat marah kepada ayahnya.
"Ayah....Maafkan aku,maafkan aku belum bisa memberikan kebahagian kepadamu,kenapa kamu sampai seperti ini ayah.Jangan tinggalkan aku ayah."Putri terus menagis.Mahesa cukup iba kepada putri,walaupun selama ini sikapnya sangat jahat ternyata dia masih punya hati yang baik.
"Sudahlah putri,ikhlaskan ayahmu,mungkin ini sudah menjadi takdirnya,kamu masih punya kakak yang sangat menyayangimu."Ucap Mahesa dan pada saat itu Dela juga baru saja sampai di rumah sakit,dia juga menangis,walupun dia tidak seperti putri yang sangat terluka.
Lama mereka berdiri di ruangan itu,dan pada saat putri dan dela sudah lumayan merasa tenang dela menarik tangan Mahesa keluar dari ruangan itu,
"Ada apa kamu menarik aku keluar." Tanya Mahesa karena tiba-tiba istrinya bersikap aneh.
"Mas,tidak bisakah kamu menyuruh dokter untuk memeriksa mata ayah,mata tau cocok untuk nenek."
*** bersambung***
__ADS_1