
"" Om,Tante,Mahesa pulang lebih dulu karna tiba-tiba saja seorang klien menghubungiku,ternyata malam ini kami ada pertemuan penting." Mahesa dia berharap sang nenek tidak mengintrogasi nya lagi.
"Duduk tidak ada yang lebih penting dari ini." Ucap sang nenek hingga semua orang yang ada di tempat itu menatap ke arah mahesa.Sang nenek kembali melanjutkan obrolannya,hingga akhirnya mereka memutuskan tanggal pernikahannya,dan acaranya di lakukan di hotel itu juga.
Hampir satu jam Mahesa menunggu acara itu selesai hingga akhirnya dia bisa bernapas lega saat acaranya berakhir juga.Tampa permisi apa pun dan ucapan apa pun Mahesa keluar dari restoran dan melihat ada taksi lalu menaikinya dan pergi dia tidak peduli lagi jika sang nenek marah kepadanya,karna dia tidak ingin terjadi apa pun kepada dela.
Sang nenek begitu geram saat melihat Mahesa keluar lebih dulu Tampa ucapan apa pun,dia benar-benar kesal dia mengepal tangannya Karna sang cucu sudah berani sekali melawan ucapannya.
"Kemana anak nakal itu?" tanya sang nenek Doni yang ada di belakang nenek merasa takut jika dia dibawa-bawa oleh nyonya besar itu.Dan benar saja sang nenek tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Doni.
"Apa saja yang kamu kerjakan di kantor hingga mengurus anak seperti itu pun kamu tidak mampu?" Tanya wanita tua itu.Doni merasa sulit bernapas karna kini dia terpojok karna ulah bosnya yang selalu membawanya dalam masalah.Lalu tiba-tiba sang nenek mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang,
📞[ Cari secepatnya orang bisa menjadi asisten,aku butuh asisten yang pandai dan bijak.] Ucap wanita itu lalu segera mengakhiri pembicaraan nya,Doni tiba-tiba saja kakinya gemetaran dan tenggorokannya terasa kering.
"Mulai besok, kamu tidak usah mengurusi cucuku lagi, karna kamu tidak pantas menjadi asisten seorang Mahesa pergi dari hadapanku." Ucap sang nenek lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Doni setelah dia meminta kunci mobil yang di pegang oleh Doni.
__ADS_1
Seketika Doni merasa dunianya berputar dia tidak bisa berbuat apa pun.Dia sudah bekerja dengan Mahesa hampir sepuluh tahun dan dia sendiri dipilih oleh Mahesa.Semarah apa pun bosnya itu dia sangat tau bagaimana meredakan amarah sang bos.
Mahesa baru saja sampai di apertemen yang baru saja dibeli olehnya,lalu dia memasukkan sandi dan pintu terbuka,setelah itu dia memasuki ruangan dan terlihat sangat sepi.Melihat dela tidak ada di ruang tamu dia langsung menuju kamar dan akhirnya dia melihat Dela sedang tidur dengan menutup seluruh tubuhnya di dalam selimut.
"Dela!!!!" Mahesa membuka selimut yang menutupi tubuh wanita itu dan dia sangat kaget saat wajah Dela begitu pucat.
"Ada apa denganmu!!! hei...Sayang ini aku." Ucap Mahesa lalu dia menaiki ranjang dan memeluk tubuh dela benar saja tubuh wanita itu terus gemetaran.Mahesa semakin mempererat pelukannya agar dela kembali merasa tengang.Hampir satu jam dia memeluk tubuh dela sambil mengelus kepalanya,hingga akhirnya Dela bisa tidur di pelukan Mahesa.
"Maafkan aku karna sudah membuatmu menderita." Ucap Mahesa lalu mengecup keningnya,setelah itu pelan-pelan dia melepaskan pelukannya dari tubuh dela,lalu mengambil ponsel dan menghubungi asistennya Doni.
"Arrrggghh,haruskah dia mengurusi semua hal tentangku, bahkan dia berani memecat asistenku dasar sial!!!!!" Ucap Mahesa lalu melempar pas bunga yang ada dimeja.Dia begitu marah sampai tidak sadar ulahnya sudah membangunkan dela.
Dela berdiri di pintu sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding,dia melihat pria yang sedang melampiaskan amarahnya,dia enggan untuk bertanya karna dia tidak punyak untuk tau apa pun tentang pria itu.Sejujurnya dia ingin sekali tau masalah pria itu tapi melihat sikap pria itu selama ini, yang hannya menjadikannya partner ranjang dia hannya mengabaikannya sambil memandangi punggung pria itu.
"Wanita mana yang menolak pesonanya,tentu saja tidak ada aku pun tidak munafik jika dia menjadikanku istrinya aku begitu bahagia,tapi aku tidak berani berpikir sampai kesana,karna itu sangat menyakitkan.Aku hannya menunggu sampai diaman dia muak denganku dan membuang ku nanti." Suara hati Dela.Tiba-tiba Mahesa membalikkan tubuhnya dan melihat Dela sudah berdiri jauh dibelakangnya.
__ADS_1
"Kamu bangun,maaf jika keributan itu membuatmu bangun." Ucap Mahesa lalu mendekati Dela.Dela mengabaikan ucapan Mahesa lalu kembali memasuki kamar dan naik ke atas ranjangnya.Mahesa mengikutinya dan berbaring di samping dela lalu memeluknya dan tidur.Mereka tidur layaknya suami istri yang sudah halal,malam ini Mahesa tidak berniat menyentuh dela karna pikirannya begitu berkecamuk, karna neneknya yang Menganti asisten yang sudah lama bersamanya.
Setelah pagi dela langsung bangun lalu dia mandi setelah itu dia membersihkan seluruh ruangannya.Dia sudah mulai pintar mengunakan peralatan yang ada di apertemen itu karna belajar dari yutube.Dia cukup malu bertanya kepada Mahesa,makanya dia belajar lewat aplikasi pintar itu.
"Kenapa kamu merepotkan dirimu untuk membersihkan ruangan ini aku akan mencari orang yang bisa membersihkan ruangan ini,jika kamu tidak suka ada orang lain di dekatmu,kamu bisa masuk kamar pada saat bekerja dan keluar setelah dia pulang,aku tidak ingin tanganmu ini luka." Ucap Mahesa sambil meraih tangan itu dan menciumnya.Dela benar-benar tersentuh dengan ucapan Mahesa,hampir saja dia terbuai,tapi dia buru-buru menepisnya dari pikirannya karna dia harus sadar dirinya hannya pelampiasan.
"Sayang,buatkan suamimu ini kopi jika pagi aku, sangat menginginkan itu."Ucap Mahesa.Dela langsung melepaskan tangan Mahesa dari pinggangnya karna pria itu sudah memeluknya semenjak dari keluar dari kamar.
Wajah Mahesa masih terlihat lesu,dia sama sekali tidak semangat untuk kembali kekantor hari ini,dia sudah yakin neneknya pasti sudah mengirim asisten baru kepadanya.Bahkan untuk membersihkan tubuhnya dia begitu enggan lagi ini.
Setelah dia menghabiskan kopi yang di berikan oleh dela,dia langsung turun kebawah tiba-tiba dia ingat jika tadi malam dia tidak membawa mobil.Terpaksa dia menghubungi supir pribadinya dan menyuruhnya menjemputnya jauh dari alamat apertemen baru itu.
Setelah dia dijemput supir dan di antar langsung kekantor,dia sudah enggan untuk bertemu neneknya,dia begitu muak melihat neneknya yang begitu mengatur hidupnya.Saat dia memasuki gedung perusahaanya dia mengabaikan semua sapaan dari kariawan nya.Dia langsung berjalan menuju ruangannya tapi baru saja dia memasuki ruangannya dia sudah melihat sang nenek duduk di kursinya.
***bersambung***
__ADS_1