
Seminggu kemudian akhirnya tiba saatnya untuk membuka perban yang menutupi mata nenek Elizabet.Wajahnya terlihat sudah tidak sabar ingin melihat dunia ini kemabli,dia sudah berjanji kepada dirinya sendri jika nanti matanya berhasil untuk melihat maka dia akan merubah segala sikap buruknya.Sudah cukup selama ini Tuhan memberinya ujian hingga dia mengalami hidup yang begitu menderita.
Mahesa istrinya dan juga kedua orang tuanya menunggu dokter yang akan membuka perban itu,sementara putri kembali ke rumah kakaknya,setelah selesai pemakaman ayahnya dia kembali beraktifitas seperti biasa.Dia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan apalagi Mahesa dan istrinya sudah berjanji menjadi keluarga yang akan menjaganya sampai ada pria yang bertanggung jawab untuk hidupnya.
"Bagaimana,apa kalian semua sudah siap untuk menerima kenyataan apa pun yang terjadi untuk hasilnya kali ini?" Tanya dokter yang baru saja sampai di ruangan sang nenek.
"Sudah dokter,semoga ini sukses dan aku berharap ini memang berhasil." Jawab Mahesa.Sementara nenek Elisabet tampak grogi,mungkin dia takut donor mata ini gagal,dia tampak meremas ujung pakaian yang dia kenakan.
Dengan perlahan-lahan dokter membuka perban yang menutupi mata nenek Elisabet,mereka semua tampak tegang menunggu hasilnya,rasanya sudah sangat tidak sabar untuk melihat hasilnya.
"Silahkan di buka perlahan nyonya,pelan-pelan saja,agar syaraf matanya tidak tegang,apa anda melihat sesuatu?" Tanya dokter,nenek Elisabet hannya mengangguk dan dia mulai tenang karena penglihatannya yang kabur sudah mulai bersih.Dokter melambai-lambai tangannya,
__ADS_1
"Apa anda melihat tangan saya? Tanya dokter,nenek Elisabet langsung meraih tangan Mahesa yang tidak jauh darinya,
"Cucuku,nenek berhasil, nenek sudah bisa melihat lagi,terima kasih cucuku,terima kasih untuk kerja keras kalian." Nenek Elisabet langsung turun dari ranjang lalu memeluk Mahesa dengan erat begitu juga dengan Dela.
"Cucuku,maafkan selama ini atas dosa dan perbuatan yang aku lakukan,aku memang manusia serakah,aku tidak sadar jika semua yang kumiliki adalah titipan maafkan aku,mulai hari ini kamu aku terima menjadi bagian dari keluarga besar kami,kamu menjadi menantu di keluarga kami." Ucap sang nenek,dia sampai tidak sadar hingga menangis bahagia.
"Terima kasih nenek,aku juga minta maaf jika aku punya kesalahan untuk nenek maafkan aku nenek." Ucap Dela membalas pelukan wanita yang begitu keras menolaknya selama ini.
Setelah semuanya selesai dan penglihatan sang nenek sudah kembali,mereka kembali kerumah besar,pada saat mereka sedang di mobil nenek Elisabet bertanya tentang orang yang mendonorkan matanya,dia ingin sekali menemui orang yang sudah membuatnya melihat keindahan dunia kembali,dia tidak akan bisa membayar dengan uang karena sebuah mata yang sangat bernilai harganya.
"Iya Mahesa beritahu kepada kami,kami akan menemui mereka dan mengucapkan banyak terima kasih kepada orang itu karena sudah membantu nenek untuk melihat dunia lagi? Ucap ibunya,begitu juga ayahnya menimpali ucapan istrinya,mereka sangat penasaran siapa yang rela berkorban untuk nenek Elisabet.
__ADS_1
Dela dan juga Mahesa saling menatap mereka ragu-ragu untuk memberitahu kebenarannya,selama ini nenek Elisabet begitu benci kepada putri dan ayahnya begitu juga dengan Dela.
"Nenek maafkan aku,tapi sebelum aku cerita berjanjilah untuk tidak marah kepadaku,atau kepada istriku,sebenarnya kami sangat berat untuk memberi tahu kepada nenek,ingin sekali kami merahasiakannya dari nenek" Ucap Mahesa.Nenek dan kedua orangnya menatap aneh kepada Mahesa,
"Untuk apa nenek marah siapa pun itu aku akan berterima kasih kepada mereka,Bahkan aku akan memberikan apa pun yang mereka minta,karena mereka sudah berjasa kepadaku." Jawab nenek Elisabet.
"Nenek....Yang mendonorkan matanya adalah ayah angkat istriku,atau ayah kandung putri adiknya istriku." jawab Mahesa.Dan saat itu nenek Elisabet terdiam rasanya dia begitu terkejut mengetahui kebenarannya,dia sangat malu kepada Dela,Karena pada akhirnya mereka lah yang memberikan bantuan yang begitu besar kepadanya.
"Ayahnya mengalami kecelakaan,dan saat di bawa kerumah sakit dia tidak tertolong lagi,dan istriku menyuruh untuk memeriksa,matanya dan ternyata matanya sangat cocok untuk nenek,karena putri juga tidak keberatan akhirnya kita memutuskan untuk memberikan kepada mu nenek." Jawab Mahesa.Nenek Elisabet tampak syok,dia tidak menyangka jika orang yang selalu dia rendahkan akhirnya menjadi penolong untuknya.Dia begitu malu menatap Dela,rasanya dia tidak tau harus berbicara apa kepada istri dari cucunya itu.
"Nenek kenapa kamu diam,apa kamu marah,apa kamu tidak terima jika yang mendonorkan mata itu keluarga dari istrimu,nenek Tuhan menunjukkan segala kuasanya untukmu,saat orang yang kamu benci ternyata itu yang menolong mu." Ucap Mahesa memberikan nasihat kepada neneknya yang sudah menunduk malu.
__ADS_1
"Aku bukan marah tapi aku benar-benar malu kepada istrimu,rasanya aku seperti orang yang tidak mempunyai harga diri."Ucap nenek Elisabet dengan wajah menunduk.
**** bersambung***