
"Sayang bangun" , ucap Alexandria sambil berjalan menuju ke kasur dengan cepat dan menggoyangkan tubuh polos suaminya.
"Ada apa sayang? Ini kan hari libur dan aku masih mau tidur. Aku capek setelah bermain dengan kamu semalaman" , ucap Leonardo.
"Alberto meninggal dunia" , ucap Alexandria.
"Apa!!!" , ucap Leonardo yang terkejut dan langsung bangun , duduk di atas kasur.
"Iya , mama baru mengabari aku. Ayo cepat kita siap-siap ke rumah duka. Kita harus membeli peti mati dan mencari orang disana untuk membantu mempersiapkan segalanya" , ucap Alexandria.
"Baiklah sayang , ayo kita mandi dulu" , ucap Leonardo.
Alexandria dan Leonardo berjalan bersama dengan tubuh polos mereka menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka.
.
.
Yui san yang masih bersedih saat itu , langsung meletakkan ponselnya di atas kasur dan berlari menuju ke lemari untuk mengganti bajunya.
Yui san mengambil bajunya yang berwarna hitam dan menggunakannya disana.
Yui san juga mengambil jas yang dulu suka digunakan oleh Alberto dan memasukkannya ke dalam tas.
"Eh , aku belum mengabari papa" , ucap Yui san.
Yui san berjalan dengan cepat , mengambil ponselnya dan menyentuh nama papanya.
Papa Satoshi yang sedang duduk santai menikmati teh nya sambil memandangi pohon sakura yang ada di halaman rumahnya....
Begitu mendengarkan suara ponselnya berbunyi , papa Satoshi mengambil ponselnya yang di atas meja taman dan menjawabnya.
"Halo nak".
"Halo pa , Alberto pa" , ucap Yui san dengan terisak tangis.
"Ada apa dengan Alberto nak?" , tanya papa Satoshi yang tiba-tiba perasaannya gak enak mendengar suara anaknya.
"Alberto meninggal dunia pa" , ucap Yui san yang mulai menangis dengan keras disana.
"Kamu yang sabar dan tabah ya nak. Papa akan berangkat ke Singapura hari ini juga" , ucap papa Satoshi.
"Iya pa" , jawab Yui san.
Papa Satoshi langsung menghubungi kantor agen penerbangan untuk memesan tiket setelah memutuskan sambungan telpon dari Yui san.
Setelah memesan tiketnya , papa Satoshi berjalan masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke Singapura.
Yui san mulai menghubungi Kiehl untuk menjemputnya di lobby apartemen.
Setelah menelpon sopirnya , Yui san mendekati anaknya.
"Aniela sayang , papa sudah pergi meninggalkan kita berdua nak. Apa kamu sudah merasakan kalau papa akan pergi untuk selamanya , makanya kamu rewel terus?" , ucap Yui san kepada anaknya.
Filli pun ikut sedih mendengar kepergian dari suami nyonya bos nya.
"Filli , apa Aniela bisa aku bawa pergi untuk melihat papanya untuk terakhir kalinya?" , tanya Yui san dengan suara seraknya karena menangis.
__ADS_1
"Aniela belum berusia 3 bulan nyonya , jadi belum boleh dibawa keluar karena sangat rentan sekali" , ucap Filli.
"Baiklah , kalau gitu kamu tolong jaga Aniela dulu ya. Aku pasti akan sibuk untuk beberapa hari ini. Aniela kasih minum ASI yang sudah aku pompa dulu ya" , ucap Yui san.
"Baik nyonya" , jawab Filli.
Yui san berjalan mengambil tas nya dan keluar dari apartemen.
Sampai di lobby , Yui san sudah melihat mobilnya yang dibawa oleh Kiehl sudah ada disana.
Yui san langsung masuk ke dalam mobil.
"Kita ke rumah duka ya" , ucap Yui san.
"Siapa yang meninggal nyonya?" , tanya Kiehl.
"Alberto" , jawab Yui san.
Kiehl pun langsung terkejut mendengar bahwa tuan muda telah meninggal dunia.
"Saya turut berduka cita nyonya" , ucap Kiehl.
"Iya Kiehl" , jawab Yui san yang masih menitikkan air matanya disana.
********
Alexandria dan Leonardo yang sudah sampai di rumah duka , langsung memesan peti yang ditutupi oleh kaca di bagian kepalanya. Jadi semua orang masih bisa melihat wajah Alberto untuk terakhir kalinya.
Tidak lama mobil ambulance dan mobil papa Gerardo telah sampai di rumah duka.
Petugas ambulance menurunkan jenazah Alberto yang sudah ditutupi oleh kain putih itu ke dalam rumah duka.
"Belum ma" , jawab Alexandria.
"Kalau gitu kita tunggu sampai dia datang" , ucap mama Isabella.
Alexandria pun menganggukkan kepalanya.
Pengurus yang ada di rumah duka pun mulai siap-siap menyediakan semua perlengkapan disana.
Tidak lama Yui san pun datang.
"Pa...ma....kak..." , sapa Yui san.
"Iya nak. Apa kamu ada membawa baju Alberto?" , tanya mama Isabella.
"Ada ma" , jawab Yui san.
"Kalau gitu kamu pakaikan baju itu untuk terakhir kalinya di tubuh Alberto" , ucap mama Isabella.
Yui san membuka kain putih yang menutupi tubuh suaminya dan mulai memasangkan baju jas yang sudah dibawanya sambil menangis dan memanggil Alberto.
"Suamiku , kenapa kamu pergi secepat ini? Aku dan Aniela harus bagaimana setelah ini. Kenapa kamu jahat sama aku? Kenapa kamu meninggalkan aku? Kenapa?" , ucap Yui san sambil menangis disana.
"Sudah nak , kamu harus bisa menerimanya. Kita semua juga sebenarnya gak bisa menerima kepergian Alberto , tapi kita harus merelakannya nak. Kamu harus kuat ya" , ucap papa Gerardo mencoba menguatkan menantunya.
"Tapi aku belum bisa menerima semua ini pa. Kepergian Alberto ini terlalu cepat. Aku belum siap pa" , ucap Yui san dengan air mata yang berderai.
__ADS_1
"Ma , bantu Yui san memasangkan baju Alberto. Kayaknya Yui san gak sanggup memasangkannya" , ucap papa Gerardo.
"Gak pa , aku akan memasangkannya sendiri. Alberto suami aku. Aku yang harus memasangkan baju terakhir buat dia" , ucap Yui san.
Papa Gerardo dan mama Isabella pun hanya diam sambil menganggukkan kepalanya.
Meskipun agak lama , karena Yui san terus menumpahkan emosinya disana , tapi akhirnya Yui san selesai juga memasangkan baju Alberto.
Alexandria hanya menangis dalam pelukan suaminya melihat Yui san yang terus berteriak memanggil Alberto dengan penuh air mata diwajahnya.
"Sudah nak , Alberto sudah tenang disana. Mungkin ini yang terbaik buat Alberto" , ucap papa Gerardo yang mulai mendekatkan kursi rodanya dan memeluk tubuh Yui san.
"Tapi ini bukanlah yang terbaik buat aku dan Aniela pa" , ucap Yui san.
"Papa tau semua ini pasti berat untuk kamu , tapi kita semua harus bisa menerimanya nak" , ucap papa Gerardo.
Yui san masih terus menangis disana , sampai orang pengurus rumah duka membantu memasukkan tubuh Alberto ke dalam peti yang sudah diminta oleh Alexandria.
Setelah itu dimulai dengan doa yang dipimpin oleh pendeta yang sudah diminta untuk datang kesana.
.
.
Tidak butuh waktu lama , berita kematian Alberto Fernandes telah terdengar oleh teman dan rekan bisnis mereka di Singapura.
Hari semakin sore , teman dan rekan bisnis pun mulai banyak yang berdatangan kesana untuk mengucapkan turut berduka cita.
Sebagian dari mereka memberikan dukungan moril kepada keluarga dan sebagian lagi mulai menanyakan bagaimana nasib perusahaan setelah ini.
Papa Gerardo yang masih bersedih saat itu tidak mau menjawab pertanyaan rekan-rekan bisnisnya dan hanya mendengarkan apa yang di ucapkan oleh rekan bisnisnya disana.
Tidak lama , papa Gerardo berjalan masuk ke ruangan untuk istirahat yang disediakan di rumah duka dan mengeluarkan ponselnya disana.
Papa Gerardo mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu nama Mathew.
Papa Gerardo menyentuh nomor yang sesuai dengan nomor yang ada di kartu nama tersebut.
Tidak lama terdengar suara dari sana.
"Halo" , jawab Mathew.
"Halo nak , ini papa" , ucap papa Gerardo.
"Iya pa , ada apa pa?" , tanya Mathew.
"Adik kamu Alberto telah meninggal dunia pagi ini. Papa sangat berharap agar kamu bisa mempertimbangkan untuk kembali kesini lagi" , ucap papa Gerardo.
Mathew yang terkejut mendengarkan berita kematian adiknya hanya bisa menjawab....
"Iya pa".
"Baiklah , kalau gitu papa tunggu kamu disini ya" , ucap papa Gerardo.
"Iya pa" , jawab Mathew.
Setelah itu papa Gerardo memutuskan sambungan telponnya.
__ADS_1
Mathew hanya duduk terdiam setelah mendapatkan telpon dari papanya.