Hamil Diluar Nikah

Hamil Diluar Nikah
Episode 241


__ADS_3

Papa Satoshi mengetuk pintu kamar Yui san dan memanggil anaknya , tapi tidak ada suara di dalam.


"Kemana lagi anak ini?" , gumam papa Satoshi sambil membuka pintu kamar.


Begitu papa Satoshi melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar , mata papa Satoshi langsung membulat karena terkejut melihat Yui san yang sudah berwajah pucat dan tidak sadarkan diri di sofa dengan darah yang mengalir dengan sangat banyak dari pergelangan tangannya.


Papa Satoshi langsung berlari mendekati tubuh anaknya dan tidak menghiraukan lagi cucunya Aniela yang masih menangis disana.


"Rei san" , teriak papa Satoshi dengan suara keras , sambil mencari kain yang bisa digunakan untuk menutupi luka yang ada di pergelangan tangan Yui san.


"Iya tuan" , jawab Rei san yang langsung meninggalkan pekerjaannya dan berlari menuju ke arah suara yang memanggilnya.


Begitu Rei san masuk ke dalam kamar Yui san , Rei san langsung terkejut sambil menutup mulutnya yang sudah terbuka lebar dengan tangannya.


"Apa yang terjadi dengan nona Yui san , tuan?" , ucap Rei san.


"Aku gak tau kenapa Yui san mencoba bunuh diri. Kamu bilang kepada Kenzo untuk menyiapkan mobil sekarang. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit" , ucap papa Satoshi sambil mengikat kain di pergelangan tangan Yui san.


"Baik tuan" , ucap Rei san yang langsung berlari keluar dan mencari Kenzo supir pribadi tuan Satoshi.


Papa Satoshi mencoba mengangkat tubuh anaknya , tapi apalah daya. Usianya yang semakin tua , membuat dia tidak sanggup untuk mengangkat anaknya sendiri.


"Mobilnya sudah siap tuan" , ucap Rei san yang sudah kembali ke dalam.


"Kamu bantu saya angkat Yui san dan membawanya ke dalam mobil" , ucap tuan Satoshi.


Tuan Satoshi dan Rei san mengangkat tubuh Yui san sampai ke mobil.


"Kamu jaga Aniela ya" , ucap papa Satoshi.


"Baik tuan" , ucap Rei san.


"Ayo cepat ke rumah sakit" , ucap papa Satoshi.


Kenzo membawa mobil dengan kecepatan yang tinggi di jalanan yang cukup ramai pagi itu.


"Buka mata kamu nak. Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini?" , ucap papa Satoshi dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi.


Papa Satoshi terus menepuk wajah anaknya yang sudah berwarna putih itu.


Sampai mobil yang dibawa oleh Kenzo telah sampai di depan lobby rumah sakit.


Kenzo meminta satpam yang ada disana untuk memanggilkan perawat , untuk membantu mereka.


"Tolong pak , kondisi nona kami sangat sekarat" , ucap Kenzo.


"Baiklah" , satpam tersebut langsung berjalan ke dalam , memanggil salah satu perawat dan membawakan ranjang pasien ke depan pintu lobby.


"Apa yang terjadi dengan putri anda?" , tanya perawat tersebut setelah tubuh Yui san di letakkan di atas ranjang pasien.


"Dia memotong nadi di pergelangan tangannya" , jawab papa Satoshi.

__ADS_1


Perawat tersebut mendorong ranjang pasien dengan cepat sampai masuk ke ruangan UGD.


Tidak lama , dokter dan perawat yang lainnya datang untuk memeriksa kondisi Yui san.


"Pasien sudah terlalu banyak kehilangan darah. Pasien golongan darah apa?" , tanya dokter tersebut kepada papa Satoshi yang masih berdiri di sana.


"AB negatif dokter" , jawab papa Satoshi.


"Cepat ambil persediaan darah AB negatif" , ucap dokter kepada salah satu perawat disana.


Perawat tersebut menganggukkan kepalanya sambil berjalan dengan cepat untuk mengambil darah AB negatif yang tersedia di rumah sakit.


Setelah mendapatkannya , perawat tersebut membawa kantong darah itu ke ruang UGD.


"Dokter , hanya tinggal satu kantong ini saja" , ucap perawat tersebut.


"Kamu cepat hubungi PMI dan minta darah AB negatif secepatnya" , ucap dokter itu sambil mengambil kantong darah dan memasangkannya di tubuh Yui san.


"Baik dokter" , jawab perawat tersebut sambil berjalan keluar.


"Anak saya sedang dalam kondisi hamil dokter. Apakah anak yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja?" , ucap papa Satoshi.


"Nanti kita periksa ya tuan , sekarang lebih baik kita fokus dengan kondisi putri anda dulu" , ucap dokter tersebut.


"Baiklah" , ucap tuan Satoshi sambil diam dan melihat anaknya di pasangi alat oleh tim medis.


"Sekarang kita tunggu sampai anak tuan sadar dulu ya" , ucap dokter tersebut setelah selesai melakukan tindakan terhadap Yui san.


Tuan Satoshi duduk di kursi yang ada di samping ranjang anaknya.


Dengan wajahnya yang sudah mulai berkerut dan memperlihatkan banyak garis disana , terus memandangi putrinya yang sangat disayanginya.


Putrinya yang dulu sangat baik dan ceria , entah sejak kapan mulai berubah menjadi seorang wanita yang keras dan bertindak sesuka hatinya.


......................


Di Jakarta....


"Sayang , besok aku berangkat ke Kalimantan. Kamu dan anak-anak mau ikut gak?" , tanya Kevin yang sedang dipasangkan kancing baju kemejanya sama Julie istri tercintanya.


"Kenrich belum berusia satu tahun , aku rasa jangan dibawa pergi-pergi dulu" , ucap Julie.


"Tapi kali ini aku agak lama berangkatnya , bisa 3 minggu. Aku pasti akan sangat merindukan kalian" , ucap Kevin.


"Nanti kita coba tanya mama dulu ya , aku takut kalau nanti terjadi apa-apa sama Kenrich. Kenrich kan tubuhnya agak lemah. Dia sangat sering terkena demam" , ucap Julie.


"Iya juga ya sayang , kalau gitu aku pergi sendiri saja" , ucap Kevin.


"Iya" , jawab Julie.


Setelah Kevin rapi dengan baju kerjanya , Julie dan Kevin keluar dari kamar dan berjalan bersama menuju ke meja makan.

__ADS_1


"Cucu opa sudah bangun ya" , ucap papa Chandra yang melihat Julie turun sambil menggendong Kenrich.


"Iya , sudah pa" , jawab Julie.


"Sini sama opa" , ucap opa Chandra.


Julie memberikan Kenrich kepada papa mertuanya.


Opa Chandra membawa Kenrich ke taman belakang sekalian untuk berjemur pagi itu.


Tidak lama Christian yang sudah selesai mandi dan wangi , berjalan turun ke bawah bersama dengan bu Sri.


"Ma...pa...oma" , ucap Christian.


"Iya nak , kamu sudah bangun" , ucap Julie.


"Sudah ma , sudah mandi juga" , jawab Christian.


"Pintar sekali , sini duduk di sebelah oma" , ucap oma Farah sambil tersenyum.


Christian hanya tersenyum dan berjalan menuju ke kursi yang ada di sebelah oma Farah.


Bu Sri membantu mengangkat tubuh Christian yang masih kecil itu ke atas kursi.


Julie mulai membuatkan roti dengan selai coklat dan meletakkannya di atas piring Christian.


Christian yang sudah mulai terbiasa makan sendiri itu pun mengambil rotinya dan memasukkannya ke dalam mulut mungil yang dimilikinya.


"Enak gak rotinya" , goda oma Farah.


"Enak oma. Oma mau?" , ucap Christian yang memang tidak pelit kepada siapa pun.


"Gak sayang , oma sudah kenyang makan bihun goreng" , ucap oma Farah sambil tersenyum.


Setelah beberapa waktu , Kevin sudah selesai makan dan berdiri dari kursinya sambil membawa tas kerjanya.


"Aku ke kantor dulu ya ma" , ucap Kevin.


"Iya nak , hati-hati di jalan" , ucap mama Farah.


"Iya ma" , jawab Kevin.


Kevin berjalan mendekati anaknya dan menciumi kening Christian.


"Papa pergi kerja dulu ya , Christian gak boleh nakal" , ucap Kevin.


"Iya pa" , jawab Christian sambil memakan rotinya.


Julie mengantarkan Kevin sampai keluar rumah. Setelah rutinitas ciuman yang selalu dilakukan mereka berdua sebelum Kevin berangkat kerja selesai. Kevin berjalan menuju ke mobilnya.


Julie melihat sampai mobil Kevin sudah jalan , baru dia masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2