
Papa Gerardo yang sedang berada di rumahnya yang megah itu , terus memikirkan ucapan dokter Peter.
"Apa aku harus membawa wanita itu menemui Alberto? Tapi aku dari awal sudah gak bisa menerima wanita itu. Kenapa Alberto sampai dia koma pun hanya bisa merespon setelah mendengar wanita itu?" , ucap Gerardo dalam hatinya.
"Kenapa papa duduk disana? Apa yang sedang papa pikirkan?" , tanya mama Isabella yang melihat suaminya duduk diam di depan jendela kamar mereka.
"Aku sedang memikirkan keadaan anak kita Alberto ma. Sampai sekarang kenapa dia belum bangun juga? Mana dokter Peter mengatakan bahwa fungsi organ di dalam tubuhnya sudah mulai menurun" , ucap papa Gerardo.
"Apakah itu berarti kita akan kehilangan anak kita pa?" , tanya mama Isabella yang cukup terkejut mendengar kondisi anaknya.
"Bisa dibilang seperti itu ma. Tapi ketika aku menyebutkan wanita itu , dari mata Alberto keluar air mata ma" , ucap papa Gerardo.
"Gak mungkin pa , gak mungkin , papa pasti salah lihat" , ucap mama Isabella.
"Gak mungkin papa salah lihat ma , jelas-jelas papa yang mengucapkannya dan melihatnya dengan mata papa sendiri" , ucap papa Gerardo.
"Jadi bagaimana sekarang pa? Apa papa mau meminta wanita itu untuk melihat Alberto?" , tanya mama Isabella.
"Papa belum tau ma , papa masih memikirkannya" , ucap papa Gerardo.
"Tapi kalau nanti ketika wanita itu datang dan ternyata Alberto bangun dari tidurnya selama ini. Apa papa akan membiarkan Alberto bersama dengan wanita itu? Bagaimana dengan Yui san dan Aniela anak mereka pa?" , ucap mama Isabella.
"Papa juga sebenarnya pusing ma. Dokter Peter juga bilang belum tentu dengan kehadirannya bisa membuat Alberto sembuh , bahkan bisa sebaliknya" , ucap papa Gerardo.
"Maksudnya pa? Apakah Alberto akan meninggalkan kita semua setelah wanita itu datang?" , tanya mama Isabella.
"Ada kemungkinan seperti itu ma" , ucap papa Gerardo dengan lirih.
"Kalau gitu biarkan saja Alberto seperti ini pa. Siapa tau nanti dia mulai bangun dari tidurnya yang panjang. Untuk apa kita membawa wanita itu kalau hanya untuk membiarkan Alberto pergi untuk selamanya" , ucap mama Isabella.
"Tapi kondisi Alberto ma , kondisinya yang tidak memungkinkan" , ucap papa Gerardo.
"Atau Alberto kita pindahkan ke rumah sakit yang lebih bagus pa?" , ucap mama Isabella.
"X Hospital sudah rumah sakit yang terbaik di negara ini ma. Mama mau membawa Alberto kemana lagi?" , ucap papa Gerardo.
"Atau kita bawa ke luar negeri pa" , ucap mama Isabella.
"Gak mungkin ma. Papa juga sebenarnya belum rela anak kita pergi meninggalkan kita. Tapi mendengar kondisinya dari dokter Peter papa juga gak bisa berbuat apa-apa. Dokter Peter meminta papa untuk mencoba membawa wanita itu kepada Alberto" , ucap papa Gerardo.
"Apakah papa mau memohon kepada wanita itu? Bukankah kata Alexandria wanita itu sudah menikah dengan pria lain di Indonesia dan gak mau dengan anak kita lagi" , ucap mama Isabella.
__ADS_1
"Iya ma , papa juga sedang berpikir sekarang. Papa juga sebenarnya gak mau menemui wanita itu" , ucap papa Gerardo.
"Tapi ada anak Alberto dengan wanita itu pa" , ucap mama Isabella.
"Kalau kita mengambil anaknya , Yui san kan sudah bilang gak mau menjaga anak yang bukan anaknya ma" , ucap papa Gerardo.
"Tapi itu kan cucu kita pa" , ucap mama Isabella.
"Tapi kan kita yang gak menerima hubungan mereka ma. Kalau anaknya kita ambil , apa mama mau menjaga anak itu?" , ucap papa Gerardo.
"Mama gak mau la pa" , ucap mama Isabella.
"Makanya jangan memaksa untuk mengambil anaknya dulu. Papa aja juga masih belum tentu akan meminta dia untuk melihat Alberto" , ucap papa Gerardo.
"Iya pa , gak mungkin kita memohon di depan wanita yang gak sebanding dengan keluarga kita" , ucap mama Isabella.
Papa Gerardo pun menganggukkan kepalanya.
********
Alexandria yang sedang bekerja di perusahaan , mendapatkan telpon dari Hesti perawat yang menjaga anaknya.
"Halo nyonya , Salvio kejang-kejang dan demam lagi" , lapor Hesti.
"Kamu kan bisa mengatasinya , sekarang saya sedang sibuk di kantor" , ucap Alexandria.
"Baik nyonya" , jawab Hesti sambil memutuskan sambungan telponnya.
"Awalnya aku disuruh melaporkan semua tentang keadaan Salvio , sekarang sejak nyonya Alexandria sudah bekerja , sepertinya anaknya juga gak di pedulikan. Nyonya selalu pergi pagi dan pulang larut malam. Melihat anaknya saja juga sudah mulai jarang sekarang" , ucap Hesti.
Salvio anak yang kuat dan baik , pasti Salvio bisa melewati semua ini ya. Hesti akan menjaga Salvio dengan baik, seperti anak Hesti sendiri.
Hesti terus memeriksa kening Salvio sampai sore hari , akhirnya demam Salvio sudah turun.
Leonardo yang sudah pulang kerja saat itu , langsung menuju ke kamar anaknya.
"Bagaimana keadaan Salvio hari ini Hesti?" , tanya Leonardo.
"Hari ini Salvio demam dan kejang-kejang tuan" , ucap Hesti.
"Apa Alexandria pulang melihat Salvio?" , tanya Leonardo.
__ADS_1
"Saya sudah memberitahukan keadaan Salvio kepada nyonya , tapi nyonya mengatakan bahwa nyonya sedang sibuk di kantor" , jawab Hesti.
Leonardo pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat anaknya.
Leonardo menggendong anaknya dan dia pun mencium kening anaknya.
"Sekarang bagaimana keadaan Salvio?" , tanya Leonardo.
"Sore ini demamnya sudah turun tuan" , jawab Hesti.
"Baiklah" , jawab Leonardo.
Leonardo menggendong anaknya sebentar , setelah itu dia meletakkan kembali anaknya di atas kasur dan berjalan keluar menuju ke kamarnya.
Leonardo mengeluarkan ponselnya dan menyentuh nama istrinya di layar ponselnya.
Alexandria yang masih mengerjakan pekerjaannya di kantor , melihat suaminya yang menelpon , dia pun mengangkatnya.
"Halo sayang" , jawab Alexandria.
"Halo sayang...Kenapa kamu gak pulang? Ini sudah mau jam makan malam" , ucap Leonardo.
"Kamu makan malam sendiri aja ya sayang , pekerjaan aku masih banyak" , jawab Alexandria.
"Sekarang aku perhatikan kamu lebih mementingkan perusahaan papa kamu dari pada anak dan suami kamu ya" , ucap Leonardo yang mulai tidak suka kalau istrinya selalu pulang malam sejak mengurus perusahaan papanya.
"Mau bagaimana lagi sayang? Alberto belum bangun juga dari tidurnya dan aku yang harus menjalankannya. Kalau gak aku yang menjalankan perusahaan papa aku , siapa lagi yang bisa menjalankannya?" , ucap Alexandria.
"Bukankah Yui san anaknya lahir dengan normal dan sehat. Kenapa bukan dia yang menjalankan perusahaan papa. Dia kan istri sah nya Alberto dan menantu kesayangan orang tua kamu. Harusnya dia dong yang menjalankan perusahaan orang tua kamu" , ucap Leonardo.
"Untuk perusahaan keluarga mana boleh dipegang oleh menantu , harus anak kandung dong sayang" , ucap Alexandria yang gak mau perusahaan papanya jatuh ke tangan iparnya.
Alexandria yang mengetahui kondisi Alberto yang sudah mulai menurun pun gak rela kalau perusahaan milik orang tuanya jatuh ke tangan Yui san , makanya Alexandria bela-belain kerja dari pagi sampai malam demi perusahaan menjadi miliknya.
"Ya sudah , tapi kamu harus tau waktu juga. Jangan karena kamu keasikan kerja , kamu melupakan anak dan suami kamu" , ucap Leonardo.
"Gak mungkin aku melupakan kamu dan anak kita. Aku selalu mencintai kalian berdua" , jawab Alexandria.
"Ya sudah , aku mau mandi dulu. Kamu pulangnya jangan larut malam lagi ya" , ucap Leonardo.
"Baiklah sayang" , jawab Alexandria sambil memutuskan sambungan telponnya.
__ADS_1