
Setelah selesai sarapan pagi , papa Gerardo dan mama Isabella pergi ke rumah sakit diantarkan oleh Ethan sopir pribadinya.
Papa Gerardo dan mama Isabella masuk bersama ke ruangan ICU.
Papa Gerardo melihat tubuh anaknya yang sudah semakin kurus disana , bisa dibilang yang tertinggal hanyalah tulang yang dibaluti dengan kulit.
"Nak , maafkan papa ya. Papa sudah mencari mantan kekasih kamu , tapi papa gak bisa membawa dia untuk menemui kamu. Kamu cepat bangun nak , istri dan anak kamu sangat membutuhkan kamu" , ucap papa Gerardo di samping anaknya dengan menitikkan air matanya.
"Kamu bangun Alberto , Yui san dan Aniela sangat membutuhkan kamu. Kamu jangan berharap wanita itu akan datang , tidak ada gunanya , dia sudah sangat bahagia disana" , ucap mama Isabella.
Tiba-tiba keluar setitik air mata dari samping mata Alberto yang tertutup dan tidak lama terdengar suara alat yang berbunyi....
Tiiiiiitttttttttttttttttttt.......
Monitor pun menunjukkan satu garis lurus disana.
"Alberto bangun nak , bangun" , ucap papa Gerardo dan mama Isabella yang sangat takut kehilangan anaknya itu.
Tidak lama suster pun datang kesana.
"Cepat panggil dokter Peter" , ucap salah satu suster disana.
"Maaf tuan dan nyonya tolong tunggu di luar dulu ya" , ucap suster lainnya.
"Tolong selamatkan anak saya ya suster" , ucap mama Isabella.
"Iya nyonya , kami akan mencobanya. Tolong tuan dan nyonya keluar dulu ya" , ucap suster tersebut.
Papa Gerardo dan mama Isabella hanya bisa pasrah berjalan keluar dari ruangan ICU dan menyerahkan semuanya kepada dokter dan suster yang ada disana.
Dokter Peter yang sudah sampai di ruangan ICU , langsung menggunakan alat kejut jantung.
Dokter Peter terus mencoba dan mencoba , setelah beberapa saat tetap tidak membuat jantung Alberto kembali berdetak.
Dokter Peter pun mengumumkan kematian Alberto pada saat itu.
Suster yang ada disana mulai membuka alat-alat dan selang yang ada di tubuh Alberto pada saat itu.
Dokter Peter berjalan keluar menemui papa Gerardo dan mama Isabella.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" , tanya mama Isabella setelah melihat dokter Peter berjalan keluar dari ruangan ICU.
"Maaf nyonya , kami sudah berusaha semampu kami , tapi anak anda telah meninggal dunia" , ucap dokter Peter.
"Gak mungkin , gak mungkin dokter. Anak saya gak mungkin meninggal. Tolong lakukan yang terbaik , berapapun biayanya akan kami bayar , asalkan Alberto bisa sembuh dari sakitnya" , ucap mama Isabella sambil menitikkan air matanya.
Papa Gerardo hanya bisa terdiam dan menitikkan air matanya disana.
"Maaf nyonya , kami sudah melakukan semua yang terbaik untuk anak anda , tapi Tuhan berkata lain. Kami dari pihak rumah sakit juga ikut berduka cita atas meninggalnya anak anda" , ucap dokter Peter.
"Gak mungkin dokter , gak mungkin , anak aku masih muda , gak mungkin pergi secepat ini" , ucap mama Isabella dengan wajah yang sudah di penuhi oleh air mata.
__ADS_1
"Sudah ma , mungkin ini yang terbaik buat Alberto. Kita harus merelakannya kepergiannya ma" , ucap papa Gerardo yang sebenarnya juga belum bisa menerima kenyataan itu.
"Tapi mama belum sanggup kehilangan Alberto pa" , ucap mama Isabella.
"Maaf tuan , nanti jenazah Alberto setelah dimandikan mau dibawa kemana? Biar saya bantu menguruskan dari rumah sakit" , ucap dokter Peter.
"Ke rumah duka saja dokter" , ucap tuan Gerardo.
"Baiklah saya pergi dulu buat mengurus semuanya" , ucap dokter Peter.
"Terima kasih dokter" , ucap tuan Gerardo.
"Iya tuan , sama-sama" , jawab papa Gerardo.
"Ma , mama harus mengabari berita ini kepada Alexandria dan Yui san" , ucap papa Gerardo.
"Iya pa" , jawab mama Isabella dengan tangan yang bergetar mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
Mama Isabella menyentuh nama Yui san yang ada di layar ponselnya terlebih dahulu.
Yui san yang sedang pusing mengurus anaknya yang menangis tidak berhenti dari tadi , mendengarkan ponselnya berbunyi....
"Filli , kamu tolong jawab ponsel saya" , ucap Yui san yang sedang mencoba menenangkan anaknya yang menangis terus dari tadi gak berhenti.
"Baik nyonya" , jawab Filli.
Filli mengambil ponsel Yui san dan menjawabnya.
"Halo Filli mana Yui san?" , ucap mama Isabella.
"Nyonya Yui san sedang menenangkan Aniela yang sedang menangis nyonya besar" , jawab Filli.
"Kamu cepat berikan ponselnya kepada Yui san , ada berita penting yang harus saya sampaikan kepadanya" , ucap mama Isabella.
"Baik nyonya besar" , jawab Filli.
Filli berjalan mendekati nyonya Yui san.
"Nyonya ada hal penting yang mau disampaikan oleh nyonya besar" , ucap Filli sambil memberikan ponsel Yui san.
"Ada apa lagi? Mana Aniela juga gak diam-diam dari tadi" , ucap Yui san sambil mengambil ponselnya dari tangan Filli.
.
.
"Halo ma" , jawab Yui san.
"Halo Yui san , Alberto meninggal dunia" , ucap mama Isabella.
"Apa ma!!! Gak mungkin kan , aku salah dengar kan ma. Semua ini gak benar kan ma" , ucap Yui san yang gak percaya dengan ucapan mama mertuanya.
__ADS_1
Filli yang melihat reaksi Yui san , langsung mengambil Aniela yang sedang berada di tangan Yui san.
"Iya nak , mama sendiri yang melihat Alberto meninggal dunia. Sekarang mama dan papa juga di rumah sakit untuk mengurus semuanya. Kamu bersiap-siap dan pergi ke rumah duka ya" , ucap mama Isabella.
"Gak mungkin ma. Gak mungkin" , ucap Yui san dengan air mata yang semakin deras membasahi wajahnya.
"Mama juga gak bisa menerima kepergian Alberto nak , tapi kita juga gak bisa berbuat apa-apa nak. Mama dan papa tunggu di rumah duka ya" , ucap mama Isabella.
"Iya ma" , ucap Yui san.
Setelah memutuskan sambungan telpon dengan Yui san , mama Isabella menelpon anaknya Alexandria.
Alexandria yang mendengarkan suara ponselnya berbunyi , baru bangun dari tidurnya setelah semalaman melayani suaminya.
Alexandria turun dari kasur dan berjalan dengan tubuh polosnya menuju ke meja rias , karena ponselnya diletakin disana.
"Halo ma" , jawab Alexandria.
"Halo Alexandria , Alberto telah meninggal dunia" , ucap mama Isabella.
"Apa ma!!! Kapan?" , tanya Alexandria yang terkejut saat itu.
"Baru pagi ini nak" , ucap mama Isabella dengan suara terisak tangis disana.
"Sekarang Alberto dimana ma?" , tanya Alexandria.
"Sekarang masih di mandikan di rumah sakit. Tapi setelah ini jenazahnya akan dibawa ke rumah duka" , ucap mama Isabella.
"Kalau gitu aku dan Leonardo menunggu di rumah duka saja ya ma" , ucap Alexandria.
"Iya nak" , ucap mama Isabella sambil memutuskan sambungan telponnya.
Setelah selesai mengabari anak dan menantunya , mama Isabella dan papa Gerardo pergi ke bagian administrasi untuk menyelesaikan pembayarannya.
Tidak lama dokter Peter pun datang dan mengatakan bahwa dia sudah membantu menghubungi rumah duka dan jenazah Alberto juga sudah selesai di mandikan.
"Baiklah dokter , terima kasih" , ucap papa Gerardo.
"Iya tuan , sama-sama. Sekali lagi saya turut berduka cita atas kepergian anak anda" , ucap dokter Peter.
"Iya dokter" , ucap papa Gerardo.
Papa Gerardo dan mama Isabella berjalan keluar setelah semua biaya administrasi di selesaikan.
Setelah melihat jenazah Alberto dimasukkan ke dalam mobil ambulance , mama Isabella dan papa Gerardo masuk ke dalam mobil dan minta Ethan untuk mengikuti mobil ambulance ke rumah duka.
"Siapa yang meninggal tuan besar?" , tanya Ethan.
"Alberto" , jawab tuan Gerardo.
Ethan terkejut mendengar beritanya , tapi dia tetap fokus menjalankan mobil , mengikuti mobil ambulance yang jalan didepannya.
__ADS_1