
Disebuah pesta mewah, Rain tampil cantik dan anggun dengan menggunakan dress berwarna biru muda. Saat ini ia bahagia sekali karena bisa berdansa dengan Pangeran yang paling tampan dan merupakan idaman para wanita.
Rain dan sang pangeran terlihat sangat serasi dengan pakaian senada. Melangkahkan kaki mengikuti alunan musik romantis. Mata mereka saling menatap dalam hingga menusuk kedalam hati. Wajah mereka semakin dekat hampir tidak ada jarak. Oh tidak, bibir seksi sang Pangeran menyentuh bibir Rain membuatnya memejamkan mata menikmati sentuhan bibir sang Pangeran.
"Mengapa bibir pangeranku sanggat panas?" batin Rain.
Tapi Rain tidak menghiraukan itu. Lama mereka berciuman hingga bibir Rain terasa kebas dan nafasnya terasa sesak. Rain membuka matanya,
"Aaaaaaaaaaaaaaaa", teriak Rain kaget.
"Kenapa mama tega sekali meletakkan gelas kopi mama ke bibir Rain, dower ma jadinya nih, gak kasihan apa?", keluh Rain pada sang mamanya yang usil.
"Lah, salahkan bibirmu kenapa manyun-manyun gitu. Makanya, cari suami. hahaha." tawa mama meledak melihat muka cemberut anaknya.
"Mamaaaaa, aku tu masih kuliah dan mama tau sendiri aku lagi menunggu jodoh masa kecilku kembali." manja Rain memeluk lengan sambil mencium pipi mamanya.
"Ih, jorok ih dek. mandi sana, udah jam 6 nih. nanti telat lagi kuliahnya. Habis itu sarapan, mama tunggu."
Mama Wulan pun keluar dari kamar putri bungsunya yang manja itu.
Rain menghembuskan nafasnya dan mengusap wajahnya "Ahhhh, cuma mimpi. Mama ih, gangguin aja orang lagi enak-enakan ciuman sama...(Rain berfikir) sama siapa ya tadi? aaakh lupa lagi kan. Sepertinya wajah itu sama dengan wajah yang muncul dalam dua kali mimpiku sebelumnya. Yah sudah lah, mimpiiii kapaan kamu jadi nyata?"Rein memanggil mimpi.
Rain bangun dari kasur ternyamannya dan pergi mandi, sambil bernyanyi.
Sekilas tentang Rain: Ariana Kheyla Cahyaguna yang akrab disapa Rain merupakan seorang gadis berumur 20 tahun. Bentukan wajahnya sangat cantik, perpaduan muka papanya yang tanpan dan mamanya yang cantik. Rain orang yang sangat ceria, baik hati, dan tidak sombong. Keramahannya membuat semua orang yang kenal dengannya merasa sangat nyaman.
Setelah mandi, Rain menggunakan baju kemeja dan celana jeans andalannya. Rambut dikuncir satu keatas, tak lupa kaca mata hitam dan ransel pemberian sang papanya dua tahun lalu, dan setiap hari digunakannya. Dandanannya yang simple, tak ada memberi kesan feminim sedikitpun. Itulah Rain, tampil hampir menyerupai laki-laki. Untung wajahnya cantik, jadi gak buruk-buruk amatlah. hehehe
"Morning Ma, morning Pa" sapa Rain sambil berlari menuju meja makan yang di sana sudah menunggu mama Wulan dan papa Reza, orang tuanya Rain.
"Pagi juga anak manja" jawab sang kakak tiba-tiba muncul dari belakang Rain sambil mengacak rambut Rain.
"iiiiih, ini nih ma, pa, yang buat aku pagi-pagi udah berantakan" mama Wulan dan Papa Reza tersenyum menyaksikan perdebatan dua buah hatinya.
"Wahai Ariana Kheyla Cahyaguna, Kamu memang berantakan. Penampilan macam apa ini? Sakit mata kakak melihatmu tiap hari". Jawab Roni sang kakak.
"Kakak, panggil aku Rain saja, jangan ribet-ribet. masih pagi ini, baru juga pemanasan." Rain memasang muka sebal mendengar keluhan kakaknya yang hampir sama setiap pagi, dan dia ingin selalu di panggil Rain, karena itu mampu membangkitkan mood nya setiap pagi.
Mama dan Papanya pun sudah lelah untuk memberi tahu sang putri kesayangannya itu tentang penampilan dan nama yang ia banggakan itu. Jadi mereka hanya diam saja. Mereka berfikir, nanti seiring waktu juga akan berubah dengan sendirinya.
Sarapan pagi berlangsung di ruang makan kediaman keluarga Areza Cahyaguna itu dengan segala macam perdebatan sang anak. Seusai sarapan, Rain membantu mama Wulan untuk membersihkan meja makan dan mencuci piring. Ini merupakan kebiasaan rutin Rain yang di ajarkan mamanya. Setelah itu ia berlari ke garasi mobil dan pamit dengan mama papanya. Sedangkan kakaknya sudah berangkat kerja 10 menit yang lalu.
__ADS_1
"Rain, nanti malam jangan kemana-mana. Kita makan malam bersama keluarga sahabat papa." Tiba-tiba papa Reza berbicara.
"Tapi pa,.." bantah Rain.
"Gak ada tapi-tapian, kamu itu keluyuran aja taunya. Tolong jangan malu-maluin papa"
"Bukan gitu, pa.."
Dibalas papanya denga tatapan mata tajam tak mau di bantah.
"Iya, pa." Pasrah Rain.
Pupus sudah rencananya buat berkumpul sama teman-temannya. Ia juga paham apa maksud kedatangan sahabat papanya itu.
Ia pun melajukan mobilnya menuju kampus.
Diperjalanan ia mampir di toko untuk membeli pena dengan gantungan bunga mawar kecil kesukaanya.
Keluar dari toko itu ia lupa dimana meletakkan kunci mobilnya. Memang dasar si Rain pelupa.
Langkahnya berhenti mencari kunci mobil di dalam ranselnya. Tiba-tiba tubuh kekar seseorang menubruk tubuhnya hingga Rain terjatuh dan sebagian isi tasnya berceceran.
"Auuuu" Lutut Rain terbentur dengan lantai luar toko.
"Resek, Gua sumpahin lu kecebur di empang." teriak Rain.
Laki-laki itu tak menghiraukan teriakan dari suara cempreng Rain.
"Dasar cowok gak ada akhlak, udah nabrak gua, bantu pun kagak. Wajah aja tampan, tapi gak punya hati." omel Rain dan tanpa sadar mengakui ketampanannya.
Ia pun memasukkan kembali barang yang tercecer dan juga menemukan kuncinya ternyata di saku celananya. Ia memutar matanya malas. Nih kunci juga diem aja, ngomong kek kalau dia duduknya di saku celana, kan gak perlu aku nyari sampai keseruduk sama banteng, huh. omel Rain
Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir dan masuk. Di dalam mobil ia melihat laki-laki yang menabraknya tadi sedang berbicara dan memberikan sesuatu kepada anak kecil.
Seketika ia melihat ada genangan air di jalan gak jauh dari laki2 itu berdiri. muncul ide cemerlang Rain.
"Kini saatnya aku beraksi, bersiap-siaplah tuan menjengkelkan" Rain berbicara sendiri, senyum smirk tercipta di bibirnya.
Tak lama anak kecil meninggalkan laki-laki itu.
Rain tidak membuang kesempatan emas ini, ia langsung melajukan mobilnya dan menabrak genangan air itu hingga membasahi muka tampan dan pakaian bersih nan rapi si tuan menjengkelkan (julukan dari Rain).
__ADS_1
byurrrrr....
Laki-laki itu mematung, kesal, marah, dan melihat ke arah mobil Rain yang baru saja berhenti untuk melihat kondisi sang mangsa.
Rain menurunkan kaca mobil dan mengeluarkan setengah tubuhnya.
"Rasain lu tuan menjengkelkan, sudah ku kabulkan sumpahku tadi kepadamu. Genangan itu sebagai ganti empangnya. Gimana, enak gak minum teh alami di pagi hari? hahahaha." Teriak Rain kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu melihat Rain dengan wajah merah padam menahan amarah.
Rain Langsung menginjak pedal gas mobilnya menjauh dari tuan menjengkelkan itu. Takut di kejar katanya, hehehe
Sampainya di kelas, dia di sambut dengan ocehan sahabatnya, Ica.
"Eh, Rain. Kenapa lo telat? Nemuin skandal apalagi lo? sudah la Rain, lo jangan ikutin kata hati lo yang kotor itu, tobat Rain, tobat."
"Apaan sih lo, Ca. Lebay tau gak."
"Kalo gak lebay, bukan gue Rain. hehe." menyenggol lengan Rain dengan sikunya.
"Hm, gue ketemu monyet joget-joget di jalan pakai lagu kayak topeng monyet gitu, ca." Jawab Rain sambil teringat wajah kesal tuan menjengkelkan.
"Ya topeng monyet lah itu namanya."
"Iya mirip lo deh, Ca. hahaha."
"Maksud lo apa? mau ngatain gua monyet." Protes Ica
"Barusan lo yang ngomong loh ya. hahaha"
"Lah iya ya, kalau gua monyet berarti lo temennya monyet. hiya hiya hiya. kawanan monyet lepas donk kita hahaha" tawa Ica pecah
"eh kita? lo aja kali."
_
_
_
##Jangan lupa untuk komen
__ADS_1
Like, and vote nya ya readers
🥰🥰🥰