
"Iya nak. Ide bagus itu. Mari masuk lagi ke rumah om ini, om sangat senang kamu bisa menginap disini, jangankan sehari, selamanya juga tidak apa-apa." Ajak papa Reza sambil merangkul punggung Rian.
"Maaf merepotkan, om." Rian hanya menurut.
"Jangan sungkan, nak. Maafkan sikapnya anak gadis om yang satu itu ya. Tidak biasanya dia seperti itu. Mungkin dia kesal karena baru mengetahui bahwa kamu sahabat kakaknya." Papa Reza merasa tidak enak dengan sikap Rain yang di nilai tidak sopan.
"Iya, gapapa kok om."
Akhirnya Rian menginap di rumah sahabatnya itu. Ia tidur bersama Roni di kamar sahabatnya yang bersebelahan dengan kamar Rain.
"Akhirnya lo nyentuh juga kamar gue, Ri. Dari dulu gue pengen lo main ke sini. Tapi lo nya gak mau. Selalu gue yang main ke rumah lo. Sampai adek gue sendiri aja ngambek baru tahu lo sahabat gue" Roni merebahkan tubuhnya di atas kasur di ikuti Rian
"Eh, kayaknya dia masih marah deh sama kejadian tadi pagi yang elo ceritain". Sambung Roni
"Ya, kayaknya begitu". Jawab Rian
"Main PS yuk. sudah lama kita gak main." Ajak Roni.
"Males ah, main sama lo, gue menang terus."
"Yeee, itu kan dulu. Sekarang gue udah banyak belajar. Kali ini gue yakin pasti menang." Jawab Roni yakin. Bagaimana tidak, dia sudah sering berlatih di kamarnya. Sedangkan Rian sudah jarang sekali mengasah kemampuannya bermain dan lebih sering disibukkan dengan pekerjaannya. Roni sudah paham dan jago saat bermain. Sudah dipastikan kali ini juga dia pasti akan menang. Dia akan membalas dendam dalam permainan hingga lawannya ini KO.
"Ah, gak yakin gue."
"Waaah bro, jangan begitu dong. Lo sudah meragukan skill gue. Kita lihat aja nanti. Gue yakin, gue menang."
"Oke, kalo gue menang, lo tidur di sofa ya dan jangan ganggu tidur gue. Gimana?" Tantang Rian.
"Oke siapa takut."
"Ayok, buruan. Gue udah gak sabar liat skill lo bermain sekarang." Ajak Rian
"Ayok."
Merekapun bermain dengan seru. Mengenang sudah lama mereka tidak bermain seperti ini hingga mereka lupa waktu. Hari sudah menunjuk pukul 12 malam. Dan sudah berapa kali ronde, dan permainan tetap saja di menangkan oleh Rian.
"Sudah deh, kita akhiri aja game nya. Pasti gue lagi yang menang."
__ADS_1
"Ah, s***. Kok gue bisa kalah ya?. Seharusnya gue yang menang. Gue udah sering asah skill gue kok." Roni tak mau kalah
"Asah skill sama siapa sih lo?" Rian penasaran
"Sama Rain, adek gue. Gue menang terus main sama dia."
"Hahahaha, pantesan main sama bocah. Batu asah lo belum berstandart SNI bro." Rian menepuk-nepuk punggung Roni.
"Gue gak terima. Harusnya gue menang." Roni masih kekeh
"Sudah lah bro, lain kali cari batu asah yang sudah SNI, biar tajam skill lo." Dan Roni hanya diam.
"Sudah mengenangnya? Sekarang lo beresin. Gue mau tidur dulu. Ingat lo tidur di sofa, jangan ganggu gue." Rian tertawa sambil bangun dan berjalan menuju ranjang tuan rumah. dan meninggalkan sahabatnya itu yang masih merenungi kekalahannya.
"Harusnya kali ini gue sudah menang lawan Rian. Kayaknya emang si adek lucknut gue itu gak mempan batu asah nya deh. Kenapa gue baru sadar ya. Besok gue harus cari yang SNI nih, biar bisa ngalahin si Rian. Iya sudah harus itu. Gak mau lagi gue main sama Rain. Gak ada perkembangannya kemampuan gue. Sia-sia waktu gue berlatih selama ini" gumam Roni.
Sesuai perjanjian, Roni tidur di sofa yang ada dalam kamarnya. Dia hanya bisa memandang pasrah, Rian sudah tertidur di ranjang kesayangannya.
****
Paginya, Rain keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar kakaknya yang tidak terkunci dalam kondisi setengah tidur dan setengah sadar. Sudah menjadi kebiasaan mengganggu pagi libur kakaknya itu. Ia pun merebahkan tubuhnya, memeluk guling dan tidur lagi.
"Rian... Rain... Bangun." Ia menggoyangkan tubuh keduanya
Mata mereka berdua perlahan terbuka karena merasa ada yang memanggil. Mata mereka saling bertatapan dan terbelalak kaget dengan jarak lebih kurang 5 cm. Mereka pun refleks berteriak dan langsung berdiri. Ternyata yang Rain kira guling itu ialah tubuh kekar Rian. Pantesan terasa nyaman.
"Kenapa lo disini?" Rain mengeluarkan telunjuknya dan melangkah dengan cepat ke arah Rian dengan tatapan kesal. Namun sialnya ia tersandung dengan kakinya sendiri hingga terjatuh di atas tubuh Rian. Rian tak sempat mengendalikan keseimbangan tubuhnya hingga ikut terjatuh. Kini wajah mereka sangat dekat. Mata mereka saling menatap dalam.
Deg
Mata ini, mata ini yang ingin aku lihat. Apa aku bermimpi lagi? Aku menemukanmu. Rain membatin. Ia terus menelisik mata indah itu.
"Iyan". Satu kata mengungkapkan sebuah nama itu terlepas tiba-tiba dari mulut Rain.
Nyess.. Darahnya seperti mengalir deras.
Lama mereka saling menatap, beradu dengan pikiran masing-masing. Tanpa sadar wajah Rain mendekat.
__ADS_1
Suara deheman Roni menyadarkan mereka. Dari tadi ia hanya memperhatikan interaksi antara sahabat dan adiknya itu.
Rian langsung membangunkan tubuhnya dan juga membantu Rain bangun yang masih saja menatap Rian dengan ketidak percayaannya. Rian yang berada di hadapannya kali ini yang ia yakini adalah Iyan cinta pertamanya. Ia sangat percaya itu. Tidak sedetikpun ia melupakan cahaya dari mata orang yang selalu dia puja-puja.
"Dek sudah, balik ke kamarmu." Tegur Roni.
Sedangkan yang ditegur masih diam menatap Rian.
"Iyan. iya, kamu mas Iyan kan." Tebak Rain menatap Rian yang hanya diam dengan wajah datarnya.
"Maksud kamu apa, dek?" Tanya Roni heran.
"Ini mas Iyan, kak. Iya. Aku yakin banget. Dia yang dulu menyelamatkan Rain yang hampir jatoh di dorong teman SD rain dari perosotan. Dan dia yang pertama kali memanggil namaku dengan sebutan Rain. Benarkan?." Rain meyakinkan kakaknya dan bertanya dengan Rian. Berharap tebakannya itu benar.
"Apa betul itu, Ri?" Tanya Roni
Rian masih diam dan akhirnya menjawab singkat "Iya."
"Yes." Rain bersorak senang sambil berjingkrak-jingkrak memeluk Rian.
_
_
_
#bersambung...
like like like, jangan lupa ya😉
Nih yang punya kenangan tentang first love pasti langsung menerawang jauh nih.
Menurut kalian, cinta pertama itu apa sih? Kalo berdasarkan cerita ini ya, cinta pertama itu ialah pengalaman bagi seseorang yang pertama kali merasakan jatuh cinta, suasana hati yang berbeda dan baru di rasakan, hingga sulit untuk dilupakan dan pastinya memiliki kenangan dan ruang tersendiri.
Pernah juga gak sih, suka banget sama seseorang, tapi belum sempat punya status, tiba-tiba terpisah karena situasi tertentu?
Benar gak sih, cinta pertama itu susah melupakannya?
__ADS_1
Bila iya, berarti sama dengan Rain dong. Belum move on katanya. 😂😂