Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
222. Mual-Mual


__ADS_3

Keesokan paginya, Kinara terbangun karena mendengar suara seseorang yang sedang muntah-muntah dari kamar mandi dan jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Kinara melihat ke sekeliling tetapi ia tidak menemukan sang suami dan sudah dipastikan yang sedang berada di kamar mandi itu Satria.


Kinara sebenarnya khawatir karena sepertinya Satria masih sakit, tapi bukankah tadi malam suaminya itu sudah baik-baik saja. Kinara ingin turun dari tempat tidur rumah sakit tapi perutnya masih terasa sakit dan ia mengurungkan niatnya. Kinara memilih menunggu Satria keluar dari kamar mandi dan menanyakan keadaannya.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Satria yang lemas dengan wajah yang sangat pucat.


" Kamu sudah bangun, Sayang " ucap Satria tersenyum lalu menghampiri sang istri.


Satria mencoba untuk terlihat baik-baik walaupun ia merasa lemas luar biasa dan juga kepalanya sedikit pusing. Ia merasakan gejolak hebat di perutnya saat baru terbangun dari tidur dan langsung memuntahkan cairan kuning di kamar mandi.


" Iya Mas " jawab Kinara.


" Kamu masih sakit, Mas? " tanya Kinara dengan wajah khawatir.


" Enggak kok, Sayang " jawab Satria tersenyum.


" Kamu jangan bohong deh, muka kamu pucet banget gini. Tadi juga aku dengar kamu muntah-muntah di kamar mandi " ucap Kinara memegang kening Satria untuk mengecek suhu tubuhnya.


" Tuh kan, panas. Kamu itu masih sakit, Mas " lanjut Kinara saat merasakan tubuh Satria yang sedikit hangat.


" Aku gak papa kok, Sayang. Mungkin ini sisa-sisa sakit kemarin aja " jawab Satria tidak ingin sang istri terlalu mengkhawatirkannya, apalagi kondisi Kinara sendiri masih sakit.


Setelah itu, Satria mengajak Kinara untuk sholat subuh berjamaah karena saat itu sudah masuk waktu subuh. Kinara melaksanakan sholat dari atas tempat tidur rumah sakit karena ia belum kuat berdiri dan banyak bergerak.


Satria melipat sajadah yang ia gunakan setelah melaksanakan sholat subuh lalu menghampiri Kinara. Kinara meraih tangan sang suami dan menciumnya, Satria juga memberikan kecupan di kening Kinara.


" Lebih baik sekarang kamu istirahat, Mas " ucap Kinara karena wajah suaminya itu masih terlihat pucat.


Satria hendak menjawab ucapan sang istri, tapi rasa mual kembali menyerang. Satria langsung menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi karena merasa sesuatu hendak keluar.


" Hoek, hoek, hoek " Satria hanya memuntahkan cairan kuning karena ia memang belum memakan apapun.

__ADS_1


Satria membasuh mulutnya setelah dirasa tidak akan muntah lagi. Satria menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi karena ia merasa tubuhnya sangat lemas.


" Astaghfirullah, aku ini kenapa? " ucap Satria pelan karena merasa sakitnya lebih parah dari kemarin.


Sementara itu, Kinara yang berada di luar merasa sangat khawatir melihat suaminya yang sepertinya sakitnya bertambah parah.


" Ya Allah, Mas Satria kenapa? " gumam Kinara sangat khawatir.


Kinara memutuskan untuk memanggil dokter atau perawat melalui tombol di samping tempat tidur itu. Ia sangat khawatir Satria kenapa-napa, apalagi suaminya itu tidak kunjung keluar dari kamar mandi.


" Permisi, Nona. Apa terjadi sesuatu pada Anda? " tanya Dokter Lidya saat memasuki ruang perawatan itu.


Baru saja Kinara membuka mulutnya, pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Satria yang masih dengan wajah pucatnya. Satria cukup lama berada di kamar mandi karena ia harus memulihkan tubuhnya agar bisa berjalan setelah memuntahkan isi perutnya.


" Dokter? Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada istri saya? " tanya Satria panik saat melihat Dokter Lidya di sana karena belum waktunya pemeriksaan sang istri.


" Bukan aku, tapi kamu " bukan Dokter Lidya yang menjawab tapi Kinara.


" Dok, tolong periksa suami saya. Sejak bangun tidur tadi dia terus mual-mual dan muntah, saya takut suami saya kenapa-napa " ucap Kinara pada Dokter Lidya.


" Enggak, pokoknya kamu harus diperiksa " jawab Kinara yang ingin Satria tetap diperiksa.


Dokter Lidya tersenyum melihat sepasang suami istri itu yang berdebat karena Satria yang menolak untuk diperiksa.


" Tuan Satria, sebaiknya saya memeriksa Anda. Wajah Anda terlihat pucat dan sepertinya tidak baik-baik saja " ucap Dokter Lidya yang melihat Satria yang sepertinya tidak sehat.


" Tuh kan, pokoknya kamu harus diperiksa sekarang. Kamu gak mau kan liat aku khawatir " ucap Kinara pada Satria.


Satria pun tidak bisa menolaknya lagi. " Baiklah, tapi aku mau diperiksa di sini " jawab Satria akhirnya.


Satria duduk di sofa yang ada di ruang perawatan itu dan Dokter Lidya mulai memeriksanya.


" Apa saja yang ada rasakan, Tuan? " tanya Dokter Lidya karena ia sudah mencurigai suatu hal yang menyebabkan Satria seperti ini.

__ADS_1


" Mual, lemas dan sedikit pusing, Dok " jawab Satria mengatakan apa yang dirasakannya.


Dokter Lidya pun tersenyum. " Sepertinya Anda tidak sakit, Tuan. Semuanya juga tidak ada masalah dan baik-baik saja " ucap Dokter Lidya.


" Lalu suami saya kenapa, Dok? " tanya Kinara merasa heran.


" Tuan Satria sepertinya mengalami mengalami couvade syndrome atau kehamilan simpatik. Couvade syndrome atau kehamilan simpatik ini adalah masalah yang terjadi pada pasangan pria atau suami dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil. Biasanya yang terjadi adalah mual, pusing, dan lemas seperti yang Tuan Satria katakan tadi. Malah si ibu hamil yang tidak merasakan gejala dari kehamilan tersebut " jawab Dokter Lidya menjelaskan apa yang terjadi pada Satria.


" Jadi itu sebabnya saya tidak merasakan apapun sehingga saya tidak mengetahui jika sedang hamil, Dok? " tanya Kinara memastikan.


Kinara memang tidak merasakan tanda-tanda kehamilan sehingga ia tidak mengetahui jika dirinya sedang mengandung.


" Iya Nona " jawab Dokter Lidya.


Satria yang mendengar itu merasa bersyukur karena ia yang merasakan betapa lemas dan beratnya mengalami itu dan bukan istrinya.


" Lalu ini berlangsung berapa lama, Dok? " tanya Satria karena baru dua hari saja ia cukup tersiksa.


" Biasanya pada trimester pertama atau sampai usia kandungan tiga bulan " jawab Dokter Lidya.


Satria menghela napasnya, tapi ia tidak keberatan sama sekali jika harus mengalami semua itu.


" Untuk lebih lanjutnya, Anda bisa menanyakannya pada Dokter Samuel nanti karena beliau yang lebih tahu " ucap Dokter Lidya pada Satria.


" Baik, Dok. Terima kasih banyak " jawab Satria.


Dokter Lidya pun menganggukkan kepalanya.


Setelah itu Dokter Lidya pun bergantian untuk melakukan pemeriksaan kepada Kinara sekalian ia berada di sana, walaupun belum waktunya ia melakukan jadwal pemeriksaan Kinara.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏

__ADS_1


Ada juga karya saya di akun ini " Menikahi Ayah Nadia, Suamiku Seorang Bodyguard dan Malam Panas Dengan Kak Aska " 😘


Tolong follow ig saya @tyaningrum_05 dan akun NT saya Gadis Taurus ya 😘


__ADS_2