
Setelah mengatakan itu Rian beranjak meninggalkan meja makan karena ia sudah selesai makan. Rain hanya terdiam tanpa mampu berkata-kata. Tapi ia masih berniat membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor bekas Rian.
Pukul 10 malam, dari dalam ruang kerjanya Rian samar mendengar suara orang berbicara. Ia yang penasaran akhirnya keluar mencari asal suara.
Ia mengira setelah makan Rain akan langsung pulang. Dan sekarang ia melihat Rain lagi asik menonton televisi ditemani dengan sebungkus cemilan yang ia dapatkan di dapur tanpa izin sesekali tertawa ketika pelawak yang ada di dalam televisi mengeluarkan lawakannya.
Rian mendekat dan berdiri menghalangi pandangan Rain. Rain tak menghiraukan kehadiran tuan rumah itu, ia mengintip dari bagian kiri dari tubuh Rian, namun tubuh itu pun menggeser menghalangi. Rain melakukan hal sama ke arah yang berlawanan, Rian juga melakukan hal yang sama.
Merasa acara menontonnya dihalangi padahal masih seru serunya Rain mendengus kesal mengendurkan tubuhnya menjeling dengan wajah sedikit mendongak hingga tatapannya tepat pada wajah insan yang berdiri di depannya.
"Dari pada berdiri disitu mending duduk disini."
Rain tiba-tiba menarik tangan Rian untuk duduk disebelahnya. Namun tubuh kekarnya mampu bertahan hingga tarikan Rain hanya sia-sia.
"Kenapa belum pulang?" Tanya Rian
"Emangnya mas ada suruh aku pulang?" Rain bertanya balik.
"Dari tadi pun kamu melakukan sesuatu tanpa aku suruh."
"Itu namanya inisiatif mas." Rain berdiri dihadapan Rian. Menyentuh kedua sudut bibir Rian hingga sudut bibir itu tertarik paksa.
"Coba mas senyum seperti ini, makin tampan" Rain mencontohkan dengan senyum manisnya juga.
Rian menurunkan tangan yang dengan lancang menyentuhnya itu dengan perlahan.
"Hari sudah malam, sebaiknya kamu pulang." Perintah Rian walau dengan suara pelan tapi masih ada penekanan disana.
"aaa, perhatiannya mas." Rain merebahkan kepalanya di dada bidang lelaki itu, menghirup aroma segarnya.
Gerakan tiba-tiba itu membuat Rian menegang menelan saliva nya kasar menahan nafasnya dan detak jantungnya agar tak terdengar di telinga Rain. Namun sayang, degup kencang itu sudah terdengar jelas di telinga Rain membuatnya tersenyum.
"Aku tahu disini pasti ada aku, mas. Tapi kenapa mas bersikap dingin terhadapku. Aku akan berusaha membuat mas mencintaiku juga" Batin Rain sambil menyentuh dada bidang itu dengan sebelah tangannya.
"Sudah Rain sebaliknya kamu pulang." Rian menjauhkan tubuh Rain.
"Oke, aku pulang mas. Jangan tidur malam-malam. Lain kali aku main kesini lagi ya. cup." Rain mengecup sekilas pipi Rian. Sekarang ia sudah mulai berani untuk menyentuh bagian tubuh lelaki dihadapannya.
Ia menggapai tas nya, berlari seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Kali ini ia betul-betul pulang. Dan Rian hanya mematung, sedikit tersenyum tanpa terlihat siapapun.
Keesokan harinya, keesokan harinya lagi, lagi lagi dan lagi. Rain terus melakukan hal yang sama dalam mengejar Rian yang masih saja dingin.
__ADS_1
Ketika pagi ia menunggu kedatangan Rian di baseman, siang harinya ia mendatangi ruangan kerja Rian, sore harinya ia tetap menunggu di parkiran tanpa peduli dengan perintah Rian yang terus melarangnya, dan sesekali mendatangi apartement Rian membawa makan malam dan makan bersama, tanpa mampu Rian untuk menolak.
Begitu juga dengan kakaknya yang terus mengomelinya, namun Rain hanya acuh. Tapi sekarang Roni sudah tidak bekerja di tempat yang sama lagi. Roni sudah memutuskan untuk mengambil alih perusahaan papanya dua bulan yang lalu. Posisinya di Purnama Group sudah digantikan dengan salah satu orang kepercayaan pemilik perusahaan tersebut yaitu Kakek Rian.
Tiga bulan sudah Rain menjalani magang di Purnama Group. Tindakannya yang terus mengejar sang CEO di perusahaan sudah di ketahui oleh orang satu perusahaan. Ada yang tetap cuek, ada juga yang terus berbicara pedas baik di belakang maupun di depan Rain terutama wanita-wanita yang dari dulu mengincar Lelaki kaya dan tampan itu.
Awalnya memang membuat satu perusahaan gempar dengan gosip itu, tapi lama kelamaan mereda. Apakah Rain sempat down dengan gosip-gosip itu? Jawabannya tidak. Rain adalah Rain, tak peduli dengan omongan apapun ia tetap akan meluluhkan hati sang pujaan. Teman satu divisinya juga sempat kaget, tapi akhirnya ikut mendukung Rain setelah tahu dari cerita Rain bahwasanya Rian adalah cinta pertamanya.
"Sarapan." Rain menyodorkan mangkuk bekal dengan kedua tangannya di depan Rian yang baru keluar dari mobilnya. Hal itu sudah menjadi rutinitasnya. Rian hanya bisa menerimanya tanpa mau berkata banyak. Sebelumnya Rian sudah sering menolak tapi Rain tidak memberi kesempatannya untuk menolak.
Pintu samping kemudi terbuka, muncul seorang perempuan cantik dengan pakaian yang modis.
"Deg." Rain menoleh.
Wanita itu berjalan mendekat Rian.
"Hai.." Sapa wanita itu untuk Rain.
Rain tersenyum kaku melihat tangan itu melingkar di tangan Rian.
"Yuk Ri." Ajak wanita itu.
Rain hanya bisa melihat kepergian kedua insan tersebut dengan segala macam pertanyaan di benaknya.
Rain menghentak kaki dengan kesal dengan apa yang baru saja ia lihat.
Rain masuk ke ruangannya dengan lemah.
"Loh loh loh. Perdana nih gak berisik masuk ruangan. Kenapa beb?" Tanya Vino. Rain langsung duduk di kursi nya.
Rain hanya menggeleng lemah.
"Cerita dong beb."
"Beb, tahu gak siapa wanita yang datang bersama dengan mas Iyan ku?" Tanya Rain lesu.
"Ha? wanita? Yang benar aja beb?"
Rain menghembuskan nafasnya mendengar Vino malah bertanya balik dengannya.
"Guys guys. Ada berita hott." Devi masuk dengan tergesa-gesa menghampiri kedua temannya.
__ADS_1
"Apa beb? Kalian jangan buat aku penasaran dong." tanya Vino penasaran.
Devi melihat Rain yang lesu. "Beb."
"Gak apa apa, aku sudah melihatnya." Seakan tahu apa yang ingin di bicarakan temannya itu.
Devi menatap iba Rain. "Are you oke?" Devi mengelus pundak Rain berusaha untuk menguatkannya.
"Ya, I am oke."
"Kalian kenapa sih?" Tanya Vino.
Devi memutar mata malas.
"Beb, bos besar hari ini bawa wanita lain ke perusahaan dan Rain lihat sendiri, itu buat dia sedih. Itu cewek pasti ada hubungan serius sama bos, di bawa ke perusahaan lagi. Prihatin dikit napa sih beb?" Jawab Devi kesal.
"wanita itu siapanya bos? Kekasihnya? tunangannya? isterinya?" Tanya Vino.
"Mana gue tahu."
"Nah, itu belum tahu beb. Mungkin aja saudaranya, sepupunya. Ya kan?" Tutur Vino
"Sudah deh beb, jangan sedih lagi. Cari tahu dulu. Untung untung itu cewek memang saudaranya." Sambungnya lagi
Rain yang diam pun menoleh ke Vino meyakinkan. Senyumnya pun seketika terbit lagi.
"Bener juga ya beb. Aku harus tanya dulu sama mas Iyan. Makasih loh beb." Rain bangkit memeluk Vino.
"Eh, gimana kalau perempuan itu kekasihnya?" Tanya Devi.
Plak..
"Aw..."
Kepalanya di pukul Vino.
_
_
_
__ADS_1
#Bersambung...
Like, like, like, Jangan lupa ya😉...