
Satria dan rekan-rekannya sampai di rumah sakit pada dini hari. Satria masih bertahan walaupun sekarang keadaannya sangat lemah. Sedangkan Tuan Bahadur telah meninggal dunia saat berada di perjalanan karena peluru yang mengenai dada Tuan Bahadur mengenai jantungnya.
Satria langsung dilarikan ke IGD untuk segera di tangani dan Sandi terus menunggu di sana setelah ia mengganti pakaiannya.
" Bagaimana keadaan Bripda Satria, Dok? " tanya Sandi pada Dokter yang baru keluar dari ruangan itu.
" Keadaan Bripda Satria sudah membaik dan stabil walaupun sempat mengalami pendarahan dan kehilangan banyak darah. Kami sudah menghentikan pendarahannya dan juga kita beruntung karena kami masih memiliki stok golongan darah Bripda Satria yang cukup langka. Setelah ini Bripda Satria akan dipindahkan ke ruang perawatan dan akan sadar tiga atau lima jam kedepan " jawab Dokter itu menjelaskan keadaan Satria.
Sandi pun merasa sangat lega mendengar itu. Ia pun mengucapkan banyak terima kasih kepada dokter itu sebelum pergi untuk beristirahat. Ia bisa beristirahat dengan sedikit tenang dan akan menemui Satria besok pagi.
***
Keesokan paginya, Satria mulai membuka matanya perlahan. Ia bisa melihat jika dirinya sedang berada di sebuah ruangan serba putih dan yakin jika ia berada di rumah sakit. Satria sangat bersyukur ia masih diberikan keselamatan lagi kali ini.
" Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Engkau masih memberikan hamba hidup " ucap Satria sangat bersyukur.
Satria mencoba mendudukkan tubuhnya walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit semua. Saat ia berhasil duduk, pintu ruang perawatan itu terbuka. Terlihat Sandi datang bersama dengan dokter dan perawat yang akan memeriksa keadaan Satria.
" Anda sudah sadar " ucap dokter itu tersenyum saat melihat Satria yang sudah duduk.
" Iya Dok " jawab Satria dengan suara lemah.
Setelah itu dokter pun langsung memeriksa keadaan Satria yang memang sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi.
" Anda akan segera pulih tetapi jangan sampai luka di dada Anda terbuka lagi jadi Anda harus lebih berhati-hati " ucap Dokter itu pada Satria.
Satria pun menganggukan kepalanya. " Terima kasih, Dok " ucap Satria.
Setelah itu dokter dan perawat pun pergi untuk memeriksa pasien lain dan sekarang hanya ada Satria dan Sandi di ruang perawatan itu.
" Gue seneng lo baik-baik aja. Gue sempet khawatir lo gak bangun lagi kayak waktu itu " ucap Sandi setelah duduk di kursi samping ranjang rumah sakit yang ditempati Satria.
__ADS_1
Satria tersenyum. " Kalau gue gak bangun ya lo bangunin. Gue kan udah bilang gitu sebelum gue gak sadar " jawab Satria santai karena yang terpenting sekarang dirinya baik-baik saja dan akan segera pulih.
" Lo gak liat betapa pucetnya muka lo kek orang udah mati. Jelas aja gue khawatir apalagi keadaan lo gini berawal dari nyelametin gue dulu " ucap Sandi merasa bersalah dengan apa yang harus Satria alami.
Satria menepuk bahu Sandi. " Gak usah di bahas lagi deh. Kita sahabat dan sudah seharusnya gitu. Gue juga sudah baik-baik aja sekarang " ucap Satria.
Satria pun teringat dengan Tuan Bahadur dan menanyakannya kepada Sandi.
" Keadaan Tuan Bahadur gimana? " tanya Satria pada Sandi.
" Tuan Bahadur meninggal di perjalanan. Peluru yang gue kenain di dadanya itu gores jantung jadi Tuan Bahadur gak bisa di selamatkan " jawab Sandi sedikit menyesal karena secara tidak langsung ia yang membunuh Tuan Bahadur.
Tetapi mungkin ini lebih baik daripada nantinya Tuan Bahadur berbuat hal yang lebih buruk lagi karena dirinya sangat licik.
" Inalillahi wa innailaihi roji'un. Semoga Allah mengampuni semua dosanya walaupun dia belum sempat bertobat. Mungkin ini jalan yang terbaik sehingga tidak perlu ada lagi orang yang menjadi korban Tuan Bahadur. Walaupun kita sudah berhasil menangkapnya bukan tidak mungkin Tuan Bahadur berbuat hal yang buruk lagi " ucap Satria cukup menyayangkan Tuan Bahadur harus meninggalkan sebelum bisa bertobat dan menebus kesalahannya di dunia.
Sandi pun menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang Satria katakan.
Ponsel serta barang-barang Satria yang lain masih berada di desa dan mungkin akan ia ambil setelah keadaanya pulih karena banyak barang penting miliknya di sana.
Satria pun menerima ponsel itu dan langsung mengetikkan nomor Ayah Arif yang ia ingat. Sedangkan Sandi beranjak duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan tidak ingin mengganggu Satria yang ingin berbicara pada keluarganya.
" Halo, Assalamualaikum " ucap Satria setelah panggilan telepon itu tersambung.
" Walaikumsalam. Satria? " ucap Ayah Arif yang langsung bisa mengenali suara putranya.
" Iya Ayah. Ini Satria " jawab Satria.
Setelah itu terdengar suara Ayah Arif yang memanggil anggota keluarganya yang lain setelah memastikan itu Satria.
" Gimana keadaan kamu? Rendra mendapatkan informasi jika kamu mengalami pendarahan dan berita tentang kasus yang baru kamu selesaikan sudah ada dalam pemberitaan " tanya Ayah Arif pada Satria.
__ADS_1
" Aku baik-baik aja, Yah. Aku cuma butuh sedikit perawatan dan sebentar lagi juga pulih " jawab Satria agar keluarganya tidak khawatir lagi.
" Alhamdulillah " ucap Ayah Arif mengucapkan syukur karena putranya baik-baik saja.
Kini giliran Bunda Wulan yang berbicara pada Satria. Terdengar suara Bunda Wulan yang sudah menangis di sana.
" Cepatlah pulang, Sayang. Bunda gak mau kamu kenapa-napa lagi. Bunda mau dekat sama anak Bunda " ucap Bunda Wulan pada Satria.
" Iya Bunda, Satria bakal cepat pulang setelah semua urusan di sini selesai " jawab Satria.
" Bunda jangan nangis lagi ya. Satria sudah baik-baik aja dan Bunda gak perlu khawatir " lanjut Satria yang tidak bisa mendengar Bunda Wulan menangis seperti itu.
Setelah puas berbicara pada Bunda Wulan, Satria pun berbicara pada Puspa yang juga tidak kalah khawatir kepadanya.
" Jadi kapan kamu pulang? " tanya Puspa setelah menanyakan keadaan Satria terlebih dahulu.
" Aku belum tau, Kak. Aku harus menunggu keadaanku benar-benar pulih dan menyelesaikan semua urusanku di sini " jawab Satria yang tidak tahu pasti.
" Cepatlah pulang karena Ara bakal wisuda awal bulan depan. Apa kamu gak mau hadir di hari yang bahagia buat dia? Dia pasti sedih banget kalau kamu gak datang " ucap Puspa pada Satria.
Satria bertekad ingin pulang secepatnya setelah mendengar itu. Jika Kinara sudah wisuda berarti ia bisa segera menepati janjinya pada Kinara.
" Aku bakal pulang secepatnya sebelum hari wisuda Ara, Kak " jawab Satria yakin.
Apapun yang terjadi ia harus bisa pulang sebelum hari wisuda Kinara. Ia tidak ingin membuat Kinara tambah bersedih karena sudah meninggalkannya selama dua tahun lebih jadi ia harus datang di hari bahagia Kinara itu.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘
__ADS_1
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘