Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
10-Teh Alami Khusus Untukmu


__ADS_3

*****


"Selamat malam kakakku sayang". Sapa Rain menghampiri Roni di ruang keluarga sedang menonton Film. Ia duduk di sebelah Roni, sambil memeluk lengan Roni yang kekar itu.


"Ada apa lagi sih? ada maunya nih ya." Tebak Roni


"Gak kok. Kakak ih, Nethink aja sama aku. Gak boleh gitu sama adik kakak yang imut ini."Rain membanggakan dirinya sendiri.


Roni tak merespon adiknya itu karena dia fokus dengan Film nya.


"Kak." Panggil Rain, tapi tak di jawab Roni.


"Kak." panggil dia lagi.


"Kakaaaaaaaak." Teriak Rain tepat di telinga Roni membuat sang kakak kaget dan menggosok-gosokkan telinganya.


"Kenapa sih dek?" Tanya Roni dengan sangat kesal


" Lagian aku panggil-panggil dari tadi gak ada respon."


"Kak, Dalam waktu dekat aku akan magang."


Roni mengangkat alisnya satu. "Apa urusannya dengan kakak?"


"Yaaaah, kakak gak peka. Maksud aku tuh, aku mau magang di tempat kakak."


"Gak bisa. Di tempat papa aja." Tolah Roni mentah-mentah.


Rain menyandarkan diri di sandaran sofa dan melipat tangannya. "Kakak, aku tuh kuliah di bidang desain, mana cocok dengan perusahaan papa yang di bidang pangan itu."


"Bisa lah, nanti kamu desain kemasan aja." Jawab Roni santai.


"Kakak. Aku itu desainer fashion, bukan desainer kemasan produk makanan. Ayolah kak. Bisa ya, aku magang di tempat kakak. Bisa ya, bisa." Pujuk Rain, serta memperlihatkan puppy eye nya.


"Ya udah..." Roni tidak sempat meneruskan pembicaraannya.


"Yeeaaaaay." Teriak Rain girang dengan menaik turunkan tangannya girang. Mencium pipi Kakaknya dan langsung naik ke kamarnya lagi.


Roni bengong sendiri. "Kan aku belum selesai ngomong. Padahal aku mau bilang untuk diskusikan dulu dengan Rian. Emang, bocah." Keluh Roni.

__ADS_1


*****


Seperti biasa, di meja makan keluarga Cahyaguna sudah tertata berbagai menu sarapan. Seperti biasa juga peperangan mulut antara kakak adik itu memenuhi ruang makan.


Setelah itu, Rain berangkat kuliah menggunakan motor matic nya. Dia lebih suka menggunakan motornya dari pada mobil yang telah di berikan papa nya, dengan alasan menghindari macet, sampai ke kampusnya juga lebih cepat. Kadang jika ia lagi dalam mood malas untuk ngendarai motornya, ia akan ikut mobil kakaknya, karena jalur kampus dan perusahaan tempat kakaknya kerja searah, meskipun harus melalui pertengkaran kecil dulu. Tak jarang juga ia sesekali menggunakan mobilnya.


Aktifitas masyarakat di pagi hari sangat banyak. Jalanan kota sangat padat, suara klakson kendaraan bersahutan. Suasana kota saat itu baru sudah di guyur hujan. Pepohonan di pinggir jalan masih basah, ada juga dedaunan yang berguguran akibat hantaman air hujan dan angin. Tak jarang juga dijumpai beberapa genangan air.


Rain biasanya mengambil jalur pintasan agar cepat tiba di kampusnya. Jalan yang lumayan sepi, tak banyak orang yang tahu. Namun malangnya motor yang ia kendarai saat ini tiba-tiba mogok. Ia pun segera menepikan motornya dan melihat kondisi motor itu. Tapi apalah daya dia tidak ada pengalaman di bidang itu.


Ia mengedarkan pandangannya untuk meminta pertolongan ataupun tumpangan.


Tak lama sebuah mobil Ferrari berwarna kuning khas, berhenti di depan motor milik Rain. Rain sudah bisa menebak itu mobil milik siapa.


Muncul dari pintu kemudi laki-laki tampan memakai kemeja dan celana jeans. Style yang membuat wanita tertarik, di tambah lagi dengan paras tampan si pemiliknya.


"Bagas." Panggil Rain.


Ya, bagas lagi.


Bagas berjalan menuju tempat Rain berdiri.


"Hehehe, iya nih. Bantuin dong?"


"Lagian ini motor udah sering mogok masih aja lo pakai".


"Jiaaah, dia mana bilang kalo mau mogok lagi hari ini. Kan gua gak tau."


"Peak lo" Bagas menjitak kepala Rain. "Mana ada motor bisa ngomong."


"Idiiiiih lo gak tau aja nih motor bisa ngomong." Rain meyakinkan. "Berkat dia gua gak kesepian dari SMA kalo di jalan. Lo pernah denger suara mesinnya prepet prepet gitu, nah itu dia lagi ngomong sama gua hahahaha." Cerita Rain sambil ketawa.


Bagas pun ikut tertawa dengan cerita tak masuk akal yang di ciptakan Rain.


Lagi asik bersenda gurau, tiba-tiba genangan air muncrat ke baju mereka berdua akibat sebuah mobil yang melaju di depan mereka tanpa aba-aba.


"Woooy, jalan liat-liat dong." Teriak Rain spontan. Tapi seketika Rain ingat dengan mobil itu. Iya itu mobil milik Rian.


"Itu kan mobil mas Iyan. Iya, betul. Gua kenal betul tuh. Wah, itu orang mau ngebalas gua kayaknya. Okee, welcome to game mas Iyan kuh." Senyum licik Rain.

__ADS_1


"Heh, senyam senyum. Lihat nih baju kita udah kotor kena tu air. Pulang atau lanjut ngampus nih?" Tanya Bagas.


"haaa." Rain celingak celinguk. "Ah iya, lanjut ajalah, gak banyak juga kok yang kena. Kita juga udah hampir telat nih. Sayang kan jatah libur gua kepakai hanya untuk ini."


"Ya udah, lo ikut gua aja." Ajak Bagas.


"Ya iya lah, tanpa lo tawar pun, gua pasti nebeng lo. hahahaha." sambil berjalan ke pintu mobil Bagas.


"Terseral lo deh Rain." Bagas juga ikut masuk ke mobilnya.


Merekapun berangkat ke kampus..


****


Sedangkan di dalam mobil Lamborghini hitam yang baru saja melanggar genangan air hingga muncrat mengenai pakaian dua insan yang sedang bersenda gurau di pinggir jalan. Ya, dia ialah Riandi Purnama. Pria cool dan tampan, pria idaman seorang Ariana Kheila Cahyaguna dan wanita-wanita penggemarnya.


Saat itu Rian sedang di kejar waktu. Dia harus segera sampai ke perusahaannya. Dia meliat jalanan yang begitu padat, maka dia mengambil jalan pintas yang jarang dia lewati. Jalanan itu memang agak sepi dan kecil. Tapi dia tidak ada pilihan lain untuk akses yang cepat menuju perusahaan.


Dalam perjalanannya, dari kejauhan sayup dia melihat dua orang yang sedang berdiri berbicara sambil tertawa. Dia mengenal wanita itu, tapi tidak dengan laki-laki itu. Wanita itu adalah Rain.


Ia melihat tepat di tempat mereka berdiri, ada sedikit genangan air. Muncullah ide liciknya.


"Tertawa lah sekarang. Lihat dan rasakanlah pembalasanku bocah."


(Eh kok si mas Rian bisa jahil ya? Dia kan orangnya kaku, kulkas dua belas pintu. Gak biasanya deh seperti ini. Apa mau balas dendam? Ya sepertinya begitu.)


Rian menaikkan kecepatan kendaraannya sedikit ke kiri sisi jalan dan dengan sengaja menabrak genangan air itu hingga mengenai Rain dan Bagas.


Sayup Rian mendengar suara teriakan Rain.


Ia menurunkan lagi kecepatan kendaraannya dan tertawa puas melihat Rain berdiri kesal dari pantulan kaca spion mobilnya. "Enak kan, teh alami khusus untukmu. hahahaha. Tapi sayangnya kutang banyak."


_


_


_


#bersambung...

__ADS_1


Like, Like, Like. Jangan lupa ya😉


__ADS_2