
Keesokkan paginya, Sandi dan Komandan Anton serta anggota yang lain menemui Satria yang sudah merasa lebih baik. Beberapa mereka sekaligus berpamitan karena harus kembali ke desa karena tidak ingin membuat warga desa curiga dengan kepergian mereka. Mungkin hanya Sandi dan satu orang anggota lain yang menjaga Satria di sana. Tapi setelah keadaan Sandi benar-benar pulih, Sandi juga harus kembali dan melakukan penyelidikan kembali tentang kasus itu.
" Cepatlah pulih " ucap Komandan Anton menepuk pundak Satria pelan.
" Siap Ndan " jawab Satria.
Setelah itu mereka langsung pamit karena harus segera kembali, hingga tinggal lah Satria dan Sandi di sana.
" Sat, gue mau bilang makasih banget sama lo. Karena lindungin gue, lo jadi kayak gini " ucap Sandi yang duduk di kursi di samping brankar Satria.
" Santai aja, San. Kita sahabat dan seharusnya saling melindungi " jawab Satria tidak mempermasalahkan apa yang ia alami karena melindungi Sandi.
Sandi merasa beruntung memiliki sahabat seperti Satria dan ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu ada untuk Satria dan jika Satria membutuhkan dirinya.
" Gue beruntung Sat, punya sahabat kayak lo " ucap Sandi pada Satria.
Satria pun hanya tersenyum mendengarnya.
" Terus habis ini lo mau gimana? Lo mau balik ke Jakarta atau lanjutin tugas ini? " tanya Sandi pada Satria.
" Gue mau lanjutin tugas ini sampai tuntas dan balik ke desa itu setelah gue pulih. Gue harus tangkep semua pelaku-pelaku itu " jawab Satria ingin terus menyelesaikan tugasnya sampai tuntas.
__ADS_1
Satria memang memilih untuk kembali melanjutkan tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya itu hingga selesai. Ia juga tidak ingin negara tempatnya tinggal menjadi tempat peredaran narkoba dengan bebas. Walaupun nanti resiko yang harus ia hadapi lebih besar dari sekarang ini.
Setelah mengobrol dengan Sandi, Satria segera menelepon keluarganya di Jakarta yang pasti sudah menunggu kabar darinya. Sedangkan Sandi kembali ke ruangan untuk beristirahat agar cepat pulih. Sandi juga sudah memberikan ponsel milik Satria kepada pemiliknya.
Satria menekan nomor telepon Ayah Arif dan di dering pertama, panggilan telepon itu langsung dijawab.
" Halo, Assalamualaikum Ayah " ucap Satria saat panggilan telepon itu sudah dijawab.
" Walaikumsalam " jawab Ayah Arif.
" Satria, ini serius Satria putra Ayah kan? Kamu baik-baik aja kan sekarang? " tanya Ayah Arif terdengar dengan suara gemetar di sana.
" Alhamdulillah, kalau seperti itu " ucap Ayah Arif merasa lega karena sudah mendengar suara Satria dan mengatakan baik-baik saja.
Setelah itu ponsel Ayah Arif beralih pada Bunda Wulan karena Bunda Wulan sangat ingin bicara pada Satria.
" Satria, anak Bunda. Kamu baik-baik aja kan, Sayang? " tanya Bunda Wulan sambil menangis di sana.
" Satria baik-baik aja, Bunda. Bunda jangan khawatir dan jangan nangis lagi ya. Satria kan anak Bunda yang kuat dan juga Satria sebentar lagi juga sembuh " jawab Satria tidak ingin wanita yang melahirkannya itu menangis.
" Bunda gak akan nangis lagi setelah ini karena putra Bunda sudah baik-baik saja kan " ucap Bunda Wulan.
__ADS_1
" Tapi Bunda minta setelah kamu pulih kami cepat pulang, Bunda gak mau ada hal buruk lagi sama kamu. Bunda mau ketemu kamu tapi mereka gak izinin kita semua untuk ke sana " ucap Bunda Wulan yang ingin Satria segera kembali pulang.
Satria menghela napasnya panjang mendengar itu. Ia harus kembali membujuk dan meyakinkan Bunda Wulan agar mendukung keputusan tetap melanjutkan tugasnya itu.
" Bunda, Satria juga pengen banget ketemu Bunda. Tapi Satria punya tanggung jawab tugas yang harus Satria selesaikan sampai tuntas. Ini semua resiko dari profesi yang Satria pilih, jadi Satria mohon Bunda dukung Satria. Satria belum bisa pulang sebelum pelaku-pelaku itu tertangkap dan keadaan di sini aman " ucap Satria memberikan pengertian pada Bunda Wulan.
Awalnya Bunda Wulan sangat menentang keputusan Satria itu tapi karena Satria terus berusaha meyakinkan Bunda Wulan dibantu oleh Ayah Arif, akhirnya Bunda Wulan mendukung keputusan Satria untuk tetap melanjutkan tugasnya dengan berat hati. Bunda Wulan juga memberikan syarat jika Satria harus bisa menyelesaikan tugas itu dan kembali dengan selamat.
" Bunda percaya kan sama Satria? Satria pasti baik-baik aja Bunda " ucap Satria pada Bunda Wulan.
" Baiklah, Bunda percaya sama kamu " jawab Bunda Wulan terdengar berat.
Setelah itu pun mereka mengobrol cukup lama. Walaupun Satria ingin segera menelepon Kinara tapi ia tidak bisa mematikan panggilan telepon itu karena Bunda Wulan masih merindukan dirinya.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘
__ADS_1