Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
227 Digrebek


__ADS_3

Satria dan Kinara sudah berada di dalam kamar dan bersiap-siap untuk beristirahat. Tetapi ada yang berbeda malam ini karena Kinara merasa tubuhnya sangat gerah, alhasil ia melepaskan seluruh pakaiannya dan hanya menggunakan pakaian dalam saja. Kinara membuang rasa malunya pada Satria karena ia memang tidak tahan gerah, padahal AC juga menyala.


" Kamu sengaja mau nyiksa aku ya, Sayang " ucap Satria susah payah meneguk salivanya karena melihat penampilan sang istri yang membuat tubuhnya panas.


Apalagi ia masih belum boleh untuk menyentuh Kinara untuk beberapa waktu karena bisa menyebabkan keguguran.


" Enggak, Mas. Aku cuma gak tahan kalau pakai piyama lengkap, gerah banget soalnya " jawab Kinara santai.


Kinara naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana. Sedangkan Satria hanya bisa menghela napasnya dan mencoba menahan dirinya. Satria juga membaringkan tubuhnya di samping sang istri dan memeluknya.


" Kamu jangan peluk-peluk aku deh, Mas. Aku gerah lagi ini " ucap Kinara melepaskan pelukan Satria.


" Tapi aku gak bisa tidur kalau gak peluk kamu, Sayang " ucap Satria yang sudah terbiasa tidur dengan memeluk istrinya itu.


Kinara terdiam sejenak memikirkan bagaimana cara agar tetap bisa tidur berpelukan tetapi ia merasa gerah. Sejujurnya ia juga tidak bisa tidur dengan nyenyak jika tidak dipeluk oleh Satria.


" Kalau gitu, kamu lepas baju juga. Piyama kamu itu yang buat gerah kalau nempel " ucap Kinara pada Satria agar mereka bisa tidur dengan berpelukan.


Akhirnya Satria melakukan apa yang dikatakan oleh Kinara dengan melepaskan piyama yang ia kenal hingga menyisakan boxer saja. Ia melakukan itu agar bisa memeluk sang istri walaupun mungkin ia akan kedinginan.


" Kalau gini caranya, malah aku yang gerah " batin Satria memeluk tubuh Kinara.


Bagaimana ia tidak merasa gerah sekarang jika kulit mereka saling bersentuhan langsung tanpa penghalang dan kedua dada Kinara menempelkan di dadanya. Dengan sekuat tenaga Satria mencoba menahan keinginannya untuk menyentuh sang istri dan mencoba untuk memejamkan matanya lalu tidur.


***


Hari sudah berganti pagi, seperti pagi-pagi sebelumnya, Satria kembali mengalami morning sickness dan harus memuntahkan isi perutnya.


" Sekarang kamu tidur aja lagi " ucap Kinara setelah mengoleskan minyak angin di perut dan leher Satria.


" Tapi kamu temani ya, Sayang " pinta Satria yang tidak ingin ditinggal Kinara.


" Iya Mas " jawab Kinara ikut merebahkan tubuhnya di samping Satria.


Penampilan mereka masih seperti semalam karena Kinara masih merasa gerah dan Satria pun ikut-ikutan gerah sekarang setelah melaksanakan sholat subuh. Kinara masuk ke dalam pelukan Satria dan mereka pun tidur kembali.


Matahari sudah semakin tinggi di langit tetapi pasangan suami istri itu belum bangun juga dari tidurnya. Satria merasa tidurnya sedikit terganggu saat mendengar suara gedoran pintu dan suara sang ibu.


" Satria, Kinara, bangun sudah siang " teriakan Bunda Wulan terdengar jelas dari balik pintu.

__ADS_1


Satria membuka matanya dan melirik ke arah Kinara di sampingnya yang ternyata masih tertidur. Ia benapas lega karena tidak terbangun karena teriakan fenomenal dari wanita yang telah melahirkannya itu.


" Ngapain sih Bunda ke sini pagi-pagi? " gumam Satria mendudukkan tubuhnya.


Satria merasa seperti sedang digerebek karena meniduri seorang gadis karena gedoran pintu yang luar biasa kencangnya.


Kemudian Satria meraih handuk dan melilitkan handuk itu di pinggangnya. Ia segera membuka pintu kamar itu sebelum Bunda Wulan membangunkan Kinara.


Ceklek.


Terlihat Bunda Wulan bersama dengan Ayah Arif berdiri di depan pintu kamarnya dan Kinara.


" Bunda sama Ayah ngapain sih ke sini pagi-pagi? " ucap Satria dengan wajah bantal dan rambut yang acak-acakan.


Bunda Wulan dan Ayah Arif menganga tidak percaya jika Satria baru bangun dengan penampilan yang seperti itu. Wajah yang masih mengantuk dan bertelanjang dada serta menggunakan handuk di pinggangnya.


" Pagi apanya, Satria? Ini sudah hampir jam sembilan pagi " ucap Ayah Arif menyadarkan putranya yang baru bangun itu.


Satria pun langsung membelalakkan matanya lebar-lebar karena ia mengira masih pukul tujuh pagi. Tapi sedetik kemudian ia bernapas lega karena ia mendapatkan jadwal jaga malam sehingga tidak perlu ke kantor pada pagi ini.


" Ah, masa sih? Ternyata aku kesiangan " ucap Satria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Terus istri kamu sekarang mana? " tanya Bunda Wulan pada Satria.


" Masih tidur, Bun " jawab Satria.


" Kalau gitu Bunda mau liat, Bunda khawatir sama keadaannya " ucap Bunda Wulan ingin masuk ke kamar itu tapi Satria menghalanginya.


Mengingat sang istri hanya menggunakan pakaian dalam, Satria tidak akan membiarkan siapapun masuk ke dalam kamar itu termasuk Bunda Wulan.


" Jangan, Bunda " larang Satria tidak membiarkan Bunda Wulan masuk.


" Kenapa? Bunda cuma mau liat istri kamu, bukan mau ganggu " ucap Bunda Wulan mengira Satria takut ia mengganggu istrinya.


" Iya, Satria tau. Tapi masalahnya sekarang Ara lagi gak pakai baju, jadi Satria gak bisa izinin Bunda buat masuk " jawab Satria mengatakan apa alasannya.


Bunda Wulan yang mendengar itu langsung menarik telinga Satria. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak dan pasti putranya itu sudah melakukan sesuatu. Ia sangat khawatir jika calon cucunya dalam bahaya karena kelakuan sang putra.


" Aduh, Bunda lepasin. Kenapa Satria dijewer sih? " pekik Satria merasa telinganya akan lepas.

__ADS_1


" Kamu juga ya, sudah tahu istri lagi hamil muda masih aja kamu sentuh. Bukannya dokter sudah melarang dan ity bisa menyebabkan anak dan istri kamu dalam bahaya " ucap Bunda Wulan marah.


Ternyata Bunda Wulan salah paham sehingga ia dan telinganya yang menjadi korbannya sekarang.


" Ih Bunda, dengerin Satria dulu. Satria gak sentuh Ara seperti yang Bunda pikiran, Ara tu kegerahan terus lepas baju. Satria juga gak tega sentuh Ara kalau keadaannya gini " ucap Satria menjelaskan sambil menahan sakit di telinganya.


Bunda Wulan pun langsung melepaskan tarikan tangannya pada telinga Satria setelah mendengar penjelasan sang putra.


" Oh, kirain " ucap Bunda Wulan tanpa merasa bersalah sama sekali telah membuat telinga Satria sangat merah.


Sedangkan Satria mengusap-usap telinganya yang masih terasa sangat sakit akibat jeweran Bunda Wulan.


" Lagian kamu ngomongnya gak jelas, Ayah juga sempat salah paham " ucap Ayah Arif pada Satria.


Satria mendengus kesal mendengar itu. " Makanya tunggu dulu, belum selesai ngomong juga " ucap Satria kesal.


" Satria jadi seperti tersangka yang digerebek karena nidurin istri sendiri ini mah " lanjut Satria.


" Terus Bunda sama Ayah ngapain ke sini? " tanya Satria pada kedua orang tuanya.


" Bunda sama Ayah cuma mau ngantar makanan buat kali, terus mau tau keadaan Ara " jawab Bunda Wulan.


" Ara baik-baik aja dan ngantar makanannya udah, kan? Jadi sekarang Ayah sama Bunda pulang aja deh " usir Satria.


Sungguh anak yang kurang ajar berani mengusir orang tuanya sendiri.


" Dasar ya, orang tuanya sendiri malah diusir " ucap Ayah Arif pada Satria.


" Tapi Ayah, mending kita pulang aja. Lagian kita ganggu Ara yang lagi istirahat nanti " ucap Bunda Wulan tidak ingin mengganggu menantunya.


Satria pun tersenyum senang karena ibunya itu ternyata sangat pengertian dan bisa diajak kerja sama.


" Nah bener itu, Bunda memang pengertian banget deh " ucap Satria memeluk Bunda Wulan.


Setelah itu Ayah Arif dan Bunda Wulan pun langsung pamit pulang, sedangkan Satria kembali masuk ke kamar. Satria naik ke atas tempat tidur dan memeluk Kinara yang masih tertidur dengan nyenyak.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘


Tolong follow ig saya @tyaningrum_05 dan akun NT saya " Gadis Taurus " ya 😘

__ADS_1


__ADS_2